HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 34. Giantra Surrender


__ADS_3

..."Sang pemilik hati tidak mungkin salah melabuhkan hatinya jika itu adalah hal yang menurutnya terbaik."...


..._Hai Mantan!_...


Seren menutup pintu pagarnya perlahan, ia keluar dan mulai berlari-lari kecil di sekitar kompleks rumahnya. Hari ini hari Minggu, yang otomatis Seren tidak masuk bekerja.


Keluarganya belum ada yang bangun, hanya ia seorang yang sudah bangun di pagi hari. Hal itu ia lakukan karena sudah lama tidak berolahraga, jadi Seren memutuskan untuk berolahraga. Selama ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai sudah meluangkan waktu untuk berolahraga.


Beberapa kali Seren mengelilingi taman di area perumahannya, beberapa bulir keringat sudah tampak membasahi wajah gadis itu. Akhirnya Seren memutuskan untuk beristirahat sejenak, ia duduk di rerumputan hijau yang tumbuh subur disana.


Gadis itu terdiam, langit tampak biru diatas sana. Cuaca begitu cerah, jam masih menunjukkan pukul 7 pagi, namun matahari sudah cukup terang.


"Nih minum dulu." Seseorang menyodorkan botol air mineral padanya. Seren menatap botol yang berada di depannya, kemudian mendongakkan kepalanya.


Gadis itu tersenyum, lalu berdiri dan langsung memeluk orang di hadapannya itu. "Giann, gue kangen banget. Lo kok lama sih perginya?" Ya, seseorang yang baru saja datang itu adalah Giantra, lelaki yang selama ini selalu menemaninya, lelaki yang juga merupakan sahabat baiknya selain Helmi.


Giantra terkekeh pelan mendapat serangan heboh dari Seren, gadis yang ia sukai. Hatinya menghangat, laku ia membalas pelukan Seren. "Lo kangen sama gue?"


Seren melepaskan pelukannya, lalu ia mengambil air mineral yang ada ditangan Giantra tadi. Ketika ingin membukanya, Seren cemberut karena tidak bisa, gadis itu memang sangat benci jika harus membuka segel dari sebuah botol minuman. Giantra yang melihat itu mengerti, lalu mengambil botol mineral dari tangan Seren, ia membukakan untuk gadis itu, kemudian ia menyerahkan botolnya pada Seren.


Seren meminum air mineral tersebut, "terima kasih Gian, gue seneng lo udah balik."


Giantra duduk di rerumputan tempat Seren duduk tadi, kemudian ia menatap langit biru yang indah disana. "Gue juga seneng, gue kangen banget sama lo. Ternyata kalau lo nggak ada sepi banget, nggak ada yang tukang marah-marah sama tukang ngomel, nggak ada yang berisik."


Seren menatap Giantra, lalu menyusul duduk di samping lelaki itu. "Tapi kan disana ceweknya cantik-cantik, masa lo nggak tertarik sih?" Goda Seren kepada lelaki disampingnya itu.


Lelaki itu hanya menatap Seren datar, dan kemudian kembali menatap langit diatas sana. "Nggak ada yang ngalahin cantiknya Seorang Serena Neve Zelmira, soalnya dia cewek unik pertama yang gue temui, cewek unik yang berhasil bikin gue jatuh cinta, cewek manja, cerewet, berisik, suka marah-marah, ngomel terus, banyak protes, hiperaktif, nyebelin, kalau senyum matanya ilang, tapi ngangenin."


Deg


"Gian, lo..."


"Sstt, lo tau nggak, kalau lo masang muka kayak gini jelek banget tau. Mana cewek yang dimana-mana suka banget senyum? Mana Serena gue yang ramah dan ceria? Lo pokoknya nggak boleh sedih, gue nggak suka." Giantra mengapit kepala Seren dengan sebelah lengannya.


"Ihh, ketek lo bau bodoh! Ngeselin banget sih, balik sono," kesal Seren.


Giantra tertawa melihat ekspresi ngambek gadis itu. Hatinya tidak pernah berbohong, Seren memang gadis yang unik, gadis yang tidak pernah tega dengan orang lain, gadis berhati lembut yang sering menganggap dirinya jahat padahal pada kenyataannya Seren sangat cengeng, ia gampang kasihan dengan orang-orang disekitarnya, meskipun orang-orang itu telah berbuat jahat.


"Seren."


"Ya?"


"Gue bakalan kangen banget sama lo suatu hari nanti."

__ADS_1


Seren mengerutkan keningnya mendengarkan ucapan dari Giantra. "Kok lo ngomong aneh sih? Kesannya kayak lo mau meninggal aja," ujar Seren bercanda.


"Kita nggak akan pernah tau takdir apa yang bakalan kita hadapi di depan sana kan? Gue juga nggak tau kenapa bicara kayak gini, tapi emang bener kan, kalau kita mungkin aja suatu hari bakalan berpisah, soalnya kan setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan."


Seren membenarkan apa yang Giantra ucapkan, namun otaknya melayang jauh, ia merasa seperti ada hal yang aneh dibalik kalimat yang Giantra ucapkan.


"Lo jangan ngomong gitu dong, gue sedih nih, huaaa."


"Ehh, jangan nangis nanti lo makin jelek kalau nangis." Giantra mengusap-usap kepala Seren, ia panik melihat Seren yang menangis.


"Lo gimana sih, tadi katanya gue cantik, sekarang gue di katain jelek. Huaa, lo plin plan." Seren semakin menangis kejer, bahkan beberapa orang yang memang sedang berlalu lalang di taman banyak yang melihat Giantra dengan tatapan membunuh.


"Bukan saya pak, buk, mas, mbak, temen saya lagi patah hati," ujarnya kepada beberapa orang yang lewat, siapa yang tidak takut dituduh yang aneh-aneh oleh orang-orang.


Plak


Tangan Seren sudah bertengger manis di lengan Giantra, gadis itu memukul Giantra hingga lelaki itu meringis kesakitan.


"Kenapa lo mukul gue? Salah gue apa Serena?"


Seren menatap sinis Giantra, apa lelaki itu tidak merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan. "Lo ngapain nuduh gue patah hati? Gue nggak lagi patah hati, kurang ajar lo."


Lelaki itu meringis ketika mendapat cubitan manis dari Seren. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian Giantra menaikkan dua jarinya membentuk tanda peace.


Kedua anak manusia berbeda jenis kelamin itu pada akhirnya saling diam. Mereka sama-sama menatap langit yang dipenuhi dengan awan berwarna putih. Beberapa orang yang berlalu lalang menyapa Seren, namun gadis itu hanya membalas dengan senyuman. Kebetulan penghuni dari komplek rumahnya itu sangat-sangat ramah.


"Kok lo bisa sih langsung tau gue disini?"


"Tentu aja, lo kan biasanya kalau nggak ada di rumah sukanya kesini. Apalagi ini hari minggu."


Seren menganggukkan kepalanya, "Lo sama Cakra masih ada masalah?"


Giantra hanya menganggukkan kepalanya saja. Tidak mungkin ia berbohong, karena memang pada kenyataannya seperti itu.


"Sebenarnya kalian ada apa sih? Gue penasaran."


"Cuma salah paham biasa, lo tenang aja, nanti gue bakalan ngelurusin semuanya, biar nggak ada kesalahpahaman lagi."


"Salah paham?"


"Iya, gue sama Cakra sebenarnya udah sahabatan lama sebelum gue kenal sama lo. Sampai ada satu masalah yang bikin gue dan dia harus kayak sekarang, kita saling menjauh, dia nganggap gue musuhnya, sedangkan gue ingin memperbaiki semuanya."


Sebenarnya Seren ingin mengetahui lebih dalam, namun ia tidak ingin terlalu ikut campur. Ia ingin Giantra dan Cakra sendirilah yang akan menyelesaikan masalah mereka.

__ADS_1


"Gue harap kalian segera baikan, gue nggak mau orang-orang yang gue sayang saling dendam dan bermusuhan."


Giantra menatap wajah ayu Seren, wajah natural yang meski tanpa polesan apapun tetap menggambarkan kesan enak di pandang. "Gue janji bakalan nyelesaikan semuanya sebelum gue pergi."


"Kok lo ngomong pergi terus sih, males gue."


Seren bersedekap dada, ia memasang wajah tidak sukanya. Giantra mencubit gemas pipi gadis itu. "Kenapa? Lo nggak bolehin gue pergi ya? Apa lo udah sayang gue?"


"Tuh kan, omongannya suka ngaco. Gian ngeselin, sama kayak Farez."


Seren reflek menutup mulutnya ketika menyadari omongannya, ia melihat kearah Giantra untuk memastikan ekspresi lelaki itu. Giantra tampak biasa saja, lelaki itu kemudian tersenyum. "Gue kayak Farez ya?"


"Tapi apa gue bisa di cintai setulus cewek yang ada di hadapan gue ini mencintai Farez? Apa gue boleh memiliki cewek di depan gue ini seutuhnya? Apa gue bisa jadi orang spesial yang selalu diutamakan dan selalu di sebut namanya oleh cewek di hadapan gue ini? Boleh nggak kalau ingatan cewek di depan gue ini selalu tentang gue?"  Tatapan Giantra terlihat serius, mata Giantra menyiratkan luka disana, luka karena ternyata ia gagal membuat orang yang di cintainya menjadi cinta balik padanya.


Seren terdiam, ia menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. Seharusnya ia tidak mengucapkan nama Farez di depan lelaki itu. Ia tau jika Giantra tidak menyukainya.


"Gian, maaf."


Rambut Seren teracak akibat ulah Giantra, lelaki itu terkekeh pelan. "Udah jangan minta maaf. Gue tau kok kalau Farez akan selalu jadi yang nomor satu buat lo, bahkan setelah 4 tahun berlalu lo tetap selalu ingat dia kan? Gue sadar diri, gue akui gue nggak akan pernah bisa ngalahin spesialnya dia di hati lo sampai kapanpun." Ucapan Giantra terhenti, ia menarik kedua tangan Seren lalu menggenggamnya.


"Gue sekarang memutuskan untuk menyerah. Gue akan menghilangkan perasaan ini, gue percaya kalau mencintai seseorang itu nggak harus memiliki, liat lo bahagia dengan orang yang lo cintai adalah hal yang paling bikin gue bahagia meskipun gue harus terluka dulu, gue sayang banget sama lo, gue sadar sekarang kalau lo emang di ciptakan bukan buat gue."


"Gian..." Airmata Seren menetes mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh sahabat yang sudah ia anggap seperti saudaranya itu.


"Boleh gue meluk lo buat terakhir kalinya?"


Tangisan Seren semakin menjadi, airmatanya mengalir dengan deras. "Lo kenapa ngomong gini? Gue nggak suka," ujarnya disela tangisan.


Tanpa aba-aba Giantra lengsung memeluk Seren, lelaki itu juga sama. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha mati-matian menahan untuk tidak menangis. "Gue harap lo bisa bahagia dengan orang yang lo pilih. Janji sama gue lo nggak boleh nangis lagi kalau gue nggak ada kecuali tangisan bahagia, lo nggak boleh ngelamun atau overthinking kalau malam-malam."


"Kenapa lo jahat banget, lo seolah nggak akan pernah kembali, lo seakan-akan bakalan pergi selamanya dari dunia. Pokoknya kalau lo pergi gue bakalan nangis setiap hari biar lo nyamperin gue buat beliin Paramex kayak biasanya, terus meluk gue."


Giantra sebenarnya sedih mendengar ucapan Seren, namun ia juga ingin tertawa mendengar ucapan gadis itu. "Kalau lo mau di peluk gue harusnya lo sama gue, bukan sama Farez. Kalau lo sama Farez terus meluknya gue nanti dia cemburu, emang lo mau kalau Farez cemburu?"


"Giantra, ih tapi kan..."


"Udah ya, gue janji bakalan selalu ada buat lo, tapi lo harus janji buat bahagia terus, gue yakin Farez bakalan bahagiain lo, dia udah berubah kayak kemauan lo kan? Dia udah nggak cuek kan? Dia udah peduli sama lo kan?" Tanya Giantra sambil menatap wajah Seren yang sembab akibat menangis.


Seren menganggukkan kepalanya, "tapi gue nggak mau lo pergi Gian. Lo itu orang spesial di hidup gue, lo sahabat sekaligus udah kayak saudara gue. Gue maunya lo tetap disini, sama gue," ujar Seren lalu kembali memeluk Giantra.


Giantra hanya diam, ia ingin menikmati semuanya, pelukan terakhirnya sebelum ia pergi dari kehidupan Seren.


Bug

__ADS_1


"Maksud loe apa berani-beraninya meluk cewek gue!?"


Bersambung. . .


__ADS_2