
..."Pergunakanlah kesempatan kedua yang datang padamu sebaik mungkin, karena jika kau kembali mengecewakan belum tentu akan ada kesempatan berikutnya."...
..._Hai Mantan!_...
Seminggu sudah berlalu semenjak Seren sakit akibat ketakutannya. Semenjak hari itu pula gadis itu menjadi seseorang yang pendiam, ia seringkali memikirkan percakapan antara Farez dan Azhar yang terjadi dikamar Azhar saat itu. Seren berulang kali menghembuskan nafasnya, ia baru saja kembali dari kantornya, namun tidak sedikitpun ia berniat untuk keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri.
Tok tok tok
"Masuk aja, nggak di kunci kok."
Seorang lelaki yang merupakan adik pertama Seren masuk kedalam kamar gadis itu. Seren tersenyum tipis melihat Cakra, sudah lama rasanya ia tidak bertemu adiknya itu.
Cakra menghampiri Seren, kemudian ia memeluk kakaknya itu. Seren bingung, namun kemudian ia membalas pelukan adiknya itu.
"Cakra kenapa?" Tanya Seren lembut.
Cakra melepas pelukannya dari Seren, lalu menatap intens sang kakak. "Cakra khawatir sama kakak, kakak akhir-akhir ini sering banget sakit atau kecelakaan, liat nih, badan kakak jadi kurus," ujar Cakra sambil memegang tangan Seren yang memang lebih kecil dari tangannya.
Seren terkekeh pelan, kemudian ia mengelus rambut adik pertamanya dengan sayang. "Kakak nggak kenapa-kenapa kok. Jangan khawatir, kakak cuma lagi banyak pikiran aja akhir-akhir ini."
"Cakra tau kakak kepikiran sama Farezkan? Mantan kakak itu?"
Skak Matt!
Adiknya gampang sekali menebak isi pikirannya yang tidak pernah jauh-jauh dari lelaki itu.
"Kakak jangan membuat diri Kakak terluka hanya karena orang yang belum tentu memikirkan kakak. Cakra tau Kakak masih sayang sama Farez, tapi apa Farez juga sayang sama Kakak? Belum tentu kan?"
Seren diam, ia tau jika adiknya itu khawatir, namun ia tidak bisa, otaknya selalu di penuhi oleh nama mantan kekasihnya itu.
Cakra tau jika kakaknya itu diam berarti ia tidak setuju dengan apa yang di ucapkannya, "Kak."
"Hmm."
"Cakra cuma mau kakak bahagia."
Seren tau itu, orang-orang di sekitarnya memang yang paling banyak ingin membuatnya bahagia. Mereka selalu mengusahakan apapun untuk kebahagiaannya.
"Boleh nggak kakak ngasi dia kesempatan kedua? Kakak masih sayang dia," ujar Seren tiba-tiba. Mata gadis itu berkaca-kaca, setelah semingguan ini ia bergelut dengan pikirannya, dan setelah mendengar kalimat adiknya yang mengatakan jika adiknya ingin ia bahagia. Maka Seren memutuskan jika memang Farez adalah kebahagiaannya, terlepas dari lelaki itu sering menyakitinya atau kah tidak. Terlepas dari banyaknya airmata yang ia korbankan selama bersama Farez, Seren tetap tidak menghapus nama Farez dari tahta tertinggi hatinya.
Cakra menatap Seren cukup lama, kemudian menarik nafasnya. "Kak, jika memang kebahagiaan kakak ada pada dia, Cakra bisa apa. Bagi Cakra, Mama, Gevan, Nenek, kebahagiaan kakak adalah yang utama. Meskipun sebenarnya Cakra masih tidak terima dengan semua yang dilakukan Farez pada Kakak dulu, tapi Cakra berusaha memaafkan semuanya. Ini kesempatan kedua, tapi kalau sampai kakak terluka karenanya lagi, Cakra nggak akan ngebiarin Kakak buat sama dia lagi, Cakra orang pertama yang akan melarang keras. Cakra sayang Kakak." Lelaki itu akhirnya kembali memeluk Seren.
"Semoga Kak Seren selalu bahagia, Cakra janji akan mengurus semua pengganggu yang mengusik kebahagiaan Kakak."
...***...
"Farez, maaf gue terlambat."
Farez tersenyum melihat gadis dihadapannya itu, "Nggak apa-apa kok, kamu ingatkan dulu aku yang sering terlambat jika kita akan bertemu."
Seren terdiam, ia memutar bola matanya malas ketika sudah duduk dihadapan lelaki itu.
"Jadi, ada apa kamu ngajak aku ketemuan? Biasanya kamu akan marah-marah jika aku bertemu denganmu, kamu kayak benci."
__ADS_1
Seren mendengar itu meringis, gadis itu mengingat-ingat, sepertinya ia memang sudah cukup keterlaluan.
"Gue mau minta maaf," ujar Seren tiba-tiba, ia malu jika harus melakukan hal itu tapi, ia harus meluruskan semuanya.
"Tunggu, maksudnya?"
"Iya, gue mau minta maaf atas segala perlakuan gue ke lo. Gue tau gue udah keterlaluan, gue udah caci maki lo pakai kata-kata kasar tanpa mikirin perasaan yang lo rasain, tapi gue bener-bener kesel, gue marah, gue nggak terima atas apapun yang selama ini lo lakuin ke gue." Seren menarik nafasnya pelan, ia berusaha menetralkan emosinya.
"Seren, maaf." Farez menundukkan kepalanya, hal itu tentu saja membuat Seren bingung. Niatnya kan dia terlebih dahulu yang ingin meminta maaf kenapa Farez juga.
Seren diam, ia ingin mendengar kelanjutan dari perkataan lelaki itu. Farez yang melihat Seren hanya diam menunggunya langsung menatap Seren dalam.
"Maaf karena aku selama tiga tahun kita bersama selalu membuat kamu terluka. Aku sadar, aku tau kalau kamu sering nangis gara-gara aku. Aku tau kamu selalu ingin di perhatikan tapi aku selalu mengabaikan kamu. Maaf karena aku tidak pernah memprioritaskan kamu, aku salah, aku emang nggak pernah pantes buat kamu." Tanpa sadar, airmata lelaki itu menetes. Baru kali ini Farez menangis karena seorang gadis, ia memang sangat menyayangi Seren, namun gengsinya tinggi sehingga ia seringkali seperti orang yang tidak peduli.
"Farez, ak___"
Farez mengangkat tangan sebelah kanannya, ia menahan Seren untuk jangan berbicara dahulu. Ia ingin Seren mendengarkan semua penyesalannya, ia ingin Seren tau jika Seren begitu berarti.
"Biarkan aku dulu yang meminta maaf atas semua kesalahanku. Biarkan aku mengungkapkan semua penyesalanku, Dulu, awalnya aku pikir semuanya akan baik-baik saja ketika aku mengesampingkan kamu, dulu aku pikir kamu nggak apa-apa kalau aku nggak memprioritaskan kamu, dulu aku pikir kamu selalu baik-baik aja kalau kita nggak ketemu, aku pikir kamu nggak akan kemana-mana, karena aku tau bagaimana tulusnya kamu, bagaimana kamu yang selalu nggak apa-apa setiap saat. Tapi nyatanya, aku salah, aku terlalu munafik untuk menganggap kamu nggak baik-baik saja. Ketika kamu menghilang secara tiba-tiba rasanya aku nggak tau harus gimana, aku nggak tau harus berbuat apa, aku baru sadar kalau hadirnya kamu sangat berarti buat aku. Cerewetnya kamu, suka marah-marah, dan suka ngomel secara tiba-tiba setiap kita ketemu. Aku rindu, aku merindukan semuanya. Aku suka diam ketika malam tiba, aku suka nggak bisa tidur karena aku nggak pernah menerima kamu yang nggak ada di sampingku." Lelaki itu terkekeh pelan, namun airmatanya terus mengalir. Bukan hanya Farez namun Seren yang mendengarnya juga ikut menangis sesenggukan meskipun ia juga tertawa pelan saat mengingat semua kebersamaannya bersama Farez dulu.
"Seren, maaf untuk semuanya, maaf ketika kita bersama aku banyak membuatmu kecewa. Maaf karena aku seolah berpikir menjadi manusia yang kamu butuhkan, bukan karena kita saling membutuhkan. Padahal dalam sebuah hubungan yang baik seharusnya bukan salah satu pihak yang peduli, tapi keduanya."
Seren masih diam, ia tidak bisa berkata-kata mendengar semua yang Farez ucapkan. Lelaki itu membuatnya menangis, membuatnya mengingat kenangan-kenangan lama yang sampai saat ini masih ia rindukan. Beruntung saat ini mereka berada di meja yang sedikit di pojok, di tambah lagi pengunjung kafe itu belum ramai, sehingga tidak ada yang melihat drama keduanya.
"Aku kenapa cengeng, huaaa," Uuar Seren tiba-tiba, gadis itu menangis kejer sambil menelungkupkan kepalanya di meja kafe.
Farez terdiam, ia terlalu tidak percaya dengan gadis dihadapannya itu. Lalu Farez mengusap pelan rambut Seren, "udah jangan nangis lagi ya, tuh di liatin orang."
Farez mengambil tisu di meja, lalu mengelap wajah Seren. Seren terdiam, ia tidak bisa berkutik, Farez memang terlihat tampan jika di lihat dari dekat begini.
"Seren?"
"I_iya." Gugupnya.
"Maafin aku untuk semuanya, aku menyesal. Sangat-sangat menyesal, maafin aku yang egois, aku emang suka nggak sadar diri," ujar Farez dengan wajah seriusnya, namun terlihat penyesalan disana.
Seren menatap mata Farez, ia ingin mencari kebohongan di mata lelaki itu, namun Seren tidak menemukannya. Seren kemudian menganggukkan kepalanya.
Diam, suasana disana mendadak hening, tidak ada lagi yang berbicara. Farez maupun Seren tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Farez."
Farez mengalihkan pandangannya kembali menatap Seren, mata lelaki itu masih terlihat sedikit basah akibat tadi menangis.
"Maafkan aku, karena telah membencimu. Maaf untuk kata-kata kasar yang terus aku ucapkan ketika kita bertemu." Seren kali ini bersungguh-sungguh, ia merasa semuanya sudah cukup, ia tidak boleh egois, bahkan Seren mengubah kata loe gue menjadi aku kamu.
"Kenapa minta maaf? Kamu nggak salah, aku yang salah, dan aku yang harusnya minta maaf."
Seren menggelengkan kepalanya, "nggak, disini aku juga salah, aku yang tiba-tiba pergi dimalam itu, aku pergi karena kamu memeluk Jenissa." jujur Seren.
Farez membelalakkan matanya, "Ja_jadi? Kamu liat semuanya?"
Seren menganggukkan kepalanya, memang seperti itu kan harusnya.
__ADS_1
Farez menghembuskan nafasnya perlahan, "Kamu salah paham, bukan maksudnya aku meluk Jenissa, tapi waktu itu Jenissa yang tiba-tiba kesandung sampai aku yang disana nolongin dia, jadi kesannya kayak aku yang meluk dia, dan emang ketika itu Jenissa juga bukannya ngelepasin malah megang jas yang aku pakai, jadi terlihat kami seperti saling pelukan."
Seren menganga mendengarnya, jadi selama ini dia cuma salah paham. Dasar Seren, kebiasaan menyimpulkan sesuatu seenaknya. Bukannya bertanya dulu malah main kabur aja, mana kaburnya 4 tahun lamanya, jadi malu sendiri kan.
"Maaf," cicitnya.
Farez hanya menarik nafasnya sabar, gadis didepannya ini memang punya pemikiran yang tidak panjang.
"Udah berlalu, setidaknya sekarang aku bahagia bisa melihat kamu lagi, kamu baik-baik aja setalah 4 tahun."
"Farez."
"Hmm."
"Maaf lagi."
Farez mengangkat sebelah alisnya, ia menunggu ucapan Seren selanjutnya.
"Maaf karena aku tidak jujur padamu." Lanjutnya.
"Tentang apa?"
"Tentang aku yang setelah 4 tahun ini masih mencintaimu."
Farez diam, ia mencerna ucapan Seren.
"Tapi kenapa kamu melakukannya?" Tanya Farez penasaran, kalau Seren masih mencintainya kenapa Seren seolah menolaknya dan mendorongnya menjauh.
"Aku melakukan itu karena aku merasa sangat marah, setiap melihat kamu rasanya aku ingin memaki kamu."
"Marah? Kenapa kamu ingin memaki aku?"
"Ya, aku marah karena bukan aku yang saat ini bersama kamu, tapi Jenissa. Aku memaki kamu karena aku nggak ingin seperti orang lemah yang dianggap belum bisa move on padahal kamu udah jadi milik orang lain."
Farez terkekeh mendengar alasan Seren, gadis itu yang melihatnya menjadi bingung.
"Kenapa tertawa?"
"Aku tertawa karena kamu ternyata salah paham lagi."
"Maksudnya?"
Farez menyentil dahi Seren pelan, dan hal itu membuat sang empunya meringis.
"Iya, kamu salah paham lagi, makanya kalau ada apa-apa jangan menerka-nerka, tapi tanyakan dulu sama orangnya," omel Farez pada Seren.
Seren menjadi semakin meringis mendengarnya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya mana tau kan," gumamnya pelan, namun masih di dengar Farez yang sekarang memandangnya dengan wajah datar.
Seren hanya bisa tersenyum paksa melihat itu, ternyata selama ini yang ia duga salah, meskipun tidak salah semua. Namun tentang Farez dan Jenissa tidak benar, dan ia merasa malu.
Bersambung. . .
__ADS_1