HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 35. Farez vs Giantra


__ADS_3

..."Untuk mendamaikan dua orang yang tidak sejalan memang bukan perkara mudah, tapi ketika sudah sejalan maka akan sulit dipisahkan."...


..._Hai Mantan!_...


Udara kota Yogyakarta saat itu sedikit panas, matahari mulai terik. Padahal sekarang jam baru menunjukkan pukul setengah 9 pagi.


Ketiga orang anak manusia itu sedang berada di sebuah Kafe yang terletak tidak jauh dari taman komplek. Seren, Farez dan Giantra, sedang berada di satu meja yang sama. Seren berada di tengah kedua lelaki itu. Wajah keduanya tampak tidak bersahabat, Farez yang dari tadi memasang tatapan tajam serta Giantra yang hanya memasang wajah datarnya.


Seren tampak jengah, kedua lelaki itu memang harus di damaikan. "Udah puas berantemnya!?" Galak gadis itu menatap nyalang pada kedua lelaki yang masih bertahan dengan keterdiaman mereka.


"Kalian kenapa diem aja sih!? Gue lagi bicara sama manusia bukan patung!"


Ketika Farez akan menjawab, seren langsung memelototkan matanya tajam. "Apa!? Kamu mulai mau nyalahin Giantra lagi!? Iya!?"


Farez hanya bisa beristighfar dalam hati, kekasihnya itu benar-benar seperti jelmaan macan yang sangat galak. Apa Seren sedang PMS ya, pikirnya.


"Kalian berdua kenapa sih setiap ketemu ribut mulu!? Liat nih muka kalian makin jelek gara-gara gontok-gontokan tadi," omel gadis itu sambil menunjuk wajah Giantra dan juga Farez yang memang penuh biru-biru akibat saling pukul di taman tadi.


Giantra menghembuskan nafasnya pelan, kalau dia menjawab pun pasti akan percuma, Seren tidak akan pernah mau mendengarkan jika ia belum puas mengomel.


Jadilah sekarang Giantra maupun Farez hanya menunggu Seren berbicara, keduanya hanya menurut saja, mendengarkan seperti anak ayam yang takut pada induknya.


"Udah sayang?"


Seren menatap tajam Farez kemudian ia membuang napasnya kasar. "Udah, capek juga ternyata. Minum ah, es teh emang the best."


Farez dan Giantra hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Tadi gadis itu marah-marah, sekarang justru dengan santainya minum es teh seperti yang tidak ada masalah.


"Lega."

__ADS_1


Hening, hanya suara-suara dari pengunjung lain yang terdengar. Sampai akhirnya Giantra berdehem, hal itu tentu saja membuat Seren dan Farez menatapnya.


Sepasang kekasih itu menatapnya bingung, "ada apa?" Tanya Seren kemudian.


"Kalian bikin gue jadi obat nyamuk." Kalimat itu, singkat, namun langsung menusuk.


Seren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Farez hanya berdecak pelan.


"Mending lo balik aja, ganggu tau nggak."


Seren mencubit pelan lengan Farez hal itu tentu saja membuat lelaki itu meringis pelan. "Kok nyubit Sayang?"


"Mampus, makanya kamu tuh minta maaf sana sama Giantra," suruhnya.


Farez tidak menjawab apapun, lagipula mana mungkin seorang Farezta Javas Ganendra mau meminta maaf. Pun yang ia lakukan bukanlah sebuah kesalahan. Wajar bukan jika seorang cowok memukul cowok lain yang memeluk ceweknya.


Farez masih tidak ingin bergerak, ia justru meminum kopi hitam yang berada di cangkirnya. Giantra tersenyum, lelaki itu secara tiba-tiba langsung mengulurkan tangannya.


"Maafin gue," ujarnya.


Seren hanya memandang interaksi keduanya, Farez menatap datar uluran tangan itu, ia sama sekali tidak berniat membalas. Namun Seren tidak akan tinggal diam, gadis yang sekarang, bukan, maksudnya dari dulu berstatus sebagai pacar Farez itu menyenggol lengan Farez.


Farez menatap tidak suka, namun pada akhirnya ia melakukan hal itu. Menyambut uluran tangan dari Rivalnya dalam urusan percintaan. "Gue bakalan maafin lo, tapi kasi alasan yang jelas."


Giantra tidak keberatan, ia menganggukkan kepalanya. Lagipun ia memang ingin menyelesaikan semua masalahnya, ia ingin ketika nanti ia tidak disini lagi, semua orang mau memaafkan setiap kesalahannya, entah besar ataupun kecil.


"Gue tadi meluk Seren karena gue mau menyerah buat mendapatkan cintanya dia, gue sadar kalau sampai kapanpun lo yang bakalan jadi orang nomor satu dihatinya, lo nggak pernah hilang dari pikirannya, dan lo adalah orang yang dia cintai dengan tulus. Tadi itu seperti sebuah salam perpisahan, pelukan terakhir mungkin," gumam Giantra diakhir kalimat.


Farez masih diam, ia ingin mendengarkan kelanjutan dari hal yang Giantra ingin jelaskan.

__ADS_1


"Farez, sekarang saatnya lo yang harus menjaga Seren dengan baik. Jangan sakiti dia lagi, jangan cuek sama dia, karena cewek lo ini orangnya manja, sukanya diperhatiin, nggak suka kalau nggak di peduliin, nggak suka kalau diabaikan, pokoknya dia itu cengeng, gampang nangis, hal kecil aja ditangisin,"ucap Giantra lagi sambil terkekeh pelan. Seren juga yang ada disana ikut terkekeh meskipun ia sudah menangis mendengar ucapan dari Giantra.


"Oh ya, dia juga ternyata cemburuan, dia nggak suka kalau orang terdekatnya perhatian ke orang lain. Dia nggak suka kalau ada orang lain yang deket-deket sama orang yang dia sayang, jadi gue harap loe ngerti. Seren emang sedikit posesif, tapi percaya atau nggak semuanya karena dia terlalu sayang, bukan maksud mengekang." Lanjut Giantra lagi.


Farez diam, ia mencerna ucapan yang dikatakan Giantra, ia memang harus banyak mengetahui tentang gadis itu, selama ini ternyata Farez banyak tidak mengetahui tentang Seren. Dulu Seren selalu mengatakan tidak apa-apa setiap saat, selalu terlihat baik-baik saja, meskipun Seren berbicara banyak Farez sering merespon seadanya.


"Lo tau nggak, kalau Serena Neve Zelmira ini pernah nangis semalaman saking rindunya pengen ketemu sama lo, tapi dia harus menahan gara-gara nggak mau bikin lo terganggu karena lo sibuk, dulu. Dia juga menghabiskan waktu-waktu malamnya setiap hari dengan nangis karena sering inget hal yang lo lakuin ke dia, dia ngerasa kalau selama ini loe nggak pernah anggap dia jadi pacar lo, bahkan dulu hubungan kalian sempat backstreet kan?"


Farez menganggukkan kepalanya, ia kemudian melirik kearah Seren dengan wajah merasa bersalah, ternyata selama ini banyak hal yang ia lakukan tanpa sengaja melukai hati gadis itu, gadis yang ia cintai.


"Nah, dia juga dulu pengen bilang langsung sama lo, dia pengen nanyain apa dia ini cuma beban buat lo, aib yang bikin malu sampai loe nggak mau ngakuin dia? Lo tau gimana terlukanya Seren saat itu? Saat dia harus pura-pura baik-baik aja ketika lo berinteraksi dengan banyak cewek di depan dia, padahal posisinya dia itu merupakan pacar lo, seringkali dia nangis ketika nginget semuanya, dia overthinking malam-malam sampai demam hanya karena lo, dia sesayang itu sama lo Farez. Ketika kalian udah nggak sama-sama pun dia masih sering mikirin lo, nangis lagi, overthinking lagi sampai sering minta gue buat beliin Paramex, katanya biar dia nggak pusing setiap abis nangis." Giantra sudah tidak peduli dengan semuanya, ia ingin mengungkapkan semuanya agar Farez tidak mengulangi kesalahan fatal yang sama.


"Gian..."


Giantra mengangkat tangannya pertanda stop, ia masih ingin bicara, ia tidak akan membiarkan Seren terluka lagi, apalagi nanti ia harus pergi dan tidak bisa mendampingi Seren lagi.


"Seren, biar gue aja yang bicara, ini demi kebaikan lo, gue nggak mau denger lo nangis atau sakit cuma gara-gara Farez. Sekarang biarkan dia mikir, biarkan Farez yang gantian bikin lo bahagia, udah cukup semua hal yang lo korbanin dulu."


Farez masih diam, pikiran lelaki itu mencerna perlahan setiap ucapan yang masuk ke telinganya. Ia sadar bahwa memang ia adalah seseorang yang sangat egois, seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan bagaimana orang yang tulus padanya.


"Gue tau sekarang lo udah dewasa, gue harap lo nggak akan jadi orang yang labil kayak dulu. Gue memang belum mengenal lo dengan baik, tapi melihat Seren selalu antusias setiap nyeritain tentang lo dihadapan gue, gue percaya kalau lo adalah laki-laki yang baik buat dia, gue harap lo bisa menjaga Seren dengan baik, karena cewek kayak Seren itu jarang, dia unik, dia nggak pernah nuntut banyak dari lo, dia bahkan cukup bahagia asal loe meluangkan waktunya buat dia kan?"


Farez menganggukkan kepalanya, kemudian menatap kearah Seren yang sedang menundukkan kepalanya. Gadis itu tidak bisa menahan sesak di dadanya, dari awal mendengar semua yang Giantra ucapkan membuat fikirannya melayang pada kejadian masalalu, menyakitkan meski tidak semua.


"Maafin aku, maaf, maaf, maaf untuk semuanya, maaf karena aku sering pura-pura tidak peka, aku salah, aku menyesal, Seren. Maaf karena aku nggak pernah tau kalau kamu seterluka itu," lirih Farez.


Giantra menatap keduanya, ia menghembuskan nafasnya pelan. "Gue selalu berdoa buat kebahagiaan kalian, gue ikhlas Seren sama lo asal jangan sekalipun lo nyakitin dia lagi. Gue nggak akan ngebiarin hal itu terjadi lagi, kalau bukan gue yang ngerebut Seren dari lo ketika lo nyakitin dia lagi, maka akan ada laki-laki lainnya yang lebih baik dari kita. Gue harap lo bisa menjaga dia dengan baik, Farez. Lo beruntung karena mendapatkan kesempatan kedua, karena bahkan gue belum mendapat kesempatan apapun tapi udah harus menyerah," ujar Giantra miris.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2