
..."Meskipun Jiwa seseorang telah meninggalkan raganya, tulisan yang ia ciptakan tidak akan pernah pudar, tetap akan abadi dan menjadi kenangan."...
..._Hai Mantan!_...
Seren duduk di meja rias kamarnya, ia membuka-buka kotak lama yang telah banyak dihinggapi debu. Kotak itu merupakan semua barang kenangannya dengan seorang lelaki yang paling ia cintai, cinta pertamanya sekaligus orang yang masih ia cintai sampai hari ini, Farez.
Ia mengambil salah satu buku diary yang tertulis tahun 2019 disana, tahun awal dimana ia pertama kali masuk kuliah. Seren membukanya perlahan, lembar demi lembar dan membacanya, jika diingat-ingat ternyata kehidupan yang ia jalani tidak pernah berjalan mulus. Semuanya memiliki banyak rintangan yang sulit, bahkan beberapa Seren gagal melewatinya, namun bisa berdiri tegak dan menjadi pribadi yang kuat seperti sekarang adalah hal luar biasa untuknya.
"Kenapa hidup gue mellow banget ya," gumam gadis itu sambil terkekeh.
Bahkan tanpa sadar, airmata Seren menetes membaca tulisannya yang didalam sana ternyata menceritakan perjuangannya bisa kuliah. Jatuh bangunnya dia hingga gagal berulang-ulang.
Tiba-tiba, tangan Seren berhenti membuka lembaran buku diarynya, tatapan mata gadis itu tertuju pada tanggal 17 September 2019. Ia ingat betul hari itu, hari pertama kali Seren bertemu dengan Farez, laki-laki dengan wajah cuek dan tidak bersahabat. Laki-laki yang Seren kira sangat sombong, ternyata tidak sama sekali. Beberapa orang yang mengenalnya mungkin akan menganggap Farez adalah orang yang humble dan bersahabat juga care pada semua orang, ya benar, kelihatannya memang seperti itu. Tapi siapa yang tau, jika sebenarnya Farez adalah orang yang bahkan sangat cuek pada pasangannya, ia sering mengabaikan Seren, susah meluangkan waktu untuk Seren meskipun Seren menangis semalaman. Juga, seringkali Seren menjadi tempat pelampiasan Farez ketika ia memiliki banyak masalah.
"Kenapa gue terlalu baik? Kenapa gue terlalu mencintai lo? Gue juga pengen bahagia Farez."
Seren meninggalkan buku diary tahun 2019 miliknya, kemudian ia berlanjut membuka buku diary dengan tulisan tahun 2020. Tahun 2020 merupakan tahun yang cukup berat, karena di tahun itu Seren harus berpisah selama 6 bulan dengan Farez, Seren harus pulang ke Kalimantan dan Farez harus tetap tinggal di Yogyakarta. Selain itu Seren harus kehilangan beberapa orang berharga di hidupnya pada tahun itu. Ia sedih, pasti, siapa yang tidak sedih jika merasakan kehilangan. Tapi di tahun 2020 juga merupakan tahun istimewa, karena di tahun itu Farez dan Seren memutuskan untuk menjalin hubungan. Seren tersenyum ketika membaca tulisan-tulisan alay yang ia tuangkan di buku diary itu, saking bucinnya isi semua buku diary itu tentang Farez. Ya Allah, maafin Seren yang terlalu mencintai hambamu.
Kemudian perhatian Seren beralih pada diary yang bertuliskan tahun 2021, disana Seren membuka lembar demi lembar dengan pelan, ia meresapi kata-kata yang ditulisnya, ternyata di tahun 2021 bukanlah tahun yang mudah. Di sana semuanya tertulis tentang kerinduan Seren terhadap sosok Farez yang sibuk. Banyak masalah yang menghampiri hubungan mereka, mulai dari kesalahpahaman, hingga hampir kandasnya hubungan mereka. Seren memang tidak pernah bisa membuat orang lain terluka, karena jika ia mencintai seseorang maka ia akan mencintai dengan sepenuh hati. Tapi, tanpa Seren sadari, dulu ia tidak pernah memikirkan jika dirinya lebih penting dari siapapun, karena yang hidup dengannya adalah dia sendiri.
Dan, semenjak tahun itu, Seren tidak pernah lagi menulis kesedihannya. Ia hanya menulis harapan-harapan baik. Ia berharap semuanya bisa menjadi nyata.
Seren memutuskan untuk menutup kotak kenangannya itu, lalu mengembalikan kedalam lemari. Jika mengingat semua kenangan bahagia memang menyenangkan, tapi jika mengingat kenangan buruk rasanya ia ingin menangis, airmatanya tidak bisa berhenti.
"Gue nggak pantas sedih terus. Gue harus bahagia." Tekadnya dalam hati.
Ting
__ADS_1
Suara notifikasi di ponsel milik Seren berbunyi. Ia membuka pesan Whatsapp yang masuk disana dengan nama pengirim 'Mantan Kurang Ajar' yang ia tambahkan emoticon hati yang retak.
[Apa kamu sibuk?]
Seren membaca pesan itu dengan tatapan sinis, "Ngapain sih kepo banget ini mantan!? Males ah, mending gue abaikan aja."
Ia kemudian memilih untuk membaringkan dirinya diatas kasur. Seren senang, karena hari ini ia bisa memberi ruang untuk pinggangnya beristirahat, kebetulan event besar yang ia tangani telah selesai, dan Seren sangat puas dengan hasilnya. Tapi sialnya, selama event itu berlangsung Seren harus selalu pulang dengan Farez, meskipun ia menolak tapi lelaki itu tetap bersikeras. Padahal ketika berangkat Seren bersama Giantra, tapi pulangnya harus dengan orang yang berbeda, menyebalkan. Dan itu merupakan kesepakatan dua lelaki gila itu, Farez dan Giantra.
Kantuk mulai menghampiri gadis itu, perlahan Seren memejamkan matanya. Namun, ternyata ponsel Seren berbunyi menandakan panggilan masuk.
"Halo, gue ngantuk ngapain ganggu?"
Orang diseberang sana tertawa mendengar protesan Seren.
"Kamu aku aku jemput ya, mau nggak?"
"Nggak, gue ngantuk." Tanpa menunggu jawaban dari orang diseberang sana, Seren mematikan panggilannya sepihak.
Mata Seren menyusuri setiap sudut rumahnya, namun ia tidak menemukan satu orangpun dalam. Seren berdecak kesal, "ini pada kemana sih, rumah sepi banget kayak kuburan."
Langkah kaki Seren terhenti saat mendengar sayup-sayup suara orang tertawa dari halaman belakang rumahnya. Gadis itu berjalan mendekat, ia mengintip dari jendela kaca yang mengarah langsung pada taman belakang. Di sana, ia melihat kedua adiknya dan juga sang nenek yang sedang bercerita, entah apa yang di ceritakan sehingga membuat mereka tertawa. Seren bernafas lega, Ia bahagia melihat senyuman yang terpancar dari wajah-wajah keluarganya, ia selalu berdoa jika Tuhan tidak akan pernah mengambil kebahagiaan itu darinya juga mereka.
"Kakak kenapa?" Hampir saja Seren berteriak jika tidak segera sadar jika yang dihadapannya sekarang adalah ibu kandungnya, Vera.
Vera tersenyum lembut, "Kakak ngapain disini? Mana ngintip-ngintip kayak mau maling lagi."
Seren cemberut, memang seorang anak seberapapun umurnya jika dihadapan orang tua pasti akan tetap bersikap kekanakan.
__ADS_1
Serem menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian ia menyalami mamanya. "Itu, Seren lagi ngelihat Adek-adek Seren sama nenek, Seren seneng mereka akhirnya bisa tertawa lepas."
Vera mengelus lembut rambut putrinya, "Ini semua berkat kamu sayang, mama bangga sama Seren."
Seren kemudian memeluk sang mama. "Tanpa mama, Seren nggak akan tumbuh kayak sekarang."
"Astaga mama lupa." Vera menatap sang putri dengan pandangan sedikit panik.
"Ada apa Ma?"
"Ada yang nungguin kamu di depan?"
"Hah?"
Seren tidak mengerti maksud mamanya, lalu tanpa persetujuan gadis itu. Mama Seren langsung mendorong putrinya kearah ruang tamu.
Bayangkan, betapa kagetnya Seren melihat siapa yang sekarang duduk di sofa ruang tamunya. Gadis itu memelototkan matanya lebar, ketika ia ingin berbalik dan protes pada sang mama, sayang sekali, sang mama sudah tidak ada di sana.
Seren berjalan kearah Sofa, lalu duduk di hadapan lelaki itu. "Ngapain disini!?" Ketus Seren pada lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Aku jemput kamu, kita kencan sekarang."
"Kencan!?"
"Ya, ada yang salah?" Tanya lelaki itu dengan senyuman menyebalkan menurut Seren.
"Sinting!"
__ADS_1
Ya Tuhan, Seren harus bagaimana lagi sekarang, ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi mantannya itu.
Bersambung. . .