HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 29. Dream and Problem


__ADS_3

..."Terkadang seseorang butuh usaha sangat keras untuk membuat sebuah mimpi menjadi kenyataan, bukan hanya sebuah keinginan yang pada akhirnya berujung kekecewaan."...


..._Hai Mantan!_...


Seren tersenyum ketika melihat persentase penghasilan perusahaan penertiban miliknya. Gadis itu merasa senang dengan apa yang telah ia capai. Tidak sia-sia memang usahanya selama ini membangun Neve Publisher hingga memiliki beberapa cabang dan sesukses sekarang.


Ceklek


Pintu ruangannya terbuka, gadis itu masih tetap tersenyum melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya. "Ada apa Bram?" Tanya gadis itu kepada sekretarisnya.


"Maaf Nona, saya mengganggu waktu anda. Tapi saya ingin menyerahkan beberapa berkas kerjasama dari beberapa petinggi dari perusahaan-perusahaan lain." Bram dengan sopan meletakkan berkas-berkas yang ia bawa diatas meja Seren.


"Baiklah Bram, terima kasih banyak. Saya akan memeriksanya, sekarang kembalilah ke ruanganmu."


Bram menurut perintah dari atasannya itu, ia keluar dari ruangan milik Seren. Seren memeriksa satu persatu berkas kerjasama yang ada di meja itu, tiba-tiba saja mata gadis itu terfokus pada satu berkas dengan nama perusahaan milik temannya dulu, lebih tepatnya mantan temannya. Vinaya Alfaria Jihan. Seketika membaca nama itu membuat smirk terbit dibibir gadis itu.


"Apa lagi sekarang, sepertinya mereka mulai berani masuk terlalu jauh di kehidupan gue. Oke, bakalan gue ladenin," gumam Seren pelan, namun penuh kebencian.


Mood Seren yang tadi baik mendadak menjadi buruk. Ia kemudian menyingkirkan berkas-berkas kerjasama itu, lalu ia beralih duduk di sofa ruangannya.


Ting


Suara notifikasi pesan masuk berbunyi, Seren membuka pesan itu, tiba-tiba saja matanya melebar. Ternyata, pesan itu berasal dari Farez yang mengirim beberapa foto selfie mereka semalam. Setelah Farez menghampirinya dirumah kemarin, gadis itu mau tidak mau mengikuti keinginan Farez untuk berkencan. Tidak dipungkiri jika sebenarnya ia senang, namun akan lebih baik jika Farez tidak tau, karena Seren takut kejadian-kejadian dulu terulang kembali. Sekarang Seren hanya ingin orang-orang mencintainya, bukan dia yang mencintai orang-orang, karena ternyata mencintai lebih menyakitkan daripada di cintai.


[Jelek, muka lo bikin eneg.]


Seren menekan kata send di ponselnya, ia terkikik geli ketika membaca ketikan pesannya sendiri.


Ting


[Nggak apa-apa deh jelek,]

__ADS_1


[Yang penting aku sayang kamu.]


Seren rasanya ingin muntah membaca pesan dari Farez itu. Lelaki itu memang tingkat merayunya sangat tinggi. Jika dulu Seren akan sangat berbunga-bunga membaca ketikan jemari dari Farez, sekarang sudah tidak lagi, ia cukup muak.


[Nggak butuh ketikan jemari lo!]


[Basi!]


Seren yang kesal akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja. Ia jadi semakin tidak mood melakukan apapun. Semenjak hari dimana ia meninggalkan Jogja, Seren berusaha mati-matian mengubur perasaannya kepada Farez. Gadis itu bahkan memblokir semua akses sosial media Farez padanya. Gadis itu sudah terlanjur kecewa, ia benar-benar memutuskan untuk menghilang dan tidak lagi menampakkan wajahnya dari lelaki itu.


Ting


[Aku bakalan buktiin, aku tau kamu capek,


Aku sadar, aku emang butuh usaha lebih buat, mengembalikan hubungan kita.]


Seren yang penasaran dengan isi pesan itu akhirnya memutuskan untuk membaca dari notifikasi ponselnya.


***


"Kan gue udah bilang, jangan pernah lo berencana buat nyakitin Seren lagi." Seorang lelaki tampak sangat marah ketika mendengar ucapan wanita yang berencana ingin menyakiti orang yang ia sukai.


"Well, gue nggak akan pernah ngikutin apa yang lo bilang. Gue nggak akan pernah berhenti nyakitin Seren sampai dia benar-benar ingin menyerah buat ngedeketin Farez." Santai, namun tersembunyi makna licik didalamnya.


Lelaki tadi mengepalkan tangannya kuat, jika saja ia tidak memikirkan siapa wanita itu, mungkin sudah sejak lama ia menyingkirkannya.


"Lo bener-bener ya, Jenissa!!"


Ya, wanita itu Jenissa, ia tersenyum licik, lalu menghampiri lelaki tadi. "Ada apa? Apa lo segitu cintanya sama dia wahai sepupu? Lo tau kan, kalau lo nggak bisa nolak perintah gue, kehidupan lo tergantung pada gue. Camkan itu!" Jenissa menatap datar lelaki tadi, ia menekan kata terakhir dari ucapannya dan pergi dari sana.


Tangan lelaki tadi terkepal kuat, ia merasa frustasi dengan semuanya. Disisi lain ia tidak mungkin menyakiti orang yang ia cinta, namun disisi lainnya, jika ia tidak menuruti apa yang Jenissa katakan maka kehidupannya akan berakhir. Andai bukan karena rahasia itu, mungkin sampai sekarang ia masih hidup tenang dan menghabiskan waktunya untuk terus mencintai gadisnya tanpa peduli apapun.

__ADS_1


"Maafin gue Seren, gue memang mencintai lo, tapi gue nggak tau harus gimana. Gue janji ini hanya sementara, gue akan cari cara buat berhenti secepatnya jadi budak wanita sialan itu." Geramnya, kemudian ia keluar dari gudang dengan ruangan yang sudah sangat usang dan kotor itu.


***


Seren berdecak kesal ketika melihat waktu yang tertera di jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tadi selepas selesai jam kantor, Seren berjanjian untuk bertemu dengan Giantra, gadis itu sedikit rindu ngobrol santai dengan laki-laki yang sudah ia anggap saudaranya itu.


"Lo udah nunggu lama?" Giantra, lelaki itu dengan wajah tanpa dosanya duduk di hadapan Seren. Lelaki itu dengan tidak tahu malunya langsung mengambil minuman milik Seren yang ada di meja dan meminumnya hingga tandas.


Seren yang melihat itu tidak habis fikir, gadis itu menjadi semakin kesal sampai reflek langsung memukul lelaki itu.


"Kurang ajar, ngapain lo abisin minuman gue sialan!?" Marahnya, sedangkan Giantra hanya terkekeh saja melihat ekspresi Seren.


"Jangan marah-marah, gue pesenin lagi deh buat lo." Dengan segera Giantra beranjak dari sana, kemudian memesan kembali minuman yang tadi diminumnya dan memesan untuk dirinya juga.


"Lo kenapa telat banget sih!? Gue nungguin Sampek lumutan bego." Seren melipat kedua tangannya di depan dada, siapa yang tidak kesal jika selama kurun waktu 2 jam di biarkan menunggu, sampai-sampai Seren menghabiskan beberapa gelas minumnya. Huh, perutnya mau jadi apa sekarang.


Giantra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menatap gadis dihadapannya itu sedikit tidak enak. "Maafin gue ya, gue tadi mendadak ada urusan dan lupa ngabarin lo."


Seren menghembuskan nafasnya pelan, "gue emang selalu dilupain."


Giantra meringis mendengar ucapan Seren, ia menjadi benar-benar tidak enak hati sekarang. Mana tega ia melihat gadis yang di cintai ya bersedih, akhirnya Giantra mengambil kedua tangan Seren, lalu menggenggamnya. "Gue bukannya ngelupain lo, gue bener-bener panik tadi, mana mungkin gue ngelupain orang yang gue sayang. Jangan kesel lagi ya," bujuk lelaki itu.


Seren menarik tangannya pelan, ia menatap keluar jendela. Gadis itu terdiam, sedih sebenarnya ketika mengetahui orang-orang yang berada di sekitar kita, orang yang kita anggap peduli ternyata melupakan kita. Raut wajah Seren benar-benar tidak mengenakkan, niat gadis itu tadi ingin curhat dengan Giantra karena moodnya sedang buruk, namun ternyata bukannya membaik justru semakin buruk.


"Apa jangan-jangan lo udah mulai cinta sama gue? Makanya lo sedih ketika gue lupa ngabarin?" tuduh Giantra dengan nada menggoda namun sebenarnya dalam hati lelaki itu berharap semuanya memang benar.


Seren berdecak kesal, ia menatap Giantra, dan memutar bola matanya malas. "Ngomong apa sih Gian? Ngaco."


Giantra tersenyum miris, selalu saja seperti itu, ia tau jika dirinya memang tidak akan pernah bisa di di lihat sebagai lelaki yang mencintai wanita oleh Seren. Karena nyatanya, Seren masih terus terjebak dengan masalalunya, masalalu yang bahkan entah akan kembali lebih baik atau memang akan berakhir. Giantra tidak tau, yang ia tau dirinya berharap jika apapun itu, semuanya akan baik-baik saja.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2