
..."Sumber kebahagiaan bisa datang dari arah manapun, bisa dari masalalu ataupun masa depan, karena Tuhan telah mengatur semua dengan baik."...
..._Hai Mantan!_...
Seorang gadis menuruni anak tangga rumahnya sambil bersenandung kecil. Wajah gadis itu terlihat lebih cerah dari biasanya, dandanan natural namun tetap membuat sang pemilik wajah terlihat manis.
"Kayaknya Kak Seren lagi bahagia nih. Ma! Kakak lagi bahagia, liat dia senyum-senyum terus." Gevan yang baru saja menuju meja makan dari arah ruang tamu berteriak memanggil sang mama.
"Gevan, kamu kenapa teriak-teriak sih?" Tanya Vera, wanita itu sedang mempersiapkan beberapa masakan di meja makan.
Seren memasang wajahnya datar sambil menatap adik absurdnya itu. Cakra hanya geleng-geleng saja melihat hal itu, tapi ia kemudian mengacungkan dua jempolnya kepada Seren, sedangkan Nenek Seren tersenyum, ia tidak tau apa yang membuat cucunya bahagia, tapi ia ikut senang.
"Kakak kayaknya lagi bahagia, ada apa Sayang? Sini cerita sama Mama?"
Seren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia malu sekali ditanya seperti anak kecil oleh mamanya. "Anu, apa ya Ma, emb, eh astagfirullah Seren kan harus ke kantor, nanti kesiangan," paniknya, Seren langsung berpamitan kepada sang mama juga yang lain.
Seren mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan gadis itu tersenyum, sesekali ia bersenandung mengikuti alunan lagi yang ia putar di mobilnya.
"Terima kasih Tuhan sudah memberi kesempatan ini," gumamnya pelan. Mobil Seren memasuki tempat parkiran di Neve Publisher.
Setelah memarkirkan mobilnya ditempat yang ia rasa pas, Seren berjalan memasuki gedung kantornya. Masih sama, gadis itu tidak berhenti tersenyum sama sekali.
"Nah ini orangnya, maksud lo apa hah!?"
Seren terjatuh kelantai kantornya, gadis itu meringis. Beberapa karyawan Seren langsung menghampirinya dan membantu Seren berdiri.
Seren menatap orang yang tadi mendorongnya datar, "Lo ada masalah apa sama gue?" Nada bicara Seren masih santai, gadis itu tidak akan dengan mudah terpancing emosi.
Orang tadi bersedih, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Licik, pakai pura-pura nggak tau lagi."
Seren mengerutkan keningnya tidak mengerti, "Jenissa, mending kalau ngomong langsung to the point aja, kebanyakan ngomong bikin gue pusing. Gue banyak kerjaan, bukan cuma ngeladenin lo yang nggak penting ini," kesal Seren karena merasa kesabarannya sudah hampir habis.
Jenissa, gadis itu menjadi geram sendiri mendengar jawaban dari Seren. "Sombong banget lo ya!!! oke, halo semuanya, dengerin gue, kalian harus hati-hati sama cewek ini, dia itu tukang ngerebut cowok orang, dia nggak tau malu. Gue takut aja kalau nanti kalian jadi korban selanjutnya, jadi mending kalian menjauh dari cewek murahan ini, nanti kalian atau cowok kalian malah kegoda." Jenissa tersenyum sinis, ia yakin jika orang-orang di kantor itu akan termakan omongannya.
Semua orang mulai berbisik, dan Jenissa puas melihat itu. Tapi berbeda dengan Seren, gadis itu terlihat tenang menghadapi sikap Jenissa yang menurut Seren sangat kekanak-kanakan.
"Oh iya satu lagi, mending bilangin sama Boss kalian untuk mecat ini cewek, takutnya nanti dia bikin cemar nama perusahaan ini." Sini Jenissa sambil memandang Seren yang masih dengan posisi datarnya.
"JENISSA!!!"
Jenissa membelalakkan matanya melihat orang yang berteriak memanggilnya, bukan hanya Jenissa tapi juga Seren dan karyawan-karyawan di Neve Publisher.
"Farez, kamu ngapain kesini sayang?" Nada yang keluar dari gadis itu mendadak di buat selembut mungkin, tangan Jenissa langsung merangkul lengan Farez.
Farez menepis kasar tangan Jenissa, "lo ngapain bikin ribut di kantor orang!? Lo emang nggak malu!" Geram lelaki itu.
"Kamu kenapa sih? Aku kesini karena mau ngasi cewek murahan ini pelajaran, dia udah berani ngerebut kamu dari aku."
Seren yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jenissa hanya memutar bola matanya malas, drama sekali fikirnya.
"Kamu bahkan berubah, biasanya kamu nggak pernah bentak-bentak aku, tapi sekarang kami sering banget bentak aku."
__ADS_1
"Gue udah capek sama semua kelakuan lo, dulu gue diem aja karena gue rasa itu nggak mengganggu."
Jenissa mengepalkan tangannya, ia melirik kearah Seren yang ada disana. "Aku ngelakuin itu karena dia, aku benci karena dia kembali, harusnya dia jangan kembali, harusnya dia tetap menghilang aja, dia ngerebut semuanya dari aku."
Karyawan-karyawan Neve Publisher mulai ramai, mereka semua berbisik-bisik tidak menyangka dengan semua yang mereka dengar. Mereka tidak percaya jika Boss mereka ternyata adalah seseorang yang seperti Jenissa katakan.
Plakkk
Seren melebarkan matanya tidak percaya, Farez, lelaki itu menampar Jenissa.
Jenissa memegang pipinya yang terasa perih akibat tamparan yang ia terima, airmatanya menetes. "Ke_kenapa?" Tanyanya.
Farez menatap tangannya yang ia gunakan untuk menampar Jenissa. Jujur, selama ini dia belum pernah menampar seorang wanita, tapi Jenissa benar-benar sudah keterlaluan.
"Maaf."
Tanpa aba-aba, Jenissa langsung menarik baju Seren, gadis itu mendorong Seren hingga terjatuh kembali ke lantai. Seren yang memang lagi-lagi belum siap hanya bisa pasrah menahan sakit di badannya.
"JENISSA STOP! APA-APAAN SIH! LO KAYAK ORANG KESETANAN GINI KENAPA!?"
"Kenapa? Kamu tau kenapa? SEMUA KARENA CEWEK SIALAN INI!!! AKU BENCI DIA, BENCI!!! BIARIN AKU KASI OELAJARAN KE DIA!"
PLAK
Semua orang terdiam melihat siapa yang Jenissa tampar. Bahkan Jenissa juga, wanita itu tidak menyangka dengan hal itu.
"Bu_bu Vera?"
Para karyawan di Neve Publisher menundukkan kepalanya, begitu pula dengan Jenissa. Siapa yang tidak mengenal Vera, pemilik dari Zelmirise Group, perusahaan yang bergerak di bidang restoran, kafe, dan masih banyak lagi yang di naunginya. Wanita sukses dengan berbagai prestasi yang di perolehnya.
"Sekarang apa lagi?"
Jenissa mengangkat kepalanya, ia menatap kearah Seren yang sekarang berada di samping sang Mama. Kemudian Jenissa menatap Vera, gadis itu tersenyum ramah, lebih tepatnya dibuat ramah. Tentu saja Vera tau, dan itu membuat Seren memutar bola matanya malas.
"Saya hanya ingin memberikan pelajaran kepada wanita sialan ini Bu. Dia telah merebut pacar saya."
Vera menatap Seren dengan pandangan bertanya, Seren menggelengkan kepalanya. "Sepertinya anda salah Mbak, Serena sama sekali tidak melakukan hal menjijikkan seperti yang anda tuduhkan itu."
"Bohong! Dia bohong Bu, dia sudah merebut Farez pacar saya, dia perempuan tidak tau diri, ******!"
Vera berusaha mati-matian menahan emosinya, ibu mana yang akan terima jika anak gadis semata wayangnya dituduh yang tidak-tidak.
"Jika memang seperti itu, biar saya tanyakan kepada pacar anda secara langsung. Farez, apakah benar yang di katakan Mbak ini?"
Farez tentu saja menggelengkan kepalanya, karena memang oada kenyataannya salah, Farez bukan siapa-siapa Jenissa, tapi gadis itu terus bersikeras jika ia merupakan kekasihnya.
"Bukan Tante, Farez tidak pernah menjadi kekasih Jenissa sama sekali. Bahkan selama 3 tahun Farez pacaran dengan Seren Jenissa yang selalu mencari masalah dengan Seren, sampai akhirnya Seren memutuskan pergi karena kesalahpahaman antara kami selama 4 tahun, dan saat itu sampai hari ini Jenissa selalu menganggap Farez kekasihnya, tapi Farez tidak pernah sedikitpun mau, karena Farez dan Seren belum pernah berakhir, Farez masih mencintai Seren," jelas lelaki itu panjang lebar, lagi-lagi para karyawan yang menonton itu saking berbisik, kali ini mereka melirik kearah Jenissa.
"Ih ternyata dia bohong."
"Bisa-bisanya dia berani memfitnah Bu Seren."
__ADS_1
"Tadi kamu juga percaya, awas nanti di pecat."
"Jangan nakut-nakutin, aku nggak mau jadi pengangguran."
Begitulah kira-kira bisikan orang-orang di kantor itu.
Jenissa tidak terima melihat semua orang menjadi berpihak kepada Seren. "Nggak, dia bohong!!! Sayang, kenapa kamu ngelakuin itu? Aku sayang banget sama kamu Farez."
Farez tidak menghiraukannya, lelaki itu malah mendekat kearah Seren dan menggenggam tangan gadis itu. Seren terkejut, namun dia berusaha tenang.
"Kamu dengar, bahkan tidak ada yang berpihak padamu." Ujar Vera.
"Nggak, nggak mungkin! NGGAK, GUE NGGAK AKAN BIARIN ITU TERJADI, SEREN NGGAK TAU DIRI!" Jenissa berusaha menyerang Seren kembali, namun tiba-tiba 2 orang satpam datang memegangi Jenissa yang mengamuk.
"LEPASIN GUE ANJING!!!" Bentaknya, namun kedua satpam itu tidak mendengarkan.
"Kamu dengar ya Jenissa, kamu berani mengusik hidup Serena maka hidupmuĀ juga tidak akan tenang, karena setiap Seren mendapat kesulitan, saya akan terus menjadi tamengnya."
"Kenapa Bu Vera membela wanita sialan ini? Apa yang sudah dia berikan pada Bu Vera? Dia bahkan nggak lebih dari sampah yang sudah merebut pacar orang. Dia nggak lebih dari seorang jal__"
Plak
Satu tamparan dari Vera mengenai pipi kanan Jenissa, hal itu membuat para karyawan, Seren, Farez dan yang lain terkejut. Mereka baru kali ini melihat Vera semarah sekarang, padahal wanita itu dikenal dengan keramahan dan kelembutannya, namun apa yang sekarang mereka lihat benar-benar diluar dugaan.
"Jangan sekali-kali ada yang berani menjelek-jelekkan putri kandungku," ujar Vera dengan wajah yang sudah memerah karena amarahnya.
"A_a_apa? Put_tri kandung?" Lirihnya.
"Iya, Serena Neve Zelmira, putri kandung saya satu-satunya. Dia pemilik sah dari Zelmirise Group dan Neve Publisher."
Jenissa menggelengkan kepalanya tidak percaya, "NGGAK, NGGAK MUNGKIN! nggak mungkin cewek kayak dia yang punya Perusahaan ini dan Zelmirise Group."
Vera terkekeh sinis, "nggak mungkin bagaimana? Memang itu kenyatannya. Ayo sayang, kita tinggalkan wanita bodoh ini, biarkan dia menyesal. Tidak tau malu."
Vera akhirnya menuntun putrinya pergi dari sana meninggalkan Jenissa yang masih shock juga para karyawan yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka dengar tadi.
"Gue harap lo nggak ganggu Seren lagi. Biarin dia bahagia, udah cukup." Farez akhirnya ikut pergi menyusul Vera dan juga Seren.
"Liat aja apa yang bakal gue lakuin ke loe Seren, gue nggak akan biarin loe bahagia. Loe harus ngerasain penderitaan loe karena berani main-main sama gue."
"LEPASIN!" Akhirnya Jenissa langsung berlari keluar dari gedung Neve publisher, ia mengepalkan tangannya, lalu mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
"Halo, ada apa?"
"Gue mau loe jalanin rencana kita, gue nggak menerima alasan apapun."
"Jen, gue kan udah bilang nggak bisa. Kenapa lo masih ngotot!?"
"Gue nggak butuh protesan dari lo, lo cukup ikutin perintah gue, atau lo tau sendiri akibatnya."
Jenissa mematikan panggilannya sepihak, lalu tersenyum sinis. "Lo boleh anak dari pemilik Zelmirise group, tapi gue nggak akan biarin lo lolos dari rencana gue. Lo harus menderita karena gue benci ngeliat loe bahagia," gumam Jenissa pelan, lalu meninggalkan area Neve Publisher.
__ADS_1
Bersambung. . .