
..."Dalam kehidupan, manusia bisa menjalankan peran yang berbeda, antagonis atau protagonis, mereka bebas memilih ingin di benci sebagai antagonis atau di sukai sebagai protagonis."...
..._Hai Mantan!_...
Seren baru saja keluar dari sebuah toko bunga. Gadis itu tersenyum karena berhasil membeli beberapa stok bunga lily kesukannya. Hari ini ia akan mendekorasi ruangan kantornya di Neve Publisher agar lebih nyaman untuk ia bekerja. Seren berjalan kearah parkiran, seperti biasa ia memilih untuk membawa mobil sendiri. Meskipun sebenarnya sang kekasih tadi bersikeras ingin mengantarkannya, tapi Seren menolak, ia ingin sekalian me time katanya, jadi tidak ingin di buntuti.
Tanpa Seren sadari, sebuah mobil hitam sedang mengintainya.
"Halo Boss."
"Kalian jangan sampai gagal, jika gagal kalian akan merasakan akibatnya."
"Baik Boss, target sudah terlihat, kami akan segera bertindak," ujar seorang lelaki dengan pakaian hitam.
Lalu diseberang sana orang yang dipanggil boss itu mematikan teleponnya sepihak.
"Gimana Beng, si Boss ngomong apaan?"
"Tanya teman dari orang yang dipanggil Beng tadi."
"Kita jangan sampai gagal, sekarang mending kita langsung gerak aja. Target udah didepan."
Seren menyimpan bunga-bunga Lily miliknya itu di bagian bagasi mobilnya. Setelah itu dia langsung menutup bagasi. Lalu ia berjalan kearah pintu kemudi, namun sebelum sampai, tanpa aba-aba ia merasakan tengkuknya dipukul hingga ia tidak sadarkan diri.
Orang yang tadi memukul Seren dan juga temannya langsung membawa Seren ke mobil mereka.
"Gimana? Amankan?"
"Aman," balas salah satu dari mereka, lalu kemudian mobil hitam itu melaju meninggalkan area toko bunga tadi.
***
Disisi lain, seorang wanita tertawa bahagia karena sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan. Ia tidak sabar menjalankan kesenangannya.
"Lo emang gila Jen, gue nggak habis pikir kenapa gue bisa punya sepupu sinting kayak lo," geram seorang cowok pada wanita itu.
"Gue memang gila, kenapa!? Lo nggak usah sok suci deh, gue tau kok lo sama gue itu sama, lo juga sebenarnya nggak rela kan kalau Farez sama Seren? Munafik lo!"
Lelaki tadi mengusap wajahnya kasar, ia sendiri bingung harus melakukan apa untuk menyadarkan sepupu perempuannya itu. "Gue mohon Jenissa, lo bisa nggak batalin rencana bodoh lo itu? Lo ikhlaskan aja Farez dan Seren bahagia. Lo itu nggak cinta sama Farez, tapi lo cuma terobsesi Jenissa."
Jenissa menutup telinganya rapat-rapat, ia memejamkan matanya pelan. "NGGAK! GUE BILANG NGGAK YA NGGAK! Lo nggak tau gimana menderitanya gue saat liat Farez dan ****** itu romantis di depan gue, lo nggak tau gimana sakitnya gue ngeliat mereka selalu barengan, dada gue sesak, gue benci, GUE BENCI SEREN!!!"
Lelaki itu hanya bisa menghela nafasnya kasar. Sepertinya memang sudah sulit untuk membujuk Jenissa agar mau berhenti.
"Oke, kalau lo mau ngelakuin rencana lo ini nggak apa-apa. Tapi bisa nggak lo jangan libatin gue? Gue nggak bisa ngelukain dia Jen, gue sayang dia."
Jenissa tertawa terbahak-bahak, kemudian gadis itu mengusap airmatanya. "Nggak, lo harus terlibat, lo harus ikut dalam rencana gue. Lo tau kan kalau sekarang ibu kesayangan lo ada sama gue? Gue bisa aja bunuh ibu lo kalau lo nggak mau nurutin gue."
"JENISSA! LO..."
"Apa? Udahlah, lo nggak perlu banyak protes lebih baik sekarang ikutin aja apa rencana gue. Cukup menikmati aja."
Brakkk
Jenissa dan lelaki tadi terkejut mendengar dobrakan dari pintu gudang tua itu. Terlihat seorang gadis memasuki gudang itu dengan cengiran dan mendekat kearah mereka.
"Lo bisa hati-hati nggak sih!?"
"Maafin gue kak Jen, gue tadi buru-buru."
Jenissa berdecak, "mana barang pesanan gue!?"
Gadis itu langsung menyerahkan benda yang dipesan oleh Jenissa. "Elfina emang adek terbaik."
"Lo gila Jen!? Ngapain lo beli benda ini!? Bahaya."
Jenissa melirik tidak suka kearah sepupu lelakinya itu. "Lo jangan ikut campur, lo cukup jalanin aja perintah gue."
"Tau lo Bang, diem aja deh."
"Elfina, lo kenapa malah ngedukung Jenissa?"
"Suka-suka gue lah, lagian Seren memang pantes ngedapetin ini semua, karena dia juga udah berani bermain-main sama gue."
"Terserah kalian, gue udah capek, tapi kalau ada apa-apa sama kalian, silahkan kalian tanggung sendiri, gue nggak tau lagi gimana nasehatin kalian."
__ADS_1
Jenissa dan Elfina tidak peduli dengan ucapan lelaki itu. Mereka justru sedang asik membayangkan sesuatu menyenangkan yang mereka lakukan nanti.
***
Disisi lain, Farez tampak khawatir, karena dari siang kekasihnya tidak mengangkat telepon darinya.
"Gimana Bang? Kak Seren belum ada kabar?" Gevano, lelaki itu juga tidak kalah khawatirnya. Berulang kali juga ia menghubungi sang kakak namun panggilannya tidak di jawab. Lelaki itu khawatir jika terjadi sesuatu pada kakaknya itu.
Farez menggelengkan kepalanya, berulang kali ia menghembuskan nafasnya. "Apa kita telepon polisi aja Gev."
"Lo udah nelepon kantor kakak lo?"
Gevano menganggukkan kepalanya, "Udah, gue udah telepon ke Zelmirise dan Neve, tapi kak Seren nggak ada disana."
Tiba-tiba saja Vera datang, ibu dari Seren itu terlihat sangat khawatir mendengar putrinya hilang. "Gimana, kalian belum nemuin Seren juga?"
Farez dan Gevano menggelengkan kepalanya dengan lesu. Mereka sendiri bingung apa yang harus mereka lakukan.
Tidak lama setelahnya Cakra dan Azhar juga Galen, Helmi dan Vinaya yang mengekor di belakang mereka.
Wajah mereka sama seperti yang lain, khawatir ketika mendengar kabar jika Seren menghilang.
"Halo." Azhar mengangkat panggilan telepon dari seseorang. Lelaki itu melihat kearah orang-orang yang berada disana.
"Oke, gue dan yang lain langsung kesana sekarang."
"Ada apa Bang?" Tanya Farez penasaran ketika sang kakak sudah menyelesaikan panggilannya.
"Kayaknya Seren di culik, tadi salah seorang teman Abang yang Abang mintai tolong untuk melacak keberadaan Seren menemukan mobil, ponsel, dan tas Seren di depan toko bunga. Mereka juga udah meriksa mobilnya, katanya masih mereka juga nemuin sebelah anting yang diduga milik Seren jatuh di lokasi."
Vera yang mendengar ucapan dari Azhar menjadi panik, begitupula dengan nenek Seren dan Helmi, mereka sudah tidak bisa menahan airmatanya mendengar kabar itu. Sedangkan Farez mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, ia geram karrna kekasihnya menjadi korban penculikan, ia berjanji akan memberikan pelajaran pada penculik yang dengan berani mengulik Seren.
"Tante Vera, Nenek, Helmi, tolong kalian tenang dulu ya, Vinaya sama Gevan tolong jagain mereka. Biar Gue, Javas, Galen, sama Cakra yang datang ke lokasi kejadian, nanti kita juga sekalian nyari Seren," ujar Azhar, lelaki itu harus bertindak cepat. Jujur ia juga masih memiliki perasaan pada Seren, jadi tidak bisa dipungkiri jika Azhar mengkhawatirkan Seren.
Akhirnya mereka berempat berangkat menggunakan mobil milik Azhar dengan Galen yang mengemudikannya.
"Gue janji bakalan ngasi perhitungan ke orang yang udah berani ngulik kakak gue," ujar Cakra menggeram marah.
Farez hanya diam, ia tidak bisa banyak berbicara karena khawatirnya. Ia takut terjadi sesuatu dengan Seren, ia tidak sanggup jika sampai hal buruk dilakukan oleh penculik kepada Seren.
"Gimana Vit?" Azhar menghampiri temannya yang ia mintai tolong untuk membantu melacak Seren. Mereka kebetulan telah sampai di lokasi.
"Gue belum dapat informasi lagi dimana keberadaan Serena, ponselnya bahkan tertinggal di mobil, bagaimana kita bisa ngelacak dia."
Ketika mereka sedang memikirkan cara bagaimana untuk melacak keberadaan Seren, tiba-tiba ponsel Farez berbunyi, lelaki itu mengerutkan keningnya bingung karena pesan masuk yang ia terima.
"Ada apa?" Tanya Cakra pada Farez.
Farez menyerahkan ponselnya pada Cakra, Cakra membelalakkan matanya.
"Ada apa?" Kini giliran Azhar yang bertanya, lelaki itu juga penasaran dengan hal yang diterima adiknya itu.
"Kita dapat petunjuk bang dimana keberadaan kak Seren." Cakra menyerahkan ponselnya Farez pada Azhar, yang kemudian dilihat oleh yang lainnya.
"Kalau gitu kita langsung aja bergerak," ujar Farez tidak sabaran.
Namun usaha lelaki itu dihentikan oleh Galen, "Jangan gegabah, kita harus nyusun strategi supaya usaha kita nggak sia-sia."
"Benar apa yang di katakan Galen, gimana Vit? Lo siap bantuin kita?"
"Gue dan tim siap bantuin kalian," ujar Vito, lelaki yang merupakan seorang detektif dari salah satu kepolisian yang cukup berpengaruh.
***
"BANGUN!!!" Suara tamparan menggema diruangan itu seorang gadis yang duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat juga mulut yang di lakban terbangun dari pingsannya.
Ia merasakan sakit disekujur tubuh akibat pukulan juga tamparan yang baru saja ia dapat.
Byurrr
Siraman air membuat pakaian yang ia kenakan basah kuyup, perlahan pandangannya terbuka. Matanya melebar melihat tiga orang yang berada di hadapannya itu.
"Kenapa? Lo kaget ngeliat kita? Lo mau ngomong? Iya?"
Seren, gadis yang sedang di sandera itu menggelengkan kepalanya tidak percaya.
__ADS_1
Srettt
Lakban hitam yang menutup mulut gadis itu dilepas dengan paksa. Seren meringis, sakit rasanya seperti kulitnya ditarik paksa.
"Cuihh, KALIAN APA-APAAN SIH!?" Geram Seren, bahkan Dimata gadis itu sama sekali tidak menyiratkan ketakutan.
Jenissa, perempuan yang tadi menarik lakban dari mulut Seren tertawa kencang seperti orang kesetanan, kemudian disusul oleh Elfina, gadis itu juga ikut tertawa, sedangkan lelaki yang berada di belakang mereka itu hanya memasang wajah datarnya.
"SALAH GUE APA SAMPAI KAOIAN BERTINDAH SEPENGECUT INI ANJING!!!" Bentak Seren karena sudah tidak bisa menahan emosinya. Bahkan orang tuanya saja tidak oernah memperlakukannya seperti ini, tapi dengan seenaknya mereka berbuat hal menjijikkan itu.
"Salah lo!? Lo bego atau pura-pura bego? Lo itu udah ngerebut Farez dari gue ******! Sekarang lo masih nanya salah lo apa!?"
Plak
Tamparan kembali mendarat di pipi kiri Seren, setalah ia merasakan tamparan dipipi kanannya.
Seren hanya bisa menahan pedih dipimpinnya, ia bersumpah dalam hati jika ia bisa selamat maka akan membalas semua yang telah dilakukan mereka padanya.
"Elfina, gue mohon tolongin gue, gue mohon lepasin gue ya?"mohon Seren, ia berharap orang yang pernah menjadi mantan kekasih adiknya itu bisa berbaik hati menolongnya.
"Elfina, lo dengar nggak apa yang ****** ini bilang. Tolongin gih," ucap Jenissa seolah mengejek.
Elfina berdecih pelan, kemudian ia mendekat kearah Seren. Gadis itu langsung menarik dagu Seren, ia mencengkramnya dengan kuat. "Jangan mimpi!" Desisnya sambil menghempaskan cengkramannya.
"Elfina, salah gue apa sama lo, kenapa lo ngelakuin ini? Lo bahkan pernah jadi pacar Cakra kan?"
"Justru karena gue pernah jadi pacar Cakra makanya gue membenci lo, gara-gara lo gue harus ngorbanin kebahagiaan gue, gara-gara lo gue harus terpaksa mencintai orang yang nggak gue cinta, lo adalah orang terjahat yang oernah gue temui, gue benci banget sama lo, gue mau lo mati aja." Elfina langsung menampar pipi kanan Seren sekuat tenaganya hingga sudut bibir gadi itu berdarah.
"Stop, kalian benar-benar keterlaluan, gue udah bilang jangan sampai nyakitin dia."
"Cih, lo nggak boleh ngelarang kita. Jangan mentang-mentang lo cinta sama dia terus lo ngelarang-ngelarang kita. Masih syukur logue suruh buat melihat kita nyiksa dia, bukan gue suruh buat nyiksa dia."
"Jenissa, Elfina gue mohon, hentikan kegilaan kalian, ini demi kebaikan kalian sendiri. Apa yang kalian lakukan sudah diluar batas."
"Nggak.akan.pernah!" Tekan Jenissa disetiap kalimatnya.
"Elfina, mana barang yang tadi?"
Elfina langsung mengeluarkan barang yanh diminta oleh Jenissa. Jenissa menerimanya dengan senang hati, perempuan itu tertawa licik.
"APA YANG MAU LO LAKUIN JENISSA!?" Bentak lelaki yang sedari tadi ada diantara mereka.
"Tentu saja gue mau membunuh ****** ini," ujar Jenissa dengan nada santainya.
Seren menggelengkan kepalanya, airmatanya menetes dengan deras. Entahlah, tiba-tiba saja ia merasa sangat takut. Bahkan semua bayangan kenangannya dengan orang-orang yang ia sayang berputar dikepalanya.
"Tolong jangan lakuin itu Jen, gue mohon."
Jenissa memandang Seren remeh, "memohonlah sepuasnya, tapi gue nggak akan peduli."
"Please Jen, mending lo bunuh gue jangan dia, gue mohon."
"NGGAK! Elfina, lo ada dipihak gue kan?"
"Tentu aja kak, gue ada dipihak lo."
"Elfina, gue sebagai Abang kandung lo nggak akan membiarkan lie berbuat jahat, gue mohon jangan."
"Gue nggak peduli, bagi gue orang jahat akan selalu menang, sedangkan orang baik akan selalu ditindas, jadi gue memutuskan untuk menjadi jahat."
"Udah jangan ribut lagi, lebih baik langsung kita akhiri semuanya." Senyuman manis namun mengerikan ditampakkan oleh Jenissa.
Perempuan itu mengarahkan beda tadi pada Seren, "Satu..."
"Dua..."
"Ti...ga."
BRAKK
DORR
"GIANTRA!!!"
Bersambung. . .
__ADS_1