
Waktu tak bisa berbohong
Harus terus berjalan bagaimanapun cuacanya
Naluri insan untuk menggenggam
Na....
Ku puisikan puisi cinta ini hanya untukmu
Yang memendam rasa diantara kita
Tentang elegi kasih yang terabaikan
Dibawah ratapan bulan yang sedang tersenyum
Tanpa sepatah kata dalam kenyataan
Langit malam menutup sinar mentari
Otakku berangan kita akan bersama
Ku beri sejumput harapan pada tinta yang menetes
Na.....
Mungkin aku hanya orang bodoh yang terus inginkan kasihmu
Ketidak pantasanku untukmu terlalu lebar
Tapi aku menginginkanmu
Ingin menulis cerita ini bersamamu
Menggenggam erat kedua tanganmu
Denganmu berada disisiku
Indahnya pesona paras sang hawa
Naluri sejati terdamba oleh kenyataan penuh maki
Memendam rasa yang setiap kali berontak membara
Terhalang dinding betis arwah penunggu pusara
Impian terperi di tembok sudut sanubari terluka
Aku mungkin tak tau apa apa tentangmu
Tiada sumpah maupun janji
Aku meyakinkanmu
Kesedihan dan kebahagiaan tiada berarti
Apabila butiran salju dapat memutihkan kalbu
Dapatkah kita berdua saling berbagi sepi
Mungkinkah kita hidup bersama dan tak sedikitpun bertentang
Jika puisi indah sudah tak dapat lagi mewakili perasaan ini
Biarlah ku nikmati kehampaan ini
__ADS_1
Mungkin airmata yang tulus akan lebih bermakna daripada tawa penuh dusta
Tak mudah aku bisa melupakan segala yang telah terjadi
Diantara kau dan aku
Diantara kita berdua
Semua tinggal cerita
Namun satu yang perlu engkau tau
Api cintaku padamu tak pernah padam
Aku kira senja tak akan menjadi indah
Aku kira pelangi tak akan berwarna
Dan aku kira dawai hujan akan selalu ternada
Na
Apakah kau tahu apa itu hujan
Hujan yang mengirimmu melewati nada rintiknya
Na...
Apa benar namamu yang dibawa rintik hujan
Na....
Jangan kau memberi melodi angkuh kepadaku karena aku mencintaimu
Aku yang mencoba membaca arah
Berdiri sendiri mencoba mengenal suara rindu
Adakah kau disana masih terpaku menatap kenangan
Melepas pagi dan mencoba memutar mentari
Apakah kau masih terlelap dan terus bermimpi
Memuja cinta tanpa rasa haus duniawi
Meski luka
Aku mencoba menjauh darimu dari putaran waktu masa lalu
Bulan masih merindukanmu
Untuk kembali padamu
Tanpa menghapus tangisan hujan di wajahmu
Disini aku merindu
Merindukanmu yang setiap kali datang bersama hujan
Lambat hari berlalu
Memaksaku untuk melupakanmu
Aku terjebak dalam hujan yang tak di harapkan
__ADS_1
Meminta rindu tapi hanya di beri sendu dan pilu
Terima kasih atas kehanyutan yang kau timpakan
Menghempaskan aku sampai terlempar ke dasar jurang
Dan jiwaku tersesat
Cinta itu buta
Pergolakan hati menentang pikiran
Berseteruh mempertahankan diri
Semampu apa aku menahan
Seringkali aku gagal mendekap bayangan yang bosan berjalan di belakang
Ku pandangi dia
Tak ada balasan hidup seperti bertepuk sebelah tangan
Na....
Mungkin aku terlalu dalam menginginkanmu
Kau adalah mimpi terindahku disaat aku lelah menatap dunia
Dan aku adalah orang bodoh yang mengejarmu
Seperti kekanak kanakan tidak mau berusaha mengerti tentangmu
Kurasa aku sangat aneh karena menyukaimu
Kuntum rindu hingga benci kau rangkai menjadi satu
Lalu kau buang ke hamparan biru
Sebuah tempat yang tak mungkin aku tuju
Mengubah takdir hingga tak mengenalmu
Apakah takdir datang untuk mengerti perasaan orang
Entah harap entah khayal
Dalam biru derasnya tetasan hujan
Tak ada kata yang terucap
Tapi selaksa makna terjawab
Datang dan pergi tanpa pamit
Menghempas asa dan nestapa
Hingga hanya dingin yang tersisa
Na.....
Datangmu menawan
Menggoyahkan jiwa insan
Merindukanmu adalah menemui sunyi
__ADS_1
Sebait kata pada tubuh sepi sendiri
Menyeru namamu sendiri