
..."Hari yang kau nantikan akan datang jika kau terus berjuang."...
..._Hai Mantan!_...
"Udah siap?"
Seren memasuki mobil Farez, lalu duduk di samping lelaki itu. "Udah," singkatnya.
Farez menggelengkan kepalanya melihat gadis disampingnya itu. "Kebiasaan."
Lelaki itu mendekat kearah Seren, sekarang, mungkin jarak wajah keduanya berkisaran 5 CM. Seren bahkan bisa mendengar nafas lelaki itu, Seren memejamkan matanya saking gugupnya.
Klik
"Sealtbelt-nya di pasang sayang," ujar Farez lalu kembali menjauhkan tubuhnya ketika berhasil memasangkan sealtbelt pada tubuh kekasihnya itu.
Seren yang mendengar itu menjadi malu sendiri, salahkan otaknya yang kotor itu karena telah berpikir macam-macam. Seren menggelengkan kepalanya, lalu memukul pelan keningnya.
"Kenapa sayang?"
"Emb, nggak kenapa-kenapa," jawabnya cepat.
Farez hanya mengangguk saja, kemudian ia mulai menjalankan mobilnya. Hari ini lelaki itu akan mengajak Seren keliling-keliling kota Yogyakarta, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi, mencoba beberapa makanan khas yang ada di kota istimewa itu.
"Kita mau kemana dulu nih?" Tanya lelaki itu di sela-sela ia mengemudikan mobilnya.
"Ke mall," jawab Seren cepat.
"Oke, ayo kita ke mall."
Seren tersenyum senang, gadis itu memang paling suka jalan-jalan. Apalagi jalan dengan orang yang ia sayang.
Mobil Farez memasuki area parkiran salah satu Mall terkenal di kota Yogyakarta. Kemudian ia memarkirkan mobilnya di sana. Farez melepas sealtbeltnya, lalu keluar dari mobil. Begitupun dengan Seren yang mencoba melepaskan sealtbeltnya, namun belum sempat terlepas Farez, sudah terlebih dahulu membukakan pintu untuknya dan melepas sealtbelt Seren.
"Udahkan? Sini tangan kamu," ucapnya, lelaki itu menutup kembali pintu mobil dan menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Tangan kamu masih sama, selalu hangat, aku suka," ujar Farez, lelaki itu menuntun Seren memasuki kawasan Mall yang ramai.
Seren tersenyum, entah mengapa ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, menghabiskan waktu bersama Farez adalah hal yang selalu ia impikan dari dulu. Seharian menghabiskan waktu berdua tanpa memikirkan hal lain. Dulu, ia jarang sekali bertemu Farez meskipun tinggal di kota yang sama, jika bertemu pun paling lama 3 jam, dan saat itu Farez selalu sibuk dengan ponselnya.
"Heh kamu kenapa melamun sayang?" Tanya lelaki itu lembut.
__ADS_1
"Nggak, aku cuma lagi bahagia aja bisa kembali sama kamu. Terima kasih," ujar gadis itu tulus.
Keduanya memasuki lift, kebetulan saat itu di dalam lift hanya ada mereka berdua, Farez menarik Seren agar menatapnya. "Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah memberikan aku kesempatan kedua."
Seren diam, begitupun Farez yang masih menatapnya.
Ting
Pintu lift terbuka, sepasang kekasih itu keluar dari lift dan berjalan dengan masih bergandengan di area Mall. Farez maupun Seren tidak peduli dengan banyaknya orang yang ada disana, mereka tetap akan bergandengan tangan.
"Sekarang mau kemana dulu?"
Seren tampak menimang-nimang, ia kemudian tersenyum ketika melihat sesuatu di ujung Mall.
"Kesitu yuk," ajak Seren sambil menarik Farez. Farez hanya pasrah, hari ini ia akan melakukan apapun dan menuruti keinginan tuan putrinya, jadi ia tidak akan menolak.
"Kita hari ini nonton ya, mau kan?" Tanya Seren kepada Farez.
Farez mengacak rambut Seren gemas, "iya sayang, apapun untuk kamu."
Seren tersenyum, lalu ia memesan tiket nonton untuk mereka berdua. Setelah beberapa saat, Seren dan Farez berhasil mendapatkan dua tiket untuk mereka.
"Iya, kamu keberatan ya?" Seren memasang wajah sedihnya, gadis itu menundukkan kepalanya.
Farez yang tidak tega melihat pacarnya itu sedih akhirnya memeluk gadis itu. "Aku nggak keberatan kok, kita nonton film Korea ya?"
Tiba-tiba wajah sedih Seren berubah menjadi ceria kembali, gadis itu antusias karena keinginannya dituruti. "Terima kasih sayang, love you."
"Love you too."
Sesederhana itu, dan Seren bahagia. Mungkin mereka bukan lagi remaja SMA atau mahasiswa baru, tapi tidak ada salahnya bukan jika mereka juga ingin menunjukkan sisi romantisnya.
Ruang teater yang akan digunakan untuk penayangan film Korea telah di buka. Farez dan Seren akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam ruangan itu. Mereka duduk di bagian tidak terlalu depan namun juga tidak terlalu belakang, keduanya sengaja memilih kursi sedikit ketengah.
Dari awal memasuki bioskop sampai sekarang senyuman Seren tidak pernah luntur. "Udah mau tayang filmnya, kamu juga harus nonton ya?" Ujar Seren ketika iklan-iklan film mulai ditayangkan, tidak lama setelahnya film ditayangkan. Film romantis yang di bumbui dengan kisah keluarga dan juga pembunuhan.
Suasana didalam ruangan bioskop itu cukup ramai, dan kebanyakan yang menonton disana adalah pasangan kekasih. Ya, memang film romantis sangat cocok ditonton oleh para pasangan, jadi buat kaum jomblo disarankan untuk menghindari film romantis karena dapat menyebabkan dampak buruk.
Seren menyenderkan kepalanya di bahu Farez, gadis itu menikmati tontonan ya, adegan demi adegan membuat ia berekspresi berbeda-beda. Farez tersenyum, sepertinya lelaki itu dari tadi sama sekali tidak menonton layar di depannya. Justru Farez asik memandangi wajah Seren yang menurutnya sangat ekspresif, kadang sedih ketika adegan film didepannya sedih, kadang marah ketika geram dengan adegan film didepannya, dan kadang juga ia tertawa, tapi yang paling menggemaskan adalah ketika gadis itu tiba-tiba menangis karena tokoh pendukung yang menjadi pendamping tokoh utama harus meninggal. Ada-ada saja gadis itu, Farez merasa bersyukur bisa kembali pada Seren, ia tidak bisa membayangkan hidupnya jika ia tidak mendapatkan kesempatan kedua. Ia merasa bodoh karena dulu menyia-nyiakan cewek sesempurna dan sebaik Seren.
Film Korea yang ditayangkan di layar itu telah berakhir, Seren menghembuskan nafasnya kecewa, dan hal itu tidak lepas dari penglihatan Farez. Saking gemasnya lelaki itu ingin sekali mencium gadisnya jika saja tidak berpikir ini ditempat umum. Akhirnya Farez hanya bisa mengacak rambut Seren.
__ADS_1
"Sudah selesai kan? Sekarang mau kemana lagi sayang?"
Seren menganggukkan kepalanya, ia menatap Farez sambil mengedip-nhedipkan matanya tanda berpikir. Farez terkekeh, "jangan melakukan hal seperti itu sayang, kamu membuat aku nggak tahan pengen cium kamu."
Seren mengubah ekspresinya, ia menatap lelaki itu datar. "Awas aja berani, aku aduin ke ayah, bunda sama bang Azhar," ujar gadis itu, semenjak makan malam di rumah Farez saat itu, hubungan antara Seren dengan keluarga Farez pun semakin dekat, bahkan Azhar juga meminta Seren untuk memanggilnya Abang sana seperti Farez.
Farez bukannya takut, lelaki itu justru semakin tertawa. "Bilangin aja, palingan entar kita di nikahin."
Saking kesalnya, Seren memukul lengan kekasihnya itu. Bisa-bisanya ia bercanda dengan santai di tempat ramai seperti ini. Bahkan seperti beberapa orang memperhatikan mereka, bukan tatapan jelek yang mereka peroleh, tapi justru tatapan iri, ada juga tatapan gemas karena lucunya tingkah unik Farez dan Seren.
"Hmm."
"Ngambek?"
"Nggak."
"Masa?"
"Iya."
"Oke, nggak ngambek ya berarti, yaudah."
Seren melipat kedua tangannya didepan dada karena ia kesal. Farez masih saja tidak peduli padanya, apa lelaki itu masih perlu les kepekaan agar lebih peka.
Farez tau jika gadisnya itu ingin di bujuk, Farez sengaja ingin menggoda Seren. Ia tau jika Seren sebentar lagi akan protes karena Farez cuek.
"Tuhkan, katanya mau berubah, bohong dasar, mending aku sama Giantra," ceplosnya.
Farez menatap datar gadisnya itu, "coba ulang sekali lagi sayang?"
Seren menggelengkan kepalanya, lalu ia menyengir lebar. "Nggak jadi."
"Bandel ya pacar aku, kamu lagi sama aku sayang, jadi nggak boleh nyebut nama lelaki lain tanpa terkecuali."
Seren meringis mendengar ucapan kekasihnya itu, "kamu cemburu?"
"Kamu pikir aja sendiri," ketus Farez.
"Biasanya nggak, aneh banget," gumam Seren pelan, namun tidak bisa di pungkiri jika Seren merasa senang dengan perubahan Farez itu.
Bersambung. . .
__ADS_1