
..."Perasaan tidak akan pernah bisa dipaksakan atau di kendalikan, semua berjalan apa adanya. Intinya, jika perasaanmu dengan seseorang itu tulus, maka kamu akan bahagia meskipun ia bersama orang lain."...
..._Hai Mantan!_...
Setelah kejadian pelukan antara Farez dan juga Seren tadi sore, Seren menjadi gadis pendiam. Ia sama sekali tidak ingin berbicara meskipun berulang kali Helmi mengajaknya berbicara, yang gadis itu lakukan hanya termenung saja.
"Assalamualaikum." Suara salam itu mengalihkan perhatian Seren dan Helmi, kedua gadis itu saking melempar tatapan, lebih tepatnya Helmi yang melempar tatapan bertanya kepada Seren. Tapi Seren hanya diam, ia lebih memilih untuk berjalan keluar.
"Udah sampai?" Tanya Seren ketika melihat dua orang lelaki yang tergopoh-gopoh menaiki tangga villa.
"Iya nih Kak, capek juga, Bang Giantra goblok nyetir mobilnya. Masuk tuh tadi ban mobil kedalam kubangan lumpur dalam banget, untuk di tolongin warga," Adu Gevan dengan wajah kesalnya, lelaki itu langsung mendudukkan dirinya di kursi teras villa.
"Lo nyalahin gue!? Heh, ini juga semua gara-gara lo yang sok tau, jadi kita salah lewat jalan."
"Ih udah deh, stop nggak lo berdua!? Pusing nih kepala gue, niatnya mau menyepi dari kalian eh malah ketemu lagi, capek gue ah." Seren yang sudah pusing dengan perdebatan antara Gevan dan Giantra yang memang akan sulit selesainya pun akhirnya memilih untuk masuk kedalam villa.
Hal itu tentu saja membuat Giantra dan Gevan terdiam, kemudian keduanya menatap Helmi yang masih berdiri disana.
"Si Seren kenapa?" Tanya Giantra dengan mata memicing. Selain Giantra, Gevan juga tidak kalah penasarannya. Jadi ia menunggu jawaban dari Helmi.
Helmi menghembuskan nafasnya, "gue juga nggak tau dia kenapa. Mungkin gara-gara omongan Jenissa waktu makan tadi sore, lo tau sendiri kan kalau Seren suka kepikiran."
"Jenissa?"
"Iya, pacar barunya Farez."
Satu nama itu, Farez, Giantra dan juga Gevan menganggukkan kepalanya mengerti. Diam-diam, Giantra mengepalkan tangannya.
"Farez lagi, Farez lagi, kapan nama itu menghilang dari pikiran lo Seren? Gue nggak suka karena dia selalu buat loe terluka," Batin Giantra bertanya. Lelaki itu tidak lagi berbicara, ia memilih menyusul Seren masuk kedalam villa.
***
Sedangkan dikamar villa tempat Seren dan Helmi tidur, Seren hanya diam. Netra gadis itu melihat keluar jendela yang diterangi sinar bulan. Pikirannya melayang, sepertinya memang Tuhan tidak akan membiarkannya berpikir tenang. Entahlah.
"Seren, boleh gue masuk?" Suara Giantra terdengar di balik pintu kamar Seren.
__ADS_1
"Masuk aja, pintunya nggak gue kunci," Ujar Seren.
Tidak lama kemudian muncul seorang lelaki tampan dengan kaos putih polos dan celana selutut yang ia kenakan.
"Lo kenapa lagi hmm?" Giantra mendekat kearah Seren, lelaki itu mengelus lembut surai milik Seren.
Seren menggelengkan kepalanya pelan, ia menyenderkan kepalanya di bahu Giantra. Nyaman, namun tidak ada yang lebih nyaman dari bahu milik Farez, Farez tetap nomor satu untuknya. Ia sendiri terkadang heran, bagaimana mungkin hatinya masih bertahan dengan orang yang pernah berulang kali melukainya, padahal jelas-jelas ada orang lain yang bersedia menarik tangannya dan menerima dengan tulus, cinta memang buta dan Seren ada di fase tersebut.
"Lo tadi ketemu mantan lagi?"
Seren hanya menganggukkan kepalanya saja, ia sedang tidak ingin banyak berbicara. Tenaganya sudah habis, ia tidak ingin membuang-buang tenaganya yang tinggal sedikit itu untuk berbicara hal yang ingin ia hindari.
"Gimana kalau kita jalan-jalan aja berdua, lo mau kan? Gue nggak mau kalau sampai orang yang gue sayang ini sedih, kan liburan tujuannya biar lo seneng." Giantra menoleh kearah Seren, kepala gadis itu masih sama, dipundak Giantra. Sekarang, jarak wajah Giantra dan Seren begitu dekap, bahkan Giantra bisa mencium aroma Cherry dari nafas gadis itu.
"Gian."
"Hmm." Giantra mengerutkan keningnya mendengar panggilan Seren.
"Lo deg-degan ya?" Seren mengangkat kepalanya, telapak tangan kanannya ia letakkan di dada Giantra, Seren benar-benar tidak tau jika apa yang ia lakukan sangat berbahaya. Bisa-bisanya gadis itu membawa dirinya kedalam kandang singa.
"Oh iya, pakai jaket ya?" Giantra tanpa aba-aba mengambil jaketnya dan memakaikannya di tubuh Seren.
Seren tersenyum, "perlakuan Lo ke gue manis Gian, kalau gue bisa ngendaliin perasaan gue, gue bakalan milih buat jatuh cinta sama lo aja daripada harus stuck sama mantan yang selalu bikin gue terluka," ujar Seren tiba-tiba.
Giantra terdiam, ia kemudian menatap gadis di depannya itu. "Lo nggak perlu ngelakuin itu, karena gue sayang sama lo tulus. Gue bahagia asal lo bahagia, dan gue bakalan terluka kalau lo terus terluka. Jadi gue mohon lo harus selalu bahagia, jika bukan demi gue, setidaknya demi diri lo sendiri," ujar Giantra sambil mengacak Rambut Seren.
"Ihh kan berantakan rambutnya." Seren yang kesal memasang wajah cemberutnya. Hal itu tentu saja membuat Giantra Gemas Sendiri.
"Udah, lo tambah kayak bocah kalau cemberut gitu. Umur lo udah 27 tahun, tapi kelakuan sama wajah kayak anak SD."
"Sialan, lo ngatain gue!?" Seren memelototkan matanya sambil berkacak pinggang.
Hal itu tentu saja membuat Giantra semakin tertawa, "lo marah kok nggak serem sama sekali sih. Aduh gemes."
"Gian, lo ngeselin banget sih. Gue males ah."
__ADS_1
Giantra tertawa, "gue minta maaf ya cantik, ayo kita jalan sekarang. Nanti keburu kemalaman lho."
Seren menganggukkan kepalanya, keduanya keluar dari villa. "Eh, Gevan sama Helmi mana?"
"Helmi katanya mau ketemu temen-temen lo. Kalau Gevan kayaknya tuh bocah ikut juga, dia kan manja banget sama lo dan Helmi ya."
Seren lagi dan lagi menganggukkan kepalanya. Gevan memang sangat manja padanya dan juga Helmi, kebetulan Helmi tidak memiliki saudara, untuk itu ia juga sangat menyayangi Gevan dan sudah menganggap Gevan seperti adiknya.
Giantra dan juga Seren berjalan kaki menyusuri jalanan sekitar villa. Beruntung malam ini sinar bulan cukup terang, selain itu juga lampu-lampu jalan tidak kekurangan di area sekitar villa.
"Gian."
"Ada apa?"
"Kalau suatu saat nanti gue balikan sama Farez lo bakalan sedih nggak?
Giantra menghentikan langkahnya, ia menatap mata Seren yang mendongak menatapnya juga. Seren memang memiliki tinggi sebatas leher Giantra, jadi ia harus mendongakkan kepalanya.
Giantra mencengkram kedua bahu Seren, "Gue kan tadi udah bilang, kalau gue akan bahagia kalau lo bahagia, tapi kalau lo balikan sama dia justru loe sakit lagi, lo terluka lagi dan sedih, maka gue juga akan sedih. Gue nggak sanggup liat lo menderita, sampai itu terjadi, gue nggak akan segan-segan buat perhitungan dan ngerebut lo kembali."
Seren terdiam, mata gadis itu berkaca-kaca, ia merasa seperti gadis jahat yang dengan tega mencampakkan lelaki sebaik Giantra, padahal Giantra tulus padanya.
"Maafin gue Gian, gue sayang banget sama lo. Tapi gue nggak bisa sayang sama lo lebih dari saudara," ujar Seren kemudian, gadis itu sudah menangis sesenggukan.
Giantra yang melihat gadis yang ia sayang itu menangis membuat hatinya juga terasa perih. Giantra membawa Seren kedalam pelukannya. Hal yang paling Giantra suka, menjadi orang yang Seren peluk ketika gadis itu terluka.
"Gue janji bakalan selalu jagain lo, gue sayang banget sama lo, gue janji akan selalu ada di belakang lo meskipun lo bahagia sama yang lain. Biar ketika lo terluka, lo nggak perlu jauh-jauh nyari tempat buat sandaran, akan selalu ada gue," batin Giantra sambil mengelus rambut Seren.
"Udah ah, masa nangis terus sih. Nanti gue di kira ngapa-ngapain lo lagi, terus gue di gebukin orang. Tega lo?" Tanya Giantra bercanda.
"Ih Giantra ngeselin banget. Yaudah, biarin aja lo di gebukin orang-orang. Kesel gue," ujar Seren sambil memukul pelan lengan Giantra. Sedangkan Giantra sudah tertawa terbahak-bahak.
Tanpa Giantra dan Seren sadari, ada dua pasang mata yang memperhatikan keduanya dengan pandangan berbeda, yang satu memandang dengan penuh kebencian, dan yang satu dengan pandangan sulit diartikan.
Bersambung. . .
__ADS_1