Gubahan Tak Bermakna

Gubahan Tak Bermakna
Pamit


__ADS_3

Membalik nyata memaling muka


Hanya untuk unjuk taring


Mereka menyengir


Mengumpat


Menyangsikan


Menutup mata


Menuli


Mematikan rasa


Menyekat sempat


Menguliti habis seluruh rasa


Usaikan cerita dengan angkuh tertuju


Berdiri diisi ruang megah penuh canda


Dengan belati tertancap telak di dada


Bukan pinta tidak juga mengemis iba


Pada nyatanya adalah malapetaka


Atas prasangka melukai


Pergi


Untuk sudahi lara dari tajamnya tutur nan berduri


Runcing bertabur racun menyakiti


Ambruk bertanya apa salah diri


Sudahlah


Usah lagi ulang cerita yang telah musnah


Seiring ego berdiri memaku menjunjung harga telah di tadah


Kata samar telah di rakit


Titip pamit berundur menepis sesak menghimpit


Ingin menebar kabar pergi


Biar riuh dan bersiap rela


Karena janji sudah tunai kemarin


Ingin lekas beranjak sudah


Beban disini hanya segayung air


Sejak letih tangan menggenggam


Mulai menimbang dan mengira


Berapa jarak yang bisa di tempuh untuk berlari


Hasrat untuk pergi sudah naik ke langit


Mengirim keluh yang paling tinggi


Semua pada pergi


Seperti bunga di teras rumah


Melayu pada tempatnya berakhir takdir


Ingin sama meski ngeri


Bayang terkulai lemah dan mati

__ADS_1


Hanya saja kepergian tanpa bunga


Tanpa ada yang sudi berdiri


Untuk sekedar melepas tangis barang dua tetes


Lekaslah pergi sebelum rela ini hilang


Usaikan pamit beranjak untuk pergi


Ingin berlabuh arusnya terlalu deras


Berhenti lelah kaki berlari


Butuh berbaring hilangkan letih


Berpamitan dan undur diri dari yang telah lama menemani


Diantara dingin dan nyanyian bisu


Berjalan menyusuri keabadian yang sunyi


Membawa kotak kecil penuh emosi yang tidak seorangpun tahu isi di dalamnya


Seiring langkah yang perlahan hilang tertiup angin


Pamit melebur di awan pembawa hujan dan menggema di jurang kasih


jiwa tetap ada di tempatnya


Tidak akan pergi meskipun tuannya menghilang


Menatap edelweis basah di pagi ini


Temani setidaknya sebelum kabut datang


Bila nanti sinar mentari membangunkan


Kabut pun seolah pergi tetaplah disana


Tertatih meraih asa di puncak menara


Porak poranda selimuti dasar pilar bahtera


Luluh lantak di antara lembah keterpurukan


Tersasar dalam hutan belangara prasangka


Kini.....


Asa tak lagi sebuah harap


Sekumpulan kunang menari disekitar


Tertinggal dan terlupa satu kupu kupu tanpa warna


Terbang menghilang di balik awan


Tersenyum diantara rintik hujan


Rinai basahi bumi di penghujung senja


Temaramkan jiwa yang telah rapuh


Sinar bulan tak lagi teduhkan sukma


Melangkah keluar dari batas lingkar


Menyeruak sisi pada jiwa yang terikat erat


Mereguk hari singkirkan gentar yang merebut sukma


Sekilas menatap langit dan tersenyum lembut


Damai di temukan


Mega menjemput redup dalam tatapan


Kian dekat pembaringan

__ADS_1


Rebahkan asa terpendam


Hidup terasa jenuh hampa


Tiada sesiapapun seperti sediakala


Dedaunan bergerak tak bernada


Nada tak berdawai tanpa pemusiknya


Pemusik tak bisa memainkan nada tanpa rasa


Hanya lamunan hampa penulis senja rajuk melakar bait pena


Pada merah pekat mewarnai jingga


Titis darah haus sebait ayat saka


Mengalir diantara gelisah dan lara


Tiada kertas mata pena buta


Pensil bersenjatakan petala ilham


Antara rebah dan perhentian


Ada dua simpang pengajaran


Satu lembaran penantian


Tiada lagi makna penyiksaan


Biarkan merdeka dirahayu jiwa


Bagai pelanduk diambang kematian


Dikejar peluru pemburu bidikan larasnya


Risau dalam gundah menatap rimba


Dengan raga semakin terkoyak asa


Senja......


Aku datang padamu


Untuk kembali merangkai sepi


Dalam senandung malam yang sunyi


Diantara ilalang ilalang hati


Yang telah mati


Celoteh hati dalam sepi kabungkan


Gemeretak pasi pada wajah yang pucat


Surat kecil bertemakan kesedihan


Pada sampul map aksara kata goreskan


Berita bara yang mengepul bakarkan


Kasih nyeri di bintang polaris sesatkan


Cinta hati di dendam benci sematkan


Pelangi menepi di wajah siratkan asa suramkan


Nafas tak akan bersatu dalam batin


Sering dunia mengigau akan kehausan mata air


Tertinggal di ubun ubun senja


Sekerdil kemunafikan yang singgah lama


Tumpah membasuh dan tergelincir

__ADS_1


Kelu......


__ADS_2