
..."Bagaimana bisa melupakan seseorang jika harus dipertemukan kembali, meskipun keadaan telah berubah."...
..._Hai Mantan!_...
"Aduh gue bingung mau pakek baju apaan. Menurut lo gue harus beli baju lagi atau nggak?" Seren membongkar seluruh isi lemarinya karena gadis itu bingung ingin mengenakan pakaian seperti apa datang ke reuni kelasnya di kampus dulu.
Helmi sang sahabat hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Seren. "Baju sebanyak itu kenapa nggak ada yang buat lo tertarik sih? Sini biar gue aja yang nyari." Helmi berjalan mendekat kearah Seren. Gadis itu memilih baju yang akan Seren kenakan untuk ke reunian nanti malam.
Pilihan helmi jatuh pada Dress selutut berwarna hitam. Simple, berlengan panjang dengan belahan dada sedikit rendah namun terlihat elegan. "Coba lo pakai yang ini deh." Helmi menyerahkan dress tadi kepada Seren.
Seren dengan ragu menerimanya, "Emang ini nggak sexy ya, gue takut pakai yang begini. Lo inget nggak kalau Farez nggak suka ngeliat cewek yang pakaiannya ketat atau kurang bahan."
Helmi tersenyum licik, "Justru itu, karena dia nggak suka, lo harus ngelakuinnya. Jadi gini, apa yang dulu dia larang lo lakuin, itu bisa jadi salah satu cara pembuktian buat dia kalau lo udah move on dari dia."
Seren tampak berpikir, ia melihat gaun hitam yang berada ditangannya itu. Seren menghembuskan napasnya pelan. "Yaudah, gue ganti dulu." Seren masuk kedalam kamar mandi pribadinya untuk berganti.
Helmi tertawa sinis, "Liat aja lo rez, lo udah buat sahabat gue menderita. Jadi tunggu aja pembalasan gue. Gue nggak akan biarin Seren terluka lagi." Batinnya.
Beberapa saat kemudian Seren keluar dari kamar mandi dengan dress yang tadi Helmi pilihkan. Helmi menatap sahabatnya itu takjub.
"Nah kan, pas banget, udah dewasa sahabat gue ternyata." Helmi mendekat kearah Seren.
"Serius gue nggak apa-apa pakai baju beginian? Kurang bahan begini." Seren menutupi belahan bajunya dengan tangan karena merasa malu.
"Buset, nggak apa-apa Seren. Nggak keliatan juga, emang punya lo segede apaan sih. Kesel gue."
Seren memelototkan matanya, lalu memukul lengan Helmi pelan. "Mulutnya goblok banget, kagak pernah lo sekolahin ya?" Kesal Seren.
Helmi membuang nafasnya kasar, "Lagian ribet banget, apa kabar nih sama gaun gue yang belahan dikakinya sampai paha gini. Gue aja nggak masalah, biasa aja." Ujar Helmi sambil memperlihatkan gaunnya.
Seren memutar bola matanya malas, "Iya, terserah lo aja. Kapan nih kita berangkat?"
"Make up dulu, entar lo dikatain jelek lagi, mau lo?"
Seren menggelengkan kepalanya dengan polos.
"Nggak mau kan, sini gue aja yang dandanin lo. Gue mau make up in lo secantik mungkin, ya walaupun lo dengan natural aja udah secantik ini aslinya. Mereka aja dulu yabg nggak pernah tau, loe kan anaknya emang nggak mau berlebih-lebihan dalam segala hal, eh malah dikatain kucel, sekarang cantik gini pakai make up natural banyak yang ngedeketin tapi masih stuck sama mantan aja." Helmi mendandani Seren seperti emak-emak yang sedang mengomeli anknya, nyerocos terus tanpa ingin berhenti.
Seren hanya bisa pasrah didandani oleh sahabatnya itu. "Awas lo dandanin gue menor kek emak-emak mau kepasar, gue tonjok muka lo," ujar Seren kesal.
"Kagak, diem makanya, berisik banget." Akhirnya Seren memilih untuk diam, ia tidak ingin dandanannya nanti seperti badut.
Beberapa menit kemudian Helmi sudah selesai mendandani Seren. "Perfect. Kalau memang aslinya udah cantik ya tetap aja cantik, Farez aja yang nggak pernah bersyukur."
Seren memukul pelan Helmi, "Udah ah, jangan bahas dia dulu. Mendingan kita berangkat sekarang aja. Kayaknya nanti kita bakalan telat 5 menitan deh," ujar Seren sambil melihat kearah jam tangan yang melingkar ditangannya.
__ADS_1
"Yaudah, ayo kita berangkat. Gue udah cantik kan?"
Seren menganggukkan kepalanya, "Kalau lo mah selalu cantik, jadi nggak usah nanya."
Kemudian Seren dan Helmi keluar dari kamar Seren. Helmi sudah tau tentang Seren yang pindah ke Jogja, ia juga sudah tau tentang kesuksesan Seren. Bahkan Helmi sangat bangga dengan Seren, walaupun ia sebenarnya tau bagaimana Seren yang sebenarnya. Seren dari jaman kuliah, sejak pertama kali ia mengenal Seren dulu memang sangat dikenal tidak mudah menyerah dalam segala hal. Meskipun jatuh, terluka dan menangis berulang kali Seren akan berusaha sembuh dan bangkit lagi.
Seren dan Helmi berangkat menggunakan mobil Seren. Kebetulan Seren baru saja membeli mobil keluaran terbaru dengan merek Lamborgini. Helmi tidak habis fikir dengan kegilaan sahabatnya itu.
"Mobil beginian gaji gue 10 tahun pun kagak kebeli." Seren hanya menggelengkan kepalanya, gadis itu fokus mengendarai mobilnya. Mobil berwarna gold itu memasuki area kafe tempat reuni diadakan. "Tunggu, kok ini alamatnya ke Zelmirise?" Ketika memasuki gerbang cafe Seren bergumam pelan, namun gumamannya masih bisa didengar oleh Helmi.
"Ya memang kita reunian disini, di Zelmirise Cafe. Kenapa?"
Seren terdiam, laku kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "O--oh i--i-tu apa ya, emb gue penasaran aja gimana sih menu-menu yang ada di Zelmirise Cafe ini, katanya hits disemua kalangan. Emang bener?"
Helmi menatap Seren, "Iya, Zelmirise emang terkenal banget. Suasana cafenya yang emang Fotoable banget bikin semua orang seneng berkunjung kesini, belum lagi menunya yang worth it dan nggak bikin kantong kering."
Seren tersenyum mendengar penjelasan Helmi, ternyata sang mama memang benar-benar hebat. Sampai-sampai cafenya seramai dan seterkenal ini. Seren memarkirkan mobilnya ditempat parkir VIP, ia tidak ingin memarkirkan mobilnya ditempat parkir biasa. Akhirnya Helmi dan Seren keluar dari mobil Seren.
"Gila lo, pakai mesen parkiran VIP gini. Kapan mesennya?"
Seren gelagapan, namun ia mencoba untuk tenang. "Oh itu, gue baru aja kok mesen pakai aplikasi Zelmirise VIP. Amanlah."
Helmi hanya ber oh ria, kemudian ia mengajak Seren untuk masuk kedalam ruangan tempat diadakannya reuni kelasnya.
Seren berjalan dengan anggun ketika memasuki Zelmirise Cafe. Banyak orang-orang yang menatap gadis itu takjub, penampilannya malam ini benar-benar luar biasa. Sedangkan disampingnya Helmi tersenyum bangga, sahabatnya itu memang memiliki aura dimana semua orang akan tertarik melihatnya.
Ting
Helmi menggelengkan kepalanya, "Udah santai aja. Gue yakin lo nggak akan kalah sama cewek-cewek lain dikelas kita. Lo cantik."
"Bukan gitu, gue nggak siap ketemu Farez," lirih Seren diakhir kalimat.
Ting
Belum sempat Helmi membalas ucapannya, lift sudah lebih dulu terbuka. Akhirnya Helmi menarik pelan Seren keluar dari lift. Helmi memberi tatapan semangat jika Seren pasti bisa.
Seren menarik nafasnya sedikit panjang ketika sampai didepan pintu VIP dimana acara diadakan.
Ceklek
Pintu terbuka, Helmi yang memutar gagang pintu itu. Tiba-tiba saja perhatian semua orang yang ada disana mengarah kepada Seren dan juga Helmi yang baru datang. Mereka terpana melihat keduanya terutama Seren. Seren yang diperhatikan merasa sangat gugup, beruntung ia bisa mengendalikan ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Selamat malam semuanya." Helmi menyapa mereka, sekitar 38 orang berada diruangan itu.
"Hai Helmia, apa kabar?"
__ADS_1
Helmi tersenyum, gadis itu menggandeng tangan Seren sahabatnya. "Bisa berikan kami tempat duduk?" Tanya Helmi kepada salah seorang pelayan disana.
Semua orang saat itu duduk dengan sebuah meja panjang dihadapan mereka. Seren merasa gugup, saat ternyata ia harus duduk dihadapan Farez, mantan kekasihnya sendiri.
"Hel--"
Helmi menatap tajam Seren, hal itu tentu saja membuat Seren bungkam. "Sorry gue telat, tadi gue jemput Seren dulu," ujar Helmi sambil melirik kearah Seren yang kini duduk dengan tenang dan wajah datarnya.
"A--apa? seren?" Seorang gadis yang duduk disebelah Farez melebarkan matanya tidak percaya.
Seren tersenyum sinis dalam hati, begitupula Helmi yang tersenyum sinis dihadapan mereka semua. Bahkan saat ini Farez tidak berkedip sama sekali memandang Seren yang berada dihadapannya. Sebenarnya Seren sangat takut jika ia salah bertindak dan membuat runyam semua, namun hatinya meyakinkan. Kemudian ia menatap semua teman-teman kelasnya dulu dan tersenyum. "Halo semuanya masih ingat gue? Kalau kalian lupa biar gue kenalan lagi kayak waktu kita masih Maba dulu. Nama gue Serena Neve Zelmira, biasa dipanggil Seren." Seren tersenyum manis menampakkan gigi kelincinya, gadis itu sesekali melirik kearah Farez.
"Finally, Seren-nya kita balik lagi. Betah banget lo pergi tanpa kabar selama empat tahun," ujar salah seorang teman di kelas mereka.
Seren hanya tersenyum menanggapinya, ia sedikit melirik kearah Farez yang hanya diam. Padahal Perempuan yang berada di samping Farez terus mengajak Farez bicara, tapi Farez tidak menghiraukannya.
"Gue keluar sebentar," ujar Farez tiba-tiba, Seren tersenyum miring melihat itu.
"Ih Farez Jenissa ikut."
Farez menghentikan langkahnya, "Lo disini aja, gue mau sendiri." Farez berkata dengan nada datar dan berlaku meninggalkan ruangan begitu saja.
Jenissa, perempuan tadi merasa sangat kesal dan menghampiri Seren. Ia menatap Seren dengan amarahnya, "Ini semua gara-gara lo! Ngapain sih pakai datang segala."
"Emangnya kenapa kalau datang? Masalah buat lo?" Bukan, itu bukan Seren. Tapi itu adalah Farzan, salah satu sahabat Farez.
"Eh lo ngapain ikut campur!? Suka-suka Jeni dong!" balas seorang perempuan dengan dress berwarna ungu yang dikenakannya. Ia bernama Vinaya, atau Naya sahabat dari Jenissa.
"Kalian mendingan diem." Nada datar itu datang dari Galen, ia adalah kekasih dari Naya, Galen juga merupakan sahabat Farez, lelaki itu tidak banyak bicara. Lebih sering diam, namun jika sudah merasa terganggu Galen akan bicara.
Akhirnya mereka saling diam mendapat tatapan dari Galen. Seren dan Helmi menghela nafas mereka, lalu beralih berbicara dengan teman-teman mereka dulu.
"Gue bersyukur lo memilih untuk kembali." Galen, lelaki itu menghampiri Seren, di belakangnya ada Farzan.
"Kita udah tau semuanya, intinya jangan melihat sesuatu dari apa yang lo lihat atau lo dengar, tanyakan langsung dengan orangnya." Seren terdiam, Helmi hanya mengawasi saja. Farzan adalah lelaki yang humoris, namun sepertinya kali ini ucapan lelaki itu terdengar serius.
"Seren."
"Oh iya, ada apa Helmi?"
"Gabung sama yang lain yuk!" Ajak Helmi sambil menarik tangan Seren kearah panggung musik. Seren menganggukkan kepalanya, gadis itu berpamitan kepada kedua sahabat Farez.
"Gue duluan."
"Ingat baik-baik, Seren. Jangan sampai lo nyesel."
__ADS_1
Bersambung. . .