Gubahan Tak Bermakna

Gubahan Tak Bermakna
Deru luka duka


__ADS_3

Serpihan detik yang terus mengalun


Menuju kehampaan kalbu dan hasrat


Diujung penantian tegak ku pancang tubuhku


Menantang badai


Yang membuat setiap hela nafasku luruh bersama asa


Memberi arti ulang makna nestapa diri


Tak berhenti membakar nyali


Adakah kau tau


Di semesta asa yang ku bentangkan selalu ku pahat rapi jejak rindu


Tentang kita


Hanya kita


Pernahkah kau bayangkan


Disetiap rentang waktu yang riuh


Dimana Ku rekat erat binar matamu


Ku rangkai mimpi yang ku pahat dalam hening


Biarkan rindu kita luluh bersama malam


Biarkan degup jantung kita berpadu


Dalam hasrat menyala


dalam lembut cahaya bulan


Yang terbang diatas awan senja merah saga


Dan menyisakan ngilu menikam di dada


Gugusan mendung yang ranum


Menitikkan tetes hujan yang peraka


Biduk yang ku kayuh akan merapat di dermagamu


Menyibak kabut keraguan


Damparkan hasrat yang hangat dibakar rindu


Jarak membingkai menjadikan nyata


Membuat kita sadar bahwa akhirnya dalam pilu meresap ke hati dengan getir


Untuk senja yang memohon kemarin


Saat jingga tergores malam


Ketika bunga mukai merunduk


Meramu mimpi tanpa bayang


Lautan nafas bersahut tangis


Merintih memohon belas kasihan


Hati dirundung sesak


Mata sayu masih berkedip


Menyusun mimpi yang telah pergi

__ADS_1


Tak mau merayu lagi


Walau senja telah dilahap malam


Menuntun hati dalam kepedihan


Duka masih menganga


Walau tak sanggup menoreh penyesalan tanpa henti


Dulu jiwaku ada dalam hatimu


Kini kau letakan diluar hatimu


Derai air mata ujungnya


Bagaikan sesak di ujung buih


Dapatkah senja menghadirkanmu


Bukan jarak dan bukan waktu


Hanya saja kita tak tahu


Semua terasa sunbang


Biarkan arah yang menuntun


Biarkan ku simpan rindu ini


Sampai nanti hingga cinta tak bertuan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hanya lumuran kisah lama


Yang tertumpuk ribuan kenangan


Hanya duka masa lalu


Yang terngiang sepanjang masa


Mungkin dapat berlalu atau tinggal


Jika penat menerpa


Aku ingin sejenak bersandar


Bila tak ada bahu untuk sejenak


Masih ada lantai untuk bersujud


Aku terdiam berhenti disini


Terjerat dalam relung hati


Aku menjadi senja diantara jingga


Hanya untuk mencarinya


Tertoreh ribuan duka tersembunyi


Tertuang nanah kepedihan


Tak dapat kuraih hatimu yang pilu


Aku tak dapat memeluk dukamu


Aku dilebur kerinduan


Hati dielus bara


Pada setiap tatap cinta kian mengikis

__ADS_1


Apakah ketulusan sebagai pemisah


Setelah kepercayaan hilang di renggut nafsu


Saat mata ingin selalu ditatap


Tangan ingin selalu digenggam


Raga ingin selalu di rengkuh


Namun hati tak lagi menyatu


Tiada lagi tawa yang membaur


Dalam gema indahnya dunia


Darahku membeku sendu


Terselip kerinduan dimataku


Aku rindu merindumu


Tak ada cinta dalam karam hati ini


Hanya ada seberkas rindu yang sulit


Karena aku benci merindumu


Padahal kau telah mati terpatri


Bukan dimana kau mati


Kau telah beku dihatiku


Batinku tabu dan kelam


Bagai hamparan kasih yang terikat


Rindu ini terasa pilu


Sayup tak terdengar


Janjinya tak bertuan


Kalau hati boleh memilih


Tak ku izinkan mata ini bertatap


Pada elok paras wajahmu


Kalau boleh aku bersua


Tak ku izinkan tangan ini bertamu padamu jiwa yang kelabu


Saat hati tak bersemi lagi


Membubuhkan rasa dengan penyesalan


Hanya ada derap rindu dan rindu


Bukan suara lantang yang menjemput jiwa dalam kekosongan


Namun kesunyian abadi yang tertera


Bukan dalam keadaan seketika


Namun dalam perisai hati yang kering


Satu lagi bahasa kalbu berkata


Bukan kerinduan bukan kesepian


“ Namun pengharapan yang suram “

__ADS_1


__ADS_2