HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 22. Holiday With Helmi


__ADS_3

..."kemanapun kita pergi, menghindar, atau menghilang sekalipun, kalau takdirnya masih sama orang-orang yang sama ya nggak akan bisa, pasti ketemu lagi."...


..._Hai Mantan!_...


Seren menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, ia hari ini ingin menghabiskan waktunya bersama sahabat tercintanya, Helmi. Setelah 3 hari harus istirahat di rumah gadis itu merasa bosan dan ingin pergi hanya untuk sekedar refreshing. Kebetulan sekali sekarang tanggal merah dan besok weekend jadi Seren mengajak Helmi untuk pergi ke suatu tempat karena Seren ingin menyegarkan otaknya dari pikiran-pikiran negatif yang selama ini selalu hinggap.


Tin tin tin


Seren menekan klakson mobilnya berulang kali, ia menunggu Helmi di depan gerbang rumah gadis itu.


"HELMIAAA, BURUAN!"


Tidak lama setelah itu seorang gadis dengan kacamata hitam, celana Jeans hitam, kaos pendek, topi bulat dan juga koper datang menghampirinya. Seren yang melihatnya menganga lebar, tidak habis pikir.


"Aduh, pegel gue. Lo sih nggak sabaran," ujar Helmi sambil yang telah meletakkan kopernya di kursi tengah mobil Seren. Kemudian gadis itu duduk di samping Seren.


Seren memutar bola matanya malas, "lo ngapain bawa koper?" Tanya Seren heran.


"Oh, buat jaga-jaga aja, kita kan mau liburan, jadi nggak asik kalau nggak bawa koper."


"Sinting! Nanti besok sore kita udah balik, ngapain pakai bawa koper segala!?"


Hemi hanya menyengir, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Seren yang melihat itu menggelengkan kepalanya, kemudian ia langsung menjalankan mobilnya, jika meladeni Helmi tidak akan ada kelarnya, yang ada nanti Seren pusing sendiri.


Di perjalanan, Helmi dan Seren bersenandung ria, kedua gadis itu bernyanyi mengikuti iringan lagu dari radio di mobil milik Seren.


"Terimakasih kalian barisan para mantan, dan semua yang pergi, tanpa pernah aku miliki." Begitulah sepenggal lirik lagu dari The Rain yang dinyanyikan oleh sepasang sahabat tersebut.


"Eh, belok kanan dodol, ngapain lo ke kiri!?"


Seren berhenti, saking asiknya gadis itu tidak menyadari jika ia salah membelokkan mobilnya.


"Kurang ajar, lo sih ngajakin gue nyanyi!"

__ADS_1


Helmi ingin sekali rasanya memukul Seren, bisa-bisanya ia yang di salahkan. Padahal Seren sendiri juga menikmati lagunya.


Seren memutar balik mobilnya, gadis itu langsung mengarahkan ke jalan yang benar.


Tidak lama kemudian, setelah perjalanan kurang lebih hampir 2 jam, akhirnya mereka sampai di sebuah Villa di pinggiran kota. Suasana sejuk karena pepohonan membuat mata terasa segar.


"Woi bangun kebo! Enak banget lo tidur mulu, gue bukan supir lo kurang ajar!" Kesal Seren, kemudian gadis itu langsung keluar dan menutup pintu mobilnya cukup keras.


Helmi mengucek-ngucek matanya, gadis itu tidak peduli dengan keluhan sahabatnya. Bodo amat, yang penting ia bisa meluapkan hasrat untuk tidur nyenyak. Siapa suruh mau-mau aja nyetir mobil, batin Helmi ketika melihat Seren.


Helmi menyusul Seren keluar dari mobil, namun sebelumnya gadis itu mengeluarkan kopernya dari mobil Seren.


"Bantuin kek, lo mah jahat banget biarin gue nenteng beginian."


Seren menatap sini Helmi, "salah sendiri ribet banget bawaan lo. Mampus, nikmatilah!" Seren meninggalkan Helmi, gadis itu berjalan cepat menuju Villa, sedangkan Helmi ingin sekali rasanya melempar kepala Seren menggunakan sepatu miliknya.


"Ini villa bagus banget," gumam Seren ketika melihat desain Villa yang terlihat seperti rumah-rumah di Eropa. Semua bagian villa itu terbuat dari kayu yang di cat dengan warna yang sama.


"Kita sekamar ya, gue takut tidur sendiri."


"Seren, mulut lo emang nggak ada akhlak ya kalau ngomong. Gue anak baek-baek lo katain nggak bener, gue rajin sholat 5 waktu, gue rajin puasa, gue rajin bantuin orang tua, gue juga ra___"


Karena mulai jengah dengan semua yang Helmi katakan, akhirnya tanpa aba-aba Seren masuk ke dalam kamar. Helmi yang melihat itu memelototkan matanya. "Astagfirullah, di tinggal lagi gue."


Seren meletakkan ransel yang ia bawa di atas tempat tidur. Kemudian ia mengambil ponselnya, kening gadis itu berkerut. Ada sekitar lima panggilan tak terjawab dari sebuah nomor ponsel yang tidak dikenal.


"Aduh, bahagianya gue bisa liburan." Helmi menjatuhkan dirinya di samping Seren. Gadis itu menatap langit-langit kamar, kemudian ia mengganti posisinya menjadi tengkurap.


"Dulu kalau kita liburan selalu ke pantai, sekarang kenapa lo milih ke hutan begini?" Tanya Helmi penasaran, karena setaunya dulu Seren selalu suka jika di ajak liburan ke pantai. Tapi sekarang semuanya berubah, selama empat tahun tidak pernah bertemu banyak hal berbeda yang Seren jalani, tidak sama seperti dulu.


Seren tidak menjawab pertanyaan Helmi, ia masih fokus dengan ponselnya. Sampai tiba-tiba saja tangan Helmi memukulnya, barulah ia sadar. Gadis itu mendelik kearah Helmi.


"Apa lo lihat-lihat!?" Kesal Helmi melihat sahabatnya itu.

__ADS_1


Sambil berdecak Seren menoyor kepala Helmi, "heran, lo bego atau goblok, ngapain mukul gue!?"


"Nggak sadar diri banget, gue mukul lo karena gue ngomong sama lo tapi lo malah nyuekin gue. Ah udah deh, bete gue." Helmi yang kesal kepada Seren akhirnya memilih untuk memejamkan matanya saja.


Seren menggelengkan kepalanya, kemudian ia beranjak dari kamar itu. Seren memilih untuk duduk di teras villa. Sesekali ia tersenyum sambil menghirup udara sejuk di villa.


"Andai aja gue masih sama dia, mungkin sekarang gue liburannya sama dia. Gue kangen banget sama lo Farez, bahkan sampai hari ini gue masih dengan terang-terangan menunjukkan jalan buat lo balik lagi ke pelukan gue. Meskipun gue tau itu nggak mungkin," gumam Seren.


Seren terdiam, ia kemudian memilih untuk memejamkan matanya. Hingga tanpa sadar gadis itu terlelap kedalam mimpinya.


"Seren bangun!" Seseorang dengan tidak berperasaan membangunkan tidur nyenyak Seren. Hal itu tentu saja membuat Seren ingin marah, karena Seren paling benci jika tidurnya di ganggu.


"Ada apa sih!?"


"Lo tau nggak, tadi gue ngelihat di villa sebelah ada Jenissa sama yang lainnya juga."


"Hah!?" Saking kagetnya hampir saja Seren terjungkal dari kursi yang ia duduki.


Helmi yang melihat ekspresi Seren langsung menarik gadis itu. Keduanya turun dari tangga villa. Lalu Helmi mengajak Seren untuk berpura-pura menghampiri mobil Seren, agar mereka lebih leluasa melihat.


Bodohnya, kenapa Seren mau menuruti Helmi, ia sudah seperti orang aneh sekarang. Seren berpura-pura meniup-niup debu di kaca mobilnya. Namun mata gadis itu sesekali melirik kearah villa yang Helmi maksud. Sedangkan Helmi, gadis itu justru dengan terang-terangan melihat kearah villa tadi, ditambah lagi ia menggunakan kedua tangannya sebagai teropong.


"Kalian ngapain?"


Seren dan Helmi terlonjak kaget, keduanya terlihat gugup. Tapi Seren sebisa mungkin mengubah raut wajahnya menjadi sedatar mungkin.


"Seren, Helmi?"


"O_oh anu apa Hel?" Seren menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung apa yang akan di bicarakan.


"Kan tadi kita mau ngawasin villa sebelah Seren, lo liat kan tadi ada Jenissa sama yang lain juga."


Tamatlah sudah riwayat keduanya, emang mulut Helmi nggak pernah bisa di rem. Ngomong asal ceplos, nggak liat apa kalau yang di depan mereka ini salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Kurang ajar emang si Helmi, jujur banget setan!" Umpat Seren dalam hati, gadis itu pun akhirnya menatap orang yang tadi bertanya padanya dan Helmi dengan senyuman paksa.


Bersambung. . .


__ADS_2