Gubahan Tak Bermakna

Gubahan Tak Bermakna
Kelu


__ADS_3

Airmata sudah serupa hujan


Yang tak lagi menjadikan musim sebagai alasan


Mungkin menunggu bukan sebuah pilihan


Terlalu tinggi rintangan yang ada


Sementara kaki melangkah dan tangan sibuk merapikan ingin yang berlompatan berebut untuk di penuhi


Aku berjalan menurut langkah kaki


Rasa takut meresahkan hati


Sebongkah batu datang menindih


Kegagalan menyisakan kepedihan


Bagai menghimpit semua jalan


Hingga kadang arah tujuan tersamar


Oleh kerisauan yang tak beralasan


Haruskah aku meronta dalam diam


Roda waktu masih menggelinding dengan kisah nan resah


Berhimpitan di bejana hati yang rapuh tak tentu arah


Lengang yang bisu kian mengejekku dalam gelak tawa


Seakan jenuh menatap sedih tiap saat ku cerna


Bibir masih tersenyum dengan lebam yang legam


Mengatup menyimpan gemetar sejuta aksara terdiam


Tetesan bening di pojok mata ikut menceritakan kelam


Angkara yang memuncak disaat setiamu tenggelam


Kaki tertatih menjinjing rasa yang tak tamat


Jalan panjang yang kita sepakat bagaikan akhir kiamat


Hilang sudah harapan dalam cerita yang penuh penat


Jiwa ini makin renta dibayang bayang aturan ketat


Bait bersyair menemani aksara yang penuh isak


Menyelimuti mimpi di lembar nyata yang congkak


Menghapus hormat membuat dada sesak

__ADS_1


Sudahi gumam rindu bersalut madu penuh ombak


Hidup penuh ujian buat hatiku terasa tak bertuan


Hampa terasa aku rasakan meski dalam sebuah keramaian


Hati terpejam dalam diam


Serpihan pilu bayang merejam


Tangisan sunyi menguliti malam


Hati yang terucap dalam cakap


Meronta dalam ratap tak kala resah mendekap harap


Hati tergambar dalam getar


Selaksa pijar menyambar tanpa henti ketika namamu menghantar binar


Helaian lusuh dalam catatan bisu


Meski auramu menyelinap di dedaunan semu


Bising kalbu memuncak di pucuk rindu


Meski pelangimu mengembun tiada haluan


Sepoi kian sepi mengurai diri


Pelik rasa mengembara membius kelam


Meski sorotmu beranting samar dalam netraku


Dalam kalimat yang tersurat


Mungkin jiwaku tersesat


Tentang sepi yang membunuh hasrat


Retak dada kembali sebah ketika rindu dikira punah


Bukan mengungkit cuma mengimbas


Sesuatu yang manis pernah terlepas


Sebait rindu umpama cebisan kertas


Yang hanyut dilautan luas


Aku sakit melayani rasa sepi


Aku mengeja rasa diantara waktu


Menggembara lena dalam nadi dari nurani sunyi

__ADS_1


Senyap menyetubuhiii kalbu


Memperkoshaa rindu dalam hati


Menguntit punggung resahku


Relung jiwa segores pena mati


Melukiskan wajah yang indah kini telah tiada


Hati terenyah lunglai tak terkira


Gambaran jiwa ingin ku baca di sehelai sisa nafas


Seiring waktu yang telah bergulir di penghujung nama


Ku tuliskan lirih naungan pesan terakhir


Goresan jiwa yang sunyi tak kala rasa rindu menyambangi


Jeritan hati seakan menghujat rasa yang ada


Meringkih rasa dalam balutan luka


Meringis asa dalam dekapan derita


Menyapa rembulan yang bersembunyi


Seolah menyindir hati yang di peluk duka


Mengejek jiwa dalam belangga nelangsa


Kiasan kata meraja merajuk dalam aksara


Sampai kapan mesti mencandai gelora


Dalam haru biru gairah yang merupa rupa


Dalam bentang hasrat yang lusuh menua


Lenguhhan jiwa telah bungkam


Dengan jemari masa untuk memeluk birhahi


Letupan jiwa tak kuasa mengerumut dalam lena nafas yang kusut


Dalam arus hidup nista bersama noda dan dosaku


Serasa esok tiada di bumi telah mati


Hingga ku coba menentang takdir


Dan berkubur bernisan jiwa


Biarlah ia pupus dan mati

__ADS_1


__ADS_2