
..."Kenangan itu masih ada disana, masih tersimpan diruang khusus hatiku. Kamu istimewa, untuk itu aku tetap mengingatmu meskipun belum tentu kamu mengingatku sebaik aku."...
..._Hai Mantan!_...
Seren berjalan seorang diri, gadis dengan rambut sebahunya itu menyusuri pinggiran lapangan alun-alun selatan Yogyakarta. Ia menatap ke depan, suasana disana terlihat ramai, banyak muda mudi sampai orang tua berlalu lalang atau sekedar duduk-duduk saja.
Seren berhenti, ia duduk di atas rumput, "udah kayak jomblo gue jalan sendirian begini. Bentar, gue kan emang jomblo ya," ujarnya, tangan gadis itu tiba-tiba saja mengambil botol yang ada di sampingnya. Entah manusia mana yang dengan seenaknya membuang sampah sembarangan. Seren langsung melempar botol itu kearah tempat sampah yang berada beberapa meter di samping kanannya.
Puk
Mata Seren membelalak lebar, gadis itu reflek berdiri, lalu berjalan kearah tempat sampah tadi.
Seseorang berdiri disana sambil mengusap lengannya, lalu kemudian menoleh kearah Seren yang baru saja menghampirinya.
"Maaf Om, saya nggak sengaja. Tadi ada yang buang botol sembarangan, jadi saya nyoba buat buang ke tong sampah, tapi ternyata gagal."
Orang itu, lelaki yang ada dihadapan Seren menatap Seren yang menunduk bersalah. Gadis itu merasa tidak enak dengan orang dihadapannya. "Lain kali harus berhati-hati, oh ya, jangan panggil saya Om, kesannya saya seperti sugar Daddy."
Seren mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum hambar. "Ini orang ganteng sih mukanya, nggak tua juga, tapikan dia lebih cocok dipanggil Om, kesannya lebih apa ya, hmm, udah ah Seren emang suka ngehalu," Kesal Seren dalam hati.
"Oh iya Mas."
"Maaf Mas, saya permisi."
"Sebentar," tahan orang itu.
Langkah kaki Seren terhenti, ia menghembuskan nafasnya pelan dan kembali menatap lelaki dihadapannya. "Ada apa ya?" Ujarnya dengan nada dibuat sesopan mungkin, meskipun sebenarnya malas. Lelaki dihadapan Seren sebenarnya cukup tampan, hanya saja Seren tidak suka berbasa-basi atau berbicara dengan orang yang baru saja ia temui.
"Saya seperti pernah melihat kamu, apa kita pernah bertemu?"
Seren diam, lalu mengedikkan bahunya. "Tidak tau Mas, saya bertemu banyak orang setiap harinya, untuk itu saya tidak ingat."
Lelaki itu terus memandangi Seren, Seren tentu saja risih dengan hal itu, sehingga ia kemudian kembali bersuara. "Saya pamit Mas."
"Oh iya saya ingat, kamu Serena kan?"
Seren mengerutkan keningnya, ia menatap ragu kearah lelaki itu. "A--a-apa ki-ta pernah bertemu?"
"Kamu kemarin mengantarkan kue buatan Mamamu kan?"
__ADS_1
Seren melebarkan matanya, ia terkejut darimana lelaki itu tau jika ia kemarin mengantarkan kue buatan sang mamanya, namun lagi dan lagi Seren menganggukkan kepalanya.
Lelaki itu tersenyum, ia mengulurkan tangannya kearah Seren. "Azhar."
Seren mengerutkan keningnya bingung, ia tidak faham dengan apa yang Azhar lakukan.
"Saya ingin tau namamu, apa boleh?" Azhar masih mengulurkan tangannya, ia menunjukkan senyum terbaiknya dihadapan Seren.
Seren hanya diam, kemudian gadis itu perlahan beranjak dari sana. Namun tidak bertahan lama, saat tiba-tiba saja seseorang menabraknya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Azhar membantu Seren berdiri, lalu kemudian menuntunnya untuk duduk disalah satu kedai pinggiran alun-alun.
"Terima kasih," ujarnya, Seren menunduk memainkan jemarinya.
Azhar tersenyum mendengarnya, "ternyata kamu gadis yang baik."
Seren terdiam, namun ia dibuat tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Azhar. Keduanya saling diam, bisu dengan pikiran yang memenuhi otak mereka masing-masing.
"Saya Azhar, apa saya boleh tau siapa namamu?" Lagi, Azhar kini menoleh kearah samping, tempat dimana Seren berada.
Lama, Seren masih terdiam, tidak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya.
Suara ponsel Azhar berbunyi, "sepertinya hari ini kita bertemu sampai disini, besok kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa." Azhar beranjak dari sana, sebelumnya lelaki itu tersenyum dan mengacak rambut Seren pelan, sampai kemudian meninggalkan Seren sendirian.
"Gue nggak mungkin mengenalkan diri gue dengan orang yang merupakan keluarga dari mantan gue kan? Lucu," gumam Seren pelan sambil menggelengkan kepalanya. Seren beranjak dari tempat duduknya, ia kembali menyusuri alun-alun Selatan Yogyakarta.
"Seren." Gadis itu menoleh kearah lapangan. Disana ada dua orang gadis yang berjalan kearahnya. Gadis itu berjalan dengan angkuh, seolah merupakan orang yang paling berkuasa. Seren diam saja, menampilkan wajah datar tanpa ekspresi.
"Kasian, lo nggak punya teman ya?"
Seren masih diam, meskipun salah satu dari gadis itu menertawakannya. Ia sama sekali tidak ingin membalas.
"Kenapa cuma diem? Apa lo udah kehabisan pembicaraan? Apa lo udah mengaku kalah dengan gue? Kayaknya emang lo udah nggak bisa bicara," ujar salah satu gadis tadi, sambil meninggalkan Seren bersama gadis yang satunya. Seren hanya menghembuskan nafasnya pelan mendengar pertanyaan dari salah satu gadis dihadapannya itu.
"Seren, gue harap lo nggak gangguin hubungan Jenissa dan Farez. Gue tau lo perempuan baik-baik. Gue harap tujuan lo balik ke Jogja bukan karena niat buruk." Gadis satunya, sahabat dari perempuan yang tak lain adalah Jenissa itu menepuk lengan Seren pelan, kemudian ia meninggalkan Seren seorang diri.
Seren tersenyum kecut, menarik nafasnya dalam. "Kenapa harus gue, kenapa bukan dia aja? Harusnya gue yang bilang gitu, bukan dia. Apa gue dari dulu nggak pantas buat bahagia? Kenapa seolah-olah semua orang menghalangi kebahagiaan gue?" Lirih Seren bertanya kepada dirinya sendiri.
Seren berjalan kembali, ia berhenti disalah satu kursi, lalu duduk disana. Gadis itu hanya diam, ia menatap lampu yang ada disana dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Halo."
"Gue lagi ada di alun-alun, ada apa?" Seren menoleh ketika suara seseorang yang familiar berada di belakangnya. Gadis itu memicingkan matanya, namun pada akhirnya ia membulatkan mata. Kemudian Seren perlahan beranjak dari kursi tempat ia duduk dan berjalan mengendap-endap.
"Buset, gue ketemu yang lebih serem daripada setan, aduh ketemu mantan lagi. Heran itu orang ada dimana-mana," gumamnya pelan, Seren akhirnya berhasil menjauh, gadis itu lari dengan wajahnya yang sesekali masih menoleh ke belakang.
"Aww, aduh hati-hati donk." Tanpa sengaja seseorang menabrak Seren, mulut gadis itu memang selalu tidak bisa di rem, seperti sekarang, ia yang kurang berhati-hati ketika berjalan justru ia pula yang menyalahkan orang lain.
"Kamu nggak apa-apa?"
Tunggu
Suara itu, Seren seperti kenal dengan suara itu. Ia mendongakkan kepalanya, kemudian dengan reflek memukul tubuh orang yang sekarang berada di hadapannya dan menampilkan wajah sok serius.
"Aww aduh, stop, ampun, gue becanda Seren."
Seren tidak peduli, gadis itu kemudian menginjak kaki yang di balut sepatu milik orang dihadapannya. "Mampus, usil banget emang si Setan. Udah deg-degan gue, taunya setan kurang ajar." Seren dengan kesal mencubit lengan orang dihadapannya itu.
"Aduh, sakit banget sih cubitan lo pedes. Udah dong, janji deh gue nggak lagi ngulangin."
"Pret, omongan lo nggak bisa di percaya Gian, kesel gue." Seren membuang wajahnya kearah samping, gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, emosi dengan Giantra, lelaki yang tadi tidak sengaja ia tabrak.
Giantra menghembuskan nafasnya pelan, "jangan ngambek dong, gue traktir susu vanilla deh, gimana?"
Seren menutup kedua telinganya pura-pura tidak mendengar, ia harus tahan godaan, cuma setan yang mau di sogok dan itu sudah pasti bukan Seren.
"Yaudah kalau nggak mau, rugi banget, mana gratis lagi." Giantra sengaja mengatakan hal seperti itu, ia sangat tahu sifat Seren.
Seren melirik kearah Giantra, hatinya mengatakan jangan namun otaknya lebih besar mendominasi dan menyuruhnya untuk tidak mau rugi, maklum gratis.
"Jadi lo nggak mau nih ya? Oke---"
"Ehh gue mau, ayo beli sekarang, lumayan gratis nggak bayar." Seren menarik tangan Giantra.
Giantra tersenyum, lelaki itu menatap tangannya yang di genggam oleh Seren. "Gue tahu lo nggak akan bisa nolak," ujar Giantra, namun Seren terus saja menarik Giantra.
Tanpa mereka sadari, seseorang menatap keduanya datar, "Apa karena dia kamu pergi?" Gumam orang itu kemudian, Farez, orang itu adalah Farez. Ia sadar jika Seren yang tadi ada di kursi Alun-alun, ketika ingin menyapa temannya menelpon, sehingga ia tidak sempat menyapa Seren.
Bersambung. . .
__ADS_1