
Langkah kaki terseok seok
Untuk terus tetap berdiri
Semakin marak sedih melalui jalan buntu
Mengais gais air mata tak bahagia
Meskipun sebuah kekosongan
Bingkai bingkai memainkan jurang kepentingan
Membuat mutiara tanpa tangisan duka
Hiburan tak menghibur lagi
Terbingkai apa yang diyakini
Menulis puisi mengatur perasaan hati
Kumpulan puisi tak bernyawa lagi
Perasaan kabur apa yang berarti semakin sunyi
Ucapan manis penyita kecewa
Mengumpat sedih menghadapi jurang pemberhentian
Kesan pendapat pandangan pangkal masalah
Nilai keraguan kebiasaan alunan ribuan bahasa
Masih seperti zaman purba
Bermain kata menyenangkan diri sendiri
Berebut ruang kenyamanan diri
Menghindari apa yang perlu diyakini
Jari jemari terasa dingin dan kaku
Gambaran jelas telah di tetapkan
Mencatat susunan kata menarik
Tetapi semua terus menghilang
Dan aku menyesal telah kehilangan
Satu barak memanjakan diri
Masih seperti dulu mengkuatirkan akan hidup yang hanya sekali saja
Gelisah mencari ruang dimana mendapatkan arti
Teguh dalam pengharapan demi sebuah kekaguman
Pengumpulan airmata meluruskan segala cara
Menginginkan satu kasih meskipun perih
Serupa embun yang jatuh dinihari
Terperangkap dalam timbunan daun mati
Cinta hilang arti rindu perlahan mati
Pulang tiada yang menanti
Hilang tiada yang mencari
Nyanyian cinta sumbing di ujung rindu
Mungkin saja ia sudah menjadi nisan
Dawai asmara tak terdengar lagi
Perlahan menepi disaat purnama melingkar
Hilang lenyap bersama lalu awan kelabu
Kaki lelah menyusuri jejak langkah
Dapatkah ia temukan setitik rasa
Saat rona jingga menghitam
__ADS_1
Persimpangan hati menghambat cahaya
Membuat aksara rindu kian tak terbaca
Rinduku tak kunjung beranjak
Aku kehilanganmu tanpa jejak
Rinduku untukmu tak tersampaikan
Rasaku tak teruraikan
Rindu tanpa batas hilang tak berbekas
Rindu tak pernah berujung meski kita tak lagi saling terhubung
Rindu untukmu menjadi separuh nafasku
Terus mengalir tanpa henti
Tanpa pernah bisa aku akhiri
Ceritaku masih tentangmu
Tentang dirimu yang selalu menghampiri lewat mimpi
Bidadari yang tak bisa dimiliki
Izinkan aku mencintaimu sekali lagi
Menemanimu dalam kebersamaan yang tak bertepi
Tak peduli sebuah pengakuan
Kepadamu yang kini menganggapku telah tiada
Jika tak bisa memiliki ragamu
Setidaknya aku masih bisa memeluk bayanganmu
Semua keindahan tak lagi berbekas
Rindu ini tak terbalas
Hanya semua kunikmati keindahanmu
Kesunyian merasuk dalam hampanya jiwa
Airmata kembali menitik tanpa suara
Tergores aksara menyayat sukma
Menggiringku pada dua sisi mata hati
Rasa ingin memiliki dan mencoba relakanmu pergi
Diantara ruang taman hati
Melempar rasa gelisah dan resah
Dalam serpihan waktu saat jarak membentang
Tak lagi kurasakan gelapnya malam
Tak lagi kurasakan dinginnya rembulan
Bercampur sedih dan kesal mengiringi untuk saling mengerti
Semua hilang ditengah badai kehidupan
Semua sudah terjadi tanpa perlu mengasihi
Cukup di kenang tanpa harus mengemis hati
Cintamu hanya sekedar pelangi
Indah namun tidak kekal abadi
Demi ego hancurkan hati dimakan oleh sepi
Menyisakan dinginnya hati dalam renungan
Setia hanya sebatas kata kata
Hangat dan menyegarkan jiwa
Namun harus tenggelam oleh sang malam
__ADS_1
Kata kata merupakan sebuah tujuan
Janji janji merupakan sebuah harapan
Namun semua hanyalah kemunafikan
Pasrah menerima kenyataan
Ditemani kesunyian dalam setiap tangisan
Kicauan burung burung tak henti bersahutan
Menyemangati jiwa yang telah padam
Hembusan angin menyelimuti hati
Dedaunan bergoyang dengan jenaka
Yang kini hanya sebatas kisah lama
Membangun diri dari mimpi kelam
Walau tak tahu apa yang ada di depan
Karena hidup sebuah perjalanan
Lelah pun tak terhiraukan
Bayang semua melanda tak terhindarkan
Menimbang mana yang memiliki kemungkinan
Tak sedikit sanggahan datang bergiliran
Berusaha agar dapat di dengar
Mengorek setiap inci ingatan
Mencari jawaban yang berharap sebuah kepastian
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=+++++++++++++++\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku hanya bisa berbisik
Agar tuhan tahu apa yang tercuplik
Dalam hati untuk dia yang indah
Kasih ini seutuhnya
Cinta ini tiada duanya
Namun ada jarak diantaranya
Haruskah runtuh semua asa
Terpuruk karena berbeda
Hati tak mau mengalah
Cinta tak bisa berbantah
Segala keindahan akhirnya acak acakan
Karena semua angan
Tak bisa satu di kebersamaan
Cuman karena akar budaya
Prinsip dasar manusia
Sebisa yang diusahakan
Untuk terlepas dari buaian duniamu
Untuk kabur dari lelahnya duniaku
Lebur bagaikan air
Mengalir tak tahu arah
Diri terhenyak perlahan bangkit
Saat terdengar suara berbisik
“ Inilah saatnya untuk pulang “
__ADS_1