
Bentangan jiwa tergilas oleh hempasan waktu
Saat sikap menyatakan pilihan
Embusan angin menentukan arah
Langkah kaki membawa tubuh yang lelah
Rindu yang tak mungkin sampai pada tuannya
Terus tumpah tanpa ada yang memandang
Badai kecewa melanda kesetiaan
Membasuh raga yang mulai usang
Terkurung dalam dunia yang kubuat
Hidup yang tiada makna
Lembah sedih kulalui dengan senyuman
Hidup sepi berselimutkan duka
Hampa mewarnai sebuah kesedihan
Jutaan makna terungkap dengan kata
Lamunan menciptakan kebisuan
Hati terpecik noda
Wajah tertekuk rata dengan pedang tertancap
Riwayat terbedah kenangan terkubur
Nyanyian jiwa bersenandung tanpa irama
Aku hilang dalam sepinya keramaian
Menangis tanpa suara
Menjadi teman pelipur lara
Ingin aku pergi dari duniaku
Membawa bahagia meninggalkan sedih
Tertatih berjalan dari sebuah duka
Tubuh dibalutin dinginnya malam
Darah serasa mulai membeku
Merindukan api cinta yang telah hilang ditelan kalbu
Yang begitu rela membiarkan aku mati
Gelapnya sepi terlihat di depan
Tak mampu menyatakan rasa sebak dalam jiwa
Saat malam mengeser siang
Menelan mentari merusak langit ungu
Cahaya bulan malu menyapa
Harapan ingin terulang terbang bersama angin
__ADS_1
Sepi bertahtakan abadi sebuah kebisuan
Lenyap hilang tanpa suara
Aku ingin menangis sebentar saja
Cuman sebentar saja...
Aku yang rapuh di hempas sang ombak
Terserat tanpa arah dan kendali
Penyesalan diri yang hanya bisa mengingkar
Rindu yang sudah tak terbatas
Tak jua aku berhenti bernafas
Kerinduan yang mengalahkan gundah
Menyiksa sukma terpatri dihati
Bayangan hadir dalam harmonika jiwa
Membelenggu sepi menyapa sanubari
Terpuruk bukanlah sebuah pilihan
Saat raga tanpa nyawa hilang ditelan pilu
Andai aku bisa menentukan takdirku
Tak hanya menunggu seperti ini
Hari tanpa ada rasa mati
Meneruskan yang pernah kutunda
Aku tak mampu
Tangan seakan terlalu lelah
Lelah menahan rindu
Membelai geraian indah rambutmu
Semilir angin tak lagi menggodaku
Terlalu dalam aku terbenam dilangit kerinduan
Sepuncuk gundah menggaduh hati
menitik getir yang lebih perih
Padamu malam kutitipkan buaian resah
Menguap bersama asap tembakau
Secangkir kopi sebagai altar penyamun hati
Merajah makna menjadi azimat sesat
Menyiksa hati pilu yang sepat
Merindukanmu begitu perih
Bagai belati dibalik rengkuhan
Nafasmu adalah airmataku
__ADS_1
Aksara mengalir bagaikan ritme
Senandung kalbu sebagai elegi
Melodi sepi dalam sebuah mimpi
Celoteh hati semakin sepi bagai nada tanpa suara
Bercumbu sebentar kepada sang waktu
Mengatup bibir terusir kelam
Terbungkam dari semua kata
Tak kala badai membawa maut
Sepenggal kisah yang belum usai
Aku tersesat dalam penantian yang tak berujung
Membawa luka dan seribu mimpi
Dan sejuta senyuman dalam ilusi
Lelah menanti bukan tak berharap
Harap tak berwujud bukan berarti punah
Bayangan semu berlahan menghampirin
Harapkan cahaya muncul memantul
Kebisuan mencekam dalam keramaian
Langit merah mengiringi langkah yang gelap
Awan semakin kelabu jiwa masih beradu
Tak sanggup aku melupakanmu
Mengingatmu sungguh sakit
Mengenangmu terlalu pahit
Bersama hanya untuk menyerah ?
Hati berpegang teguh pada janji
Logika tak terselami hanya sebatas angan
Walau hanya sebatas harap tak bertepi
Perih luka hati ini
Goretan luka menembus dimensi
Tak seharusnya cinta menjebak rasa
Mendobrak tawa hingga tak tertahan
Berteman sunyi menjelma emosi
Mengasingkan diri dn memutuskan pergi
Pupil airmata membangun menara
Menyendiri mengakrabi sepi berbalut rindu
Anak yang hilang tak pernah lagi pulang
__ADS_1
*HARUSKAH TABAH ATO MENYERAH **⁉️*