HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 23. Your Hug


__ADS_3

..."Rasa yang masih sama tentu saja pertanda jika kisah yang ada belum berakhir."...


..._Hai Mantan!_...


Setelah Seren dan Helmi yang kepergok mengawasi villa tempat dimana Jenissa dan juga anak-anak yang lain menginap, akhirnya sepasang sahabat itu mau tidak mau harus siap jika liburan mereka tidak akan tenang. Seperti sekarang, Seren sedang makan disalah satu warung pecel lele dengan perasaan dongkol. Udah jauh-jauh liburan buat menghilangkan pikiran negatif dari otaknya, eh sekarang malah semakin banyak aura-aura negatif di sekitar.


"Lo ngapain sih liburan di sini juga!? Lo sengaja ya ngikutin kita, terutama gue sama Farez!?" Jenissa yang sialnya duduk di hadapan Seren tanpa aba-aba melempar potongan timun ke arah Seren. Helmi yang di samping Seren gedek sendiri pengen balas kelakuan Jenissa. Sedangkan Seren, ia hanya memandang datar wanita itu, kalau di ladeni yang ada dia gila.


"Lo apaan sih Jen, Seren nggak salah apa-apa lo tuduh gitu!?" Farez yang tidak rela jika Jenissa memperlakukan Seren seperti itu akhirnya berbicara.


"Kamu nggak apa-apa kan Seren?" Perhatian Farez teralihkan kepada Seren, nada bicara lelaki itu melembut.


Jenissa yang melihat itu geram sendiri, "Kamu yang apa-apaan, kenapa pakai peduli sama nih cewek!? Dia kan udah ninggalin kamu Farez, sadar."


Seren yang mendengar itu jengah sendiri, kemudian ia langsung beranjak dari sana. Ia malas berhadapan dengan mulut Jenissa yang memang nggak pernah disekolahin, kesannya kayak Seren yang paling salah.


"Tunggu ya, mulut lo emang minta di cabein. Nggak tau diri banget jadi cewek, mendingan lo tanya ke diri sendiri penyebab Seren pergi, jangan nyalahin dia, karena semuanya gara-gara lo dan Farez. Mikir pakek otak, bodoh!" Helmia yang kesal akhirnya ikut menyusul Seren. Tidak lupa ia meninggalkan uang seratus ribuan di meja.


Farez diam, ia seperti tertohok mendengar apa yang dikatakan oleh Helmi. Setelah beberapa waktu saat itu, sampai hari ini ia belum menemukan jawaban kenapa Seren meninggalkannya. Tapi dari apa yang Helmi ucapkan, ia jadi sedikit curiga, mungkin ia harus berusaha lebih keras lagi agar mendapatkan jawaban tepat, sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman antara ia dan Seren. Jujur, sampai hari ini Farez masih sangat mencintai Seren.


"Bahkan aku tidak menemukan wanita sesabar dan sebaik kamu Seren."


"Farez, lo nggak apa-apa kan?" Farzan menatap sahabatnya itu prihatin, Farez menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum.


"Semua gara-gara Seren!" Geram Jenissa kesal, Vinaya mengusap punggung Jenissa pelan, Galen hanya diam, Farzan menatap sinis Jenissa. Jujur dari dulu sampai sekarang Farzan tidak pernah menyukai sikap Jenissa. Farez, lelaki itu akhirnya memilih untuk beranjak dari sana.


"Lo disini aja, jangan ganggu Farez dulu! Lo itu cuma benalu di hidup Farez, jadi mending sadar diri!" Ucap Farzan tiba-tiba ketika Jenissa ingin mengejar Farez. Jenissa menghentakkan kakinya kesal, ia menatap Farzan sinis, tapi lelaki itu tidak peduli, justru ia malah kembali memakan gorengan yang ada di meja.


...***...

__ADS_1


Seren menarik nafasnya pelan, ia menatap kebawah di mana air sungai mengalir dengan tenang. Gadis itu sekarang berada di atas jembatan kayu. Sebenarnya tempat ini adalah tempat yang pas untuk membuang penatnya, tapi sayang, harus bertemu dengan orang-orang seperti Jenissa membuat otaknya kembali bekerja keras.


"Halo."


"Gue mau nyusulin lo kesana ya? Kebetulan pekerjaan gue udah selesai, jadi bisalah liburan sebentar."


Seren mendengus kesal, apa lagi ini, orang yang menelponnya itu adalah Giantra, sepertinya hidup Seren memang tidak akan pernah bisa jauh-jauh dari mereka.


"Serah loe. Sama siapa kesini?" Balas Seren pada akhirnya.


"Sama Gevan, adek lo maksa buat ikut."


"Yaudah, hati-hati lo berdua. Nanti kabarin aja kalau udah sampai."


Setelah jawaban dari orang di seberang sana yang mengiyakan, akhirnya Seren mematikan panggilan teleponnya. Seren sudah pasrah jika liburannya kali ini berantakan, daripada moodnya makin hancur lebih baik ketika Giantra ingin menyusul dia mengiyakan saja, supaya ia dan Helmi punya tim, supaya mulut Giantra berguna di sini.


"SEREN!!"


"Farez?" Gumamnya ketika melihat lelaki itu berjalan mendekat.


"EH AWAS LO KESINI, GUE LEMPAR PAKAI BATU INI!" Seren menunjukkan batu yang baru saja ia ambil di tepi jembatan.


Farez tersenyum, ia tidak menghiraukan teriakan Seren. Lelaki itu tetap mendekat kearah Seren. Seren yang melihat itu reflek mundur.


"Kamu kenapa kayak takut?"


Seren tersenyum sinis, "si--siapa yang lo maksud takut! Ngarang lo!"


Farez menggelengkan kepalanya melihat tingkah Seren yang menurutnya menggemaskan. "Kamu tenang aja, aku cuma mau bicara sama kamu."

__ADS_1


Lelaki itu akhirnya berdiri di tepi jembatan, ia memandang kearah air sungai di bawah sana.


"Kamu tau nggak kal_"


"Nggak, gue nggak mau tau."


Farez terdiam ketika ucapannya di potong oleh Seren, lelaki itu menoleh kesamping, menatap wajah Seren yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah, bukan tidak berubah, tapi lebih ke semakin cantik meskipun masih jutek seperti dulu.


"Apa!? Yaudah lanjut aja mau ngomong apa," kesal Seren yang sebenarnya lebih ke gengsi. Soalnya ketika bersama Farez jantungnya tidak pernah berdetak dengan normal, selalu saja berdetak lebih cepat dari biasanya. Jadi ia kesal, sehingga bawaannya ingin marah-marah saja untuk menutupi semuanya.


"Aku sampai hari ini masih bingung kenapa dulu kamu ninggalin aku tiba-tiba. Kenapa saat itu ketika acara perpisahan saat malam kamu nggak hadir, padahal aku nunggu kamu."


Seren berdecih, ini Farez yang emang sok suci dengan cara pura-pura lupa atau ang sengaja lupa. "Cih, ada apa lo nanya gitu!? Bukannya lo sendiri ya yang menyebabkan gue pergi secara tiba-tiba. Lo tau gimana sakitnya gue? Lo tau gimana gue harus terluka ketika lo lebih perhatian sama orang lain daripada gue yang notabenenya pacar lo saat itu. Mikir!"


Farez terdiam melihat mata Seren yang berkaca-kaca, seketika semua kenangannya dan Seren berputar di kepalanya. Kenangan yang tanpa sadar selalu menyakiti Seren, maksud Farez dulu bukan seperti itu. Ia hanya bisa memasang topeng ketika berada di depan orang banyak, ia harus bersifat baik kepada semua orang, namun sebenarnya Farez merasa tertekan, lelaki itu memiliki banyak hal yang ia rahasiakan dari orang banyak, hanya Seren satu-satunya orang tempatnya pulang ketika ada masalah.


Tanpa aba-aba Farez langsung memeluk Seren, lelaki itu merindukan Seren, ia membiarkan Serennya menangis di pelukannya. Rasanya sekarang Farez tidak ingin lagi kehilangan Seren, tapi Farez sadar, jika ia harus menyelesaikan semuanya, harus meluruskan semuanya, agar Seren bisa kembali dalam pelukannya.


"Lepasin gue!" Ujar Seren tiba-tiba, gadis itu menghapus airmatanya. Malu, ngapain juga dia mau-maunya di peluk sama mantan.


"Aduh, kenapa gue mau sih dipeluk sama mantan. Tapi ya gimana, pelukan ternyaman masih jatuh kepada dia," batin Seren, meskipun wajah gadis itu sangat-sangat kesal, namun hatinya bahagia.


"Modus lo! Udah ah, gue mau balik ke villa aja." Seren melangkahkan kakinya tanpa menoleh sedikitpun kebelakang, gadis itu terlanjur malu.


Sedangkan Farez sudah tertawa melihat gadisnya itu, ia tau jika Seren sekarang sedang dalam keadaan malu. 3 tahun kebersamaan mereka tentu saja membuat Farez hafal betul bagaimana sifat Seren, gadis itu akan marah atau mengomel jika merasa malu.


"Nggak pernah berubah, marah terus hobinya," gumam Farez gemas.


"Seren, aku pasti bakalan nyelesain semuanya, aku bakalan buat hubungan kita kembali kayak dulu. Meskipun aku tau kalau semakin banyak rintangan yang bakalan kita hadapi. Maafin aku karena dulu masih kekanak-kanakan, maafin aku karena kamu harus sabar banget menghadapi sikap aku dulu yang berubah-ubah. Maaf kalau aku selalu plin plan dan tanpa sadar bikin kamu nangis."

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2