
..."Kadang kita meminta hal kecil yang tidak ingin orang lain lakukan untuk kita, meskipun sebenarnya tidak susah. Mau bagaimana lagi, kita bukan hal penting dalam hidupnya, jadi mau tidak mau harus terima."...
..._Hai Mantan!_...
Setelah kepulangannya dari rumah sakit kemarin. Seren akhirnya harus menghabiskan waktunya untuk berdiam diri dirumah selama 3 hari kedepan, dan hal itu merupakan hal yang paling ia benci. Gabut, males kalau kerjaannya cuma rebahan aja sepanjang hari. Berulang kali nafas gadis itu ia hembuskan.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka, disana sang sahabat, Helmi datang menghampirinya dengan nampan yang berisi bubur ayam juga segelas air putih hangat.
"Ngapain lo kesini!?" Kesalnya ketika melihat Helmi.
Helmi memutar bola matanya malas, sahabatnya ini memang benar-benar menyebalkan, bisa-bisanya di samperin marah-marah.
"Gue bete banget Hel, kesel gue rebahan mulu."
"Makanya jangan bandel lo jadi orang, kayak apa aja pakai sakit segala."
"Bangsat emang lo ya!? Mending nggak usah kesini lo kalau ngomelin gue." Seren melipat tangannya didepan dada, sambil mengalihkan pandangannya kearah balkon kamarnya.
"Nggak pantes banget lo, gitu aja ngambekan," ejek Helmi sambil menoyor kepala Seren.
"Apaan sih, makin pusing nih gue lo toyor."
"Alesan aja, makan Sono, nih gue beliin bubur ayam kesukaan lo."
Seren langsung merubah posisi tubuhnya menjadi duduk. "Gue nggak minat makan, mama gue kok lama ya nggak balik-balik."
"Cari bokap baru kalik buat loe."
"Sialan! Nggak akan gue izinin." Seren mengambil bubur ayam diatas meja, lalu ia perlahan mulai memakan buburnya.
__ADS_1
"Tadi katanya nggak minat makan," gumam Helmi pelan ketika Seren akhirnya memakan bubur ayam yang ia beli.
Seren mengacuhkan saja, gadis itu melanjutkan makannya.
Seren memang cukup menyukai bubur ayam, padahal dulu ketika sekolah ia tidak pernah suka. "Gevan sama Cakra mana? Nenek gue juga?"
"Nenek lo kan pergi sama nyokap lo. Sedang adek-adek lo, Cakra masih diluar kota, Gevan ngantor." Seren hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Helmi?"
"Ada apa?"
Seren meletakkan mangkuk buburnya, kemudian ia meminum airputih hangatnya. "Menurut lo kalau ada cowok yang nanya boleh nggak dia suka sama gue, apa yang harus gue tanggapin?"
Helmi diam sejenak, gadis itu kemudian menatap kearah Seren. "Siapa yang suka sama sahabat gue ini sih? Giantra ya yang lo maksud."
Seren menggelengkan kepalanya pelan, "bukan."
Pikiran Seren menerawang jauh mendengar ucapan Helmi, gadis itu bimbang, ia sebenarnya memang tidak bisa melarang siapapun menyukainya, itu hak mereka, tapi disini masalahnya ini ada kaitannya dengan persaudaraan. Seren masih mencintai orang yang sekarang ia anggap mantan, tapi Abang dari mantannya menyukainya. Rumit sekali oh jala percintaan Seren.
"Gue tau, tapi gue merasa rumit aja kalau ngebiarin dia menyukai gue. Apalagi kalau dia udah ditahap cinta."
Helmi menepuk pundak temannya itu, "jalanin aja dulu, makanya jadi cewek kok sifatnya humble banget, jadinya lo sendiri yang repot."
Ingin rasanya Seren menendang Helmi saking kesalnya, sahabat lagi kesusahan bukannya ditolong, tapi dikatain.
"Gue mau nanya lagi sama lo."
Helmi kembali menoleh kearah Seren seolah menunggu apa yang akan Seren katakan selanjutnya.
"Bukan mau nanya sih, gue mau curhat aja, jadi gue dulu nerima buat jadi pacarnya Farez karena gue merasa dia beda, dia peduli sama gue, dia perhatian, dan gue emang sayang sama dia. Tapi semakin lama, semakin gue menunjukkan betapa sayangnya gue sama dia, lama kelamaan semuanya berubah, dia udah jarang perhatian sama gue, dia seolah-olah nggak peduli, gue sakit sendiri, kesannya kayak gue yang terlalu mengharapkan dia, kayak cuma gue yang membutuhkan dia, sedangkan dia santai aja, dia statusnya emang pacar gue, tapi gue ngerasa hatinya udah beda. Dia seolah berpikir gue nggak akan kemana-mana meskipun dia mengabaikan gue, gue akan bertahan meskipun dia nggak peduli, ya karena dia tau kalau gue udah sesayang itu sama dia. Disitu gue sadar, kalau ternyata seharusnya gue nggak perlu nunjukin hal apapun, gue seharusnya bersikap biasa aja biar dia masih perhatian, biar dia tetap peduli sama gue, agar gue nggak menahan luka. Dia seberpengaruh itu di hidup gue Hel."
__ADS_1
Tanpa Seren sadari, airmatanya menetes, 4 tahun berlalu sama sekali tidak berefek apapun pada hatinya, mau sejauh apapun ia pergi hatinya dan otaknya masih tentang Farez, tidak ada yang berubah sedikitpun.
Helmi hanya bisa mengusap punggung sahabatnya itu, ia tau betapa rapuhnya seorang Seren.
"Lo tau Hel?"
"Apa?"
"Gue pengen banget rasanya nemu sesuatu yang bisa ngabulin satu permintaan gue. Supaya gue dan Farez selalu baik-baik aja, gue pengen banget minta agar saat itu perhatian dia tidak akan pernah menghilang, gue rindu."
Seren mengusap airmatanya, lalu kembali menatap Helmi. "Tapi sayang, permintaan gue itu udah berlalu, semuanya udah berubah semenjak Farez dan gue nggak baik-baik aja," Lanjutnya.
Helmi menggenggam tangan sahabatnya itu, "nggak ada yang terlambat di dunia ini, semua bisa kembali asal lo mau berusaha. Lo cinta dia maka perbaiki semuanya. Jangan gengsi."
Seren tertawa hambar, "Gue nggak mau, siapa yang nyuruh dia menyia-nyiakan gue. Sekarang nyesek sendiri kan, jijik gue inget semua hal yang dia ketik di pesan Whatsapp dulu, bulshit semua. Sekarang gue udah dewasa, gue nggak butuh ketikan lewat tangannya dia, gue butuhnya bukti nyata. Jadi siapapun itu, gue lebih butuh ke bukti bukan janji apalagi janji yang di ketik di pesan Whatsapp."
Helmi tertawa mendengar Seren yang mencak-mencak karena emosi. "Gue kadang heran, lo sakit beneran atau cuma akting sih?"
"Huh, kepala gue pusing lagi kan, yaudah deh gue mau tidur lagi aja. Sana Lo balik aja, ganggu!" Seren kembali membaringkan tubuhnya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh dari kaki hingga kepala.
Helmi sendiri tidak habis pikir, kenapa ia memiliki sahabat tidak tau diri seperti Seren. Udah di samperin, dikasi makan, mana pakek curhat segala, eh sekarang dengan seenaknya ngusir.
"Gue balik deh kalau gitu. Jaga kesehatan lo, gue denger katanya darah rendah kalau sama magh itu jadi satu bisa menyebabkan kematian. Gue nggak mau lo mati cepet." Setelahnya, Helmi benar-benar meninggalkan kamar Seren.
Seren yang sudah tidak lagi mendengar suara Helmi langsung membuka selimutnya. "Gue juga berharap gue panjang umur, tapi dari dulu banyak hal yang menjadi alasan kuat buat gue mati cepet aja. Meskipun akhirnya gue bisa bertahan sejauh ini," ujar Seren sambil menatap pintu kamarnya yang tertutup.
Helmi yang berada diluar kamar Seren menangis tergugu, gadis itu masih bisa mendengar ucapan Seren didalam kamar, karena memang kamar Seren tidak kedap suara.
"Gue sayang loe Seren, loe sahabat terbaik gue. Gue tau loe kuat dengan semua masalah yang selama ini datang, buktinya bisa kembali disini sekarang, buktinya loe masih bisa tersenyum sama gue sekarang. Tetap semangat Seren." Batin Helmi, ia meninggalkan pintu kamar Seren untuk pulang dengan wajah sedihnya.
Bersambung. . .
__ADS_1