Gubahan Tak Bermakna

Gubahan Tak Bermakna
Ehm


__ADS_3

Bentangan jiwa tergilas oleh hempasan waktu


Saat sikap menyatakan pilihan


Embusan angin menentukan arah


Langkah kaki membawa tubuh yang lelah


Rindu yang tak mungkin sampai pada tuannya


Terus tumpah tanpa ada yang memandang


Badai kecewa melanda kesetiaan


Membasuh raga yang mulai usang


Terkurung dalam dunia yang kubuat


Hidup yang tiada makna


Lembah sedih kulalui dengan senyuman


Hidup sepi berselimutkan duka


Hampa mewarnai sebuah kesedihan


Jutaan makna terungkap dengan kata


Lamunan menciptakan kebisuan


Hati terpecik noda


Wajah tertekuk rata dengan pedang tertancap


Riwayat terbedah kenangan terkubur


Nyanyian jiwa bersenandung tanpa irama


Aku hilang dalam sepinya keramaian


Menangis tanpa suara


Menjadi teman pelipur lara


Ingin aku pergi dari duniaku


Membawa bahagia meninggalkan sedih


Tertatih berjalan dari sebuah duka


Tubuh dibalutin dinginnya malam


Darah serasa mulai membeku


Merindukan api cinta yang telah hilang ditelan kalbu


Yang begitu rela membiarkan aku mati


Gelapnya sepi terlihat di depan


Tak mampu menyatakan rasa sebak dalam jiwa


Saat malam mengeser siang


Menelan mentari merusak langit ungu


Cahaya bulan malu menyapa


Harapan ingin terulang terbang bersama angin

__ADS_1


Sepi bertahtakan abadi sebuah kebisuan


Lenyap hilang tanpa suara


Aku ingin menangis sebentar saja


Cuman sebentar saja...


Aku yang rapuh di hempas sang ombak


Terserat tanpa arah dan kendali


Penyesalan diri yang hanya bisa mengingkar


Rindu yang sudah tak terbatas


Tak jua aku berhenti bernafas


Kerinduan yang mengalahkan gundah


Menyiksa sukma terpatri dihati


Bayangan hadir dalam harmonika jiwa


Membelenggu sepi menyapa sanubari


Terpuruk bukanlah sebuah pilihan


Saat raga tanpa nyawa hilang ditelan pilu


Andai aku bisa menentukan takdirku


Tak hanya menunggu seperti ini


Hari tanpa ada rasa mati


Meneruskan yang pernah kutunda


Aku tak mampu


Tangan seakan terlalu lelah


Lelah menahan rindu


Membelai geraian indah rambutmu


Semilir angin tak lagi menggodaku


Terlalu dalam aku terbenam dilangit kerinduan


Sepuncuk gundah menggaduh hati


menitik getir yang lebih perih


Padamu malam kutitipkan buaian resah


Menguap bersama asap tembakau


Secangkir kopi sebagai altar penyamun hati


Merajah makna menjadi azimat sesat


Menyiksa hati pilu yang sepat


Merindukanmu begitu perih


Bagai belati dibalik rengkuhan


Nafasmu adalah airmataku

__ADS_1


Aksara mengalir bagaikan ritme


Senandung kalbu sebagai elegi


Melodi sepi dalam sebuah mimpi


Celoteh hati semakin sepi bagai nada tanpa suara


Bercumbu sebentar kepada sang waktu


Mengatup bibir terusir kelam


Terbungkam dari semua kata


Tak kala badai membawa maut


Sepenggal kisah yang belum usai


Aku tersesat dalam penantian yang tak berujung


Membawa luka dan seribu mimpi


Dan sejuta senyuman dalam ilusi


Lelah menanti bukan tak berharap


Harap tak berwujud bukan berarti punah


Bayangan semu berlahan menghampirin


Harapkan cahaya muncul memantul


Kebisuan mencekam dalam keramaian


Langit merah mengiringi langkah yang gelap


Awan semakin kelabu jiwa masih beradu


Tak sanggup aku melupakanmu


Mengingatmu sungguh sakit


Mengenangmu terlalu pahit


Bersama hanya untuk menyerah ?


Hati berpegang teguh pada janji


Logika tak terselami hanya sebatas angan


Walau hanya sebatas harap tak bertepi


Perih luka hati ini


Goretan luka menembus dimensi


Tak seharusnya cinta menjebak rasa


Mendobrak tawa hingga tak tertahan


Berteman sunyi menjelma emosi


Mengasingkan diri dn memutuskan pergi


Pupil airmata membangun menara


Menyendiri mengakrabi sepi berbalut rindu


Anak yang hilang tak pernah lagi pulang

__ADS_1


*HARUSKAH TABAH ATO MENYERAH **⁉️*


__ADS_2