Gelombang Laut

Gelombang Laut
Kesalahan Aya kah itu?


__ADS_3

        lima hari setelah persetruan dengan kedua orang tuanya, kini Aya telah kembali seperti seperti biasanya, seperti masalah kemarin tak berarti baginya.


        Suasana disekolah Aya sangat ramai, selain karena ada pertandingan persahabatan basket antara sekolah


Aya dengan sekolah tetangga, sebentar lagi juga diadakan dies natalis sekolah


        Aya terlihat sangat cemas keluar dari ruang kepala sekolah, ya besok merupakan hari keberangkatan Aya untuk mengikuti olimpiade Fisika diluar kota, bukan karena takut kalah, namun Aya sangat cemas untuk meningglkan neneknya sendiri dirumah, padahal Fras sudah mengatakan jika nenek akan tinggal bersama dengan orang tuanya selama Aya berada diluar kota


        Siswa-siswi terlihat ramai berlari menuju lapangan basket karena pertandingan akan segera dimulai, Eta dan Lulu juga ikut serta dikerumunan siswi-siswi yang antusias untuk menyaksikan pertandinga tersebut


        “Ya, ayo ikutan nonton pertandingan basket sekolah kita dengan SMU Sentosa, katanya kapten dari


SMU Sentosa keren abis lo” gelegat Eta membuat Lulu bergidik padahal keduanya sama-sama genitnya


        “boleh, tapi bentar ya akum au kekelas sebentar mau nyimpan buku, please wait me” Aya berlari menuju kelasnya dan diacungkan jempol oleh Eta dan Lulu


        Aya memasuki kelas dan berjalan dibarisan bangkunya, tepat diatas mejanya iya menemukan setangkai bunga dan seracik kertas bertuliska


        “tungguin aku dilapangan basket selesai pertandingan basket”


        Aya hanya terdiam sesaat melihat tulisan itu, dengan masa bodohnya iya meninggalkan bunga tersebut


diatas mejanya dan menyimpan bukunya didalam laci kemudian menyusul Eta dan Lulu ke lapangan basket


        Teriakan para siswi membahana disekitaran lapangan basket, mereka berteriak memberikan dukungan kepada idola mereka, aya datang dan duduk disamping Eta dan Lulu, tak jauh dari tempat duduk mereka bertiga terlihat Rian yang tengah memperhatikan Aya


        “lama banget sih Ya, kayak balik rumah aja kamu nyimpan buku” oceh Eta yak arena memang Aya agak


lama hanya sekedar untuk menyimpan buku dikelas


        “sorry, tadi mampir ke toilet. Heee……….” Cengir Aya padahal sebenarnya iya tak ada pergi ke toilet


        “pup aja lamabanget kayak nungguin jodoh ja” cerosos Lulu yang membuat Eta langsung menjawab

__ADS_1


        “noh, jodoh tu depan mata, dia lagi main basket. Sumpah dah ganteng dan keren banget, diam au gak ya kalo aku jadikan pacar” Aya yang melihat tingkah temannya tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala


        “emang dia mau sama kamu, duh dasar jones. Secara ya, dia tu ganteng, keren, dan dengar-dengar dia tu pinter banget anak horang kaye lagi, mana mau sama kamu yang aduh, kasikucing juga kucing gak bakalan mau sama kamu, mending dia sama aku, aku kan yunik” Eta tertawa mendengar ocehan Lulu yang mengatakan dirinya unik


        “iya unik, unik dijadikan barang bersejarah dan dimasukan kemuseum karna gak ada manusia apalagi temen aku kayak kamu”


        “bilang aja kamu iri, iya kan? Eh bentar, memangnya kita temenan ya, sejak kapan?” Lulu tampak berpikir ucapan Eta


        “sejak kambing pak Indra kawin sama kucing bu Pinoy” Aya yang melihat kedua temannya semakin menjadi pun bergerak menjadi penengah


        “duh, udah deh. Katanya ngajakin nonton pertandingan basket malah debat gak jelas” Eta dan Lulu hanya nyegir kuda karena tersadar akan keberadaan Aya, dan akhirnya mereka pun gak berdebat lagi


        “Ta, emang benar ya kambing bisa kawin sama kucing” pertanyaan Lulu membuat Eta kesal hingga


iyapun hanya diam tak menjawab perkataan Lulu


        Pertandingan basket tak terasa telah selesai, kemenangan diraih oleh SMA Bakti Mulia, sekolahnya Aya yang di kapteni oleh Edo, dengan gaya sok coolnya iya menghampiri Aya yang tengah duduk bersama Lulu dan Eta, Rian memperhatikan gerak-gerik Edo


        “Ya, aku mau ngomong sama kamu, ini tentang kita berdua” Edo menarik tangan Aya menuju tengah lapangan, semua siswi histeris melihat hal itu. Aya yang merasa tangannya sakit berontak atas perlakuan Edo


        Edo menarik paksa tangan aya hingga keduanya kini berada ditengah lapangan, Aya tampak begitu kesal kenapa Edo begitu, jika memang Edo perlu bicara dengannnya kenapa gak di kursi penonton aja, lagi pula jika ada yang perlu dibicarakanpun Aya gak ngerti karena sebelumnya mereka gak dekat sama sekali


        “Raya pratiwi, hari ini aku mau kamu jadi pacarku” Edo berteriak menyatakan perasaanya yang membuat Aya seperti udang rebus merona menahan malu. Para siswa yang masih berada dilapangan bersorak agar Aya menerima cintanya Edo, Lulu dan Eta melihat dari kursi atas merasa jika Aya sangat tidak nyaman dengan kondisi yang seperti itu, Rian mengepalkan tangannya untuk meredamkan emosinya,


        “Edo, sebelumnya maaf. Aku gak bisa, permisi” Aya berlalu meningalkan Edo yang masih berada


ditengah lapangan, Eta dan Lulu melihat Aya meninggalkan lapangan segera menyusul Aya dari belakang.


        “Aya, dasar gak tau diuntung, diluar sana masih banyak cewek-cewek yang ngebet jadi pacar gue,


secara gue ganteng dan gue anak orang kaya. Udahlah introvert, aneh, sok lagi” Edo memaki Aya yang telah berlalu dari hadapannya, ingin rasanya Rian menyumpal mulut Edo dengan kertas yang dipegangnya, namun iya masih bisa menahan emosinya, tak jauh dari tempat dudul Rian, terlihat siswi yang tengah puas karena Aya menolak pernyataan perasaan Edo


        “selama gue gak bisa milikin lo seutuhnya orang lain juga gak boleh milikin lo, karena lo hanya

__ADS_1


boleh jadi milik gue” gumam siswi tersenut dari tempat duduknya dan berlalu melewati Rian


        Aya tengah duduk dikursi dikoridor sekolah dengan pikiran yag kacau, kenapa bisa Edo bertingkah


bodoh begitu, belum tenang iya akan pergi meninggalkan neneknya, Edo malah berulah demikian. Aya menelungkupkan tangannya menutupi wajahnya, rasanya Aya ingin berteriak saja jika tak memikirkan dia masih berada dilingkungan sekolah. Aya masih bingung apa yang disukai Edo atas dirinya, Aya yang tak punya teman selain Eta, Lulu, Nono dan ditto, tak pernah antusias dengan yang namanya status sosial.


        Dari arah sebelah kiri Aya terdengar bunyi gerakan perjalan seseorang, iya masih menelungkupkan


wajahnya dengan tangannya, jantung Aya berdegup sangat kencang takut jika itu Edo yang kan mneyusulnya, sampai akhirnya iya merasa seseorang tersebut berhenti tepat disampingnya


        “minum dulu” seseorang menyodorkan minuman kearah Aya, dan lihat dia bukanlah Edo melainkan Rian


        “Rian, kira siapa tadi, sorry lama respon” Aya masih diposisi duduknya seraya menerima minuman dari Rian


        “selow, Rian gak disini” Rian menegukkan minumannya, “keputusan kamu gak ada yang salah, karena


nantinya kamu juga yang bakal jalaninya, jadi ikuti apa kata hatimu” Aya menoleh kearah Rian, iya merasa serasa mendapat dukungan dari seseorang yang sangat iya harapkan


        “aku juga gak tau kenapa Edo bisa gitu, emang selama ini Edo selalu memberikan perhatian kecilnya


terhadapku namun selalu kukatakan aku gak bisa dan karena sikapnya yang seperti itu membuatku canggung terhadapnya dan membuatku gak nyaman sekali, hingga kejadian hari ini membuatku benar-benar malu dan terkejut” Aya bicara dengan tenangnya, entahlah seperti Rian seseorang yang sudah lama sekali mengenal Aya


        Tak lama kemudian Eta dan Lulu menyusul aya dengan napas yang ngos-ngosan kayak orang dikejar setan siang bolong


        “Ya, hais kesal dah aku, disini rupanya dicariin kemana-mana juga sampe keliling sekolah berasa


keliling dunia nyariin eh malah enak-enakkan ngobrol berduaan dengan bebeb Rian disini” Eta mengedipkan matanya ke arah Rian


        “sorry, aku tadi maunya sendiri tapi Rian tau aku disini” Aya menyesalkan dirinya karena telah membuat teman-temannya khawatir atas dirinya


        “it’s ok baby, tapi balik ini ikutan kita buat nyari baju untuk diacara DN nanti, ok?” Lulu mengacungkan jempolnya dan disambut senyuman oleh Aya. Mereka berampat puntertawa bersama entah apa yang mereka bicarakan hingga Aya tertawa lepas begitu.  Tak jauh dari tempat duduk mereka dari sudut kiri Edo dan teman-temannya melihat betapa akrabnya Rian yang seorang anak baru dengan Raya pratiwi gadis yang disukainya, jemari Edo mengepal


        “sesenang itukah kau, Raya pratiwi setelah menolakku dan membuatku malu didepan anak-anak, kita

__ADS_1


liat aja seberapa lama senyummu akan bertahan dan tertawa dengan ******** Rian? Selain gue gak ada yang bisa miliki loe\, karna loe hanya buat gue\, buat gue. Ingat itu Raya pratiwi” Edo kemudian berlalu dari sudut itu dan menuju parkiran


__ADS_2