HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 31. Seren's Memory, Azhar, Farez


__ADS_3

..."Jika waktu bisa dengan mudah di kembalikan, mungkin tidak akan ada ingatan buruk yang tersimpan."...


..._Hai Mantan!_...


Seren sebenarnya merasa tidak nyaman berada di ruangan itu, wajahnya masih pucat. Ternyata kejadian semalam membuatnya demam tinggi, sehingga mau tidak mau ia harus menginap di rumah mantannya dan dikamar milik Azhar, kakak dari mantannya. Ia menoleh ke samping kanannya, terlihat Farez yang menunggunya disana, sedangkan di samping kanannya Azhar, lelaki itu tertidur di sebuah kursi dengan menelungkup wajahnya pada meja. Pandangan Seren terfokus kembali kepada mantannya, rasa ingin mengelus rambut Farez begitu besar, namun ia urungkan. Lelaki itu tertidur dengan menelungkupkan wajahnya di tempat tidur, sedangkan ia duduk di lantai.


Menghela nafas perlahan, Seren menatap langit-langit kamar Azhar, tubuhnya benar-benar masih lemah, ia memejamkan matanya. Ingatan-ingatan dulu ketika ia masih bersama Farez kembali datang. Dulu, lelaki itu bahkan tidak pernah menungguinya ketika sakit. Jangankan untuk menungguinya, bertemu saja keduanya sangat sulit meskipun tinggal di kota yang sama. Bahkan pernah suatu hari lelaki itu datang untuk bertemu dengannya, dan itu juga Seren yang merindukan, jika Seren tidak mengatakan mungkin Farez tidak akan pernah menemuinya, bukan bahkan seringkali Seren menangis semalaman karena ingin bertemu dengan Farez tapi lelaki justru mengatakan tidak bisa, ia terlalu sibuk. Tapi hari itu entah kenapa Farez mau menemuinya, meskipun harus datang terlambat.


Flashback On


"Seren." Gadis itu menoleh ketika panggilan singkat dari seseorang dibelakangnya ternyata bukanlah suara yang asing baginya.


Seren mengerutkan keningnya heran ketika orang itu berjalan menuju kearahnya. "Maaf aku terlambat, maaf aku nggak bisa menemui kamu terus." Satu kata itu, Seren terpaku, diam, lalu kemudian terkekeh.


"Nggak masalah, lupain aja. Jangan minta maaf kalau terpaksa, Ujarnya, kemudian berbalik dan beranjak dari hadapan orang itu.


"Seren, Aku..."


Seren menghentikan langkahnya, ia teringat sesuatu, kemudian ia kembali berbalik. "Farez, terimakasih untuk sudah meminta maaf. Oh ya, kalau kamu sudah berubah haluan bilang aja, biar aku bisa bersiap-siap, jadi aku sakitnya sekarang aja, kalau sakitnya masih nanti, aku takut. Takut banget kalau ternyata aku udah nggak bisa buat ngobatinnya."


Farez, lelaki itu terdiam, matanya menatap Sendu. "Seren, aku nggak pernah berubah haluan kemanapun. Aku masih tetap berada ditempat yang sama."


Seren tersenyum, "siapa tau, aku hanya menduga, karena aku nggak pernah tau isi hati orang lain, nggak ada salahnya kan? Kamu lebih banyak tau tentang orang lain, bahkan yang baru kamu kenal, tapi kamu sering lupa tentang aku." Seren memutar kembali tubuhnya, beranjak dari sana, kali ini benar-benar beranjak meninggalkan Farez seorang diri.


"Maaf untuk tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan.,"batin Seren ketika telah jauh meninggalkan Farez yang masih diam di tempatnya.


Ia menatap tubuh Seren yang telah menjauh, ia mengakui jika memang ia bersalah, ia bertingkah cuek dan tidak peduli pada Seren, tanpa tau jika Seren begitu terluka. Padahal kemarin Seren sedang sakit, namun ketika Seren menghubunginya sambil menangis-nangis Farez sama sekali tidak peduli, ia lebih memprioritaskan kesibukannya. Berulang kali ia meminta maaf, Seren selalu memaafkannya lagi dan lagi.


Flashback Off


Seren memegangi kepalanya yang sakit, mengingat kenangan itu benar-benar membuatnya semakin pusing. Ia meringis pelan, berusaha bangun dan duduk agar mendingan.


"Seren, kamu udah bangun?" Karena pergerakan ditempat tidur, Farez terbangun, lelaki itu menatap Seren dengan wajah khawatirnya.


Seren sebenarnya ingin memaki lelaki itu, tapi melihat wajah khawatir Farez hatinya menghangat. Baru kali ini ia melihat betapa khawatirnya Farez dari dekat, meskipun ketika ia jatuh kesungai ada Farez disana, namun mungkin karena Jenissa disana membuat Farez berbeda.

__ADS_1


"Aww, sakit," ujarnya dengan suara lemah, Farez dengan gerakan cepat mengambil gelas berisi air dan obat lalu ia membantu Seren untuk meminumnya.


"Terima kasih," ujar Seren tulus, kemudian ia kembali memraibgkan tubuhnya juga di bantu Farez.


Farez tersenyum, rasanya senang mendengar kata-kata tulus dari bibir gadis itu, bukan bentakan atau cacian seperti sebelum-sebelumnya.


Keduanya saling diam-diaman, tidak ada yang ingin berbicara. Akhirnya Seren kembali memejamkan matanya. Ia tidak ingin berada di posisi canggung.


"Javas, Seren belum bangun?"


Farez menatap Azhar yang mendekat kearahnya, lelaki itu menatap kearah Seren, tangannya kemudian ia tempelkan di kening gadis itu. "Hangat." Gumamnya.


Farez mencoba untuk meredam amarahnya melihat laki- lain yang dengan berani menyentuh Seren. Namun ia tidak ingin mencari keributan, apalagi itu adalah kakaknya sendiri.


"Tadi dia bangun, barusan minum obat," ujar Farez, nada lelaki itu terlihat biasa, namun wajahnya datar.


Azhar menganggukkan kepalanya, lalu kemudian duduk di samping Farez. Pikiran lelaki itu melayang pada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi antara adiknya juga Seren, entahlah, karena semua yang Farez lakukan dan ucapkan semalam memperlihatkan betapa Farez mengenal Seren. Namun ia tidak ingin menduga-duganya.


"Kalau ada yang mau ditanyakan silahkan aja bang. Jangan ngelirik Javas terus, ngeri Javas," ujar lelaki itu niat bercanda meskipun masih dengan wajah datarnya.


Azhar menghembuskan nafasnya pelan, ia tau jika adiknya ini pintar, jadi tidak mungkin tidak mengetahui apa yang terjadi padanya.


Farez menatap kearah Seren, kemudian ia langsung mengalihkan pandangannya pada kakaknya itu. "Seren pacar Javas ketika berada di bangku kuliah."


Sontak raut wajah Azhar terkejut, tapi kemudian ia mencoba menetralkan wajahnya kembali.


"Sebenarnya bahkan sampai hari ini kami belum berakhir. Tapi Seren saat itu menghilang, Javas belum tau alasannya, Javas masih mencintainya bang." Sendu, nada yang lelaki itu keluarkan, benar, sampai hari ini ia masih sangat mencintai gadis itu.


Azhar masih diam mencerna semua ucapan adiknya. Sebenarnya ia sudah curiga jika Farez dan Seren memang memiliki hubungan, karena tanpa sengaja Azhar sering memergoki Farez memandang diam-diam kearah Seren, begitupun sebaliknya. Hanya saja, Azhar berusaha menepis semuanya.


"Bang, Javas harus bagaimana? Apa ini semua karena cara Javas yang mencintai dia salah? Javas selalu cuek sama dia, Javas selaku mengabaikan dia, tapi maksud Javas bukan kayak gitu. Javas ingin dia nggak selalu bergantung sama Javas, karena Javas nggak bisa selalu sama dia terus. Javas punya pekerjaan, selain itu Javas juga nggak ingin kalau Javas terlalu membatasi dia, dia akan tertekan, jadi Javas membebaskannya."


Ya, Azhar mengerti sekarang, "kamu tau nggak, setiap cewek itu juga ingin di cintai dengan cara berbeda-beda?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Ya, kadang ada cewek yang minta di bebasin kayak kata kamu, tapi kamu juga jangan terlalu membebaskan dia, justru karena kamu membebaskan dia, dia akan merasa kalau kamu nggak peduli. Meski ada beberapa cewek yang suka di bebasin, tapi dia juga butuh perhatian, jangan terlalu mengabaikan seseorang yang bersamamu, karena bagaimanapun kamu telah memilih dia, jadi berilah perhatian kamu, juga waktumu meskipun sedikit. Tapi, kadang juga ada cewek yang ingin di cintai dengan kamu terlihat sangat peduli padanya, seperti kamu sedikit posesif, atau kamu sedikit melarang dia, jadi kamu harus paham."


Farez diam, ia menundukkan kepalanya. Tanpa disadari, sebenarnya Seren tidak tertidur. Ia mendengar semua percakapan kakak dan adik itu, hatinya tersentuh, ia ingin menangis mendengar semuanya.


"Javas."


"Ya bang?"


"Ingat ini baik-baik, jangan pernah menyia-nyiakan perempuan yang tidak meminta apapun sama kamu kecuali sedikit waktumu, kamu akan menyesal nantinya kalau kamu menyia-nyiakan perempuan seperti itu."


Mata Farez berkaca-kaca, selama ini ia sadar jika ia telah menyia-nyiakan Seren. Gadis itu memang sama sekali tidak pernah meminta apapun darinya, hanya meminta sedikit waktu untuk bertemu dengannya. Bahkan Seren merengek dan menangis kala itu, tapi ia justru seolah menulikan pendengarannya, ia mengeraskan hatinya tidak menuruti keinginan Seren, hingga gadis itu sakit hanya karena merindukannya.


"Bang."


Azhar tersenyum, "Minta maaflah ketika dia sudah bangun." Azhar berusaha untuk menahan sesaknya, ia mencintai Seren, Namun ia juga harus meluruskan semuanya. Disini ia yang sudah dewasa, ia adalah seorang kakak, jadi tidak ada salahnya jika kakak membimbing adiknya.


Farez mengiyakan ucapan Azhar, ia sadar atas apa yang sudah ia lakukan pada Seren dulu.


"Apa Abang menyukai Seren?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul.


Azhar berusaha tenang, ia tersenyum lagi. Lelaki dewasa itu memang memiliki wajah tegas, namun ia adalah lelaki yang tidak tergesa-gesa dalam segala hal, ia berusaha menghadapi apapun dengan tenang. "Iya, Abang kan pernah mengatakannya padamu. Tapi tenang saja, Abang nggak akan memaksa Seren, karena menurut Abang Seren berhak menentukan kebahagiannya."


Farez menganggukkan kepalanya, ia membenarkan ucapan Azhar. "Abang benar, tapi Javas ingin memperbaiki semuanya. Bisakah Abang mengikhlaskan dia sama Javas aja?"


Azhar tau betapa egoisnya adiknya itu, tapi ia tidak ingin Farez dan dia ribut hanya karena sebuah cinta. "Javas, bukankah tadi Abang sudah bilang jika biarkan Seren menentukan kebahagiannya? Jadi ayo kita bersaing sehat."


"Tap..."


"Abang tau kamu nggak akan pernah rela kan jika Seren bersama orang lain? Tapi kamu nggak bisa memaksakan kehendak, Seren juga berhak bahagia. Bahkan jika Abang tidak salah menduga ada orang lainnya yang menyukai Seren, benarkan?"


Farez menarik nafasnya, matanya tertuju pada wajah cantik Seren yang terlelap. Mungkin benar kata kakaknya itu, ia tidak boleh lagi egois. Namun ia seperti tidak rela jika sampai Seren nantinya harus bersama lelaki lain, bukan dirinya. Tapi selama ini ia sudah banyak diberi waktu membahagiakan gadis itu, namun dengan bodohnya ia justru menyia-nyiakannya. Lalu sekarang, ketika banyak orang yang berusaha membahagiakan Seren, dengan seenaknya ia menghalangi, tidak, tidak boleh terjadi lagi.


"Deal." Ujar Farez, ia mengulurkan tangannya kepada Azhar.


"Deal."

__ADS_1


"Aku harap semuanya selalu baik-baik saja, hidupku dan hidup orang-orang yang mencintaiku, aku takut." Batin Seren dengan mata yang masih terpejam, namun airmatanya telah menetes tanpa di sadari.


Bersambung. . .


__ADS_2