
..."Kehidupan ibarat sebuah novel, yang diawali dengan prolog dan diakhiri dengan epilog."...
..._Hai Mantan!_...
Seren duduk didepan cermin meja rias kamarnya. Gadis itu terus menatap dirinya. Dua tahun sudah berlalu semenjak meninggalnya Giantra. Seren masih sama, tidak ada yang berubah secara signifikan. Hubungannya dan juga Farez masih begitu-begitu saja. Keduanya masih saling support, juga perhatian Farez tidak pernah berkurang sedikitpun untuknya meskipun lelaki itu juga sangat sibuk. Perusahaan Seren juga semakin berkembang pesat, Neve Publisher sudah memiliki sekitar 9 anak cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Dulu pusat Neve Publisher berada di Kalimantan, namun sekarang ia telah memindahkannya menjadi berada di Yogyakarta. Sedangkan Zelmirise Group juga sama, perusahaan itu bukan hanya bergerak di bidang makanan saja, namun juga Fashion dan masih banyak lagi. Seren bahagia karena kehidupannya di permudah setelah melewati banyak kesakitan.
Selain itu, akhir-akhir ini hubungan Seren dan ayahnya telah membaik. Meskipun ayahnya sudah memiliki keluarga sendiri, Seren tetap sering menghubungi sang ayah meski melalui telepon atau video call. Untuk sang mama, wanita yang melahirkannya itu sangat bahagia menjalankan hari-harinya meski tanpa pendamping. Ia bahagia hidup dengan ketiga anaknya, ia semakin awet muda diusianya yang telah menginjak 48 tahun. Untuk nenek Seren sendiri, wanita tua itu juga tidak pernah lagi sedih, ia terus tersenyum, membahagiakan rasanya meskipun jauh dari anak kandungnya yaitu ayah dari Seren, namun ia bersyukur memiliki cucu-cucu yang baik. Selain itu ada juga Cakra yang sekarang sudah bertunangan dengan Helmi, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menjadikan Helmi orang spesial dihatinya. Helmi sendiri senang, karena memang dari awal ia menyukai Cakra. Cakra juga sudah tidak menaruh dendam pada Giantra, semenjak kejadian itu ia justru menyesal karena terlambat mengetahui kebusukan Elfina. Ia marah karena Elfina melakukan hal keji seperti itu, dan Cakra menyesal karena terlambat mengetahuinya. Gevano, adik bungsu dari Seren itu masih menjadi lelaki manja jika berada di rumah, namun menjadi lelaki berwibawa jika diluar rumah. Lelaki yang memang memiliki bisnis sendiri itu sudah cukup sukses dengan pekerjaannya yang bolak-balik ke luar negeri. Galen dan Vinaya, keduanya memutuskan untuk menikah satu tahun lalu, dan sebentar lagi akan di lahir buah hati pertama mereka, meskipun Galen irit berbicara, namun ia sangat menyayangi Vinaya, dan Vinaya bersyukur atas itu. Azhar, lelaki itu masih sama seperti dulu, semenjak memutuskan untuk membuang perasaannya pada Seren, ia tidak ingin dekat dengan yang lain, ia masih asik dengan kesendiriannya dan bekerja untuk kesenangannya. Farzan, setelah kejadian Seren di culik, lelaki itu sempat koma beberapa bulan, lalu setelah sadar ia harus mendekam di penjara meski tidak dalam waktu yang lama karena bagaimanapun Farzan tetap bersalah, meski ia menolak melakukan kejahatan. Jenissa, perempuan itu harus mendekam didalam penjara seumur hidupnya atas tindakan penculikan, percobaan pembunuhan juga pembunuhan, serta Elfina yang harus dilarikan kerumah sakit jiwa karena merasa jika bayangan Giantra selalu menghantuinya.
Ceklek
Seren menolehkan kepalanya, pintu kamar gadis itu terbuka dan menampilkan wanita yang telah melahirkannya disana. "Mama."
Vera tersenyum, ia menghampiri anak gadis itu, mengelus rambut hitam milik Seren. "Anak Mama sudah dewasa, sudah ada yang berani melamar ya."
Seren tau maksud mamanya, ia langsung memeluk sang mama. "Mama jangan sedih, kalau Mama sedih Seren juga sedih."
Vera melepaskan pelukan sang anak, lalu menatap Seren lembut. "Mama nggak sedih kok, Mama terharu karena gadis kecil Mama ini sebentar lagi akan tinggal dengan pasangan hidupnya."
Seren menggelengkan kepalanya, "kalau gitu Seren nolak aja ya Ma, biar Seren tinggal sama Mama terus."
Vera memelototkan matanya, ia kemudian memukul pelan kening anaknya itu. "Kamu ini, nggak boleh gitu sayang. Kasian Farez kalau kamu nolak dia "
Seren hanya cengar-cengir saja mendengar ucapan sang mama. "Ya abisnya Mama sih."
__ADS_1
"Yasudah, ayo kita langsung ke bawah, tamunya udah oada datang tuh."
Seren menganggukkan kepalanya, ia mengikuti perintah sang mama. Seren dituntun menuju keruang tamu rumahnya, disana sudah ada Farez dan keluarganya juga sahabat-sahabat Seren dan keluarga gadis itu. Hari ini, Seren menggunakan kebaya berwarna biru muda dan kain bawahan berwarna senada, dengan corak khas sukunya.
Farez yang ada disana tersenyum melihat gadisnya itu, ia bahkan memuji Seren dengan kata cantik melalui gerakan bibir.
"Udah jangan diliatin aja, nggak akan hilang juga, kecuali neng Seren mau sama gue," celetuk Farzan yang juga datang diacar tersebut.
Sontak lelaki itu mendapat tatapan tajam dari orang-orang yang ada disana terutama para lelaki yang menjadi pelindung Seren yaitu Farez, Gevano, Cakra juga Azhar.
Farzan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "canda elah, gue udah move on, serem amat Lo pada," ujarnya hingga membuat para orangtua dan yang lain tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Langsung aja ya kita mulai acaranya," ujar salah seorang dari MC yang akan menjadi pemandu acara lamaran antara Farez dan Seren.
***
Seren duduk di taman berdua bersama Farez, gadis itu menatap langit malam yang indah di penuhi oleh bintang-bintang.
"Farez?"
"Hmm, ada apa sayang?" Tanyanya sambil tersenyum menatap Seren.
"Kamu kok sekarang beda?"
__ADS_1
Farez menaikkan sebelah alisnya bingung, "beda bagaimana?"
"Iya, kamu bilang dulu nggak mau nikah cepet-cepet, tapi kok kamu tiba-tiba berubah pikiran? Padahal dulu waktu kita kuliah kamu bilang mau menikmati masa muda kamu dengan baik, tapi kok tiba-tiba langsung bawa keluarga kamu buat ngelamar aku."
Mendengar ucapan gadis di hadapannya itu membuat Farez tersenyum kembali, ia mengacak pelan rambut sang kekasih. "Semuanya karena kamu, cewek spesial di hadapan aku ini. Kamu terlalu spesial untuk aku lepaskan, kamu terlalu sempurna untuk aku lewatkan, aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama, aku akan memanfaatkan waktuku bersama kamu, lagipula aku tau kok kalau cewek di depanku bukan cewek yang seperti pada umumnya, cara dia ingin di cintai emang ektrem, kalau biasanya cewek di luar sana ingin di cintai dengan sebuah kebebasan yang di berikan oleh cowoknya, berbeda dengan cewek spesial ini," ucapan lelaki itu terhenti, ia menjawil hidung Seren, dan hak itu tentu saja membuat Seren cemberut.
"Kalau Serena Neve Zelmira, cewek ini ingin di cintai dengan segala keposesifan, ingin diperhatikan lebih, dan ingin dipedulikan. Kalau dulu aku seringkali keberatan, tapi sekarang seorang Farezta Javas Ganendra akan menyerahkan waktunya seumur hidup untuk cewek ini, ingin membahagiakan cewek manja dan cerewet ini, dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi." Farez tersenyum, sambil menatap mata Seren.
"Terima kasih."
Farez menarik tubuh Seren untuk memeluknya, "dulu aku bilang ingin memantaskan diri untuk kamu, tapi sekarang aku sudah merasa pantas, jadi bantu aku untuk terus ada disisimu."
Seren hanya bisa tersenyum didalam pelukan lelaki itu, ia memejamkan matanya perlahan, pelukan Farez memang pelukan yang selalu ia sukai, nyaman dan ia akan dengan gampang tertidur.
"Thanks Giantra, gue bahagia, dan gue harap loe juga sama, bahagia disana," ujar Farez dalam hati sambil menatap bintang yang bertebaran di langit malam.
"Sayang, kamu tidur ya?"
Farez melihat kearah Seren yang memejamkan matanya di dalam pelukannya. Gadis itu tampak tenang, berbeda dengan ketika ia sadar, maka Seren akan berubah menjadi gadis yang cerewet juga berisik.
"I love you."
TAMAT
__ADS_1