HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 20. Accident


__ADS_3

..."Terkadang orang tidak pernah sadar jika perhatian kecil saja memiliki pengaruh yang besar untuk hidup seseorang. Bahkan, orang yang selalu mendapat perhatian jika tiba-tiba perhatian itu hilang, efeknya akan berpengaruh pada kehidupannya. Jadi, jika kamu memberi perhatian, tolong jangan berhenti meskipun dengan cara sederhana."...


..._Hai Mantan!_...


Hujan diluar cukup deras malam itu, seorang gadis terbangun akibat alarm di ponsel yang ia pasang. Ia mengambil ponselnya dan mematikan alarmnya. Jam menunjukkan pukul 9 malam, gadis itu langsung bangun dari posisi tidurnya yang mungkin saja bisa dibilang kurang nyaman, bagaimana tidak, ia tertidur dengan cara duduk di kursi dan menelungkupkan wajahnya di atas meja kerjanya.


Ting


[Kak Seren masih dikantor?]


Gadis itu Seren, ia dengan cepat membalas pesan dari Mamanya. Ia tahu jika sang Mama pasti mengkhawatirkannya sekarang. Apalagi biasanya Seren jam 5 sore sudah kembali kerumah. Namun karena ia harus menyelesaikan berkas-berkas di Zelmirise Group, jadi gadis itu pulang telat.


"Halo."


"Kakak pulangnya hati-hati ya? Diluar sedang hujan cukup deras." Pesan sang Mama diseberang sana. Ternyata wanita yang melahirkannya itu ternyata masih tidak tenang, sampai meneleponnya meski pesan sudah Seren balas.


"Iya Ma, Seren pulangnya hati-hati kok. Mama jangan khawatir ya, Seren sebentar lagi pulang." Setelah mengucapkan hal tersebut agar sang mama tenang, akhirnya Seren mematikan panggilan teleponnya.


Seren mengemas barang-barangnya, kemudian beranjak keluar dari ruangannya. Di dalam kantor Zelmirise Group ternyata sudah cukup sepi, hanya beberapa karyawan dan juga tukang bersih-bersih yang sedang menyelesaikan tugas mereka sebelum pulang untuk beristirahat di tempat tinggal masing-masing.


Mereka menyapa Seren, namun Seren menanggapi seadanya, gadis itu sedang dalam keadaan cukup mengantuk.


Seren menaiki lift kantornya untuk menuju basement. Beberapa saat kemudian ia sampai, gadis itu langsung menuju mobilnya, kemudian setelah berada di dalam mobil, Seren langsung menjalankannya keluar gedung Zelmirise Group.


Jalanan tampak sangat licin, apalagi hujan semakin turun dengan deras.


"Aduh, gimana nih, gue kan nggak bisa lihat jalan kalau hujannya kayak gini. Deres banget," gumam Seren sambil terus fokus menyetir mobilnya.


Gadis itu mengambil ponselnya dari tas miliknya di samping kursi pengemudi. Namun sayang, ponselnya ternyata cukup sulit diambil, akhirnya mata Seren beralih menatap kearah tasnya. "Gini kek dari tadi, susah amat," ucapnya ketika ponsel itu sudah berhasil di genggamannya.


Brakkk


Suara hantaman itu tidak bisa terelakkan, tanpa sengaja mobil Seren menabrak bagian belakang mobil lainnya. Gadis itu terdiam, ia masih belum menyadari apa yang terjadi. Hingga, seseorang dengan payung ditangannya mengetuk-ngetuk kaca mobil Seren, dengan tangan masih gemetar, gadis itu melepas sealtbeltnya.


Seren kemudian membuka pintu mobilnya, gadis itu keluar dari sana. Orang yang tadi mengetuk kaca mobil Seren mengamati gadis itu.

__ADS_1


"Maaf Mas, saya nggak sengaja. Jalanan licin, dan mata saya tidak bisa melihat jelas karena derasnya hujan. Sekali lagi saya minta maaf, saya akan mengganti semua kerusakannya." Seren menunduk, badannya sudah basah kuyup sekarang, gadis itu bahkan tidak melihat kearah lelaki yang berdiri dengan setelan formal dan payung di hadapannya itu.


"Serena kan?"


Seren terdiam, perlahan kepala gadis itu mendongak. Matanya terbuka lebar, "Hah?" Detik berikutnya, kesadaran Seren menghilang.


***


Seren memegangi kepalanya yang masih berdenyut. Indra penciuman gadis itu tidak mungkin salah menebak, jika dirinya sekarang berada di rumah sakit. Setelah kejadian beberapa waktu lalu Seren tidak sadarkan diri. Entahlah, ia yakin jika lelaki yang mobilnya ia tabrak itulah yang menolongnya.


"Kamu sudah sadar?" Seren menolehkan matanya kesamping. Lelaki itu yang tadinya duduk diatas sofa kemudian menghampiri Seren. Ia mengambil air putih di nakas dan memberikannya pada Seren.


Seren tentu saja menerimanya, lalu kemudian meminum air putih tersebut. "Terima kasih Mas Azhar."


Ya, lelaki itu Azhar, mobilnya kebetulan saat itu sedang bocor, jadi ia memberhentikan dipinggir jalan. Tapi tanpa di sangka, mobil tersebut tanpa sengaja tertabrak oleh mobil milik Seren.


"Oh iya, Mama!!" Pekiknya lalu mencari letak ponselnya.


"Sudah, kamu sekarang fokus istirahat aja. Tante Vera nitipin kamu sama aku. Jadi jangan khawatir, aku semalam sudah menghubungi Tante Vera." Azhar tersenyum, lelaki itu mengelus rambut gadis dihadapannya itu.


Seren tersenyum kikuk, ia merasa malu dengan kehebohan yang seringkali tanpa sengaja terjadi karena dirinya. "Terima kasih lagi Mas Azhar. Seren nggak tau mau bilang apa lagi, udah di bantuin ke rumah sakit, mobilnya Seren tabrak, terus di bantuin ngasi kabar ke Mama. Kalau ada kata yang lebih dari terima kasih pasti Seren ucapin buat Mas."


Seren terdiam, dia memang sudah menduganya jika dua penyakit yang memang seperti pasangan itulah penyebab dari ia pingsan.


"Seren."


"Iya Mas."


Azhar terdiam, lelaki itu kemudian mengambil tangan kiri Seren yang bebas dari infus. Lelaki itu menatap Seren dalam. "Boleh aku menyukaimu?"


Seren tidak bisa mengucapkan apapun, ia terkejut, lidahnya kelu, bagaimana ini, pikirnya. Sedangkan ia sendiri belum bisa move on dari Farez yang notabenenya adik kandung dari Azhar, dan sekarang, ia harus dihadapkan dengan Azhar yang menyukainya. Seren menarik pelan tangannya dari genggaman Azhar.


"Kalau kamu nggak mengizinkan, nggak masalah. Tapi aku akan tetap menyukaimu, maaf, perasaan tidak ada yang bisa memaksanya kan?" Azhar tersenyum, ia kemudian mengacak rambut Seren, dan berjalan kembali ke sofa.


Hati gadis itu bimbang, ia melihat Azhar yang telah berjalan kembali kearah sofa. Mungkin ia jahat, mungkin ia egois, tapi ia merasa sangat tidak pantas disukai oleh siapapun. Ia masih takut, jika semua yang datang akan pergi, dan ketika sudah pergi Seren tidak bisa melakukan apapun meskipun ia sangat menyayangi. Ia hanya bisa diam, menangis dan merelakan meskipun hatinya tidak akan pernah rela, ia belum siap kehilangan apapun dihidupnya, terutama orang-orang yang ia sayang, karena Seren tau, jika ia tidak memiliki banyak.

__ADS_1


"Mas, Seren kapan boleh pulang?"


Perhatian Azhar teralihkan dari ponsel yang ia mainkan, ia menatap kearah Seren. "Kalau infus kamu itu sudah habis, maka kita sudah diperbolehkan pulang."


Seren terlihat gusar, ia mengingat sesuatu jika seharusnya hari ini ia mengadakan pertemuan dengan EO yang sudah bekerjasama dengannya.


"Halo Seren lo dimana?"


Baru saja gadis itu mengangkat telfonnya pertanyaan to the point itu terdengar di seberang sana.


"Seren, ini kita sebentar lagi meeting sama mantan lo."


Seren menghembuskan nafasnya pelan, "gue dirumah sakit."


"Hah? Sayang gue kenapaa? Lo sakit apa? Gue susulin ya?" Dengar, apa yang lelaki itu katakan, dia akan selalu heboh.


"Nggak perlu Gian, gue baik-baik aja. Darah rendah sama maag gue kambuh."


Terdengar helaan nafas di seberang sana, "kebiasaan emang, lo lupa makan lagi kan, dan lo juga pasti mikirin yang aneh-aneh."


"Sok tau, intinya gue nggak bisa hadir di rapat. Gue minta tolong lo handle semuanya."


"Iya sayang, aman. Lo sembuh aja dulu, nanti gue abis rapat kesana ya, gue mau liat kesayangan gue yang bandel," ujar Giantra dengan diakhiri kekehan.


"Serah."


Tanpa aba-aba, Seren mematikan panggilan teleponnya. Gadis itu menatap langit-langit, kemudian berusaha memejamkan matanya. "Gue harus gimana? Gue masih sayang dia, tapi disekitar gue banyak yang mati-matian buat bahagiain gue, padahal dia selalu memberikan luka, tapi dengan bodohnya gue selalu terima," gumam Seren pelan.


Azhar menatap tubuh Seren yang terbaring di brankar dengan pandangan sulit diartikan. Ia tidak tau apa maksud dari perkataan yang gadis itu gumamkan.


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan Seren, apa yang ada dalam fikiranmu?"


"SIALAN!" Azhar kaget bukan kepalang saat tiba-tiba Seren mengeluarkan umpatannya.


"Ada apa Seren?"

__ADS_1


"Lupa kalau ada Mas Azhar, malu banget gue," ujar Seren dengan nada dan wajah datarnya, gadis itu membuang muka kearah kanan karena malu.


Bersambung. . .


__ADS_2