
..."Kebahagiaan itu akan datang pada siapapun yang bersabar, jika bukan hari ini mungkin besok, jika tidak besok maka lusa, bersabar dan bersyukur, itu kuncinya."...
..._Hai Mantan_...
"Astaga, gue nggak nyangka kalau pada akhirnya lo bakalan balikan lagi sama Farez," heboh Helmi sambil membantu Seren untuk menyiapkan diri. Gadis itu malam ini akan makan malam bersama keluarga Farez, meskipun Seren dan Farez merupakan tetangga komplek, tapi ia harus tetap tampil sempurna malam ini. Bagaimana pun juga ia tidak ingin membuat malu Farez didepan keluarganya.
"Huh, Perfect, lo emang dasarnya udah cantik, jadi mau kayak gimanapun juga bakalan cantik."
Seren tersenyum mendengar ucapan dari sahabatnya itu. Helmi memang suka melebih-lebihkan, padahal biasa saja namun bibir perempuan itu akan mengatakan luar biasa.
"Btw lo nanti dijemput?"
Seren hanya menganggukkan kepalanya, ia masih tidak menyangka malam ini akan makan malam bersama keluarga Farez, kekasihnya, ya. Jika di ingat-ingat dulu mana mungkin Farez mau membawanya ke keluarganya, bahkan untuk mengumbar hubungan mereka saja Farez terkesan malu. Seren bersyukur karena sekarang berbeda, setidaknya ia bisa membuktikan jika ia adalah bunga yang berharga bukan sampah.
"Lo kenapa senyum-senyum terus? Kesambet lo?"
Seren menolehkan badannya kearah Helmi yang duduk di atas tempat tidur milik Seren. "Gue seneng aja, finally hal yang dulu gue harapkan bisa terwujud. Gue bahagia Hel."
Helmi membalas senyuman Seren, ia juga merasa bahagia melihat sahabatnya itu bahagia. "Gue harap lo terus bahagia, lo nggak boleh sedih lagi. Ini impian lo dulu kan?"
Seren menganggukkan kepalanya, benar ini adalah impiannya dulu, menjadi orang yang dianggap kehadirannya, bukan hanya sebagai status yang tidak jelas, yang dianggap ketika dibutuhkan.
"Seren."
"Ya?"
"Janji sama gue jangan pernah terluka lagi, jangan menghilang lagi, dan terus tersenyum kayak sekarang ya?"
Seren lagi-lagi mengangguk, "gue janji."
"KAK DITUNGGUIN BANG FAREZ DI BAWAH."
"Tuh lo udah ditungguin, mending sekarang kita turun aja," ajak Helmi pada Seren.
Seren mendadak menjadi gugup, ini pertama kalinya ia akan makan bersama keluarga Farez. Ia memang sudah beberapa kali bertemu dengan ibu dari lelaki itu, juga pernah main ke rumah milik Farez, namun rasanya canggung sekali sekarang, ia sedikit deg-degan.
Seren dan Helmi telah sampai diruang tamu, disana ia melihat Farez dengan sang Mama, Cakra, Gevano, dan juga Neneknya sedang saling berbincang-bincang ringan.
"Eh sayang sudah siap nak?" Sang mama tersenyum melihat putri semata wayangnya itu yang tampil dengan Anggun dan cantik.
__ADS_1
"Kak Seren Cantik banget, kalau kakak bukan kakaknya Cakra udah Cakra gebet dari dulu," canda Cakra yang di hadiahi tatapan tajam dari Farez.
Vera mencubit pelan tangan anak lelaki pertamanya itu, "jamu ini bercandanya, mau dosa kamu berani ngegebet kakak sendiri."
"Kan becanda Ma, lagian kak Seren kan kakaknya Cakra, jadi nggak mungkinlah."
"Mending Bang Cakra sama Kak Helmi aja tuh, jomblo," celetuk Gevano yang sedari tadi hanya diam.
Cakra rasanya ingin mencakar wajah adiknya itu. "Lambenya turah berapa centi sih, lemes banget," jesal Cakra, meskipun kemudian ia melirik kearah Helmi yang tersenyum malu-malu.
"Ngapain lo, malu-malu kucing gitu. Jijik banget Hel sumpah," ejek Seren sambil menjauhkan diri dari sahabatnya itu.
Vera menggelengkan kepalanya melihat keributan kecil yang diciptakan anak-anaknya dan juga sahabat mereka. "Udah ah, mending Kak Seren sekarang berangkat aja, kasian tuh Farez udah nunggu kamu. Anak mama cantik banget."
Seren tersenyum lagi, gadis itu memang selaku saja banyak tersenyum, "Mama bisa aja, Seren cantik karena Mama cantik," ujarnya.
"Mau berangkat sekarang?" Tanya Farez tiba-tiba, lelaki itu tersenyum hangat.
Seren menunduk, kemudian ia dengan malu mengiyakan.
"Mama Vera, Nenek, Cakra, Gevan, Helmi, Farez sama Seren pamit dulu ya, kita mau makan malam dirumah Farez," pamit lelaki itu dengan sopan.
Vera dan yang lain menganggukkan kepalanya setuju, "jaga anak Mama dengan baik Farez," ujar Vera.
...***...
Suasana di meja makan sedikit canggung, Seren seperti merasa semua orang menatapnya. Jadi gadis itu sedari tadi hanya menundukkan kepalanya. Ia takut, malu, cemas, dan masih banyak lagi.
"Serena."
Gadis itu mendongakkan kepalanya mendengar panggilan lembut dari wanita yang tak lain merupakan ibu kandung dari kekasihnya, Farezta Javas Ganendra.
"Silahkan di makan Nak, Bunda masak semuanya ini khusus untuk Seren."
Seren sedikit gugup, lidahnya kelu ketika ingin mengucapkan terimakasih, dengan terbata-bata akhirnya ia berhasil mengucapkannya.
Disana bukan hanya Andita dan dirinya saja, namun ada ayah Farez yaitu Andra, Farez dan juga... Azhar.
Kakak Farez itu berada tepat dihadapannya, pandangan lelaki itu sama sekali tidak teralihkan darinya. Ia bukannya percaya diri, namun ia sadar jika Azhar sedari awal memang menatap kearahnya.
__ADS_1
Farez, lelaki yang berstatus sebagai kekasihnya itu tampak tenang duduk di samping Seren. Meskipun ternyata sebenarnya Farez juga sedikit kesal dengan kakaknya yang terus saja menatap Seren.
"Jangan sungkan ya Nak, makanan yang di masak bunda ini benar-benar enak, ayah saja biasanya selalu menambah banyak," ujar Andra sambil terkekeh.
Malam itu, di meja makan keluarga besar Farez dipenuhi dengan obrolan-obrolan ringan. Sesekali juga candaan yang selaku menjadi bumbu disana.
"Seren."
"Iya bunda?" Saat ini Andita dan Seren sedang bekerjasama membersihkan piring-piring sisa makan malam mereka. Sebenarnya Andita tidak mengizinkan Seren membantunya, namun gadis itu bersikeras ingin membantu. Akhirnya mau tidak mau Andita mengiyakan.
"Bunda dengar kamu dan Farez sudah menjalin hubungan sejak duduk di bangku kuliah?"
Seren mengiyakan, tangan gadis itu masih terus sibuk membilas piring-piring yang kotor.
Andita tertawa, "maafin anak bunda ya Seren, dia memang keras kepala, mungkin karena didikan keras dari Bunda dan Ayah. Bunda nggak tau kalau selama itu Javas pernah membuat kamu terluka, Bunda menyesal mendengar semuanya."
Seren menghembus nafasnya, menyimpan piring-piring tadi di rak piring dan mengeringkan tangannya. "Nggak apa-apa kok Bun, Seren paham, Seren udah memaafkan Farez, Seren seneng bisa mendapatkan pengalaman berharga di hidup Seren. Lagipula sekarang Seren yakin kalau Farez sudah berubah, dia akan jadi laki-laki yang lebih baik dan bertanggung jawab."
Andita mengusap rambut Seren lembut, lalu tersenyum mengelus pipi gadis itu. "Bunda nggak tau lagi mau bicara apa, kamu terlalu baik, kamu perempuan yang berhati lembut, kamu terlalu sempurna untuk disia-siakan Nak."
Seren menggelengkan kepalanya, "nggak Bun, Seren nggak sempurna, Seren banyak kekurangannya, hanya Seren beruntung karena Tuhan menutupinya. Seren hanya makhluk-Nya yang jauh dari kata sempurna."
"Awalnya bunda ingin menjodohkanmu dengan Azhar, Bunda pengen punya mantu kamu, tapi Azhar justru mengatakan jika tidak ingin memaksa kamu menyukainya, dia mengatakan jika kebahagiaan kamu ya milik kamu, bukan atas paksaan siapapun. Bunda sadar sekarang, ternyata kebahagiaan kamu ada di anak bunda yang satunya, Javas, bunda senang meskipun Bunda tau jika Azhar mungkin sedikit sedih."
Seren mendengar itu merasa tidak enak, "maafin Seren Bun, Seren nggak bisa memaksakan perasaaan Seren. Seren minta maaf karena membuat Mas Azhar terluka," Sesalnya.
"Mas sama sekali tidak terluka Seren, Mas baik-baik saja." Andita dan Seren menolehkan kepalanya kesumber suara, disana Azhar berjalan kearah mereka sambil tersenyum, bukan cuma Azhar, namun ada Farez juga Andra ayah Azhar dan Farez.
"Mas Azhar?"
"Iya, Mas sudah mengikhlaskan semuanya, Mas senang melihatmu bahagia. Senyuman yang kamu tunjukkan lebih tulus sekarang. Mas sudah menyerah, kamu memang pantas untuk Javas, kamu perempuan baik yang layak mendapatkan kebahagiaanmu. Jadi, hiduplah dengan bahagia sekarang, jangan sedih lagi," ujar Azhar kepada Seren.
Andita dan Andra terenyuh mendengar ucapan putra sulungnya itu. Mereka tau betapa dewasanya sifat Azhar, lelaki itu tidak akan bertindak egois, ia mempedulikan perasaan orang lain, bukan perasaannya saja.
"Javas, jangan menyia-nyiakan Seren lagi, Abang pernah mengatakan bukan, jika penyesalan akan selalu datang diakhir, kamu akan menyesal jika sesuatu yang kamu sia-siakan telah meninggalkan kamu, jadi perlakukan Seren sebaik mungkin."
"Javas janji Bang, Javas akan ingat semua yang Abang katakan. Bukan cuma yang Abang katakan, tapi juga yang semua orang katakan untuk membahagiakan Seren. Javas akan membuktikannya, Javas nggak akan menyia-nyiakan Seren lagi."
Andita, Andra, dan Azhar tersenyum mendengar ucapan Farez, sedangkan Seren masih diam, ia merasa terharu dengan ucapan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Tuhan, bisa nggak waktunya berhenti sekarang aja. Seren bahagia, Seren janji akan terus tersenyum dan nggak akan minum Paramex lagi karena overthinking. Seren tobat minum obat keras itu.," Batin Seren.
Bersambung. . .