Gubahan Tak Bermakna

Gubahan Tak Bermakna
Akhir perjalanan


__ADS_3

Kembali menjadi angin menjadi panas


Kembali menjadi air


Kembali menjadi tanah


Saatnya utusan bersaksi untuk diri yang pulang


Ketika daun melayang jatuh ke bumi tergeletak


Dan matahari padam hilang terang hilang silau


Orang orang menggali lubang


Orang orang berkemas


Lembaran terakhir di tutup sudah


Lengkap catatan tak ada titik koma yang hilang


Rindu dan resah gelisah berakhir


Dalam batas halus yang bernama takdir


Tinggal kenangan perjalanan sang musafir


Bahwa dalam kematian yang mampir


Usai sudah jalan ceritaku


Setelah satu langkah resiko yang kuambil sendiri


Kini hanya tinggal rasa yang mengambang pada hari hariku


Ingin menutup dengan indah


Namun takdir berbeda dengan isi hati


Sejuk pandang tak lagi dapat terasakan kembali


Gerakan lidah tak bertulang menjadi tutup pangkas yang tragis


Kini aku selayak helai daun kering


Tertiup angin terapung apung entah akan hinggap dimana


Dibatu kerikil kah


Atau sungai yang bening


Yang akan mengalirkan lembaranku ke muara


Satu arah dimana tujuan kan berakhir


Disuatu tempat berkumpulnya aliran mengalir


Meyakinkan keutuhan perjalanan yang tak tersesat


Kita dari lembaran gersang yang menantang badai menghadang


Yang akan meruntuhkan bumerang menghalau kisah usang agar pergi menghilang


Dalam helaan nafas sinar lembayung

__ADS_1


Meniti diantara emosi jiwa


Bersama deburan hasrat bergelombang


Yang akan terus membias dari masa ke masa


Krisan kuning di awal musim hujan tahun ini


Akhir perjalanan hidup tiada pernah diketahui


Saatnya tiba saatnya pasti


Aku terbujur diantara teriakan seruan


Dalam kebisingan debu berterbangan


Sesaat sebelum hujan turun aku di kerubung


Beribu suara berubu tangisan


dari kesedihan dalam kebahagiaan ( mungkin )


Aku tersekal di antara dua kekeliruan


Denging sebuah panggilan


Mengusik mata hati


Membawa nelangsa pikiran


Disana keinginan mungkin aku telah berakhir


Diawal mata air september mengalir


Kelambu putih menutupi


Terbujur jasad yang membiru


Dalam keranda sebuah peti kayu


Linangan airmata silih bergantu untuk menyapa


Namun senyuman masih tetap terjaga dari bibir ini


Daun yang berguguran mengering menutup tubuh


Permadani lelusuhan luntur hanyut bersama jalannya waktu


Noda hitam tak mampu dibasuh dengan jernihnya air bengawan


Pahit kehidupan yang tak hilang meski di rendam dalam lautan madu


Gelap hati menangis duka


Dalam terdalam ruang petaka


Canda dunia tak pernah main main


Menebar terang namun gulita melelapkan


Seperti candu bila bermimpi


Indah di rasa namun tak terlihat

__ADS_1


Ini waktuku yang penghabisan


Izinkan mata ini memeluk semua kenangan


Saat kita melepas genggaman dibawah mega


Lilin kecil mulai menyala


Mengajakku untuk segera menutup mata


Ku tinggalkan doa semoga bahagia


Selamat jalan menuju hadirat Tuhan


Semoga di tempatkan di sisi-Nya


Tinta mata selalu tumpah


Dingin sang bayu seolah mengoyak seonggok daging yang merindu


Membelai hati yang pilu


Menyapa sendu di kalbu


Remuk redam tak berdaya dalam selasar jiwa


Menangisi nyata yang tak rela memisahkan


Ketika cinta tak di jamah


Menyemai rasa paling resah


Ketika rindu tak di rengkuh


Menyulam degup paling gemuruh


Beribu cerita telah di tulis


Berjuta kisah pun tersurat


Aksara di lembar penghujungku


Kertas berlipat buram dan suram


Cinta segala cinta


Nafkah segala nafkah


Jiwa segala jiwa


Kasih segala kasih


Dan....


Hati segala hati


Aku hendak bersemayam dalam aras tanah yang tersirat


Langit menghitam tanpa cahaya


Regas segala tunas di sore yang jingga


Sebab aku sudah berhenti dalam butiran salju yang menghitam

__ADS_1


__ADS_2