HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 40. Already Completed (END)


__ADS_3

..."Takdir yang sudah digariskan tidak mungkin salah memilih tempat untuk akhir ceritanya, sedih atau bahagia."...


..._Hai Mantan!_...


Semenjak hari itu, beberapa bulan telah berlalu tanpa ada celah. Hari-hari berganti tanpa mau diputar kembali. Seren mungkin sudah bisa melupakan kejahatan yang Jenissa lakukan padanya, namun banyak hal yang masih tidak bisa ia terima. Semuanya seperti tidak mungkin terjadi, harusnya dari awal ia menyadari, namun karena ia bukan tipe yang terlalu peduli dengan urusan orang lain jadilah seperti itu.


"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" Farez masih menjadi kekasihnya yang setia. Menemani gadis itu dari masa terpuruknya setelah kejadian itu, sampai hari ini pun lelaki itu tidak pernah pergi dari sisinya. Ia benar-benar sudah jauh berubah lebih baik, lelaki itu membuktikan omongannya.


Seren menganggukkan kepalanya pertanda iya. Gadis cantik dengan setelan blues hitam dan celana jeans putih itu tersenyum. "Bolehkah kita mengunjunginya?"


Farez mengerti maksud dari kekasihnya itu, ia mengacak rambut Seren gemas, lalu menganggukkan kepalanya.


"Tapi kita beli bunga dulu ya, kan biasanya kamu suka menghadiahinya bunga Lily."


Seren menganggukkan kepalanya, sepasang kekasih itu akhirnya berjalan beranjak untuk menuju tempat yang di maksud Seren, tidak lupa keduanya berhenti ditoko bunga langganan Seren.


Setelahnya, beberapa saat kemudian, mereka sampai disebuah tempat yang mungkin tidak asing lagi. Sebuah pemakaman umum. Farez dan Seren berjalan menyusuri pemakaman, sampai kemudian ia berhenti disebuah makam yang masih agak baru karena pemakaman itu masih terdapat sisa-sisa bunga yang ditaburkan, meski telah mengering.


Seren mendudukkan dirinya didepan pemakaman itu, air mata gadis itu tiba-tiba menetes tanpa permisi. Farez duduk disamping Seren, ia mengusap-usap punggung gadisnya itu.


"Lo apa kabar Gian?" Tanyanya kepada gundukan tanah yang ada dihadapannya itu.


"Lo udah bahagiakan disana? Lo nggak lagi sakitkan?"


"Gian, gue mau cerita, ternyata selama nggak ada lo di kehidupan gue sepi tau nggak. Gue tuh sayang sama lo Gian." Seren terkekeh mengingat semua kebersamaannya bersama Giantra. Ya, makam itu adalah makam milik Giantra. Seren mengingat dengan jelas jika Giantra pasti akan menggodanya jika Seren mengatakan hal seperti ini.


"Gian lo jahat. Kenapa sih lo ninggalin gue? Kenapa lo pergi? Gue pikir omongan lo waktu itu cuma bercanda, gue kira lo hanya pergi untuk urusan pekerjaan, tapi lo malah pergi dari dunia ninggalin gue." Seren mengusap airmatanya yang jatuh, Farez hanya diam, ia tau bagaimana perasaan Seren semenjak kehilangan Giantra.


Flashback On


BRAKK


DORR


"GIANTRA!!!"


Seren menangis histeris melihat orang yang tergeletak lemah tepat dihadapannya. Giantra, lelaki itu menatap Seren sambil tersenyum.


"G--ue te-pat wak--tu." Napas laki-laki itu tersengal-sengal.

__ADS_1


Giantra memegangi dadanya yang tertembak, "Lo nggak ap-a a-apa kan?"


Seren menggelengkan kepalanya pelan, ia masih menangis. Ingin gadis itu berlari kearah Giantra dan memeluk lelaki itu, namun ia tidak bisa.


"Cih, drama banget kalian berdua."


"Kak Jen, kenapa kakak malah nembak Giantra!?"


Jenissa menatap Elfina malas, "dia sendiri yang sok jadi pahlawan."


"Tapi kak, gue cinta sama Giantra." Lirihnya.


Jenissa tertawa, "cinta? Emang dia cinta sama lo? Nggak kan?"


Elfina menggelengkan kepalanya, lalu menatap Giantra dengan mata berkaca-kaca. "Dia nggak cinta gue, dia cintanya Seren. Gue benci."


Jenissa tersenyum miring, "makanya, mending lo bantu gue singkirin mereka berdua."


Elfina menghapus airmatanya, lalu ia mengambil pisau yang ada di meja gudang itu, karena pisau itu sudah disiapkan oleh Jenissa.


"ELFINA! LO APA-APAAN SIH!?"


Lelaki yang dipanggil bang itu tidak habis pikir dengan kegilaan dua saudaranya itu. "Jen stop, gue mohon lo berhenti. Lo nanti bisa kena masalah, kalau sampai kos kena masalah Om Fian dan Tante Delima pasti bakalan sedih." Bujuk lelaki itu.


"GUE NGGAK PEDULI! LAGIPULA MEREKA JUGA NGGAK AKAN PEDULI, MEREKA TERLALU SIBUK DENGAN PEKERJAAN MEREKA!"


Lelaki tadi akhirnya memilih mendekat kearah Seren dan Giantra untuk menolong keduanya. "FARZAN STOP!! Atau lo akan bernasib sama kayak mereka berdua!" Ancam Jenissa.


Farzan tidak peduli, ia terus mendekat. "Seren, Giantra tolong bertahan, gue bakalan nolong kalian."


Giantra hanya diam, ia tidak lagi mampu berbicara banyak, darahnya terlalu banyak keluar. Sedangkan Seren sudah menangis sesenggukan. Ia tidak tega melihat Giantra yang kesakitan.


"Farzan mending lo minggir sekarang!" Ujar Jenissa datar.


"Nggak, gue nggak akan minggir, gue bakalan nyelamatin mereka dari tindakan bodoh kalian berdua."


"Oke, kalau itu mau lo. Elfina, lo tau kan apa yang harus lo lakuin?"


Elfina menganggukkan kepalanya, "sorry Bang." Ujarnya.

__ADS_1


Seren kembali berteriak histeris, melihat hal didepannya. "Stop, gue bilang stop, kenapa kalian jahat, kenapa kalian tega?" Ujar Seren disela-sela tangisannya, ia tidak sanggup melihat keadaan Giantra yang sudah penuh darah akibat tembakan, juga Farzan yang ditikam oleh Elfina dibagian perutnya lelaki itu. Farzan meringis memegangi perutnya.


Lelaki itu tersenyum menatap Seren, "maafin gue." Ujarnya.


Seren menggelengkan kepalanya, "Kenapa lo ikutan sama mereka? Kenapa!? Gue benci sama lo!"


Farzan meneteskan airmatanya, darah segar sudah memenuhi baju lelaki itu. "Gu--e, gu--e sa--ya-ng sa-ma lo." Lelaki itu perlahan memejamkan matanya perlahan, sampai ia tak sadarkan diri.


"KALIAN BERDUA, JAHAT!!! GUE BENCI, GUE NGGAK AKAN MAAFIN KALIAN ANJING!" Emosi Seren dengan keadaan yang sudah berantakan.


Jenissa dan Elfina justru tertawa mendengar ucapan Seren. "Udahlah nggak usah banyak drama, mending langsung kita selesaikan semuanya."


Jenissa kembali mengarahkan pistol yang ia pegang pada Seren. Perempuan itu mulai menghitung mundur diikuti oleh Elfina yang tersenyum sinis. Sedangkan Seren sudah pasrah saja, ia tidak tau lagi harus bagaimana.


DOR


DOR


Suara tembakan menggema didalam gudang tua itu. "TANGKAP MEREKA!!" Perintah seseorang.


Jenissa dan Elfina yang sudah terkena tembakan ditangan dan kaki mereka tidak lagi bisa melakukan apapun. Pistol perempuan itu sudah terlempar jauh. Sedangkan Elfina terduduk karena kakinya yang tertembak.


Bersamaan dengan itu, Farez, Cakra, Azhar juga Galen dan yang lain segera menolong Seren juga Giantra dan Farzan.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Farez, Seren langsung memeluk Farez, ia menangis di dada lelaki itu.


"Gi--an-tra, selamatkan Gian." Ujarnya disela tangisan.


"Tenang ya, Giantra dan Farzan pasti selamat, Cakra dan Galen sudah mengurus mereka."


"Sakit, sakit banget Farez. Aku nggak mau kehilangan Giantra, Giantra sahabatku, Giantra bahkan ngorbanin diri buat aku." Tangisan gadis itu semakin terdengar sesak. Rasanya Farez sendiri tidak bisa merasakan bagaimana sakitnya menjadi Seren, harus melihat salah satu orang yang ia sayangi tertembak.


"Gue nggak akan biarin lo hidup tenang Jenissa." Ujar Farez dalam hati.


Flashback Off


"Giantra, makasih karena lo udah nyelamatin Seren. Gue yakin lo di sana udah bahagia kan? Gue akan terus jaga dia buat lo, gue janji nggak akan nyakitin dia. Sekali lagi makasih," ujar Farez sambil tersenyum, lelaki itu juga berbicara pada makam dihadapannya itu.


"Gue pegang janji lo. Bahagia selalu Seren," ujar seseorang yang melihat semuanya, seseorang berbaju putih dan tak kasat mata yang sebenarnya sudah ada disana semenjak awal.

__ADS_1


...END...


__ADS_2