
Hitungan waktu tak lagi memudar
Januari berbisik di tepian beranda
Memercik air tipis menemani mimpi
Luka daftar penuh keramahan
Bagi rindu membuncah terbungkus namamu
Yang menjadi tautan jiwa nyata meski telah tiada
Sebagai pengingat bahwa kita pernah bersama
Ku kira kau penyuka kata
Ku kira kau suka tertawa
Ku kira kau suka kita
Ternyata kita hanya sebatas kata
Hati telah mati rasa
Terkoyak hancur racun asmara
Percikan darah beraroma kegelisahan
Balutan luka belum mengering
memasung raga diam tak bergeming
Terkubur kepiluan duka nestapa
Luka diatas luka
Biarlah jadi penggali cerita
Tentang kesetiaan yang ternoda
Dalam pentas sandiwara maya
Kau yang ku panggil cinta
Menyayat luka menjadi nyata
Tersenyum dibalik layar semu
Sembunyikan taring kematian
Kucoba merangkai kata untukmu
Bait bait yang tercampakkan
Berserak semuanya untukmu
Pada kata yang tak pernah indah bagimu
Pada segenggam hati yang ingin kuberikan
Namun tak pernah tiba di tanganmu
Karena kau tak pernah ada untukku
Bayanganmu
Kubayang di sela sepiku
Diantara kisah kita yang sempat tertinggal
Terhadap rasaku padamu
Hanya rasaku yang berserak
Pada sunyi yang bersorak
__ADS_1
Hampa yang menghentak
Hanya rasa yang melayang
Pada bayanganmu
Aku kau bernama kita
Dibungkus cuaca rindu
berharap purba kerinduan
Ku belah gulita sekedar mencari rautmu
Agar memenuhi anganku
Lupakan kelam yang pernah menoreh luka
Satukan rasa yang terberai berai
Kisah kita tak hanya entah
Merpati lambang kesetiaan
Merpati tak pernah ingkar janji
Seperti janji suci antara kau dan aku yang hanya sebatas kata
Pemberi duka yang ku kira cinta
Tak terucap dengan merangkai kata
Melumpuhkan jiwa dan raga
Ku kira rindu ternyata sembilu
Kau membuatku seperti seorang pujangga
Yang menuangkan luka di setiap melodi
Ku lukis wajahmu dengan tangan dan mata menangis
Aku kirim rasa dengan perasaan
Namun kau memberi duka yang menghujam
Belenggu masih erat mendekapku
Seolah semua harapan meminta untuk ditebas
Mendekat seolah mencegah untuk pergi
Meremuk hati demi kepuasan sendiri
Sang pemberi luka
ku coba merangkai banyak kata
Menyenandungkan irama alunan cinta
Pertemuan hanya sebatas ruang
Diantara titik dan koma
Kasih yang pergi takkan mungkin kembali
Derita semakin terasa
Keluhan jiwa terus membara
Tersiksa oleh luka perasaan
Saat aku bilang rela melepasmu
Itu kebohonganku yang terburuk
__ADS_1
Resah terus menghantuiku
Rindu kian menghampiri jiwaku
Bisikkan lirih merindu menggores jiwaku yang sunyi
Merintih pedih dikedalaman jiwa yang sepi
Menyisakan nyeri di ulu hati
Menjerit takkala rindu menyambangi
Menghiba jiwa dalam ratapan nyeri
Memohon asa pada rasa yang ironi
Sederetan aksara tiada makna
Barisan bait mati dalam kata
Luka kemarin masih belum tersembuhkan
Aku mencoba menoreh waktu menulis lara
Goreskan aksara tentang luka dengan tinta airmata
Curahan rasa yang terbuang oleh cinta
Namun aku tak mampu
Aku terpasung dalam terali luka cinta
Aku terdiam dalam tembok nestapa
Aku terkurung dalam sekapan asmara
Aku meneteskan airmata derita
Bisu...
Sepi.....
Sunyi....
Hampa.....
Dan kesendirian.....
Merengkuh asa dalam ketidakpastian
Terompet malam menjadi senandung lara
Menghujam tajam tak kala kuhela nafasku
Rindu terlerai terburai ungkapan sesal
Hujatan rindu merambah ulu hati
Sakit......
Kecewa.....
Sumpah serapah terburai sinis
Jasadku terkubur dalam tangis
Batas kesabaran habis terkikis
Dalam dekapan dendam yang tak pernah habis
Semburat jingga pada kenangan
Luka menyayat tetesan tirta
Angin senja meliuk diatas alas
__ADS_1
Basahi celah kerinduan
Menepak keras pada kesunyian