HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 30. Seren's Fear


__ADS_3

..."Jika matahari yang menghangatkan memilih untuk pergi, biarlah pelangi yang menggantikannya jika hujan telah reda."...


..._Hai Mantan!_...


Langit mendung mulai menyelimuti kota yang kata orang banyak keistimewaannya di sana. Kota yang katanya jika kau sudah menginjakkan kakimu satu kali disana maka suatu hari nanti pasti akan kembali lagi entah karena sebuah alasan apa.


Seorang gadis menadahkan tangannya, ia terlihat sedikit khawatir karena hujan mulai turun rintik-rintik dan kemudian perlahan volume airnya menjadi banyak. Seren, wajah gadis itu memucat ketika kilatan cahaya di langit mulai terlihat, ia sangat takut dengan petir, keringatnya mulai membasahi keningnya, padahal udara benar-benar sangat dingin.


Tanpa sadar tubuh gadis itu meluruh ke lantai, Seren memeluk lututnya sendiri karena petir mulai bersahutan. Bibir gadis itu bergetar, airmatanya sudah tidak terbendung lagi. Rasa sesak sudah mulai menggerogoti tubuhnya, ia benar-benar tidak kuat. Apalagi ternyata didepan mini market itu tidak ada satupun orang, hanya seorang kasir yang berjaga dan itu di dalam.


Siluet hitam berjalan mendekat, tiba-tiba saja sebuah jas bertengger manis di tubuh Seren. Seren reflek mengangkat kepalanya, ia tidak peduli siapa yang disana, gadis itu langsung memeluk tubuh orang itu. Badannya gemetar, ia benar-benar ketakutan. Orang itu terkejut, namun ia berusaha menetralkan ekspresinya, kemudian perlahan membalas pelukan Seren.


Orang itu mengusap-usap punggung Seren dan menenangkan gadis itu. Ada perasaan aneh yang menyusup di dalam hatinya. Gadis yang ia peluk ini memang selalu menarik perhatiannya, dan tanpa sengaja melihat gadis itu ketakutan membuat ia khawatir, ia langsung menghampiri dan ingin memeluknya, namun ia tidak bisa sampai akhirnya gadis itu sendiri yang memeluknya.


"Seren, apa kamu sudah baik-baik saja?" Tanyanya kepada Seren yang masih memeluknya. Bahkan ketika seseorang yang tak lain adalah Azhar, kakak dari Farez itu berusaha melepaskan pelukan gadis itu,  ternyata tidak bisa karena pelukan Seren sangat erat, tangan gadis itu bahkan sangat dingin.


Azhar menghembuskan napasnya pelan, ia terlihat sangat mencemaskan gadis itu. Tanpa aba-aba lelaki dengan tubuh tinggi itu langsung mengangkat Seren ala bridal style. Hujan telah mereda, namun jika tidak menggunakan payung tentu saja akan basah. Untung saja Azhar membawanya, meskipun ia kesusahan karena harus membawa payung sekaligus menggendong Seren.


Lelaki itu berjalan menuju mobilnya, lalu membuka salah satu pintu mobil, dan mendudukkan Seren disana, gadis itu ternyata memejamkan matanya. Pelan-pelan Azhar melepaskan pelukan gadis itu, ia lega karena akhirnya pelukan gadis itu terlepas. Ia menutup pintu mobilnya pelan, kemudian masuk kebagian pengemudi.


Sebelum menyalakan mobilnya, Azhar terlebih dahulu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Seren. Tidak lupa ia memasangkan sabuk pengaman agar gadis itu tetap aman.


Azhar tersenyum sebelum kemudian ia menjalankan mobilnya. Jalanan saat itu terlihat sedikit licin, Azhar melajukan mobilnya untuk pulang kerumahnya. Ia terpaksa harus membawa gadis itu pulang ke rumahnya karena setaunya rumah Seren dalam keadaan kosong karena Mama, Nenek serta Adik-adik Seren sedang mengunjungi saudara mereka yang sakit. Hanya Seren yang tidak bisa ikut karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.


20 menit berlalu, gadis itu sama sekali belum bangun. Hujan benar-benar sudah reda, mobil yang Azhar tumpangi berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar berwarna coklat, dengan hati-hati lelaki itu turun dan membuka pagar rumahnya. Kemudian ia memasukkan mobil miliknya ke halaman rumah.


Azhar turun, ia membuka pintu tempat Seren diletakkan, lelaki itu langsung membopong Seren untuk dibawa masuk kerumahnya, tidak lupa pintu mobilnya yang sudah ia tutup.


"Assalamualaikum." Buru-buru, lelaki itu melewati ruang keluarga yang disana terdapat Ayah juga ibunya yang sedang menonton televisi. Sang ibu dan ayahnya tampak terkejut melihat putranya pulang membawa seorang gadis yang tidak sadarkan diri. "Bang, kamu bawa siapa?" Nada dingin itu berhasil menghentikan langkah Azhar sekejap.


"Ini Seren Bu, dia pingsan." Kemudian Azhar kembali melanjutkan langkahnya cepat.

__ADS_1


Andita langsung berdiri dari duduknya dan menyusul Azhar, wajah wanita paruh baya itu mendadak khawatir. Bagaimana tidak khawatir jika yang sekarang tidak sadarkan diri merupakan kandidat kuat yang akan menjadi menantunya kelak.


"Ya Allah, calon mantu ibu kenapa bisa pingsan?" Andita duduk dipinggiran tempat tidur, ia mengelus rambut Seren lembut.


"Dingin," gumam Andita ketika menyentuh kening gadis itu, kemudian Andita menatap putra sulungnya itu tajam meminta penjelasan.


Azhar merapikan selimut yang sengaja ia gunakan untuk menyelimuti tubuh dingin Seren. Wajah gadis itu terlihat pucat, bibirnya putih dan matanya terlihat tidak tenang, berulang kali kening Seren mengerut seperti terganggu. Azhar duduk di kursi yang ada di kamarnya, kemudian ia menceritakan bagaimana tadi ia bertemu Seren sampai keadaan gadis itu seperti ini.


Andita menatap khawatir gadis itu, "lebih baik sekarang panggil dokter Rian agar kemari, ibu takut jika nanti terjadi sesuatu pada calon menantu ibu," ujar Andita sambil memegang tangan kiri Seren.


Azhar tidak banyak bertanya lagi, ia segera menghubungi dokter Rian, dokter yang biasa merawat keluarganya ketika sakit.


Setelahnya, sepasang anak dan ibu itu terdiam. Azhar terus menatap Seren, ia akui jika Seren sudah mengikatnya dengan pesona gadis itu. Gadis sederhana, namun sangat ekspresif. Membayangkan bagaimana mereka bertemu ketika berada di alun-alun membuatnya tersenyum, Seren memang bukan gadis kalem yang selalu menjaga image di depan umum. Justru ia adalah gadis bar-bar yang jika marah akan tetap marah, jika tidak menyukai sesuatu akan langsung mengatakannya tanpa peduli orang lain tersinggung.


"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" Andita yang tanpa sengaja memperhatikan sang putra pertama merasa heran dengan tingkah Azhar.


Azhar mengubah ekspresinya menjadi biasa, ia berdehem pelan, "nggak ada apa-apa kok Bu."


"Azhar."


Azhar menatap kearah ibunya itu, ia menampilkan wajah seolah bertanya ada apa.


"Apa kamu setuju jika ibu menjodohkan kamu dengan Seren?"


Azhar terdiam, lelaki itu memandang gadis yang sekarang masih memejamkan matanya itu. Ia menjadi bimbang untuk mengiyakan, karena bagi Azhar perjodohan bukanlah sesuatu yang mudah. Ia takut jika hanya ia yang mau namun Seren tidak setuju sama saja akan membuatnya kecewa.


"Bu, bolehkah Azhar berjuang sendiri untuk mengambil hatinya? Azhar nggak ingin memaksakan kehendak. Azhar maunya Seren juga menginginkan dengan sukarela tanpa perlu dipaksa," ujar lelaki itu kepada ibunya.


Andita tersenyum, kemudian ia menganggukkan kepalanya perlahan. Benar kata putranya, ia tidak boleh mamaksakan kehendak, takutnya nanti keduanya tidak hidup bahagia karena semua bukanlah kesukarelaan.


Ceklek

__ADS_1


"Seren!? Kamu baik-baik aja kan?" Bersamaan dengan dokter Rian yang datang, Farez  juga datang terlebih dahulu. Lelaki itu tampak khawatir, ia menghampiri Seren yang masih terbaring dengan mata tertutup. Farez mengambil satu tangan Seren, berusaha membangunkannya.


Orang-orang disana, Azhar, Andita dan Andra tidak melepas penglihatan mereka dari Farez yang mengkhawatirkan Seren. Azhar hanya bisa menatap datar, sedangkan Andra menyenggol pelan lengan Andita.


"Sepertinya kedua putra kita menyukai gadis yang sama," bisik Andra kepada sang istri.


Andita menganggukkan kepalanya, benar yang dikatakan suaminya, sepertinya memang Azhar dan Farez sama-sama menyukai Seren. Ia harus melakukan sesuatu agar kedua putranya tidak bertengkar dan saling bermusuhan.


"Ehem," deheman dari dokter Rian membuat mereka tersadar, lalu Andita akhirnya mempersilahkan Dokter Rian untuk memeriksa keadaan Seren.


Tidak lama kemudian, dokter Rian menghampiri Farez Azhar Andita dan Andra. Keempat orang itu tampak tidak sabar menunggu penjelasan dari dokter Rian mengenai keadaan Seren.


"Tenanglah, sebentar lagi Nona Seren pasti akan sadar. Apa yang dialaminya merupakan suatu kondisi dimana respon dari seseorang yang memiliki trauma ketakutan terhadap sesuatu. Apa Nona Seren memang memiliki trauma terhadap benda atau sesuatu mungkin?"


Hening


"Petir, Seren takut dengan petir. Setiap kali hujan yang menimbulkan petir pasti ia akan ketakutan, Seren tidak akan pernah bisa sendirian, ia membutuhkan seseorang yang menemaninya. Jika di biarkan sendiri maka Seren akan panik, ketakutan, badan gadis itu bahkan bergetar, keringat dingin lalu pingsan." Sudah tau bukan siapa yang menjawab, Farez, lelaki itu masih sangat ingat apa yang paling Seren takuti.


Azhar, Andita, dan Andra tidak menyangka jika Farez mengetahui tentang Seren. Padahal setau mereka Farez baru mengenal gadis itu. Azhar yang mendengar Sang Adik seperti banyak mengetahui tentang orang yang disukainya menjadi sedikit tidak senang, namun ia tidak boleh egois.


Dokter Rian mengangguk mengerti, lalu kemudian ia menuliskan resep dan juga menjelaskan beberapa hal kepada mereka. Kemudian dokter itu berpamitan.


Akhirnya tinggallah keempat orang itu disana, mereka diam, namun kemudian Farez memutuskan untuk mendekat kearah Seren. "Cepat bangun, aku mengkhawatirkan kamu. Pasti kalau aku bilang khawatir sama kamu, kamu akan tertawa kan? Kamu pasti nganggap aku becanda dan jawab nggak mungkin aku khawatir karena aku selalu cuek sama kamu.  Sekarang aku khawatir benaran jadi bangun ya, biar kamu bisa liat secara langsung kalau aku khawatir Seren, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."


Azhar, Andita juga Andra hanya melihat interaksi Farez dengan Seren yang masih memejamkan matanya itu dengan ekspresi tidak terbaca, bingung.


Lenguhan kecil tiba-tiba terdengar, "i_ini dimana?" Tanya Seren sambil berusaha mendudukkan dirinya ketika melihat ruangan asing disekitarnya.


Namun tiba-tiba mata gadis itu membelalak, hingga akhirnya gadis itu kembali tak sadarkan diri saking terkejutnya.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2