
Dari panas terik matahari
Dari dosa yang aku lakukan tiap hari
Dari nafas yang aku hembus
Menyesal sudah tak mungkin
Tobat tak dianggap lagi
Maaf tak di dengar lagi
Tak kala elmaut melepaskan jasadku
Langit cerah berganti awan gelap
Kicauan burung pergi entah kemana
Untuk waktu yang tak terbayangkan
Untuk maaf yang telah terlambat
Untuk kebaikan yang terabaikan
Untuk keabadian yang di tuju
Untuk hari yang telah berlalu tanpa makna
Untuk semua langkah terakhir yang telah berhenti
Diam........
Sunyi.......
Dan mati......
Tawa lenyap di iringin tangisan
Perjalanan ini telah usai
Terdiam di pembaringan
Beristirahat memaknai
Kematian menjelaskan
Tidak mungkin untuk kembali
Tidak mungkin untuk ditawar
Meski terdengar sedih
Hidup terlalu singkat
Perasaan kehilangan menimbulkan siksa
Hidup dan mati cuman dua saat
Bisa mencintai bisa melepaskan
Saat kalah mulai menghargai
Penting membunuh ingatan
Agar jiwa berubah jadi batu
Demi kesetiaan tersiksa oleh sepi
Perasaan yang hilang masih bisa kembali
Berdamai dengan kematian sendiri
Tanpa kehadiran orang yang dicintai
Pergi tanpa penyesalan
Saat lampu harus di padamkan
__ADS_1
Keinginan adalah setengah hidup
Setengah mati adalah ketidakpedulian
Cinta cuman kebencian bertahap
Dan kebencian adalah cinta sejati
Hidup adalah permainan antrian kartu truf
Antrian setelah kematian
Dan aku mendaki tanpa antrian
Hati tak berkata
Otak tak bertanya
Jiwa yang lara melayang di awang awang
Tubuh ringkih tak berdaya di dalam tanah
Pupus segala kemegahan
Putus sebuah hubungan
Kafan membalut indah raga yang rapuh
Cinta alam menanti di liang kubur
keranda mewah
Bunga warna warni penghias nisan
Sukma merayu mesra berharap suci menghampiri
******* sunyi hampa hati
Bercumbu dengan tanah bumi
Dalam noda berkarat dan melumut
Bersama aib cela hati
Bersama maaf yang terpatri di kening
Lelah dalam hujan membuai dendam
Segelintir makna tak butuh arti
Angin di altar awan merindu
Kepedihan makin merajam
Dalam kubangan tetesan hujan
Tersingkir dibalik bebatuan
Tertindih kemelut roda zaman
Angin tak mengenal kata
Tulisan di atas nisan berteman kardus lusuh
Berpacu menentang maut
Menuju ke perbatasan
Benci dan nafsu masih membara
Akan sebuah kebenaran yang hampa
Berpacu dengan denyut waktu
Memikul pilu tak dirasa
Memainkan luka dengan ceria
__ADS_1
Antara jumpa dan pisah tiada jarak
Hanya sebuah gerak
Ada pinta tersendat di dada
Sebelum usai semua ini
Sebuah pamit sedih terucap
Berujung kata pisah
Pamit ini sebuah jalan
Untuk melihat perubahan
Tak perlu berdebat panjang
Izinkan aku pergi duluan
Kekekalan tak pernah ada di bumi ini
Bersyair menentang dusta
Kematian menamatkan rindu
Tak kala perjalanan telah selesai
Jangan menangis
Karena aku tidak membutuhkan
Cukup sebuah senyuman
Sebagai tawaran selamat tinggal
Kiamat tak terbesit
Matiku tak rumit
Tanpa menyiksa tanpa sekarat
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hina menyeka butir keringat terseka
Waktu kian ******* umurku
Seiring laju waktu
Desir masa menjauh
Berangsur tegapku rapuh
Jembatan waktu sudah setengah ku sebrangin
Beribu hatur kasih
Terlontar dari bibir perindu mati
Memadu lidah dengan kata
Tangan terbuang lidah tak bertulang
Kusam lorong keranda tertanam di tanah
Melenyapkan raga dari pandangan
Mencari surga di pulau neraka
Dibalik keranda aku tertidur malu
Menghilangkan jejak tak hadir meminang waktu
Dari raga berlumuran dosa
Memikul nista di pundak pezinah
__ADS_1
Kematian terindah
Tanpa sakit dan dibanjir derai airmata