
..."Kamu terus menghindar, takdir yang mempertemukan."...
..._Hai Mantan!_...
Musik diputar cukup kencang, sesekali terdengar suara senandungan kecil dari seseorang. Seren, ia memutar lagu Korea terbaru dari salah satu boyband favoritnya. Meskipun umurnya sudah 27 tahun, namun tidak menyurutkan semangat Seren untuk menjadi Fangirl garis keras.
"Astagfirullah Seren, anak gadis kok kelakuannya kayak Dajjal. Ingat umur." Itu bukan suara ibu Seren, tapi Helmi, sahabat Seren yang satu itu memang sangat cerewet dari dulu. Gadis itu pasti akan menceramahi Seren setiap Seren berkelakuan menyebalkan.
Seren hanya menoleh sekilas, lalu ia kembali bersenandung mengikuti alunan lagu, ditambah lagi ia sengaja memperbesar volume suaranya.
Helmi menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, ia berjalan masuk ke kamar Seren dan mematikan musik. Hal itu tentu saja membuat Seren kesal. Ia berdecak, menatap horror Helmi.
"Apa? Mau marah lo sama gue?" Nyali Seren akhirnya menciut sendiri. Rencananya dia yang ingin marah, tapi kenapa jadi Helmi yang lebih galak darinya.
"Udah deh, mendingan kita sekarang masak-masak aja bareng nyokap lo. Tuh, Tante Vera katanya mau buat kue, sekalian bikinin buat tetangga-tetangga rumah lo."
Dengan malas Seren beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan pelan ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Seren kembali dengan wajah yang sudah fresh. "Males banget gue libur gini, bosen gue."
Helmi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. "Pantesan jomblo."
Seren diam, tatapan datar ia layangkan kearah Helmi. Sedangkan Helmi justru pura-pura tidak melihat.
"Jomblo ngatain jomblo. Udah deh, gue mau ke dapur dulu."
Akhirnya Seren beranjak menuju dapur rumahnya. Di sana ia melihat sang mama yang menggunakan celemek berwarna pink sedang sibuk membuat kue.
"Mama, Seren bantuin ya?." Dengan sigap Seren membantu sang mama membuat kue. Seren mungkin gadis yang berkancah di dunia karir, tapi ia merupakan sosok yang mandiri. Ia bisa melakukan semua hal sendiri, contohnya saja seperti memasak, bersih-bersih rumah, semua ia bisa lakukan. Padahal di luar sana banyak perempuan yang lebih memilih membayar orang lain untuk melakukan pekerjaan rumah daripada harus bersusah payah. Tapi tidak dengan Seren.
"Heh bantuin! Jangan jadi beban lo di rumah gue." Seren melempar gulungan tisu bekas untuk mengelap loyang kearah Helmi yang sedang asik bermain ponsel sambil duduk di kursi makan dapur.
Helmi berdecak kesal, sedangkan Vera hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bar-bar putrinya itu.
"Gue tadi udah bantuin Tante Vera. Lo nggak liat itu udah ada beberapa kue yang jadi?" Kesal Helmi.
"Alesan aja."
"Udah ah, jangan pada ribut. Lagipula ini kue terakhir, bener kata Helmi, dia tadi udah bantuin Mama buat kue-kue ini. Kamu tuh yang seharusnya bantuin Mama, bukannya tidur sama nyanyi-nyanyi nggak jelas," lerai Vera kepada sepasang sahabat itu.
Seren diam, ia menghembuskan nafasnya pelan. "Mama belain Helmi terus, padahal anak Mama kan Seren, bukan Helmi," rajuk Seren sambil memeluk lengan sang mama.
Helmi menjulurkan lidahnya, ia mengejek Seren. "Makanya, jadi anak yang rajin biar disayang."
"Rese banget sih jadi orang."
"Sayang."
"Iya iya Ma."
"Mendingan sekarang bantuin mama buat nganter kue-kue ini ke tetangga komplek kita." Vera meletakkan kue-kue itu didalam box khusus kue, dikemas sedemikian rupa persis seperti ditoko kue.
"Helmi, bantuin gue ya?"
Helmi menganggukkan kepalanya, gadis itu sudah membawa kresek berisi box kue. Begitupula dengan Seren.
__ADS_1
"Mama, kita berangkat dulu ya." Seren berpamitan dengan Vera, begitupun Helmi, ia juga berpamitan dengan Vera.
Kedua gadis itu berjalan keluar dari dapur, "Pada mau kemana kalian?" Seorang pemuda turun dari lantai dua dengan kondisi rambut sedikit basah dan agak acak-acakan.
Helmi terdiam, Seren memutar bola matanya malas. "Nggak liat apa, ini mau nganterin kue ke tetangga."
"Ya mana tau, makanya nanya. Lagian Kak Seren kenapa sih? Sinis banget, lagi datang bulan ya kak?"
Puk
Dengan kesal Seren memukul pemuda yang tak lain adik pertamanya itu dengan Sendalnya. Kalian mau tau kenapa Seren pakai sendal di rumah? Gadis itu tadi menggunakan sendal karakter berwarna pink, sendal kamarnya.
"Aduh Kak, sakit."
"Bodo."
"Kasar banget sih Kak, pantesan nggak ada yang mau sama Kakak," ejek sang adik,
"Bukannya ada Bang Giantra ya yang bucin banget sama kak Seren?" Seren dan Cakra menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah Gevano. Laki-laki berumur 20 tahun itu baru saja pulang dari olahraga dengan pakaian lengkap yang ia gunakan.
Cakra memutar bola matanya malas, "Nggak akan gue biarin Kak Seren sama Giantra," ujar Cakra sambil beranjak meninggalkan Seren, Helmi dan juga Gevano yang terdiam.
Setelah kepergian Cakra dari sana, Seren menghembuskan napasnya pelan. Lalu ia menatap kearah Gevano, kemudian tanpa kata-kata apapun Seren menarik pelan tangan Helmi untuk keluar dari rumahnya dan mengantarkan kue-kue untuk tetangga-tetangga Seren.
"Giantra siapa? Kenapa si Cakra keliatan ga suka? Gebetan lo ya?" Helmi yang penasaran akhirnya bertanya kepada Seren, tidak lupa dengan seringaian yang menggoda Seren.
Seren menghentikan langkahnya, menatap datar Helmi sejenak, lalu kemudian ia mengedikkan bahunya dan berjalan kembali.
"Kita mau kerumah tetangga lo yang mana dulu ini?" Helmi menoleh kekanan dan kekiri ketika berada diluar pagar rumah Seren.
Seren tampak berpikir, "Kita bagi tugas aja, lo tetangga bagian kiri gue bagian kanan sama depan ya? Gimana?"
Seren akhirnya berjalan sendirian ia mengantarkan kue-kue itu dengan senang, apalagi ternyata tetangga-tetangganya sangat ramah-ramah.
Seren sudah berhasil mengantarkan hampir seluruh kue-kue yang ia bawa. Tinggal satu rumah lagi, rumah itu adalah rumah yang cukup mewah, bercat putih dengan pagar coklat dan halaman yang tidak terlalu luas namun rapi.
Seren melihat bel dipagar rumah, lalu ia memencet bel itu. Gadis itu menunggu beberapa saat, sampai kemudian suara pintu pagar terbuka. Di sana menampilkan seorang wanita paruh baya yang menatapnya bingung.
"Cari siapa ya Nak?" Seren takut-takut, wanita paruh baya itu seperti menatapnya dari ujung kaki sampai kepalanya. Padahal tidak ada yang salah, Seren merasa jika ia menggunakan baju yang sopan. Namun mengapa ia ditatap seperti itu.
"Emb, i--ini Tante, saya, saya mau mengantarkan kue buatan mama saya. Kebetulan mama saya membuat kue dan, saya disuruh membagikan kepada tetangga-tetangga rumah."
Wanita tadi diam, lalu kemudian tersenyum. "Kamu anaknya Vera?" Jangan ditanya darimana wanita paruh baya itu tau, tentu saja Mama dari Seren sudah mengirimi pesan kepada ibu-ibu tetangga kompleksnya.
"I---i-iya Tante."
"Perkenalkan saya Andita, kamu boleh memanggil saya bunda Andita. Pasti kamu Serena kan?"
Dengan ragu Seren menganggukkan kepalanya. "Tante, ini kuenya, diterima ya Tante," ujar Seren sesopan mungkin.
"Terima kasih Serena, kamu mampir dulu ya. Nanti Tante buatin minum."
"Tapi Tan—"
Belum sempat Seren melanjutkan kata-katanya, ia lebih dulu ditarik oleh Andita kedalam rumahnya.
__ADS_1
Seren tidak berpikir hal apapun, ia pasrah saja ketika Andita menariknya masuk. "Seren duduk disini dulu ya, Seren mau minum apa? Biar Bunda buatin."
"Apa aja Tan..."
"Bunda."
"Bun---da, apa aja."
Andita menganggukkan kepalanya, lalu meninggalkan Seren seorang Diri. Seren hanya diam, namun mata gadis itu menyusuri seluruh ruangan tempatnya berada. Tiba-tiba saja mata gadis itu tertuju pada sebuah foto yang menampilkan dua orang pemuda, Seren mendekat kearah foto itu.
"Itu anak-anak Bunda."
Seren menoleh ke belakang, di sana Andita telah kembali sambil membawa minuman dan meletakkannya di atas meja. "Kamu kalau mau kenalan sama mereka boleh banget, mereka itu kaum jomblo." Andita terkekeh pelan.
"Tapi sayang, anak-anak Bunda lagi di luar sekarang. Biasanya kalau hari-hari libur gini mereka bakalan ngabisin waktu buat jalan kayak quality time ala Kakak Adek." Lanjut wanita paruh baya itu.
Seren tersenyum lalu ia berjalan kearah Andita, ia kemudian duduk didekat Andita.
"Diminum ya Seren. Nanti bilang ke Mama, terima kasih kuenya. Mamamu memang sangat pandai membuat kue."
"Iya Bun, terima kasih. Boleh Seren minum ini Bun?"
Andita tersenyum, "silahkan Sayang, itu memang buat kamu."
Akhirnya Seren meminum minuman dari Andita.
Ting
[Lo dimana sih?]
[Gue udah di rumah lo nih.]
Seren menepuk jidatnya pelan, ia melupakan Helmi. "Bunda."
Andita menoleh kearah Seren, "Iya, Seren ingin sesuatu?"
Seren menggelengkan kepalanya pelan. "Seren cuma mau pamit pulang dulu Bun."
"Kenapa buru-buru sekali?"
"Seren lupa jika di rumah ada sahabat Seren, kasian dia Bun."
Andita menghela napasnya pelan. Ia seperti tidak rela melihat Seren yang harus buru-buru pulang. Seren yang melihat itu merasa tidak enak.
"Bunda, Seren janji akan sering-sering main kesini kalau Seren nggak sibuk. Bunda jangan sedih," ujar Seren menenangkan Andita.
"Janji ya? Nggak tau kenapa Bunda senang dengan Seren, dari dulu Bunda ingin punya anak perempuan, tapi anak Bunda laki-laki semua. Bunda senang ketika Mama Seren bercerita tentang Seren, makanya ketika bertemu langsung, Bunda jadi sayang sama Seren." Entah daya tarik apa, padahal Andita baru saja bertemu dengan Seren, tapi Seren sudah berhasil membuatnya menyayangi gadis itu.
Seren tersenyum, "Seren janji, pasti Seren akan sering main kesini. Tapi Seren pamit dulu sekarang ya Bun?"
Andita menganggukkan kepalanya, "Ayo Bunda antar kedepan."
Seren mengiyakan, kemudian ia dan Andita berjalan kearah pintu.
"Assalamualaikum Bunda, Javas dan bang Azhar pulang."
__ADS_1
Seren membeku, "Udah berusaha menghindari mantan biar bisa move on. Tapi pada akhirnya harus ketemu lagi tanpa di sengaja. Takdir mainnya kejutan, belum siap udah di tembak kenyataan." Batin Seren kesal.
Bersambung. . .