
Serpihan detik yang terus mengalun
Menuju kehampaan kalbu dan hasrat
Diujung penantian tegak ku pancang tubuhku
Menantang badai
Yang membuat setiap hela nafasku luruh bersama asa
Memberi arti ulang makna nestapa diri
Tak berhenti membakar nyali
Adakah kau tau
Di semesta asa yang ku bentangkan selalu ku pahat rapi jejak rindu
Tentang kita
Hanya kita
Pernahkah kau bayangkan
Disetiap rentang waktu yang riuh
Dimana Ku rekat erat binar matamu
Ku rangkai mimpi yang ku pahat dalam hening
Biarkan rindu kita luluh bersama malam
Biarkan degup jantung kita berpadu
Dalam hasrat menyala
dalam lembut cahaya bulan
Yang terbang diatas awan senja merah saga
Dan menyisakan ngilu menikam di dada
Gugusan mendung yang ranum
Menitikkan tetes hujan yang peraka
Biduk yang ku kayuh akan merapat di dermagamu
Menyibak kabut keraguan
Damparkan hasrat yang hangat dibakar rindu
Jarak membingkai menjadikan nyata
Membuat kita sadar bahwa akhirnya dalam pilu meresap ke hati dengan getir
Untuk senja yang memohon kemarin
Saat jingga tergores malam
Ketika bunga mukai merunduk
Meramu mimpi tanpa bayang
Lautan nafas bersahut tangis
Merintih memohon belas kasihan
Hati dirundung sesak
Mata sayu masih berkedip
Menyusun mimpi yang telah pergi
__ADS_1
Tak mau merayu lagi
Walau senja telah dilahap malam
Menuntun hati dalam kepedihan
Duka masih menganga
Walau tak sanggup menoreh penyesalan tanpa henti
Dulu jiwaku ada dalam hatimu
Kini kau letakan diluar hatimu
Derai air mata ujungnya
Bagaikan sesak di ujung buih
Dapatkah senja menghadirkanmu
Bukan jarak dan bukan waktu
Hanya saja kita tak tahu
Semua terasa sunbang
Biarkan arah yang menuntun
Biarkan ku simpan rindu ini
Sampai nanti hingga cinta tak bertuan
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hanya lumuran kisah lama
Yang tertumpuk ribuan kenangan
Hanya duka masa lalu
Yang terngiang sepanjang masa
Mungkin dapat berlalu atau tinggal
Jika penat menerpa
Aku ingin sejenak bersandar
Bila tak ada bahu untuk sejenak
Masih ada lantai untuk bersujud
Aku terdiam berhenti disini
Terjerat dalam relung hati
Aku menjadi senja diantara jingga
Hanya untuk mencarinya
Tertoreh ribuan duka tersembunyi
Tertuang nanah kepedihan
Tak dapat kuraih hatimu yang pilu
Aku tak dapat memeluk dukamu
Aku dilebur kerinduan
Hati dielus bara
Pada setiap tatap cinta kian mengikis
__ADS_1
Apakah ketulusan sebagai pemisah
Setelah kepercayaan hilang di renggut nafsu
Saat mata ingin selalu ditatap
Tangan ingin selalu digenggam
Raga ingin selalu di rengkuh
Namun hati tak lagi menyatu
Tiada lagi tawa yang membaur
Dalam gema indahnya dunia
Darahku membeku sendu
Terselip kerinduan dimataku
Aku rindu merindumu
Tak ada cinta dalam karam hati ini
Hanya ada seberkas rindu yang sulit
Karena aku benci merindumu
Padahal kau telah mati terpatri
Bukan dimana kau mati
Kau telah beku dihatiku
Batinku tabu dan kelam
Bagai hamparan kasih yang terikat
Rindu ini terasa pilu
Sayup tak terdengar
Janjinya tak bertuan
Kalau hati boleh memilih
Tak ku izinkan mata ini bertatap
Pada elok paras wajahmu
Kalau boleh aku bersua
Tak ku izinkan tangan ini bertamu padamu jiwa yang kelabu
Saat hati tak bersemi lagi
Membubuhkan rasa dengan penyesalan
Hanya ada derap rindu dan rindu
Bukan suara lantang yang menjemput jiwa dalam kekosongan
Namun kesunyian abadi yang tertera
Bukan dalam keadaan seketika
Namun dalam perisai hati yang kering
Satu lagi bahasa kalbu berkata
Bukan kerinduan bukan kesepian
“ Namun pengharapan yang suram “
__ADS_1