
..."Cara move on terbaik bukan dengan melupakan dan ingin menghilangkan namanya dari hidupmu. Tapi dengan cara terus mengingatnya, jika kamu biasa saja berarti kamu telah move on darinya."...
..._Hai Mantan!_...
Seren keluar dari halaman rumahnya, ia hari ini mengenakan celana bahan berwarna putih, kaos, Sling bag dan juga blazer berwarna putih. Tatanan rambut sebahunya yang ia gerai juga dandanan natural membuatnya terlihat sangat cantik. Gadis itu meminta satpam membukakan pagar rumahnya, di luar pagar mobil Giantra sudah menunggunya.
"Beraninya nunggu cewek depan pager rumah," ejek Seren ketika telah masuk kedalam mobil Giantra.
"Tadi kan yang nyuruh nunggu depan pager lo sendiri neng Seren," balas Giantra sambil menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Seren.
Seren tertawa, "Canda depan pager. Ya lagian lo mau mauan aja, masuk kek gitu. Ngapain coba nurutin gue."
"Bodo amatlah, udah terlanjur." Giantra kesal dengan Seren lelaki itu akhirnya memilih untuk fokus menyetir. Sedangkan Seren sudah tertawa ngakak.
Beberapa menit berlalu, Seren dan Giantra masih betah saling diam. Sampai akhirnya...
Brakk!
Suara sesuatu yang bertabrakan membuat Seren dan Giantra terkejut. Giantra menghentikan mobilnya, lalu ia keluar dari mobilnya. Seren yang penasaran akhirnya juga memilih mengikuti Giantra keluar mobil.
"Maaf mas saya nggak---"
"Giantra, ada apa?"
Lelaki tadi menoleh ke arah Seren, ia menghentikan ucapannya ketika mendengar Seren berbicara. Gadis itu terkejut melihat orang yang sekarang berada dihadapannya itu.
"Seren?"
Seren memilih untuk bungkam, Giantra mengerutkan keningnya. "Kalian saling kenal?"
"Iya/nggak!" Tau kan siapa yang menjawab iya dan siapa yang menjawab nggak. Giantra semakin bingung, tapi kemudian menghela napasnya pelan.
"Mobil mas..."
"Saya Giantra."
Laki-laki tadi menganggukkan kepalanya, "Ya, mas Giantra biar saya yang mengganti kerusakannya. Ini kartu nama saya, mas Giantra nanti silahkan menghubungi saya. Maaf Mas, saya harus buru-buru." Laki-laki itu dengan cepat memasuki mobilnya, sebelum itu tadi ia melirik kearah Seren, tapi Seren hanya diam.
__ADS_1
Giantra menganggukkan kepalanya sambil menerima kartu nama itu. "Mas tung---"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya mobil yang laki-laki tadi kendarai sudah lebih dulu beranjak dari sana.
"Udah pergi orangnya, lebih baik sekarang kita ke tempat meeting. Kasian klien kita nungguin," ujar Seren sambil berjalan masuk kedalam mobil Giantra.
Giantra menganggukkan kepalanya, dan mengikuti Seren masuk kedalam mobil. "Itu tadi dia?" Giantra menjalankan mobilnya sambil sesekali menatap kearah Seren yang hanya diam memandang jalanan.
Seren diam, namun kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Gue sampai hari ini kalau ngeliat dia, ketemu dia masih ngerasain hal yang sama. Gue masih nggak bisa melupakan dia."
Giantra tersenyum hambar, "Padahal ada gue disamping lo, tapi lo lebih Mandang dia yang udah bukan siapa-siapa lo lagi," lirih Giantra, lelaki itu merasa sakit mendengar pengakuan dari Seren. Ia menyukai Seren dari tiga tahun yang lalu, namun Seren sama sekali tidak memandangnya sebagai lelaki yang harus Seren cintai.
"Maafin gue, gue masih sayang sama dia. Sebenarnya gue dan dia belum pernah ngucapin kata jika kami berakhir."
"Gue paham, paham banget bahkan. Asal lo tau, cara terbaik buat move on itu bukan dengan menghilangkan namanya dari ingatan lo. Tapi dengan cara terus mengingatnya, kalau lo biasa aja berarti lo berhasil move on."
Seren menoleh kesampingnya, ia tersenyum menatap Giantra. "Sayangnya setiap gue mengingat dia, perasaan gue padanya bukan semakin menghilang atau biasa aja, tapi justru semakin besar."
"Udahlah, nggak usah bahas dia lagi. Biarin otak gue tenang dulu," lanjut Seren, akhirnya ia memilih untuk diam, Seren tidak ingin berbicara. Begitu pula dengan Giantra. Laki-laki itu memilih untuk fokus mengendarai mobilnya.
Ditempat lain, seorang lelaki memasuki kafe seorang diri. Setelan kemeja hitamnya dan juga celana jeans berwarna hitam membuat ia terlihat tampan.
"Farez, disini." Seseorang melambaikan tangan memanggil laki-laki yang tak lain adalah Farez itu.
Farez tersenyum, disana sudah terdapat teman-temannya. Ia menghampiri teman-temannya itu dan duduk disalah satu kursi.
"Gimana? Gue belum telat kan?"
"Belum, rekan kerja kita juga ngabarin tadi masih dijalan," ujar Farzan, disana ada sekitar 6 orang, mereka semua adalah teman kerja Farez di bidang bisnis yang sekarang Farez geluti. Kebetulan Farez dan teman-temannya adalah seorang pengusaha muda yang menggeluti bidang informatika, khususnya radio dan juga EO.
"Permisi, mohon maaf kami sedikit terlambat."
Farez reflek menoleh ke sumber suara, tiba-tiba saja tubuh laki-laki itu mematung, matanya tidak berkedip. Bukan hanya Farez, orang yang tadi bersuara juga sama, ia mematung.
"Farezta Javas Ganendra?"
"Farez, lo kenapa?"
__ADS_1
Farez tersadar dari bekunya, ia merubah wajahnya menjadi datar.
"Gue nggak kenapa-kenapa. Bisa kita mulai aja meetingnya? mereka klien kita kan?" Tanya Farez kemudian kepada teman-temannya.
"Silahkan duduk Nona Seren, Mas Giantra." Ya, tadi adalah Giantra dan juga Seren. Keduanya tidak menyangka jika yang akan menjadi rekan bisnis mereka adalah tempat usaha, atau kantor milik Farez, jika ia tau sejak awal tidak mungkin akan menerima kerjasama itu.
"Ingat Seren, lo harus profesional," ujarnya dalam hati.
Seren dan Giantra akhirnya duduk dikursi yang telah disediakan. "Bisa kita mulai meetingnya sekarang? Setelah dari meeting ini kebetulan Seren dan saya akan datang keacara launching buku salah satu klien kami."
"Bisa Mas."
Akhirnya mereka memulai meeting mereka, dengan serius Seren fokus kepada persentasi yang disampaikan oleh klienya, Farez dan teman-teman. Berbeda dengan Seren, Farez dari tadi justru merasa tidak tenang berada disana. Lelaki itu berulang kali melirik kearah Seren, Seren tau itu tapi ia berusaha untuk mengabaikannya.
"Bagaimana Nona Seren, Mas Giantra? Apa anda tertarik dengan konsep yang kami persentasikan?"
Giantra memandang kearah Seren, laki-laki itu bertanya tentang bagaimana pendapat Seren. Seren menganggukkan kepalanya, tapi ketika Giantra akan berbicara Seren mengangkat tangannya pertanda agar Giantra menghentikan pembicaraannya.
"Baiklah, sekarang saya yang akan berbicara. Sepertinya terlalu formal, kita bicara santai saja, anggap seperti teman lama. Jadi setelah saya menyimak apa yang disampaikan oleh Mas Dika dan teman-teman tadi merupakan sebuah pemikiran yang tidak biasa, sangat menarik, bahkan saya yakin jika kita menerapkan diacara ini pasti akan sangat pecah. Untuk itu, saya sebagai pemegang project besar acara ini menyetujui konsep yang mas Dika sampaikan. Saya yakin, acara ini akan sukses. Anda benar-benar luar biasa mas Dika." Seren tersenyum diakhir kalimat sambil mengulurkan tangannya ia memberi selamat.
"Anda bisa saja Nona, tapi maaf, ide ini bukan dari saya."
"Hah? Lantas?"
"Farezta, ia yang mencetuskan ide ini. Katanya dia benar-benar bosan dengan konsep-konsep acara yang dibuat oleh orang-orang diluar sana terlalu biasa, ia ingin hal baru, makanya terciptalah konsep ini." Jelas Dika dan diangguki oleh teman-temannya yang lain kecuali Farez.
Seren terdiam, tapi kemudian ia menoleh kearah Giantra ketika laki-laki itu menggenggam tangannya yang meremas kain blazernya dibawah meja. Giantra mencoba menenangkan Seren.
Seren menghembuskan napasnya, "Baiklah, Selamat Mas Farezta. Saya benar-benar bangga dengan konsep yang anda buat," ujar Seren sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya di depan Farez. Farez membeku, ia hanya menatap uluran tangan Seren.
Namun senggolan tangan dari salah satu teman Farez membuat laki-laki itu tersadar dan dengan ragu membalas uluran tangan Seren.
Deg
Jantung keduanya berdetak cepat, "Tangannya masih terasa sama, aku merindukan hal ini. Tangan yang dari dulu selalu aku genggam, tangan yang mengelus kepalaku dan tangan yang selalu menenangkanku ketika terluka," Batin Seren kembali berbicara.
Bersambung. . .
__ADS_1