
Kembali menjadi angin menjadi panas
Kembali menjadi air
Kembali menjadi tanah
Saatnya utusan bersaksi untuk diri yang pulang
Ketika daun melayang jatuh ke bumi tergeletak
Dan matahari padam hilang terang hilang silau
Orang orang menggali lubang
Orang orang berkemas
Lembaran terakhir di tutup sudah
Lengkap catatan tak ada titik koma yang hilang
Rindu dan resah gelisah berakhir
Dalam batas halus yang bernama takdir
Tinggal kenangan perjalanan sang musafir
Bahwa dalam kematian yang mampir
Usai sudah jalan ceritaku
Setelah satu langkah resiko yang kuambil sendiri
Kini hanya tinggal rasa yang mengambang pada hari hariku
Ingin menutup dengan indah
Namun takdir berbeda dengan isi hati
Sejuk pandang tak lagi dapat terasakan kembali
Gerakan lidah tak bertulang menjadi tutup pangkas yang tragis
Kini aku selayak helai daun kering
Tertiup angin terapung apung entah akan hinggap dimana
Dibatu kerikil kah
Atau sungai yang bening
Yang akan mengalirkan lembaranku ke muara
Satu arah dimana tujuan kan berakhir
Disuatu tempat berkumpulnya aliran mengalir
Meyakinkan keutuhan perjalanan yang tak tersesat
Kita dari lembaran gersang yang menantang badai menghadang
Yang akan meruntuhkan bumerang menghalau kisah usang agar pergi menghilang
Dalam helaan nafas sinar lembayung
__ADS_1
Meniti diantara emosi jiwa
Bersama deburan hasrat bergelombang
Yang akan terus membias dari masa ke masa
Krisan kuning di awal musim hujan tahun ini
Akhir perjalanan hidup tiada pernah diketahui
Saatnya tiba saatnya pasti
Aku terbujur diantara teriakan seruan
Dalam kebisingan debu berterbangan
Sesaat sebelum hujan turun aku di kerubung
Beribu suara berubu tangisan
dari kesedihan dalam kebahagiaan ( mungkin )
Aku tersekal di antara dua kekeliruan
Denging sebuah panggilan
Mengusik mata hati
Membawa nelangsa pikiran
Disana keinginan mungkin aku telah berakhir
Diawal mata air september mengalir
Kelambu putih menutupi
Terbujur jasad yang membiru
Dalam keranda sebuah peti kayu
Linangan airmata silih bergantu untuk menyapa
Namun senyuman masih tetap terjaga dari bibir ini
Daun yang berguguran mengering menutup tubuh
Permadani lelusuhan luntur hanyut bersama jalannya waktu
Noda hitam tak mampu dibasuh dengan jernihnya air bengawan
Pahit kehidupan yang tak hilang meski di rendam dalam lautan madu
Gelap hati menangis duka
Dalam terdalam ruang petaka
Canda dunia tak pernah main main
Menebar terang namun gulita melelapkan
Seperti candu bila bermimpi
Indah di rasa namun tak terlihat
__ADS_1
Ini waktuku yang penghabisan
Izinkan mata ini memeluk semua kenangan
Saat kita melepas genggaman dibawah mega
Lilin kecil mulai menyala
Mengajakku untuk segera menutup mata
Ku tinggalkan doa semoga bahagia
Selamat jalan menuju hadirat Tuhan
Semoga di tempatkan di sisi-Nya
Tinta mata selalu tumpah
Dingin sang bayu seolah mengoyak seonggok daging yang merindu
Membelai hati yang pilu
Menyapa sendu di kalbu
Remuk redam tak berdaya dalam selasar jiwa
Menangisi nyata yang tak rela memisahkan
Ketika cinta tak di jamah
Menyemai rasa paling resah
Ketika rindu tak di rengkuh
Menyulam degup paling gemuruh
Beribu cerita telah di tulis
Berjuta kisah pun tersurat
Aksara di lembar penghujungku
Kertas berlipat buram dan suram
Cinta segala cinta
Nafkah segala nafkah
Jiwa segala jiwa
Kasih segala kasih
Dan....
Hati segala hati
Aku hendak bersemayam dalam aras tanah yang tersirat
Langit menghitam tanpa cahaya
Regas segala tunas di sore yang jingga
Sebab aku sudah berhenti dalam butiran salju yang menghitam
__ADS_1