
..."Rasa yang masih menetap bukan alasan untuk kembali, karena percuma jika pada akhirnya mengulangi kesalahan yang sama."...
..._Hai Mantan!_...
Suasana sore hari memang paling pas untuk berolahraga, dan olahraga yang sangat banyak di minati adalah bersepeda. Seperti saat ini, Seren memilih untuk berolahraga di sore hari dengan mengayuh sepeda miliknya. Ia tidak sendiri, ada sahabatnya Helmi yang menemani gadis itu. Keduanya memilih untuk mengelilingi daerah sekitaran Malioboro dengan sepedanya, sekalian cuci mata kata Helmi. Siapa tau nanti nemu cowok ganteng yang siap jadiin mereka pacar, kan lumayan. Ketika itu, Seren yang mendengar hanya menatap datar saja.
"Eh, lo ngayuh sepeda yang bener dong. Ngapain lo ngambil jalan orang Helmi!?" Geram Seren, bagaimana tidak, sahabatnya itu memang mata keranjang, liat cogan yang lewat senyum-senyum menjijikkan. Jika saja mereka sedang tidak di atas sepeda masing-masing sudah Seren pastikan ia akan langsung memukul kepala sahabatnya itu.
Helmi hanya memanyunkan bibirnya kesal, ia tidak suka kesenangannya di ganggu oleh Seren.
"Ganjen lo setan!" Sarkas Seren.
"Astagfirullah mulutnya si Seren," ujar Helmi sambil mengelus dadanya.
Seren malas meladeni, ia langsung mengayuh sepedanya dengan kencang mendahului Helmi. Sontak Helmi yang melihat itu memelototkan matanya, ia di tinggal oleh Seren.
"SERENN, JANGAN TINGGALIN GUE WOI!" Teriaknya kemudian, sambil menambah kecepatan sepedanya karena sadar Seren meninggalkannya.
Seren tidak peduli, gadis itu tetap mengayuh sepedanya dengan cepat, sampai kemudian tiba di lampu merah 0 KM Yogyakarta, Seren menghentikan sepedanya, tidak lama kemudian Helmi menyusulnya.
"Ngapain sih buru-buru, capek gue lo tinggalin." Napas gadis itu sedikit ngos-ngosan karena menyesuaikan kecepatannya agar bisa mengejar sepeda Seren.
Seren tidak menggubrisnya, mata gadis itu tanpa sengaja memandang kearah mobil putih yang juga berhenti di sampingnya. Disana, sangat jelas jika Farez sedang satu mobil bersama Jenissa. Lelaki yang merupakan mantannya itu sedang menyetir, ditambah lagi pemandangan yang membuat gadis itu tidak menyangka adalah Jenissa menyuapi Farez dan Farez menerima suapan itu dengan senang hati.
"Udah jangan diliatin Mulu, lo bilang pengen move on?"
Tin Tin Tin
Suara klakson kendaraan di belakang mulai berbunyi, lampu merah telah berganti dengan lampu hijau. Akhirnya Seren dan Helmi mengayuh kembali sepeda mereka, tapi sebelum itu tanpa sengaja ia melihat Farez yang berada di dalam mobilnya menatap terkejut kearahnya.
Seren tidak peduli, ia terus mengayuh sepedanya, bahkan ketika Helmi memintanya untuk membawa sepedanya dengan pelan Seren tidak mendengarkan.
"Baru kemarin lo mohon-mohon buat minta no whatsapp gue, lo bilang kita belum pernah selesai, tapi sekarang gue melihat sendiri lo mesra banget dengan pacar baru lo," gumam Seren dengan kekehan sinis.
__ADS_1
Seren membelokkan sepedanya kearah alun-alun Utara Yogyakarta, kemudian ia memarkirkan sepedanya dan duduk disalah satu kursi disana.
"Astagfirullah Seren, nggak sanggup gue, lo keterlaluan banget ngayuh sepeda kayak dikejar anjing."
"Lebay."
Seren mengeluarkan botol air minum yang ia bawa di tas kecilnya. Kemudian gadis itu meminum airnya. Ia menghembuskan nafasnya lega.
"Bagi, gue nggak bawa minum." Tanpa aba-aba Helmi merebut botol air minum Seren.
Seren mendelikkan matanya kesal, "The Real Of beban."
"Bodo."
Seren menggelengkan kepalanya, kemudian ia diam. "Gue heran sama orang-orang yang nggak bisa menepati omongannya sendiri, nggak bisa menjaga apa yang udah ia janjikan, dan terlalu plin plan dengan pilihannya. Terlalu egois orang-orang kayak gitu."
Helmi menatap Seren dengan sebelah alis terangkat, laku kembali meminum airnya. "Lo ngomongin siapa?" Tanyanya setelah menutup botol milik Seren.
"Ada, manusia."
Seren menatap datar Helmi, "bego, ngapain lo nanya sih? Gue rasa lo tau maksud gue."
Helmi menganggukkan kepalanya, "mungkin ada alasan kuat yang nggak bisa mereka beritahukan ke orang lain, mungkin aja itu karena sebuah keterpaksaan, atau mungkin yang paling menyakitkan adalah karena sebenarnya dia udah nggak nyaman dengan hal itu, kemudian memilih buat mengingkari."
Seren tampak berpikir, matanya menerawang keatas langit biru yang terhampar luas. Sore itu, di alun-alun Utara Yogyakarta memang sedang cukup ramai, karena cuaca yang mendukung untuk olahraga, tidak panas, teduh dan cukup sejuk.
"Ya, tapi tetap aja. Seharusnya jika mereka sadar kalau mungkin aja hal yang diucapkan bisa berubah, sebaiknya jangan mengucapkan, karena sadar nggak sadar mereka bakalan ngelukain orang lain. Lo bayangin deh, kalau lo ada diposisi orang yang terlukai gimana? Sedangkan orang yang melukai nggak akan kehilangan apapun, karena mereka egois, mereka hanya memikirkan kebahagiaan diri mereka sendiri."
Helmi tidak bisa menjawab apapun, ia membenarkan ucapan sahabatnya dalam hati. Memang, jika kalian berada diposisi orang yang terluka kalian akan terus mengingatnya, karena luka yang tidak terlihat akan terus membekas dan susah hilang. Sedangkan jika kalian berada diposisi orang yang melukai kalian tidak akan kehilangan apapun.
"Seren."
"Hmm."
__ADS_1
"Gue denger lo kerjasama dengan Farez buat ngadain event gede?"
Seren menganggukkan kepalanya saja, ia tidak mungkin mengatakan kebohongan karena yang sebenarnya memang ia dan Farez sedang bekerjasama dalam sebuah event besar.
"Gue inget, lo pernah ngomong kalau lo nggak akan berhubungan dengan seseorang jika sudah tidak bersama lagi di kehidupan yang lo jalanin dalam bentuk apapun, lo bilang katanya kalau udah selesai berarti udah nggak ada urusan lagi, jadi nggak ada alasan apapun meski hanya sekedar menyapa."
Seren tersenyum masam, "lo bener, gue emang nggak akan pernah berurusan dengan orang yang udah nggak ada sangkut pautnya lagi sama hidup gue. Bagi gue, dia yang udah milih pergi jadi anggap aja kita nggak pernah kenal, karena kita udah selesai. Tapi, gue nggak tau kenapa ini bisa terjadi, kenapa gue bisa ketemu lagi sama Farez, kenapa gue bisa bekerjasama dengan dia, dan lebih parahnya kenapa gue bisa tetanggaan sama dia."
Helmi mengusap pundak sahabatnya itu pelan, "Takdir Tuhan, lo percaya?"
Seren mengerutakan keningnya, tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Maybe."
Sepasang sahabat itu akhirnya diam dengan pikiran mereka masing-masing. "Oh iya gue lupa, lo deket sama adek gue ya?"
Helmi terkejut, gadis itu menggeleng cepat. "Lo tau darimana gue deket sama Cakra?"
Seren senyum-senyum sendiri, "tuh kan ketahuan, loe beneran deket sama adek gue. Soalnya gue nggak ada bilang lo deketnya sama siapa, tapi lo ngaku sendiri."
"Sembarangan aja kalau ngomong, ngidi-ngidi." Helmi memalingkan wajahnya kesamping agar Seren tidak melihatnya ia cukup malu, dan ia yakin jika wajahnya sudah semerah tomat.
"Iyuh, lo kok malu-malu sapi begitu? Jijik gue." Toyor Seren ke kepala sahabatnya itu.
"Seren emang temen laknat, dosa lo entar, nih kepala udah di nasi tumpengin sama emak bapak gue main lo toyor aja." Helmi mendelikkan matanya kesal.
"Kurang ajar lo, gue lebih tua dari lo, jadi nggak usah lebay."
"Iya tau yang tua," final Helmi karena ia tau jika tidak akan menang jika berbicara dengan mulut lemesnya si Seren. Berisik, cerewet dan maunya menang sendiri.
Lagi, tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Seren fokus melihat kearah jalanan, sedangan Helmi sedang memainkan ponselnya.
"Eh si Jenissa post fotonya di Ig sama Farez nih, mesra amat."
"Mana?" Seren dengan cepat merebut ponsel Helmi, namun detik selanjutnya Seren memandang Helmi datar, lalu dengan kasar mengembalikan ponsel itu.
__ADS_1
"HELMI KURANG AJAR. LO NIPU GUE!?" Sambil teriak, hal itu tentu saja membuat Helmi menutup telinganya.
Bersambung. . .