
Airmata sudah serupa hujan
Yang tak lagi menjadikan musim sebagai alasan
Mungkin menunggu bukan sebuah pilihan
Terlalu tinggi rintangan yang ada
Sementara kaki melangkah dan tangan sibuk merapikan ingin yang berlompatan berebut untuk di penuhi
Aku berjalan menurut langkah kaki
Rasa takut meresahkan hati
Sebongkah batu datang menindih
Kegagalan menyisakan kepedihan
Bagai menghimpit semua jalan
Hingga kadang arah tujuan tersamar
Oleh kerisauan yang tak beralasan
Haruskah aku meronta dalam diam
Roda waktu masih menggelinding dengan kisah nan resah
Berhimpitan di bejana hati yang rapuh tak tentu arah
Lengang yang bisu kian mengejekku dalam gelak tawa
Seakan jenuh menatap sedih tiap saat ku cerna
Bibir masih tersenyum dengan lebam yang legam
Mengatup menyimpan gemetar sejuta aksara terdiam
Tetesan bening di pojok mata ikut menceritakan kelam
Angkara yang memuncak disaat setiamu tenggelam
Kaki tertatih menjinjing rasa yang tak tamat
Jalan panjang yang kita sepakat bagaikan akhir kiamat
Hilang sudah harapan dalam cerita yang penuh penat
Jiwa ini makin renta dibayang bayang aturan ketat
Bait bersyair menemani aksara yang penuh isak
Menyelimuti mimpi di lembar nyata yang congkak
Menghapus hormat membuat dada sesak
__ADS_1
Sudahi gumam rindu bersalut madu penuh ombak
Hidup penuh ujian buat hatiku terasa tak bertuan
Hampa terasa aku rasakan meski dalam sebuah keramaian
Hati terpejam dalam diam
Serpihan pilu bayang merejam
Tangisan sunyi menguliti malam
Hati yang terucap dalam cakap
Meronta dalam ratap tak kala resah mendekap harap
Hati tergambar dalam getar
Selaksa pijar menyambar tanpa henti ketika namamu menghantar binar
Helaian lusuh dalam catatan bisu
Meski auramu menyelinap di dedaunan semu
Bising kalbu memuncak di pucuk rindu
Meski pelangimu mengembun tiada haluan
Sepoi kian sepi mengurai diri
Pelik rasa mengembara membius kelam
Meski sorotmu beranting samar dalam netraku
Dalam kalimat yang tersurat
Mungkin jiwaku tersesat
Tentang sepi yang membunuh hasrat
Retak dada kembali sebah ketika rindu dikira punah
Bukan mengungkit cuma mengimbas
Sesuatu yang manis pernah terlepas
Sebait rindu umpama cebisan kertas
Yang hanyut dilautan luas
Aku sakit melayani rasa sepi
Aku mengeja rasa diantara waktu
Menggembara lena dalam nadi dari nurani sunyi
__ADS_1
Senyap menyetubuhiii kalbu
Memperkoshaa rindu dalam hati
Menguntit punggung resahku
Relung jiwa segores pena mati
Melukiskan wajah yang indah kini telah tiada
Hati terenyah lunglai tak terkira
Gambaran jiwa ingin ku baca di sehelai sisa nafas
Seiring waktu yang telah bergulir di penghujung nama
Ku tuliskan lirih naungan pesan terakhir
Goresan jiwa yang sunyi tak kala rasa rindu menyambangi
Jeritan hati seakan menghujat rasa yang ada
Meringkih rasa dalam balutan luka
Meringis asa dalam dekapan derita
Menyapa rembulan yang bersembunyi
Seolah menyindir hati yang di peluk duka
Mengejek jiwa dalam belangga nelangsa
Kiasan kata meraja merajuk dalam aksara
Sampai kapan mesti mencandai gelora
Dalam haru biru gairah yang merupa rupa
Dalam bentang hasrat yang lusuh menua
Lenguhhan jiwa telah bungkam
Dengan jemari masa untuk memeluk birhahi
Letupan jiwa tak kuasa mengerumut dalam lena nafas yang kusut
Dalam arus hidup nista bersama noda dan dosaku
Serasa esok tiada di bumi telah mati
Hingga ku coba menentang takdir
Dan berkubur bernisan jiwa
Biarlah ia pupus dan mati
__ADS_1