Gelombang Laut

Gelombang Laut
Berhati iblis


__ADS_3

        “kenapa dirumah sangat membosankan? duh sangat menjengkelkan dengan keadaan yang seperti ini, kapan sih aku bisa keluar rumah, memangnya aku ini lika apa? Lika aja bebas main dengan teman-temannya diluar


rumah. Eta sama Lulu juga tumben gak main kesini udah beberapa hari lo, nenek juga gak pernah jenguk aku disini, masa iya nenek gak kangen sama aku?” Aya mendumel sendiri dalam kamarnya


        Kondisi Aya saat ini masih belum sepenuhnya pulih benar sehingga tak dibolehkan melakukan aktivitas seperti biasanya dan Aya hanya boleh dirumah. Untuk sekarang Aya dirumah ditemani bi Inah babysitter dimasa iya kecil dulu dan sekarang usia beliau sudah cukup tua.


        Sudah sering bunda menawarkan bi Inah untuk berhenti dari pekerjaannya dan beristirahat dirumah dengan uang pesangon yang cukup besar, namun bi Inah selalu menolak dengan alasan bosan berdiam diri dirumah, akhirnya bunda pun mengizinkan beliau untuk tetap bekerja namun hanya sebagai pemantau untuk asisten yang lain


        Namun untuk urusan makanan selalu bi Inah yang selalu diandalkan, karena bunda hanya mempercayai bi Inah yang mnegurusi makanan untuk keluarganya


        Seperti saat ini waktunya makan siang, beliau berkutat didapur untuk memasak makanan untuk Aya sesuai dengan makanan yang bisa dimakan Aya, dengan telaten bi Inah memasak didapur. Tak lama kemudian makanan pun sudah siap, bi Inah menyiapkan makanan makan siang diatas nampan untuk dibawa ke kamar Aya


        “non, makan saing dulu” bi inah mengetuk pintu kamar Aya, dari dalam Aya tengah membolak balik novelnya yang dibawakan Rian dari rumah neneknya


        “masuk aja, bi gak dikunci” bi Inah masuk membawa makanan makan siang untuk Aya


        “bibi masak apa, baunya enak banget?” Aya mengendus aroma makanan dari mangkuk yang ada diatas nampan


        “ayam kukus sama sup jamur, non makan ya” bi Inah meletakan makanan diatas meja samping tempat tidur Aya


        “bi, temenin Aya disini dong, bosan dikamar mulu. Lagian Aya kan udah sehat ngapa gak dibolehkan keluar sih” wajah Aya masam


        “tapi bibi ada kerjaan lain, non” bi Inah berusaha menolak permintaan Aya karena merasa tak enak dengan majikannya


        “nanti aja deh, lagian Aya udah lama gak ditungguin sama bibi makan, terakhir kan waktu Aya masih kecil. Yah, yah temenin Aya, ntar kalo bunda marah atau siapapun yang marah protes bibi gak ngerjain kerjaan rumah biar


Aya deh yang marahin, please” Aya memasang wajah imutnya, bi Inah terlihat bingung


        “sebentar aja ya, makanan non juga dihabisin biar cepat pulih” Aya mengacungkan jempolnya menandakan setuju


        Aya dengan lahap menghabiskan makanannya, dalam sekejap makanan sudah tak bersisa lagi dimangkuk, Aya merasa perutnya sudah sangat kenyang sampai iya merasa sangat mengantuk sekali hingga akhirnya tertidur. Bi Inah yang melihat Aya tertidur keluar kamar membawa mangkuk makanan tadi dengan hati-hati agar tak mengganggu tidurnya Aya

__ADS_1


        Disebuah ruangan disebuah perkantoran terlihat seorang pria yang sangat begitu mudah tengah terlihat gelisah seperti menunggu sesuatu, beberapa kali iya melirik ponselnya mengecek apakah ada notofikasi pesan atau panggilan dari seseorang. Ruangan yang begitu luas tersebut terasa sempit hanya untuk digunakan mondar-mandir untuk menunggu kabar dari seseorang, pria ersebut iyalah Rian, rian tengah menunggu kabar dari anak buahnya yang menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa adiknya beberapa saat lalu, hingga ponsel berdering Rian dengan cepat menjawab panggilan tersebut


        “bagaimana hasilnya?” dengan rahang yang tegas iya berbicara tenang dengan seseorang diseberang sana


        “semuanya sudah dikirim lewat email, untuk tersangka sudah ada bersama kami” sesaat panggilan terputus, Rian segera membuka laptopnya dan membuka email yang dimaksud


        Betapa emosinya Rian melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan seseorang dengan sengaja memutuskan tali rem motor adiknya diparkiran sekolah, rahang Rian menggeretak dengan kerasnya, tangannya mengepal menahan emosinya, sebesar apakah salah adiknya hingga orang tersebut tega melakukan hal demikian


terhadap adiknya?


        Rian menutup laptopnya kemudian mengambil jasnya dan menelpon seseorang, seseorang yang ditelpon beberapa saat kemudian datang keruangan Rian


        “tolong handle semua urusan kantor, aku ada urusan sebentar, nanti jika ayah menelpon menanyakan keberadaanku dimana bilang saja aku sedang ada meeting dengan klien” lawan bicaranya mengerti dengan perintah tuannya, Rian pun kemudian keluar ruangan meninggalkan orang tersebut


        “tak ada orang yang selamat jika berurusan dengan seorang Rian Pradita” gumam seorang yang barusan menjadi lawan bicara Rian


        Sepanjang perjalan Rian menahan emosinya yang meluap-luap, rasanya emosinya sudah mencapai puncak ubun-ubunnya, hingga iya telah sampai suatu tempat yang terlihat sangat sepi tak berpenghuni itu, rian berjalan


        “dimana dia?” seorang pria dengan setelan formal menunjukkan tempatnya dengan berjalan dibelakang Rian, tepat disebuah ruangan terlihat seorang lelaki dengan muka penuh lebam dengan tangan terborgol dan terikat ada


sebuah tiang besar, pintu terbuka lelaki yang disekap tersebut terlihat sangat ketakutan.


        Rian berjongkok mendekati pria tersebut yang tengah terlihat begitu ketakutan melihat kedatangan Rian


        “kenapa kamu tega melakukan hal demikian terhadap adikku? Apa salahnya padamu sehingga kau tega melakukan itu kepadanya?” Rian sedikit menaikkan nada bicaranya, lelaki itu terlihat menunduk ketakutan tanpa berani menatap wajah Rian


        “siapa yang menyuruhmu, katakan atau kamu akan berakhir dengan keadaan yang mengenaskan tanpa siapapun yang menyadari keberadaanmu!” ancam Rian dengan tatapan membunuh, tentu lawan bicaranya merasa diambang kematian melihat tatapan itu


        “akan kukatakan siapa yang menyuruhku, tapi berjanjilah untuk melepaskan ku dan membiarkan ku pergi jauh” lelaki tersebut terlihat memohon dengan suara yang gemetar


        “tergantung, jika kamu berkata jujur maka hidupmu akan selamat, namun jika kamu sempat berbohong maka orang terdekatmu akan menderita” jiwa iblis sudah merasuki jika Rian, entah dari mana iya mendapatkan jiwa

__ADS_1


seperti ini, padahal iya selalu didik dengan kelemahlembutan


        “Edo, dia tak terima jika Aya menolak cintanya dan membuatnya malu didepan anak-anak” Rian langsung melayangkan gamparannya tepat dirahang bawah lelaki itu


        Benar\, dugaan Rian tak meleset. Memang ******** kamu Edo\, lelaki tersebut sampai hampir mati ketakutan dibuatnya karena emosi Rian yang menggelap


        “temukan keberadaan Edo sekarang, jangan sampai dia lolos. Apa yang telah dia perbuat dia juga harus membayarnya setimpal dengan apa yang dirasakan Aya” perintah Rian yang tak boleh dibantah oleh siapapun, Rian kemudian keluar ruangan meninggalkan lelaki tersebut yang masih dengan keadaan


yang sangat menyedihkan


        Lelaki tersebut lepaskan borgol tangannya serta ikatannya pada tiang besar, betapa berterima kasihnya iya kepada Rian karena tak dibunuh saat itu juga olehnya.


        Rian keluar dari tempat tersebut dengan wajah geram, rahang menggeretak berasa seperti singa kelaparan, iya kemudian masuk mobil dan pergi meninggalkan tempat tersebut untuk kembali kekantornya. Ponsel Rian berdering dilayar ponsel panggilan dari bundanya


        “bun, sebentar Rian sedang dijalan lagi nyetir” iya hendak menutup panggilannya namun ditahan oleh bundanya


        “kenapa, bun? Ok, Rian pulang sekarang” iya melajukan mobilnya menuju rumah, sesampainya dirumah iya melihat adiknya sedang marah besar, entah apa yang membuatnya begitu marah


        “bun, kenapa dia?” bunda terlihat selesai menangis, sedangkan bi Inah berbidam tak jauh dari bunda berdiri


        “Aya tau kebenarannya, dan iya merusak semua barang yang ada dikamarnya” Rian terperangah mendengar penuturan bundanya, seberingas itukah adiknya?


        “dia tau jika nenek telah tiada, dan dia tau jika selama ini kita telah membohonginya. Bunda takut adikmu melakukan hal yang menyakitinya”Rian berjalan menghampiri kamar adiknya


        “dek, buka pintunya ya, ini kakak” Rian berusaha membujuk adiknya supaya mau membukakannya pintu, namun tak ada jawaban dari pemilik kamar


        “dek, buka pintunya sekarang atau kakak dobrak pintunya” namun masih taka da jawaban sampai Rian memilih untuk mendobrak pintu kamar adiknya


        “Aya” Rian melihat adiknya telah tergeletak dilantai samping tempat tidur dengan tangan memegang Ventolin inhaler dengan kondisi tak sadarkan diri, Rian langsung mengangkat tubuh Aya dan segera membawanya turun


kebawah

__ADS_1


        “bun, siapkan mobil” bunda dengan sigap menyiapkan mobil dan segera membawa Aya kerumah sakit, selama perjalanan bunda berdoa semoga putrinya baik-baik saja.


__ADS_2