Gubahan Tak Bermakna

Gubahan Tak Bermakna
Na( hujan ) end part


__ADS_3

Waktu tak bisa berbohong


Harus terus berjalan bagaimanapun cuacanya


Naluri insan untuk menggenggam


Na....


Ku puisikan puisi cinta ini hanya untukmu


Yang memendam rasa diantara kita


Tentang elegi kasih yang terabaikan


Dibawah ratapan bulan yang sedang tersenyum


Tanpa sepatah kata dalam kenyataan


Langit malam menutup sinar mentari


Otakku berangan kita akan bersama


Ku beri sejumput harapan pada tinta yang menetes


Na.....


Mungkin aku hanya orang bodoh yang terus inginkan kasihmu


Ketidak pantasanku untukmu terlalu lebar


Tapi aku menginginkanmu


Ingin menulis cerita ini bersamamu


Menggenggam erat kedua tanganmu


Denganmu berada disisiku


Indahnya pesona paras sang hawa


Naluri sejati terdamba oleh kenyataan penuh maki


Memendam rasa yang setiap kali berontak membara


Terhalang dinding betis arwah penunggu pusara


Impian terperi di tembok sudut sanubari terluka


Aku mungkin tak tau apa apa tentangmu


Tiada sumpah maupun janji


Aku meyakinkanmu


Kesedihan dan kebahagiaan tiada berarti


Apabila butiran salju dapat memutihkan kalbu


Dapatkah kita berdua saling berbagi sepi


Mungkinkah kita hidup bersama dan tak sedikitpun bertentang


Jika puisi indah sudah tak dapat lagi mewakili perasaan ini


Biarlah ku nikmati kehampaan ini

__ADS_1


Mungkin airmata yang tulus akan lebih bermakna daripada tawa penuh dusta


Tak mudah aku bisa melupakan segala yang telah terjadi


Diantara kau dan aku


Diantara kita berdua


Semua tinggal cerita


Namun satu yang perlu engkau tau


Api cintaku padamu tak pernah padam


Aku kira senja tak akan menjadi indah


Aku kira pelangi tak akan berwarna


Dan aku kira dawai hujan akan selalu ternada


Na


Apakah kau tahu apa itu hujan


Hujan yang mengirimmu melewati nada rintiknya


Na...


Apa benar namamu yang dibawa rintik hujan


Na....


Jangan kau memberi melodi angkuh kepadaku karena aku mencintaimu


Aku yang mencoba membaca arah


Berdiri sendiri mencoba mengenal suara rindu


Adakah kau disana masih terpaku menatap kenangan


Melepas pagi dan mencoba memutar mentari


Apakah kau masih terlelap dan terus bermimpi


Memuja cinta tanpa rasa haus duniawi


Meski luka


Aku mencoba menjauh darimu dari putaran waktu masa lalu


Bulan masih merindukanmu


Untuk kembali padamu


Tanpa menghapus tangisan hujan di wajahmu


Disini aku merindu


Merindukanmu yang setiap kali datang bersama hujan


Lambat hari berlalu


Memaksaku untuk melupakanmu


Aku terjebak dalam hujan yang tak di harapkan

__ADS_1


Meminta rindu tapi hanya di beri sendu dan pilu


Terima kasih atas kehanyutan yang kau timpakan


Menghempaskan aku sampai terlempar ke dasar jurang


Dan jiwaku tersesat


Cinta itu buta


Pergolakan hati menentang pikiran


Berseteruh mempertahankan diri


Semampu apa aku menahan


Seringkali aku gagal mendekap bayangan yang bosan berjalan di belakang


Ku pandangi dia


Tak ada balasan hidup seperti bertepuk sebelah tangan


Na....


Mungkin aku terlalu dalam menginginkanmu


Kau adalah mimpi terindahku disaat aku lelah menatap dunia


Dan aku adalah orang bodoh yang mengejarmu


Seperti kekanak kanakan tidak mau berusaha mengerti tentangmu


Kurasa aku sangat aneh karena menyukaimu


Kuntum rindu hingga benci kau rangkai menjadi satu


Lalu kau buang ke hamparan biru


Sebuah tempat yang tak mungkin aku tuju


Mengubah takdir hingga tak mengenalmu


Apakah takdir datang untuk mengerti perasaan orang


Entah harap entah khayal


Dalam biru derasnya tetasan hujan


Tak ada kata yang terucap


Tapi selaksa makna terjawab


Datang dan pergi tanpa pamit


Menghempas asa dan nestapa


Hingga hanya dingin yang tersisa


Na.....


Datangmu menawan


Menggoyahkan jiwa insan


Merindukanmu adalah menemui sunyi

__ADS_1


Sebait kata pada tubuh sepi sendiri


Menyeru namamu sendiri


__ADS_2