HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 9. Cakra and Giantra


__ADS_3

..."Kadang kita di tuntut menjadi jahat oleh keadaan, meskipun tidak ingin."...


..._Hai Mantan!_...


Cakra bergegas memarkirkan mobilnya di garasi rumah dan masuk kedalam kamarnya. Lelaki itu melewati ruang tamu begitu saja, ia tidak menyapa siapapun yang berada di sana. Padahal ada sang Kakak, Helmi, Gevan, Neneknya dan juga sang Mama. Mereka semua bingung dengan apa yang terjadi terhadap Cakra.


"Bang Cakra kenapa ya Kak?" Gevan menatap kearah pintu dimana hilangnya Cakra tadi. Seren mengedikkan bahunya tidak mengerti, namun sebenarnya gadis itu khawatir dengan adik pertamanya itu.


"Sebentar, biar Kakak samperin Bang Cakra dulu." Seren melangkah meninggalkan ruang tamu, gadis itu berjalan menuju kamar Cakra.


Tok! tok! tok!


Dengan hati-hati Seren mengetok pintu kamar milik Cakra, namun tidak ada sahutan. Seren tidak menyerah sampai di situ, ia terus mengetok pintu milik sang adik.


"Cakra? Kamu di dalam kan?" Sangat lembut, nada bicara gadis itu tidak ada paksaan sama sekali.


"Dek? Ini Kak Seren, buka pintunya dong." Ya, jika ia merasa ada yang salah dengan Cakra maka Seren akan memanggil Cakra dengan panggilan "Dek" sama seperti ia memanggil Gevan.


Ceklek


Pintu terbuka, Seren membulatkan matanya lebar ketika melihat rambut Cakra yang acak-acakan. Lelaki itu terlihat sangat tidak karuan. Tanpa aba-aba, Cakra langsung memeluk Seren.


Seren yang kecil namun tidak terlalu pendek kewalahan dengan tubuh adiknya yang tinggi. "Kamu kenapa, hmm?" Seren mengusap pelan punggung adiknya itu.


Cakra diam, ia tidak banyak bicara, namun Seren tau jika Cakra sedang tidak baik-baik saja. "Dek, kakak tau kamu sedang dalam keadaan nggak baik-baik aja. Mungkin Kakak nggak terlalu dekat sama kamu kayak Kakak dekat sama Gevan, tapi asal kamu tau, Kakak juga sayang Cakra sama kayak Kakak sayang sama Gevan. Kalian berdua adik-adik favorit Kak Seren." Ujar Seren, tanpa keduanya sadari, keluarga mereka sekaligus Helmi sahabat Seren terharu mendengar ucapan Seren kepada Cakra, mereka mengintip dari pintu ruang tamu.


Cakra melepaskan pelukannya dari tubuh Seren, lelaki itu akhirnya menarik Seren kearah kamarnya dan duduk di kursi yang ada di kamar Cakra. Cakra masih diam, wajah lelaki itu terlihat sendu, sampai kemudian Cakra menghembuskan nafasnya pelan. "Kakak tau nggak alasan sebenarnya aku nggak suka Kakak terlalu dekat sama Giantra?"


Seren menatap kearah adik pertamanya itu, lalu ia menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"


"Karena Giantra nggak sebaik yang Kakak kira, Cakra nggak akan biarin Kakak terluka, makanya Cakra melarang Kakak untuk dekat dengan Giantra."


Seren menatap mata adiknya itu, tidak ada kebohongan disana, hanya ada sebuah kekhawatiran. Namun Seren adalah tipe orang yang harus melihat sesuatu dari dua sisi, jadi ia tidak ingin menilai langsung.


"Dek---"


"Kak, tolong dengerin Cakra, please sekali ini aja."


"I----iya tapi--"


Cakra menghembuskan nafasnya pelan, "aku baru aja putus dari Elfina."

__ADS_1


"Okay Kakak turutin kemauan kamu. Tapi Kakak nggak bisa janji buat ngejauhin Giantra, mungkin kalau berhati-hati Kakak bakalan lakuin." Seren memang tidak akan bisa menjauhi lelaki itu, Giantra adalah salah satu orang penting di hidupnya. Sebenarnya Seren tidak mengerti dengan jelas ada masalah apa antara Cakra dan Giantra.


***


Seren terdiam, gadis itu mengaduk-aduk Milkshake Vanilla yang ia pesan. Tidak berminat sama sekali. Mengingat ucapan Cakra tadi membuatnya terus memikirkan hal-hal yang membuat ia khawatir. Tapi kemudian ia mencoba berpikiran positif.


"Hayoo, lo ngapain ngelamun aja Serena?" Seren menatap orang yang datang tiba-tiba itu dengan tatapan horror. Hampir saja gadis itu melempar gelas Milkshake miliknya.


"Untung lo temen gue, kalau nggak, beneran gelas ini melayang ke kepala lo itu," kesal Seren, ia menatap nyalang orang yang baru saja duduk dihadapannya.


Sambil tertawa, orang itu mengacak rambut Seren pelan. "Tega banget Neng Seren mau ngelempar Bang Giantra."


Ya, orang itu Giantra, lelaki yang berjanji bertemu dengan Seren di Kafe tempat keduanya biasa nongkrong.


Seren hanya diam, ia terus menatap Giantra dengan mulut yang menyedot milkshake vanillanya, Giantra mengerutkan keningnya heran. Sampai...


Tuk


Sebuah sentilan kecil mendarat di kening Seren. Seren geram, ia tersadar dari lamunannya. Lalu kembali menatap kesal Giantra.


"Hobi banget sih lo bikin gue kesel, kurang ajar. Gini-gini gue lebih tua dari lo!"


"Maaf ya Kak Seren, Giantra cuma suka aja ngegoda kakak, soalnya manis kalau kesel," ujar Giantra dengan nada mengejeknya.


Seren menepis tangan Giantra dari pipinya, "Giantra kurang ajar, tangan lo bau bawang."


Giantra reflek mencium tangannya, lelaki itu menatap Seren datar. "Bau wangi gini dikatain bau bawang. Emang ajaib kelakuan," gumam Giantra pelan namun dapat didengar oleh Seren.


Keduanya kembali diam, Giantra melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Seren yang hanya mengaduk-aduk minumannya. Entah apa yang difikirkan gadis itu, Giantra juga tidak tau. Sampai akhirnya seorang pelayan kafe datang mengantarkan pesanan milik Giantra. Giantra mengucapkan terimakasih dan meminum kopi hitam miliknya.


"Bye the way, tumben lo ngajakin nongkrong duluan, ada apa?" To the point, Giantra langsung bertanya tujuan Seren mengajaknya bertemu, biasanya Giantra akan lebih dulu menghubungi Seren, tapi kali ini tidak, makanya Giantra penasaran.


Seren menghentikan aktivitasnya mengaduk-aduk minumannya. Gadis itu menatap Giantra, lalu menghembuskan nafasnya pelan.


"Gue..."


Sebelah alis Giantra naik keatas, menunggu jawaban gadis berusia 3 tahun diatasnya itu berbicara.


"Gue, mau tanya sesuatu."


"Apa?"

__ADS_1


Seren sebenarnya ragu, tapi ia harus meluruskan semuanya. Ia tidak boleh tinggal diam dengan konflik yang terjadi antara orang-orang disekitarnya.


"Lo tau kan kalau gue punya Adik?"


Giantra mengangguk, tapi ia tidak mengerti maksud Seren. Tentu saja Giantra tau, tapi kenapa Seren masih bertanya, itu yang saat ini ia pikirkan.


"Terus kenapa?"


Lagi dan lagi, Seren menghembuskan nafasnya pelan. Ia melirik keluar jendela sebelum akhirnya kembali berbicara. "Lo tau siapa Adik gue?"


Lagi, Giantra kembali menganggukkan kepalanya. "Ini sebenarnya ada apa sih? Lo nanyanya gitu banget, gue tau lo punya adik, dan gue tau asik lo si Gevano. Kenapa lo nanyanya bertele-tele banget." Giantra sedikit heran, entah apa yang ada dipikiran gadis di hadapannya ini.


"Bukan, gue bukan mau bahas Adik gue Gevano."


"Terus siapa? Lo dari tadi nanya ke gue tentang gue yang tau nggak lo punya adik, tentang siapa adik lo, tapi sekarang bukan bahas Gevano. Jujur, gue kurang paham bahkan nggak paham apa yang lo maksud." Giantra mencoba berbicara selembut mungkin, lelaki itu sedikit kesal, namun tidak mungkin ia berbicara kasar dengan gadis yang ia cintai itu.


"Sabar kek gitu, gue mau bahas Adik gue yang satunya."


"Sebentar, lo punya Adik lebih dari satu?"


Seren menganggukkan kepalanya menginyakan pertanyaan Giantra.


"Gue baru tau," gumam Giantra yang masih bisa didengar oleh Seren.


"Cakra Delkara Nandio."


Deg


Entahlah, Giantra langsung membeku mendengar ucapan Seren barusan. Nama itu, ia tidak mungkin melupakan. Lelaki itu diam, wajahnya sedikit pucat.


Seren melihat jelas perubahan raut wajah Giantra, hati-hati gadis itu kembali bersuara. "Emb, Lo....kenal sama Cakra?"


Giantra diam, sampai kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan. "Gu--gue, gue nggak kenal sama Cakra."


Seren mengerutkan keningnya, ia tidak percaya sebenarnya. Namun gadis itu hanya mengangguk saja. Mungkin Seren harus mencari taunya sendiri, ia tidak akan mau mati penasaran gara-gara teka-teki amatiran seperti itu.


"Dia adik gue, itu yang mau gue omongin sama lo. Lo sebagai sahabat gue udah kenal adik bungsu gue Gevano Alfas Natariyo , jadi lo juga harus kenal sama Cakra Delkara Nandio, adik pertama gue." Sengaja, anggap saja seperti itu, Seren ingin memancing reaksi dari Giantra. Apakah lelaki itu mau mengikuti sarannya atau tidak untuk berkenalan dengan Cakra.


Giantra tersenyum, namun Seren tau jika itu senyuman keberatan, entahlah apa yang sebenarnya terjadi antara Giantra dan Cakra, tapi jangan panggil Serena Neve Zelmira jika ia tidak berhasil menguak semuanya.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2