
Aku tak tau
Apa itu arti kehidupan
Apa itu kesendirian
Apa itu perasaan
Ingin ku cari jawabannya
Tapi tak ada yang tau
Ingin ku tau apa itu cinta
Seberapa hebat kekuatan yang di miliki
Mungkin aku seorang pecundang
Yang tak mengerti siapa dirinya
Mungkin aku seorang yang lemah
Yang tak mengerti perasaan
Hanya bisa menyesali waktu
Menangisi kisah hidup yang tolol
Menangisi semua rasa sakit
Meratap sesal yang membeku
Semuanya terlambat sudah
Semua sudah menjadi debu
Hitam membayang
Kesempatan harapan raib sudah
Aku hancur berkeping
Aku memang rapuh bagai kelam
Aku selalu menjadi rentetan kegagalan
Aku seonggok sampah yang pantas ada dibawah kaki
Beginikah cara takdir mempermainkanku ?
Asa yang terpendam
Sudah usang tanpa jejak
Semakin jauh aku melangkah
Semakin aku tersesat dan tenggelam
———————————————————————
Aku pergi
Untuk sudahi lara dari tajamnya tutur
Berdiri pada ego
Berpangku membutakan mata hati
Kata samar telah ku rakit
Ku titip pamit
Undur menepis sesak menghimpit
Tugasku telah selesai
Dalam mengejar angan dan mimpi
__ADS_1
Maaf dengan segala ego yang ada
Akasa berhamburan
Tak kala kisah tercipta telah sirna
Biarkan terbawa angin
Lalu hilang dan terlupakan
Ujung senja di akhir cerita
Sepenggal kisah kelam di tepian kepahitan
Cerita dari kusamnya hati yang berdebu
***************************************************
Aku bercinta atas namamu
Atas saksimu
Dan diatas nisanmu
Ku tuliskan surat tentang rinduku pada mati
Tentang suara yang ku cintai berhenti membelai
Ku pahat batu nisan sendiri
Dan kupagut
Bunga layu termakan rapuhnya usia
Sekuntum bunga tak berwarna diatas tanah kubur
Kering tanpa airmata
Pohon terakhir tak sempat tertanam di batu nisan
Matahari yang sama di persinggahan
Nisan terpahat dari bunga mekar penghabisan
Terkubur dalam lukisan tanah
Terpendam dalam alunan kalbu
Terdiam menyendiri sepi
Dikala airmata tak berarti lagi
Terkubur dalam reruntuhan hati
Jika hati melampaui kerasnya baja
Sentuhan melekatkan aroma bunga
Tiap kata ada ruang kosong
Membentang menjadi jurang
Nyawa ku titipkan pada kunang kunang
Agar kata mencoba menemukan makna
Pujangga berlagu
Tentang waktu mengekang rasa
Tentang jarak membius rasa
Batu nisan pembawa rindu
Membasahi kain hitam
Menggenggam gambar keabadian
__ADS_1
Dosa seutas sayatan kulit ari
Pandir jiwa bersimbah airmata
Pusara cinta pusara kenangan
Bunga kamboja selaksana Melati
Wewangi terhirup aroma cendana
Kesedihan rekat di badan nisan
Yang menyisakan tulang
Dari makam yang telah usang
Rindu tanpa nista
Mengukir resah dengan desahan**
Mengungkap rasa dengan aksara***
Mawar melati kembang kantil
Diatas basah makam dosa
Melayu kelopak kembang membalur nisan
Batu nisan terukir namaku dan namamu
Sekerat hati terselip diantara nama kita
Wajah tandus merindu sentuhan lembut
Terkubur dalam tumpukan kamboja
Sejuta duka tersimpan dalam rintik hujan
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Tubuhku telah lebur ke udara
Berpagut mesra pada haluan semesta
Menjadi abu tanpa bunga kamboja
Dan....
Aku bukan lagi kenangan yang menikam
Bagai dinding kelam yang membatu
Tak ada lagi dusta yang mengambang di hati
Dosa dan cela redam dalam damai
Seperti hujan memusuhi bintang
Kata tergenang agar tetap di kenang
Rupa cahaya tak jelang remang
Arah menghilang di ujung pandang
Isi hati sesakit di ujung gamang
Jelang petang berkabung menusuk jantung
Jiwaku cuman pion yang akan tumbang
Dalam lobang yang berkubang
Aroma nikmat dunia tak kurasakan lagi
Rasa sakit telah usai sudah
Nisan berbatu memaku senyum
__ADS_1
Menggalang radang seisi gelanggang