
..."Mengingat kenangan menyakitkan adalah sebuah jalan tercepat untuk mengulang luka."...
..._Hai Mantan!_...
Overthinking lagi, dinding kamar bercat putih itu masih menjadi saksi bisu bagaimana rapuhnya sang pemilik. Bantal, guling serta selimut dan boneka yang ada disana juga sama, tidak pernah absen menemani betapa terpuruknya seorang Seren. Sekarang mungkin kehidupannya sudah jauh lebih baik, tapi tetap saja, manusia tidak ada yang sempurna. Sesempurna apapun kelihatan dari luar hidupnya, seceria apapun pasti tetap pernah memiliki masalah entah rumit ataupun ringan sekalipun.
Seren mengingat Ayahnya kembali, anak perempuan mana yang tidak membutuhkan sosok figur seorang ayah di hidupnya, bukan hanya itu, semenjak ia sudah tak bersama dengan Farez orang yang sekarang ia anggap mantan, traumanya kembali lagi. Bahkan gadis itu berpikiran untuk tidak akan pernah menikah. Ia merasa tidak membutuhkan lelaki manapun seperti kebanyakan wanita dewasa yang memimpikan untuk menikah dengan orang yang di cintai, memiliki anak dan hidup bahagia. Bagi Seren, setelah pengkhianatan sang ayah dan ketika ia percaya lelaki seperti Farez yang ia pikir berbeda dari sang Ayah namun nyatanya sama saja membuat gadis itu tidak ingin jatuh cinta pada siapapun lagi. Sudah cukup, ia terlalu lelah, ia tidak ingin terluka lagi. Meskipun sampai hari ini Seren sama sekali belum bisa melupakan Farez dari kehidupannya.
Seren menenggelamkan wajahnya dibalik bantal kepalanya, ia menangis dengan kuat menumpahkan semua rasa sakitnya. Meskipun kepalanya harus pusing, matanya harus perih, hidungnya memerah dan membuatnya sulit bernapas, namun ia tidak peduli. Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul tanpa permisi, ia sendiri tidak mengerti apa. Intinya, dibalik kecewanya, dibalik rasa bencinya, hatinya merindu. Ia rindu hal-hal sederhana yang pernah dilalui bersama orang-orang di masa lalunya. Bersama Ayahnya, juga bersama Farez. Seren rindu ketika sang Ayah mengusap rambutnya pelan ketika pulang kerja, ia juga rindu ketika dulu ayahnya selalu mengkhawatirkannya. Bukan hanya itu, ternyata ia juga merindukan Farez dengan segala perhatian kecilnya, dengan segala canda tawanya dulu.
"Kenapa gue harus sesedih ini? Apa mereka juga mikirin gue? Apa mereka juga rindu seperti yang gue rasakan saat ini?" Seren mengangkat wajahnya, menatap ke langit-langit.
"Gue nggak boleh nangis lagi. Tuhkan gue jelek, apaan ini wajah kok kayak gini," ujar Seren cemberut ketika melihat pantulan dirinya di cermin.
Matanya membengkak, hidungnya benar-benar merah, bahkan mata Seren yang memang sudah sipit semakin sipit sampai seperti tidak terbuka akibat bengkak.
"Aduh kepala gue udah mulai nyut-nyutan. Gue kayaknya harus minum Paramex deh," gumam Seren sambil membuka laci-laci di kamarnya, namun sayang Seren tidak menemukan obat yang ia cari.
"Gawat, udah abis." Dengan cepat Seren mengambil ponselnya, gadis itu harus menelpon seseorang untuk meminta tolong membeli Paramex.
"Halo," Sapa orang diseberang sana yang sepertinya tidurnya terganggu dengan suara paraunya.
"Tolongin gue."
"Iya sayang, lo mau minta tolong apaan?"
__ADS_1
"Giantra baik, beliin gue Paramex dong." Dengan nada yang dibuat semanis mungkin Seren meminta tolong kepada orang yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri itu.
Giantra berdecak diseberang sana, "lo nangis lagi?"
Seren terdiam, ia tidak mungkin berbohong. Giantra memang yang paling tau tentangnya, karena apapun itu pasti Seren ceritakan kepada Giantra. Ya, Seren hanya bisa terbuka pada Giantra, bahkan berkat lelaki itulah trauma Seren perlahan menghilang. Dulunya setelah tidak lagi bersama Farez ia sama sekali tidak ingin bergaul dengan lelaki manapun, sampai akhirnya Giantra datang dan mengubahnya, meskipun ia tidak akan pernah menganggap Giantra lebih daripada saudaranya.
"Bener kan tebakan gue?" Terdengar helaan nafas diseberang sana.
Seren masih diam, setetes airmata gafis itu kembali jatuh. "Gian, gue..."
"Cup cup Seren anak manis, lo jangan nangis lagi, gue langsung kesana buat bawain lo Paramex."
Seren mematikan panggilan teleponnya dengan Giantra. Ia berjalan ke kamar mandi miliknya dan mencuci muka, ia tidak mau orang-orang melihat ia menangis, beruntung ia memilki kamar sendiri, jadi ia tidak perlu khawatir ada yang tau jika ia sedang sangat rapuh.
Setelahnya, Seren keluar kamarnya. Gadis itu berjalan ke lantai bawah dan keluar keteras rumahnya. Gelap, tidak ada sinar bulan maupun bintang yang menghias dilangit malam Yogyakarta. Seren duduk di kursi, ia memainkan ponselnya sambil menunggu Giantra. Rumahnya saat itu sudah sepi, tinggal satpam yang berjaga di pos terlihat menguap beberapa kali. Wajar, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Suara klakson mobil membuat perhatian Seren teralihkan. Satpam rumah Seren membukakan pagar ketika melihat Giantra yang datang. Seren tersenyum saat mobil Giantra memasuki halaman rumahnya. Lelaki itu turun dari mobil, lalu tanpa aba-aba ia memeluk Seren yang berdiri dari duduk untuk menyambutnya.
"Gue nggak suka lo nangis, gue nggak suka liat lo terluka karena gue juga akan terluka," ujar Giantra masih dengan posisinya memeluk Seren.
Seren hanya diam, namun Isak tangis gadis itu terdengar. Giantra membiarkan Seren menangis di pelukannya. " Lo tau nggak, kapanpun itu ketika lo terluka, ketika lo sedih, ketika lo pengen nangis panggil gue buat meluk lo, karena gue akan dengan senang hati melakukannya, gue akan dengan senang hati bikin lo tertawa lagi."
Seren memukul pelan tubuh lelaki itu, lalu memaksakan diri untuk terlepas dari pelukan Giantra. "Modus lo kurang ajar."
"Loh kok modus, gue tulus, gue serius. Lo aja yang nggak pernah mau gue seriusin."
__ADS_1
"Apaan sih Gian, lo ngelantur kalau ngomong. Mana Paramex gue!?" Kesal Seren.
Giantra hanya menghembuskan nafasnya pelan, lelaki itu tau jika Seren tidak pernah mau jika dirinya sudah membahas tentang apapun yang berhubungan dengan perasaan.
Giantra mengambil pesanan Seren dari saku celananya dan menyerahkan oada gadis dihadapannya itu. "Lo nggak capek apa harus minum obat keras begituan. Kasihan hati lo sama ginjal lo nanti rusak."
"Bodo. Gue lebih kasian sama kepala gue yang pusing." Gadis itu membuka 2 butir obat dari bungkusnya.
"Heh mau mati lo!?" Giantra menepis obat yang Seren ingin masukkan kedalam mulutnya.
"Apaan sih setan!" Geram Seren melihat 2 butir obat Paramex yang sudah jatuh ke lantai.
"Lo goblok atau gila!? Lo minum 2 butir gitu mau cari mati!?"
Seren seumur-umur belum pernah melihat Giantra terlihat semarah itu, bahkan rahang lelaki itu tampak mengeras dengan urat-uratnya yang terlihat jelas. Seren menundukkan kepalanya, gadis itu mulai terisak lagi. Giantra menghembuskan napasnya pelan, meredakan emosinya dengan cara mengepalkan tangannya, kemudian ia menarik Seren kedalam pelukannya. Ia mengusap punggung gadis itu agar Seren tenang, namun bukannya tenang Seren justru semakin terisak.
"Jangan nangis lagi ya, gue cuma khawatir sama lo. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa, obat itu punya dosis yang tinggi, bisa bahaya buat tubuh lo."
"Ma-maafin gu-e." Sambil sesenggukan Seren meminta maaf atas kebodohannya.
"Udah ya, gue juga minta maaf udah marah-marah sama lo, gue sama sekali nggak bermaksud."
Seren menganggukkan kepalanya, lalu ia menatap Giantra dengan airmata yang masih mengalir, hidungnya yang semakin memerah, juga matanya yabg kian menyipit karena sembab. "Tapi lo jangan marah lagi ya, gue...gue takut."
Giantra seperti terpukul mengetahui Seren ketakutan melihatnya marah, lelaki itu kembali menarik Seren kedalam pelukannya. "Gue janji nggak akan marah lagi, asal lo nggak melakukan kebodohan yang membahayakan diri lo sendiri."
__ADS_1
Seren tidak mengatakan apapun, namun hatinya tidak mengiyakan, karena ia tidak bisa berjanji, terlalu banyak hal rumit yang ia hadapi dan hal-hal itu besar kemungkinan membuatnya melakukan sesuatu yang mungkin akan membahayakan dirinya sendiri.