HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 26. Mom Vera's Advice


__ADS_3

..."Tidak ada seorang ibu yang tega menjerumuskan anaknya ke dalam hal buruk, semua ibu sama, ingin memberikan yang terbaik demi kebahagiaan anaknya."...


..._Hai Mantan!_...


Suasana di Zelmirise Group mulai ramai dengan datangnya para karyawan dan Karyawati yang masuk kerja. Setelah liburan singkat kemarin akhirnya mereka kembali dengan wajah yang lebih cerah serta semangat. Tapi hal itu berbeda dengan Seren, ia tampak murung, bahkan wajahnya yang putih terlihat lebih pucat. Tujuan Seren hari ini ke Zelmirise group sebenarnya ingin menemui sang Mama untuk mengantarkan berkas, sekaligus ia sangat rindu karena mamanya akhir-akhir ini sibuk dan jarang memiliki waktu untuknya. Banyak kerjaan di Kalimantan yang mengharuskan sang Mama bolak balik Yogyakarta-Kalimantan.


"Mama, Seren rindu Mama." Tanpa permisi gadis itu langsung masuk kedalam ruangan milik Vera dan memeluknya.


Vera membalas pelukan anak gadisnya itu, ia juga sangat merindukan putri semata wayangnya. "Sayang, mama juga rindu kamu. Kamu udah baikan kan Nak?" Vera memasang raut khawatirnya mengingat sang putri yang terkena musibah kecelakaan dan harus dilarikan ke rumah sakit.


"Udah kok Ma, Seren nggak apa-apa. Mama tenang aja, Seren nggak baik-baik aja kalau sampai Mama cari Papa baru, nggak boleh," tegas gadis itu dengan wajah cemberut.


Vera terkekeh, anak perempuannya ini ada-ada saja. "Mana mungkin Mama cari Papa baru buat kamu, seharusnya kamu yang ngasi Mama mantu."


Seren terdiam, otaknya mencerna kata-kata dari mamanya. Kemudian gadis itu memelototkan matanya, "maksud Mama, Seren harus nikah gitu?"


Dengan tidak berdosanya, Vera menganggukkan kepala menjawab pertanyaan dari sang putri.


"Nggak mau, Seren nggak mau nikah. Pokoknya Seren masih mau seneng-seneng dulu Ma, Seren pengen sukses dan ngebahagiain Mama dan yang lain."


"Sayang, sini." Vera menarik tangan anaknya itu untuk duduk di sofa. Sedangkan Seren hanya pasrah mengikuti sang mama.


Vera menatap putri kesayangannya itu dengan lembut, mengelus Surai anak gadisnya. "Mama tau itu bukan alasan Seren yang sebenarnya kan? Karena sekarang Seren udah sukses dan berhasil ngebahagiain kami Sayang. Mama tau Seren trauma kan? Mama tau Seren takut gagal kayak Mama, tapi mama pengen Seren bahagia, mama yakin nasib Seren nggak sama kayak Mama. Seren harus mencari lelaki yang baik dan tulus mencintai Seren, bukan lelaki yang Seren cintai. Seren tau nggak, kalau kamu mendapatkan seseorang yang mencintai kamu begitu besar dia tidak akan meninggalkanmu, dia akan terus mendampingimu sampai kapanpun."


Seren terdiam, apa yang di ucapkan mamanya memang benar, tapi ia tidak bisa juga memaksakan dirinya. Ia membutuhkan banyak waktu untuk sembuh dari luka-luka masa lalunya.


"Tapi Ma, Ser__"


"No sayang, kamu pasti bisa. Ini demi kebaikan kamu sendiri, tapi Mama nggak akan memaksa kamu sayang," ujar Vera kemudian. Ia tau bagaimana lembutnya hati Seren, bahkan untuk hal-hal kecil saja Seren bisa menangis. Mungkin Seren merupakan gadis yang terlihat kasar ketika berkata-kata diluar sana, namun sebenarnya itu hanya sebuah manipulasi dirinya. Ia tidak ingin dianggap lemah oleh orang-orang yang mungkin saja kejam, siapa yang tau kan.

__ADS_1


***


Seren sekarang sedang duduk-duduk santai di salah satu kafe terkenal di Yogyakarta. Berulang kali kaki gadis itu bergerak mengikuti irama musik yang diperdengarkan di sana. Rasa bosan Seren menyeruak, pekerjaannya sudah selesai jadi daripada gabut ia memilih untuk metime di kafe itu.


"Gue heran, kenapa sih tuh orang-orang ngeliatin ya gitu banget. Bikin risih." Seren memasang wajah juteknya membalas tatapan orang-orang yang dengan gamblang berani menatapnya.


"Apa lo liat-liat!?" Sinis Seren kepada beberapa pemuda yang mungkin masih anak kuliahan.


Pemuda-pemuda itu bukannya takut, tapi ia justru tertawa melihat wajah jutek Seren.


Tiba-tiba saja, salah satu dari mereka menghampiri Seren dan duduk di depan gadis itu. Seren mengerutkan keningnya curiga, jadi ia terus memasang wajah juteknya.


"Halo Mbak, boleh kenalan nggak?" Tanya pemuda yang tadi menghampiri Seren, pemuda yang Seren akui memang cukup tampan, ditambah lagi senyum manis dan tubuhnya yang tinggi.


"Mbak udah punya pacar belum? Kok sendirian?"


Dalam hati Seren sudah menyumpah serapahi bocah di hadapannya ini. Sok tau banget, emang kalau sendiri udah pasti jomblo, ya walaupun ia memang jomblo sih. Masih kecil berani-beraninya modus sama orang gede, kalau nggak mikir ini ditempat umum, mungkin Seren udah pastiin ini bocah bakalan kena bogemannya.


Seren sedikit terkejut melihat siapa yang sekarang berdiri dengan wajah datar disana.


"Ma_ma_maaf Mas, saya nggak tau kalau Mbak ini pacarnya Mas Azhar." Ya, lelaki yang baru saja datang itu Azhar, siapa yang tidak mengenal Azhar, di beberapa kafe atau tempat tongkrongan di Yogyakarta hampir seluruh pengunjungnya mengenal lelaki itu.


"Mending lo pergi dari sini, sebelum gue seret."


Tanpa menunggu lama, pemuda tadi yang ketakutan langsung berlari kearah teman-temannya yang juga tampak takut.


Seren bernafas lega, "terima kasih Mas Azhar," ucapnya tersenyum tulus.


Azhar mendudukkan dirinya di kursi hadapan Seren, lelaki itu tersenyum. "Makanya jangan suka nongkrong sendirian, nanti kamu di godain kayak tadi," peringatan Azahar sambil tertawa.

__ADS_1


Seren tersenyum kikuk, namun ia membenarkan ucapan Azhar.


"Sekali lagi terima kasih Mas, Seren nggak tau harus membalas kebaikan Mas Azhar kayak gimana lagi." Ingatan Seren melayang pada beberapa kejadian ketika dirinya selalu mendapat pertolongan dari Azhar.


"Kapan kamu ada waktu luang?" Tatapan Seren tiba-tiba bingung mendengar pertanyaan Azhar.


"Apa boleh aku mengajak kamu jalan berdua?" Tanya Azhar kemudian, lelaki itu memang jarang sekali berbasa-basi, ia lebih suka to the point dalam berbicara.


Seren tampak berpikir, ia sebenarnya ingin mengatakan jika ia memiliki beberapa kesibukan. Namun Seren tidak enak, ia harus membalas kebaikan Azhar. "Mungkin malam Minggu."


Azhar menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang, "baiklah, Ayo kita jalan berdua. Kamu nggak keberatan kan?"


"Apa ini sebuah pertanyaan?"


"Tentu saja, tapi akan lebih baik jika kamu langsung mengiyakan, karena ternyata aku tidak ingin ada penolakan," ujar Azhar dengan nada yang seperti bercanda namun sebenarnya serius.


"Baiklah Mas, Ayo kita jalan. Meski bagi Seren ini seperti ajakan kencan, tapi tidak masalah."


Azhar terkekeh mendengar akhir kalimat dari Seren, gadis itu memang pintar. Ia dengan tepat menebak tanpa harus dijelaskan. "Gadis pintar."


Seren akhirnya memilih diam, namun ia sesekali menyesap kopi miliknya yang tadi ia pesan. Sesekali mata gadis itu menatap sekeliling Kafe, hingga pandangannya terhenti pada tatapan seseorang. Seren menatap orang itu cukup lama, hingga akhirnya ia mengalihkan kearah lain. Ternyata, tanpa Seren sadari, Azhar melihat semuanya, namun lelaki itu mencoba bersikap tidak peduli, ia memasang wajah datar dan meminum kopi hitam pahit yang baru saja tersaji diatas meja.


"Apa kamu baik-baik saja?"  Pertanyaan Azhar tentu saja membuat Seren gugup.


Hingga, Seren kemudian memilih untuk menganggukkan kepalanya saja.


"Seren, aku harap kamu tidak akan pernah plin plan."


Seren mengerutkan keningnya bingung, apa maksud ucapan Azhar, lelaki itu kembali diam, bahkan ia seperti tidak pernah mengatakan apapun. Padahal, ucapan Azhar barusan membuat Seren berpikir, ia seperti ingin memecahkan teka-teki, sampai rasanya kepala ingin pecah.

__ADS_1


"Aneh."


Bersambung. . .


__ADS_2