Gubahan Tak Bermakna

Gubahan Tak Bermakna
Au au


__ADS_3

Ngilu terasa di hati


Tersayat sayat luka tak berdarah


Sesak merebak menekan logika


Sayang.....


Andai saja kau tau bagaimana perasaanku


Bagaimana aku meredam rindu


Bagaimana aku menepis bayangmu


Dan....


Bagaimana aku menahan desakan gairah


Sayang.....


Aku juga merindukan kemesraan kita


Merindukan kehangatanmu


Masih selalu terbayang semua yang telah terjadi


Seperti klise film yang tak henti berputar


Masih dapat ku rasakan


Hangatnya nafasmu di wajahku


Merdunya rintihan manjamu


Lembutnya suaramu masih terdengar di kala aku


merindukanmu


Harumnya tubuhmu


Manisnya bibirmu


Lembutnya bukit kembarmu


Dengan pucuk buah anggur yang ranum


Serta begitu legitnya buah duren


Gurih dan wangi khas yang membuatku gila


Sayang.........


Aku juga menginginkan terulang lagi


Masih teringat bagaimana kita bertukar saliva


Bibir berpadu dengan panas


Beradu lidah dalam rongga mulut


Lembutnya jemarimu menelusuri ragaku


Dan saat jari tangan menari indah di bagian dalam pahaku


Membelai......


Mengusap........


Tak kala jemarimu menggenggam tower yang mengawat mengeras berdiri kaku


Aku bergetar nafas serasa berhenti


Begitu lincahnya jemarimu memutar dan memilin


Arwah serasa melompat keluar dari sukmaku


Sayang....


Aku merindukan lembutnya lidahmu yang menyapu sekujur raga ini


Seperti induk kucing yang lagi mandikan anaknya

__ADS_1


Aku mengelepar dalam buaian hangatmu


Lembutnya lidahnya begitu piawai


Menguas rata tanpa celah


Saliva menguyur seluruh raga


ujung kaki terasa dingin


debaran jantung kencang terasa


Sayang.....


Sampai sekarang masih bisa aku rasakan


Lidahmu yang begitu renyah


Menyapu bersih bermain di sela sela pahaku


****** habis milikku dengan lahap**


Seakan gemas melanda mengusik nalar***


Akhhhh......


Aku cuman mampu mendesah**


Serasa mati saat itu pun aku rela


Lihai.......


Sungguh lihai kamu sayang


Dengan microphone seadaanya


Lagu kakatua kau dendangan dengan sempurna


Aliran lahar panas menggelegar berontak ingin erupsi***


Sayang


Ingatkah kau yang tersipu malu


Ingatkah kau waktu ragamu


Ku hempaskan dengan mesra di ranjang itu


Adakah kau rasakan bagaimana


Merahnya raut wajah


Saat aku bisikkan ingin milikimu utuh selamanya


Tak terpisah ruang dan waktu


Ujung matamu berair menetes mengalir


Dipelupuk mata


Kau memelukku seakan takut aku raib


Dan ......


Perlahan kau memadukan bibir kita


Dengan kecupan penuh percikan birahi


Gugusan anggur yang ranum


Menghiasi puncak bukit berbunga


Membuat aku ga tahan buat tidak menyentuh


Manis...:


Manis terasa saat cicipan pertama


Dan......


Begitu lembutnya bukit kembarmu

__ADS_1


Membutakan dan mematikan logikaku


Sayang.....


Begitu sempurnanya lekukkan ragamu


Dalam biasan terang cahaya aku memandang


Indah sungguh terlalu indah


Anugrah yang ada di hadapanku


Sayang......


Aku masih merasakan betapa eratnya kakimu menjepit kepala


Saat lidahku memburu cairan cintaku


Menari nari indah membelai butiran kacang


Membuat dirimu berteriak


jiwamu melayang tak terkira


Gurih......


Legit......


Dan........


Aromanya membiusku


Membuat aku betah tidak beranjak


Sampai dirimu menggapai puncak


Tersentak sentak kuat mencengkram


Sayang.......


Kau sungguh terlihat indah


Saat berada diatas ragaku


Menjepit erat milikku dalam pintu surgamu


Sepert jarum mesin jahit


Menjahit kain tanpa jeda


Suasana syahdu menghiasi


Lembabnya udara panas dua insan


Memadu cinta membuai hasrat


*Gairah Berc*inta penuh kasih sayang*


Sayang......


Dengan manja kau bisikin


Agak kita bisa mengakhir bersama


Bersama berpelukan menikmati nikmatnya puncak asmara ini


Peluh membasah kita


Deritan ranjang seakan tak lelah menjerit


Dan............


Dengan hentakan penuh kasih sayang


Kita akhirnya terlunglai lemas


Di ranjang yang kusut


Dalam lelah....


Kau berbisik

__ADS_1


” jangan pernah tinggalin aku “


__ADS_2