
..."Masa lalu bukanlah sebuah halangan untuk melangkah ke masa depan, justru masa lalu dapat dijadikan sebagai kerangka meraih masa depan yang indah."...
..._Hai Mantan!_...
Di kamar yang terkesan sangat maskulin dengan barang-barang tertata rapi terlihat seorang pemuda sedang duduk di kursi meja belajarnya sambil memandangi polaroid di tangannya.
Ia tersenyum, "kamu sudah banyak berubah, bahkan aku tidak mengenalimu ketika awal kita berjumpa kembali setelah 4 tahun berlalu." Laki-laki itu mengusap pelan foto seorang gadis dengan senyum menawan.
"Seren, aku merindukanmu," gumamnya pelan, kemudian mencium foto gadis manis tersebut.
Ceklek
Pemuda itu buru-buru menyembunyikan gambar polaroid yang ia genggam tadi dengan cara menyelipkannya disalah satu buku.
"Bang Azhar, ada apa?"
"Mau jalan nggak? Mumpung malam Minggu."
Pemuda itu beranjak dari kursinya, membuka lemari dan mengambil jaket. "Ayo, bosen juga seharian di rumah."
Azhar dan pemuda yang tak lain adiknya itu, Farez, keduanya berjalan beriringan. Sudah menjadi rutinitas jika setiap malam Minggu Azhar dan Farez akan pergi bersama untuk sekedar nongkrong di angkringan atau kafe hits di kota istimewa itu.
"Javas, Azhar." Seruan sang ibu memanggil keduanya. Kakak beradik itu berhenti, menunggu Andita yang berjalan kearah mereka.
"Mau kemana?" Tanya wanita paruh baya itu ketika melihat pakaian anak-anaknya yang terkesan santai namun rapi dan... wangi.
"Cariin menantu buat ibu," ujar Azhar sambil menaik turunkan alisnya.
Andita tertawa pelan, lalu memukul lembut anak tertuanya itu. "Kamu ini anak bandel, PHP-in ibu durhaka kamu."
Farez hanya tertawa melihat sang kakak yang membulatkan matanya karena takut dengan ucapan sang ibu.
"Becanda Bu, tapi kalau beneran dapat calon mantu buat ibu ya nggak apa-apa. Siapa tau Azhar beruntung."
"Haduh, udah deh, ibu pusing dengerin kamu mengkhayal. Umur kamu itu 32 tahun, dari dulu PHP-in ibu. Masa ganteng-ganteng gini nggak ada yang mau," ejek Andita kepada anak sulungnya.
Azhar menghembuskan nafasnya pelan, "cewek jaman sekarang susah di dapetin, maunya banyak banget. Pusing Azhar, Javas aja deh yang duluan ngasi ibu mantu. Azhar ngalah, kan Javas udah punya pacar."
Farez membelalakkan matanya, mana terima pemuda itu menjadi tumbal dari kakaknya itu. "Kok Javas, Javas belum punya pacar. Javas nggak akan nikah sebelum Bang Azhar nikah duluan, kasian udah mau kakek-kakek nggak nikah-nikah, mau jadi bujang lapuk."
Azhar menatap nyalang adik semata wayangnya itu, "enak aja ngatain Abang kakek-kakek, apalagi bujang lapuk, masih ganteng gini juga." Percaya diri Azhar sambil menyisir rambutnya dengan jemari tangan.
Farez memutar bola matanya malas, tingkat percaya diri kakaknya itu memang keterlaluan, daripada pusing meladeni lebih baik diam.
"Betul apa kata Adik kamu. Abang itu harus duluan nikah, lagian ibu nggak setuju kalau Javas sama cewek centil yang biasanya suka ngintilin kemana-mana. Ibu pengen menantu kayak Serena, cantik, pinter, wanita karir, baik, ramah, satu lagi dia itu dari kecil memang kurang perhatian dari keluarganya, tapi Seren bisa jadi gadis hebat sekarang, kasian anak itu dewasa tanpa ayahnya. Semoga Seren selalu bahagia ya, semoga dapat laki-laki yang tidak seperti ayahnya, yang tulus mencintai gadis manis itu." Andita menerawang jauh kedepan, wanita paruh baya itu kemudian tersadar dari khayalannya.
Ia menatap kedua putranya yang terdiam, lalu menepuk pundak Farez dan Azhar. "Ibu harap kalian jadi lelaki yang bertanggungjawab, jangan melukai hati perempuan, karena tanpa seorang perempuan kalian tidak akan bisa ada di dunia ini. Kalian harus menghormati dan menghargai perempuan, sayangi dengan setulus hati seperti kalian menyayangi Ibu ya."
Farez terdiam, "entahlah, sadar atau tidak aku sepertinya pernah membuat seorang wanita terluka, mengabaikannya, seolah-olah hanya dia yang membutuhkanku. Ternyata aku sejahat itu, maaf Bu, aku pernah menyakiti wanita dan itu Seren perempuan yang ibuku idamkan menjadi menantunya, perempuan yang memang tidak mendapat perhatian dan kasih sayang ayahnya," Batin Farez, Ia menatap sendu sang Ibu yang tersenyum dihadapannya.
"Udah jam 20.00 nih, kalian katanya mau jalan?"
__ADS_1
Azhar menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Lah iya, ibu sih ngajak ngobrol, nanti nggak dapat menantu yang baik lho Bu."
Andita menatap datar candaan anak sulungnya itu. "Alasan aja, yaudah buru berangkat, jangan lupa pulang."
Azhar tertawa, sedangkan Farez menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang Kakak yang sering menggoda Ibu mereka. Di rumah itu Farez dan Azhar tinggal bersama kedua orangtuanya. Tapi ayah Farez sedang ada urusan dengan masyarakat di kompleks perumahan jadi mereka tidak bertemu dengan sang ayah.
"Bang, mau naik motor apa mobil?" Farez bertanya kepada Azhar yang menunggunya di pagar rumah mereka.
"Motor aja, biar bisa menghirup udara segar."
Farez menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengambil motor di garasi rumahnya dan menjalankan lalu berhenti di depan Azhar.
Azhar naik keatas motor, kedua kakak beradik itu akhirnya meninggalkan rumah mereka untuk menghabiskan waktu malam Minggu mereka nongkrong di luar.
"Javas, lo kenal Seren?" Pertanyaan macam apa itu, Farez sedikit terkejut, beruntung saat ini ia sedang menyetir dan menggunakan helm, jadi Azhar tidak melihat ekspresi wajahnya.
"Woi!" Kesal Azhar memukul pelan pundak adiknya itu.
"Kenapa bang? gue lagi nyetir, nanti kita bisa kecelakaan."
Azhar berdecak pelan, jika saja mereka sekarang tidak sedang berada di jalan, mungkin Azhar akan langsung memukul kepala adiknya yang menyebalkan itu.
"Gue nanya, lo kenal Seren ya?"
"Dari mana lo dapat asumsi gue mengenal Seren?" Tanya Farez balik, lelaki itu tidak ingin abangnya tau jika ia dan Seren saling mengenal, bahkan Seren merupakan mantan kekasihnya, atau mungkin masih kekasihnya sampai saat ini.
"Gue nebak doang, karena setau gue, Seren itu kuliah di universitas yang sama, sejurusan dan seangkatan sama lo kan?"
"Vas?"
"Mungkin, gue nggak terlalu ingat dia," ujar lelaki itu, ia memandang jalanan dengan kosong. Suara klakson bersahutan di sana, maklum malam Minggu banyak orang yang ingin menghabiskan weekend mereka diluar.
Motor yang dikendarai oleh Farez dan juga Azhar akhirnya sampai didepan sebuah kafe yang memiliki dekorasi musik menarik, banyak album-album dari era 90-an yang terpajang disana.
Kedua kakak beradik itu berjalan beriringan memasuki kafe itu. Cukup ramai malam ini, terlihat dari hampir seluruh meja dan kursi di sana sudah terisi.
Farez dan Azhar memilih memesan minuman favorit mereka masing-masing, lalu mereka duduk di salah satu tempat outdoor yang langsung menghadap ke langit.
"Javas, Azhar, apa kabar brothers?"
Seorang lelaki yang cukup berumur namun masih terlihat keren dengan penampilannya itu menghampiri keduanya. "Bang Refan, baik Bang."
"Bang Refan sendiri gimana kabarnya?" Azhar bertanya kepada lelaki bernama Refan itu yang merupakan salah satu owner dari kafe yabg mereka kunjungi.
"Gue baik Alhamdulillah, gimana?"
Farez dan Azhar saling tatap, keduanya tidak mengerti apa yang Refan tanyakan.
Refan terkekeh, kedua kakak beradik itu memang sangat kompak, mulai dari style hingga pikiran mereka hampir sejalan.
"Masih jomblo kalian?" Farez menatap datar Refan, sedangkan Azhar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saking tidak mengerti ingin menjawab apa.
__ADS_1
"Jangan lama-lama ngejomblo, kasian ibu kalian udah pengen punya mantu," canda Refan sambil menepuk pundak kakak dan adik itu.
"Seren?" Gumam Farez, lelaki itu melihat kearah seorang gadis yang baru saja memasuki kafe seorang diri.
Seketika pandangan Refan dan juga Azhar mengikuti arah pandang Farez, Azhar tersenyum. Lelaki itu beranjak dari kursi duduknya, lalu menghampiri Seren yang sepertinya bingung mencari tempat duduk.
Farez menghembuskan nafasnya pelan, Refan melihat ekspresi Farez tersenyum mengejek. "Kalah cepat sama Abang sendiri."
Farez diam, ia masih memandang kearah Seren, gadis itu tampak pasrah ketika Azhar mengajaknya. Tidak lama kemudian Azhar datang bersama Seren.
Seren tampak terkejut melihat Farez, dan juga Refan. Hal itu tentu saja membuat Refan bingung, begitupun dengan Farez.
"Om," ujar gadis itu sambil tersenyum canggung.
"Apa kita pernah ketemu?" Refan bertanya kepada Seren, Azhar dan Farez hanya menyimak meskipun penasaran.
"Ya, sekitar 5-6 tahun yang lalu, ketika saya masih kuliah dan liputan di angkringan Padang punya Om," ujar Seren kemudian.
Farez masih diam, ia mengingat hal itu, karena yang merekomendasikan tempat untuk liputan saat itu dirinya sendiri.
"Saya ingat, kamu masih aja manggil Om, Bang Refan aja. Tapi, bukannya kamu dan Farez..."
"Nggak Bang, itu nggak bener." Ya, Seren tau kemana arah pembicaraan Refan, untung ia berusaha menghentikan takut Farez tidak nyaman.
Tidak lama kemudian Refan pamit dari hadapan mereka bertiga karena memiliki urusan yang harus di selesaikan. Akhirnya tersisa lah Farez, Seren dan Azhar di sana.
Seren terlihat canggung, gadis itu hanya bisa memainkan jemarinya dibawah meja ketika ia sudah duduk.
"Terima kasih/Terima kasih." Bersamaan, Azhar dan Seren sama-sama bersuara, sedangkan Farez hanya menatap keduanya datar.
"Mas Azhar duluan saja." Gugup, bayangkan saja, kalian berbicara dengan cowok lain di hadapan mantan kalian sendiri, bukan mantan mungkin masih bisa dibilang kekasih kalian, apalagi orang yang kalian ajak bicara adalah kakak dari kekasih kalian sendiri.
"Ter___"
"Halo, ada apa?" ucapan Azhar terhenti, perhatian Seren dan juga Azhar beralih kearah Farez yang sedang mengangkat telponnya.
Laki-laki itu terlihat kesal namun juga cukup khawatir. Farez berdiri dari duduknya. "Bang, gue duluan." Farez meninggalkan Azhar dan Seren disana. Ketika Azhar ingin bertanya justru Farez sudah lebih dulu menjauh.
"Kenapa masih sesak ketika melihat dia seperti itu, masih seperti orang yang selalu mengutamakan orang lain namun mengabaikan seseorang yang bersamanya. Ternyata kamu belum berubah, Farez." Seren menatap kepergian Farez dengan wajah sendunya.
"Seren?"
"Eh iya Mas?"
"Terimakasih mau bergabung di meja ini bersama ku dan juga Farez meskipun ia harus pergi, mungkin Farez akan bertemu dengan Jenissa."
Deg
"Kenapa aku dulu tidak seberuntung Jenissa?" Batin Seren tersenyum masam.
Bersambung. . .
__ADS_1