Gubahan Tak Bermakna

Gubahan Tak Bermakna
Ihhhh


__ADS_3

Hitungan waktu tak lagi memudar


Januari berbisik di tepian beranda


Memercik air tipis menemani mimpi


Luka daftar penuh keramahan


Bagi rindu membuncah terbungkus namamu


Yang menjadi tautan jiwa nyata meski telah tiada


Sebagai pengingat bahwa kita pernah bersama


Ku kira kau penyuka kata


Ku kira kau suka tertawa


Ku kira kau suka kita


Ternyata kita hanya sebatas kata


Hati telah mati rasa


Terkoyak hancur racun asmara


Percikan darah beraroma kegelisahan


Balutan luka belum mengering


memasung raga diam tak bergeming


Terkubur kepiluan duka nestapa


Luka diatas luka


Biarlah jadi penggali cerita


Tentang kesetiaan yang ternoda


Dalam pentas sandiwara maya


Kau yang ku panggil cinta


Menyayat luka menjadi nyata


Tersenyum dibalik layar semu


Sembunyikan taring kematian


Kucoba merangkai kata untukmu


Bait bait yang tercampakkan


Berserak semuanya untukmu


Pada kata yang tak pernah indah bagimu


Pada segenggam hati yang ingin kuberikan


Namun tak pernah tiba di tanganmu


Karena kau tak pernah ada untukku


Bayanganmu


Kubayang di sela sepiku


Diantara kisah kita yang sempat tertinggal


Terhadap rasaku padamu


Hanya rasaku yang berserak


Pada sunyi yang bersorak

__ADS_1


Hampa yang menghentak


Hanya rasa yang melayang


Pada bayanganmu


Aku kau bernama kita


Dibungkus cuaca rindu


berharap purba kerinduan


Ku belah gulita sekedar mencari rautmu


Agar memenuhi anganku


Lupakan kelam yang pernah menoreh luka


Satukan rasa yang terberai berai


Kisah kita tak hanya entah


Merpati lambang kesetiaan


Merpati tak pernah ingkar janji


Seperti janji suci antara kau dan aku yang hanya sebatas kata


Pemberi duka yang ku kira cinta


Tak terucap dengan merangkai kata


Melumpuhkan jiwa dan raga


Ku kira rindu ternyata sembilu


Kau membuatku seperti seorang pujangga


Yang menuangkan luka di setiap melodi


Ku lukis wajahmu dengan tangan dan mata menangis


Aku kirim rasa dengan perasaan


Namun kau memberi duka yang menghujam


Belenggu masih erat mendekapku


Seolah semua harapan meminta untuk ditebas


Mendekat seolah mencegah untuk pergi


Meremuk hati demi kepuasan sendiri


Sang pemberi luka


ku coba merangkai banyak kata


Menyenandungkan irama alunan cinta


Pertemuan hanya sebatas ruang


Diantara titik dan koma


Kasih yang pergi takkan mungkin kembali


Derita semakin terasa


Keluhan jiwa terus membara


Tersiksa oleh luka perasaan


Saat aku bilang rela melepasmu


Itu kebohonganku yang terburuk

__ADS_1


Resah terus menghantuiku


Rindu kian menghampiri jiwaku


Bisikkan lirih merindu menggores jiwaku yang sunyi


Merintih pedih dikedalaman jiwa yang sepi


Menyisakan nyeri di ulu hati


Menjerit takkala rindu menyambangi


Menghiba jiwa dalam ratapan nyeri


Memohon asa pada rasa yang ironi


Sederetan aksara tiada makna


Barisan bait mati dalam kata


Luka kemarin masih belum tersembuhkan


Aku mencoba menoreh waktu menulis lara


Goreskan aksara tentang luka dengan tinta airmata


Curahan rasa yang terbuang oleh cinta


Namun aku tak mampu


Aku terpasung dalam terali luka cinta


Aku terdiam dalam tembok nestapa


Aku terkurung dalam sekapan asmara


Aku meneteskan airmata derita


Bisu...


Sepi.....


Sunyi....


Hampa.....


Dan kesendirian.....


Merengkuh asa dalam ketidakpastian


Terompet malam menjadi senandung lara


Menghujam tajam tak kala kuhela nafasku


Rindu terlerai terburai ungkapan sesal


Hujatan rindu merambah ulu hati


Sakit......


Kecewa.....


Sumpah serapah terburai sinis


Jasadku terkubur dalam tangis


Batas kesabaran habis terkikis


Dalam dekapan dendam yang tak pernah habis


Semburat jingga pada kenangan


Luka menyayat tetesan tirta


Angin senja meliuk diatas alas

__ADS_1


Basahi celah kerinduan


Menepak keras pada kesunyian


__ADS_2