
Membalik nyata memaling muka
Hanya untuk unjuk taring
Mereka menyengir
Mengumpat
Menyangsikan
Menutup mata
Menuli
Mematikan rasa
Menyekat sempat
Menguliti habis seluruh rasa
Usaikan cerita dengan angkuh tertuju
Berdiri diisi ruang megah penuh canda
Dengan belati tertancap telak di dada
Bukan pinta tidak juga mengemis iba
Pada nyatanya adalah malapetaka
Atas prasangka melukai
Pergi
Untuk sudahi lara dari tajamnya tutur nan berduri
Runcing bertabur racun menyakiti
Ambruk bertanya apa salah diri
Sudahlah
Usah lagi ulang cerita yang telah musnah
Seiring ego berdiri memaku menjunjung harga telah di tadah
Kata samar telah di rakit
Titip pamit berundur menepis sesak menghimpit
Ingin menebar kabar pergi
Biar riuh dan bersiap rela
Karena janji sudah tunai kemarin
Ingin lekas beranjak sudah
Beban disini hanya segayung air
Sejak letih tangan menggenggam
Mulai menimbang dan mengira
Berapa jarak yang bisa di tempuh untuk berlari
Hasrat untuk pergi sudah naik ke langit
Mengirim keluh yang paling tinggi
Semua pada pergi
Seperti bunga di teras rumah
Melayu pada tempatnya berakhir takdir
Ingin sama meski ngeri
Bayang terkulai lemah dan mati
__ADS_1
Hanya saja kepergian tanpa bunga
Tanpa ada yang sudi berdiri
Untuk sekedar melepas tangis barang dua tetes
Lekaslah pergi sebelum rela ini hilang
Usaikan pamit beranjak untuk pergi
Ingin berlabuh arusnya terlalu deras
Berhenti lelah kaki berlari
Butuh berbaring hilangkan letih
Berpamitan dan undur diri dari yang telah lama menemani
Diantara dingin dan nyanyian bisu
Berjalan menyusuri keabadian yang sunyi
Membawa kotak kecil penuh emosi yang tidak seorangpun tahu isi di dalamnya
Seiring langkah yang perlahan hilang tertiup angin
Pamit melebur di awan pembawa hujan dan menggema di jurang kasih
jiwa tetap ada di tempatnya
Tidak akan pergi meskipun tuannya menghilang
Menatap edelweis basah di pagi ini
Temani setidaknya sebelum kabut datang
Bila nanti sinar mentari membangunkan
Kabut pun seolah pergi tetaplah disana
Tertatih meraih asa di puncak menara
Porak poranda selimuti dasar pilar bahtera
Luluh lantak di antara lembah keterpurukan
Tersasar dalam hutan belangara prasangka
Kini.....
Asa tak lagi sebuah harap
Sekumpulan kunang menari disekitar
Tertinggal dan terlupa satu kupu kupu tanpa warna
Terbang menghilang di balik awan
Tersenyum diantara rintik hujan
Rinai basahi bumi di penghujung senja
Temaramkan jiwa yang telah rapuh
Sinar bulan tak lagi teduhkan sukma
Melangkah keluar dari batas lingkar
Menyeruak sisi pada jiwa yang terikat erat
Mereguk hari singkirkan gentar yang merebut sukma
Sekilas menatap langit dan tersenyum lembut
Damai di temukan
Mega menjemput redup dalam tatapan
Kian dekat pembaringan
__ADS_1
Rebahkan asa terpendam
Hidup terasa jenuh hampa
Tiada sesiapapun seperti sediakala
Dedaunan bergerak tak bernada
Nada tak berdawai tanpa pemusiknya
Pemusik tak bisa memainkan nada tanpa rasa
Hanya lamunan hampa penulis senja rajuk melakar bait pena
Pada merah pekat mewarnai jingga
Titis darah haus sebait ayat saka
Mengalir diantara gelisah dan lara
Tiada kertas mata pena buta
Pensil bersenjatakan petala ilham
Antara rebah dan perhentian
Ada dua simpang pengajaran
Satu lembaran penantian
Tiada lagi makna penyiksaan
Biarkan merdeka dirahayu jiwa
Bagai pelanduk diambang kematian
Dikejar peluru pemburu bidikan larasnya
Risau dalam gundah menatap rimba
Dengan raga semakin terkoyak asa
Senja......
Aku datang padamu
Untuk kembali merangkai sepi
Dalam senandung malam yang sunyi
Diantara ilalang ilalang hati
Yang telah mati
Celoteh hati dalam sepi kabungkan
Gemeretak pasi pada wajah yang pucat
Surat kecil bertemakan kesedihan
Pada sampul map aksara kata goreskan
Berita bara yang mengepul bakarkan
Kasih nyeri di bintang polaris sesatkan
Cinta hati di dendam benci sematkan
Pelangi menepi di wajah siratkan asa suramkan
Nafas tak akan bersatu dalam batin
Sering dunia mengigau akan kehausan mata air
Tertinggal di ubun ubun senja
Sekerdil kemunafikan yang singgah lama
Tumpah membasuh dan tergelincir
__ADS_1
Kelu......