
Malam berlalu begitu cepat
Semua yang aku mimpikan
Menghilang saat aku bangun
Membuatku jatuh dan terjatuh
Bahkan jika dunia telah berubah
Aku tetap sama
Tetap memimpikan sesuatu yang sama
Mimpi yang telah hilang saat aku terbangun
Hujan turun dengan derasnya
Membasahi lapisan hati yang penuh duka
Memadamkan api amarah dalam jiwa
Mengikis guratan luka kegagalan yang menyiksa
Tersirap sekejap angin berhembus
Angkat tangan lurus telunjuk
Sujud sejenak bulatkan tekad
Untuk meluruh seluruh tubuh
Tiba angin berjingkat cepat
ayunkan langkah meniti hari
Daun daun tertunduk hormat
Sambil bertasbih menyambut hasrat
Menarik menyeret membuang tekad
Mengenal resah jiwa tak indah
Sungguh aku salah mengira
Sungguh aku tiada sangka
Bukan pualam bukan emas tempaan
Yang ku lihat bertepuk sebelah tangan
Ku mau berkasih dengan mereka
Merasuk menukik jiwa belia
Garis diwajah memperjelas arah
Petanda senja usia
Kering tandus tak terurus
Perjalanan manusia penuh dengan lika liku
Selalu berbeda tanpa batas ruang dan waktu
Kegagalan kadang kala menyakitkan kalbu
Tiada pembimbing bagi hati yang pilu
Kegagalan bukan akhir dari suatu perjalanan
Hanya sebatas ujian dalam kehidupan
Kerinduan akan bahagia selalu di dapatkan
Bagi seorang yang berfikir hidup adalah ujian
Sanubari senantiasa berdzikir tanpa henti
Ketika akhir dari tujuan tak menjadi milik
Hanya keikhlasan yang menolong pedihnya jiwa
Pasrahkan segalanya pada sang penguasa
Tatap masa depan melalui doa
Tiada hal yang sia sia dalam setiap jalan pengorbanan
__ADS_1
***************************************************
Pergolakan ikhlas dan egois
Membuat naluriku hampir terkikis habis
Tak mengapa aku jatuh
Jangan bangunkan aku
Aku masih bisa bangun sendiri
Airmata menetes cukup jangan di usap
Karena aku masih memiliki jari
Duhai pemilik jiwa
Kertas putih kini mengusam tertulis ribuan susah
Kini hancur karena kerakusan sebuah kegagalan
Tak pernah mengeluh bukan berarti tak lelah
Tak pernah menangis bukan berarti selalu bahagia
Tak pernah sakit bukan berarti kuat
Tak pernah terluka bukan berarti tak pernah jatuh
Keindahan senja terlihat menghilang
Hanya kelabu yang kian datang
Seakan merubah semuanya menjadi hitam
Ketika mata menunggunya untuk datang
Kecewa mungkin yang kurasakan
Saat kepergian tanpa sebuah alasan
Hati kini hanya terdiam
Pikiran terus berjalan
Bertemankan sebuah pertanyaan
Angan tercipta oleh waktu yang menuntut
Ikatan batin dan logika tak pernah lepas namun saling berperang
Airmata menyegarkan penantian
Apa yang ku pikirkan sekarang tak bisa kujelaskan
Enggan menyelip diantara tumpuan impian
Luruh terpendam bersama harapan
Diatas tanah dibawah langit
Ingatan seolah dipaksa mengingat kembali
Kejadian kelam sangat tergambar jelas
Apakah aku salah meninggalkanya
Fajar hadir membisikan sebuah rasa dalam kalbu
Isi hati yang mulai tahu
Sebuah rasa yang ingin menyatu
Antara asa dan tabu
Luasan hati yabg beradu dengan serpihan pilu
Inikah rasa itu
Aku tetap kukuh mengindahkan rintihan sanubari
Mengumpul serpihan hati yang telah rusak
Menyesal menaruh harap yang tak tepat
Berceceran memenuhi ruang hati kosong dalam jiwa
Harapan hanya sekedar khayalan
__ADS_1
Mimpi hanya sebatas bunga tidur
Semanis gula madu membalur halus hati
Membuat nikmat setiap hembusan nafas
Dingin malam tidak diundang
Malam menggantung diatas kepala
Kaki melangkah dengan iringan sepi
Sakit yang menjalar membuat goyah
Keras takdir yang memutuskan
Rasa ini akan tetap berbalik pada sang tuan
Mengisi perasaan yang telah lama mati
Dengan sebuah harapan yang tak pasti
Semakin bertambahnya usia
Semakin berkurang harapan
Hanya berfikir aku masih bisa hidup sekarang
Selirik lagu tak bermelodi
Sebait puisi tak bermaksud
Seringkas cerita tak berinti
Setulus perasaan tak terbalas
Dendam birahi hanya berbekal harapan
Cinta tercipta karena kata
Hingga seorang merasa tak berdaya
Aku menatap langit menahan airmata yang siap terjun menghujani kedua pipi
Menikmati setiap deburan rasa sakit dihati saat melihat betapa bahagianya di sayang
Ku pikr ini bukan kesalahan
Jika memang salah anggap saja hanya kebetulan
Aku percaya meskipun lelah
Berharap pada sebuah harapan dan kepercayaan semu
Ego yang tinggi membuat berpikiran jadi berkuasa
Aku mahluk penuh n*afsu penuh hasrat dan ambisi
Jatuh tanpa penopang gelap terenggut mati
Tersungkur tumpah tangis bersujud diatas sajadah
Jatuh mengharap hamba
Penghambaan belas kasihan saat kedua tangan sedang terangkat
Perlahan ku rangkai kata sampai menjadi sebuah aksara
Jemari riang menuntun kata menggayuk asa memalun impian
Di tengah sakit yang mendekam diriku
Di tengah penderitaan yang mengekang tubuhku
Dalam sunyi tiada akhir
Banyak luka yang ku dapat
Mencoba melewati garis batas
Akan rapuh akan kerasnya dunia
Ilusi ini membuatku delusi
Pelangi tak kunjung datang
Rasa tulus bagaikan lelucon semata
Semilir angin malam menerpa diriku
__ADS_1
Bagaikan kunang kunang yang memamerkan diri di siang hari
” Semu tapi pasti “