Gubahan Tak Bermakna

Gubahan Tak Bermakna
Kematian


__ADS_3

Dari panas terik matahari


Dari dosa yang aku lakukan tiap hari


Dari nafas yang aku hembus


Menyesal sudah tak mungkin


Tobat tak dianggap lagi


Maaf tak di dengar lagi


Tak kala elmaut melepaskan jasadku


Langit cerah berganti awan gelap


Kicauan burung pergi entah kemana


Untuk waktu yang tak terbayangkan


Untuk maaf yang telah terlambat


Untuk kebaikan yang terabaikan


Untuk keabadian yang di tuju


Untuk hari yang telah berlalu tanpa makna


Untuk semua langkah terakhir yang telah berhenti


Diam........


Sunyi.......


Dan mati......


Tawa lenyap di iringin tangisan


Perjalanan ini telah usai


Terdiam di pembaringan


Beristirahat memaknai


Kematian menjelaskan


Tidak mungkin untuk kembali


Tidak mungkin untuk ditawar


Meski terdengar sedih


Hidup terlalu singkat


Perasaan kehilangan menimbulkan siksa


Hidup dan mati cuman dua saat


Bisa mencintai bisa melepaskan


Saat kalah mulai menghargai


Penting membunuh ingatan


Agar jiwa berubah jadi batu


Demi kesetiaan tersiksa oleh sepi


Perasaan yang hilang masih bisa kembali


Berdamai dengan kematian sendiri


Tanpa kehadiran orang yang dicintai


Pergi tanpa penyesalan


Saat lampu harus di padamkan

__ADS_1


Keinginan adalah setengah hidup


Setengah mati adalah ketidakpedulian


Cinta cuman kebencian bertahap


Dan kebencian adalah cinta sejati


Hidup adalah permainan antrian kartu truf


Antrian setelah kematian


Dan aku mendaki tanpa antrian


Hati tak berkata


Otak tak bertanya


Jiwa yang lara melayang di awang awang


Tubuh ringkih tak berdaya di dalam tanah


Pupus segala kemegahan


Putus sebuah hubungan


Kafan membalut indah raga yang rapuh


Cinta alam menanti di liang kubur


keranda mewah


Bunga warna warni penghias nisan


Sukma merayu mesra berharap suci menghampiri


******* sunyi hampa hati


Bercumbu dengan tanah bumi


Dalam noda berkarat dan melumut


Bersama aib cela hati


Bersama maaf yang terpatri di kening


Lelah dalam hujan membuai dendam


Segelintir makna tak butuh arti


Angin di altar awan merindu


Kepedihan makin merajam


Dalam kubangan tetesan hujan


Tersingkir dibalik bebatuan


Tertindih kemelut roda zaman


Angin tak mengenal kata


Tulisan di atas nisan berteman kardus lusuh


Berpacu menentang maut


Menuju ke perbatasan


Benci dan nafsu masih membara


Akan sebuah kebenaran yang hampa


Berpacu dengan denyut waktu


Memikul pilu tak dirasa


Memainkan luka dengan ceria

__ADS_1


Antara jumpa dan pisah tiada jarak


Hanya sebuah gerak


Ada pinta tersendat di dada


Sebelum usai semua ini


Sebuah pamit sedih terucap


Berujung kata pisah


Pamit ini sebuah jalan


Untuk melihat perubahan


Tak perlu berdebat panjang


Izinkan aku pergi duluan


Kekekalan tak pernah ada di bumi ini


Bersyair menentang dusta


Kematian menamatkan rindu


Tak kala perjalanan telah selesai


Jangan menangis


Karena aku tidak membutuhkan


Cukup sebuah senyuman


Sebagai tawaran selamat tinggal


Kiamat tak terbesit


Matiku tak rumit


Tanpa menyiksa tanpa sekarat


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hina menyeka butir keringat terseka


Waktu kian ******* umurku


Seiring laju waktu


Desir masa menjauh


Berangsur tegapku rapuh


Jembatan waktu sudah setengah ku sebrangin


Beribu hatur kasih


Terlontar dari bibir perindu mati


Memadu lidah dengan kata


Tangan terbuang lidah tak bertulang


Kusam lorong keranda tertanam di tanah


Melenyapkan raga dari pandangan


Mencari surga di pulau neraka


Dibalik keranda aku tertidur malu


Menghilangkan jejak tak hadir meminang waktu


Dari raga berlumuran dosa


Memikul nista di pundak pezinah

__ADS_1


Kematian terindah


Tanpa sakit dan dibanjir derai airmata


__ADS_2