
Ngilu terasa di hati
Tersayat sayat luka tak berdarah
Sesak merebak menekan logika
Sayang.....
Andai saja kau tau bagaimana perasaanku
Bagaimana aku meredam rindu
Bagaimana aku menepis bayangmu
Dan....
Bagaimana aku menahan desakan gairah
Sayang.....
Aku juga merindukan kemesraan kita
Merindukan kehangatanmu
Masih selalu terbayang semua yang telah terjadi
Seperti klise film yang tak henti berputar
Masih dapat ku rasakan
Hangatnya nafasmu di wajahku
Merdunya rintihan manjamu
Lembutnya suaramu masih terdengar di kala aku
merindukanmu
Harumnya tubuhmu
Manisnya bibirmu
Lembutnya bukit kembarmu
Dengan pucuk buah anggur yang ranum
Serta begitu legitnya buah duren
Gurih dan wangi khas yang membuatku gila
Sayang.........
Aku juga menginginkan terulang lagi
Masih teringat bagaimana kita bertukar saliva
Bibir berpadu dengan panas
Beradu lidah dalam rongga mulut
Lembutnya jemarimu menelusuri ragaku
Dan saat jari tangan menari indah di bagian dalam pahaku
Membelai......
Mengusap........
Tak kala jemarimu menggenggam tower yang mengawat mengeras berdiri kaku
Aku bergetar nafas serasa berhenti
Begitu lincahnya jemarimu memutar dan memilin
Arwah serasa melompat keluar dari sukmaku
Sayang....
Aku merindukan lembutnya lidahmu yang menyapu sekujur raga ini
Seperti induk kucing yang lagi mandikan anaknya
__ADS_1
Aku mengelepar dalam buaian hangatmu
Lembutnya lidahnya begitu piawai
Menguas rata tanpa celah
Saliva menguyur seluruh raga
ujung kaki terasa dingin
debaran jantung kencang terasa
Sayang.....
Sampai sekarang masih bisa aku rasakan
Lidahmu yang begitu renyah
Menyapu bersih bermain di sela sela pahaku
****** habis milikku dengan lahap**
Seakan gemas melanda mengusik nalar***
Akhhhh......
Aku cuman mampu mendesah**
Serasa mati saat itu pun aku rela
Lihai.......
Sungguh lihai kamu sayang
Dengan microphone seadaanya
Lagu kakatua kau dendangan dengan sempurna
Aliran lahar panas menggelegar berontak ingin erupsi***
Sayang
Ingatkah kau yang tersipu malu
Ingatkah kau waktu ragamu
Ku hempaskan dengan mesra di ranjang itu
Adakah kau rasakan bagaimana
Merahnya raut wajah
Saat aku bisikkan ingin milikimu utuh selamanya
Tak terpisah ruang dan waktu
Ujung matamu berair menetes mengalir
Dipelupuk mata
Kau memelukku seakan takut aku raib
Dan ......
Perlahan kau memadukan bibir kita
Dengan kecupan penuh percikan birahi
Gugusan anggur yang ranum
Menghiasi puncak bukit berbunga
Membuat aku ga tahan buat tidak menyentuh
Manis...:
Manis terasa saat cicipan pertama
Dan......
Begitu lembutnya bukit kembarmu
__ADS_1
Membutakan dan mematikan logikaku
Sayang.....
Begitu sempurnanya lekukkan ragamu
Dalam biasan terang cahaya aku memandang
Indah sungguh terlalu indah
Anugrah yang ada di hadapanku
Sayang......
Aku masih merasakan betapa eratnya kakimu menjepit kepala
Saat lidahku memburu cairan cintaku
Menari nari indah membelai butiran kacang
Membuat dirimu berteriak
jiwamu melayang tak terkira
Gurih......
Legit......
Dan........
Aromanya membiusku
Membuat aku betah tidak beranjak
Sampai dirimu menggapai puncak
Tersentak sentak kuat mencengkram
Sayang.......
Kau sungguh terlihat indah
Saat berada diatas ragaku
Menjepit erat milikku dalam pintu surgamu
Sepert jarum mesin jahit
Menjahit kain tanpa jeda
Suasana syahdu menghiasi
Lembabnya udara panas dua insan
Memadu cinta membuai hasrat
*Gairah Berc*inta penuh kasih sayang*
Sayang......
Dengan manja kau bisikin
Agak kita bisa mengakhir bersama
Bersama berpelukan menikmati nikmatnya puncak asmara ini
Peluh membasah kita
Deritan ranjang seakan tak lelah menjerit
Dan............
Dengan hentakan penuh kasih sayang
Kita akhirnya terlunglai lemas
Di ranjang yang kusut
Dalam lelah....
Kau berbisik
__ADS_1
” jangan pernah tinggalin aku “