HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 18. Angry Seren


__ADS_3

..."Setiap orang punya cara tersendiri untuk meluapkan rasa sakitnya, ada yang menangis, termenung, hura-hura atau bahkan membalas objek yang menjadi sumber luka."...


..._Hai Mantan!_...


Hari ini Seren sudah mengenakan pakaian rapi. Rok span panjang dengan belahan setengah dibelakang berwarna abu-abu, blouse hitam dan blazer dengan warna yang sama tampak pas di tubuh rampingnya. Rambut sebahunya ia urai, make up tipis diwajahnya menambah kesan cantik. Tidak berlebihan tapi tetap menawan, hanya saja gadis itu kemudian terdiam melihat ada yang aneh dari wajahnya.


"Astagfirullah, mata gue," paniknya, mata gadis itu terlihat masih bengkak akibat ia menangis dalam waktu lama semalam, sehingga ada rasa sedikit mengganjal. Seren tidak ingin keluarganya tau, jadi ia kemudian mengambil kacamata hitam ditempat aksesorisnya.


Seren menatap cermin besar dihadapannya dengan senyuman puas. "Nah, gini kan gue keliatan kayak manusia," gumamnya pelan.


Seren mengambil tas kecilnya, kemudian berjalan keluar kamarnya. Gadis itu menuruni satu persatu anak tangga rumahnya.


"Kak Seren."


Gadis itu menoleh kebelakang, di tangga terakhir ia menunggu orang yang memanggilnya.


"Kamu kok belum berangkat?"


"Cakra nanti sore harus pergi keluar kota Kak, ada urusan bisnis."


"Buset Adek gue, sibuk bener, bangga udeh Kakak nih." Seren mengacak-acak rambut adiknya itu sambil bergaya sok  tua, yang seolah membanggakan anaknya.


Cakra menatap datar kakaknya itu, "Kak stop, nggak usah sok tua gitu."


"Dih, Kakak emang lebih tua dari kamu, gini-gini Kakak itu Kakaknya kamu Cakra." Seren berjalan mendahului adik pertamanya menuju meja makan di dapurnya.

__ADS_1


Gadis itu kemudian menarik salah satu kursi, dan duduk untuk sarapan.


"Kak Seren kenapa pakai kacamata hitam?" Gevan yang memang duduk di seberang Seren menatap aneh Kakaknya itu.


Seren gelagapan, tidak mungkin bukan jika ia menjawab karena matanya bengkak akibat menangis, bisa panjang urusannya nanti. Apalagi kedua adiknya itu sangat-sangat rese.


"Oh, emb apa ya, ini mata Kakak tuh semalam kelilipan, terus rada merah, jadi daripada kena debu ya kakak pakai kacamata ini."


Semua orang yang ada di ruangan itu menganggukkan kepalanya mengerti. Sampai sebuah suara yang membuat Seren ingin melempar piring ke wajahnya terdengar.


"Tapi kan nggak harus pakai kacamata hitam juga kan?" Dengan polosnya Gevan bertanya kepada Seren.


"Benar juga, kamu emangnya nyaman pakai kacamata hitam begitu Sayang?" Vera membenarkan ucapan putra bungsunya itu.


"Huh, selamat gue. Ish, untung aja gue jago ngeles. Kalau nggak, bisa abis diintrogasi."


Seren menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, kebetulan hari ini ia akan ke kantornya dengan Giantra. Lelaki itu memang berjanji akan menjemput Seren.


"Lama amat si Gian, nggak tau apa gue harus buru-buru sampek Neve Publisher." Karena kesal, Seren akhirnya memutuskan untuk duduk di depan pagar rumahnya. Ia tidak peduli, jika dianggap gembel oleh orang-orang disana.


Tidak lama kemudian, sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan pagar rumah Seren, gadis itu melihat ban mobilnya, tapi ia malas berdiri karena ngambek dengan Giantra. Sampai terdengar suara seseorang keluar dari mobil dan berjalan mendekat kearahnya.


"Gue ngambek, lo datangnya lama, lelet lo," kesal Seren, wajah gadis itu menghadap ke kiri dengan kepalanya yang ia tumpukan di lutut.


"Gue nunggu lo sampek kayak gembel gini, padahal gue harus cepet ke Neve Publisher. Gian, ini salah l---"

__ADS_1


Seren membulatkan matanya sebelum sempat menyelesaikan ucapan. Tangan gadis itu mendarat tepat di dada seseorang. Tadi, ketika ia ingin memukul orang yang ia anggap Giantra, Seren langsung berdiri kemudian saat ia melihat bukan Giantra dihadapannya sekarang gadis itu kaget bukan kepalang.


"Kamu kenapa hmm?"


Seren menarik tangannya perlahan, lalu melipat di depan dada. "Kenapa bisa ada lo disini!?" Ketusnya, ia sama sekali tidak ingin melihat orang didepannya itu, Seren membuang pandangannya kearah kiri, masih dengan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya.


Orang itu tersenyum,kemudian mengacak rambut Seren. Seren menepis kasar tangan orang itu, "Heh babi, ngapain sih lo nyentuh-nyentuh rambut gue!? Sok deket lo!"


Orang itu menghembuskan nafas sabar, "Seren, aku cuma mau nyapa kamu. Udah lama banget setelah hari dimana kamu menghilang secara tiba-tiba, aku nggak pernah lagi berhubungan dengan kamu, meskipun hanya sekedar chatan sama kamu. Aku merindukan kamu, aku sangat terluka kehilangan kamu," lirih orang itu.


Seren menatap orang yang tak lain adalah Farez, mantannya, gadis itu berdecak kesal. "Cih, sok banget lo ngomong kayak orang paling merasa kehilangan. Lo padahal senengkan gue menghilang? Iya kan? Jadi lo nggak perlu susah-susah menjauh dari gue, lagian kalau emang bosen bilang bangsat! Jangan bikin gue merasa nggak pantes buat lo, jangan bikin gue tiba-tiba harus sadar diri! Sialan." Seren benar-benar di kuasai amarahnya, gadis itu ingin meluapkan segala emosi yang selama 4 tahun belakangan ia pendam, rasanya semua meledak-ledak sampai diatas kepalanya.


Farez hanya diam, lelaki itu tidak menyangka jika Seren bisa se-marah ini, bisa se-emosi ini. Dulu, gadis itu akan diam sampai orang yang menurutnya memiliki kesalahan sadar diri dan meminta maaf padanya. Namun, Farez ingat betul jika ternyata selama ia bersama Seren gadis itu yang terlebih dahulu berbicara ketika ada yang salah dengan hubungan mereka. Farez seolah tidak peduli, sampai Seren seringkali merasa jika hubungan mereka hanya hubungan satu sisi dimana Seren yang seperti sangat dan paling membutuhkan Farez, sedangkan Farez biasa saja.


"Kenapa!? Lo tersinggung!? Orang jahat kayak lo gini nggak pantes tersinggung, pantesnya tobat, biar Allah ngampunin dosa lo yang banyak itu. Ih udahlah, capek ngomong sama batu, dibilangin juga nggak bisa, punya tingkat kepekaan rendah, perasaan nggak punya, sok kegantengan lo, mentang-mentang lo terkenal, mentang-mentang lo pinter." Seren langsung meninggalkan Farez begitu saja, gadis itu masuk kedalam rumahnya untuk mengendarai mobil miliknya sendiri. Bisa emosi jika lama-lama gadis itu menunggu Giantra, lelaki itu sepertinya ingin merasakan bogeman mentah dari Seren. Gara-gara dia, Seren harus menghabiskan tenaganya untuk mencaci maki Farez yang memang dasarnya batu. Lelaki itu tidak akan pernah sadar dengan kesalahannya, egois.


Tin Tin Tinnnnn


Sengaja, Seren menekan-nekan klakson mobilnya  dengan sekuat tenaga, mobil Gadis itu ingin keluar dari halaman rumah, namun terhalang oleh mobil milik Farez. Farez tersadar dari diamnya, lelaki itu langsung masuk mobilnya dan menjalankan.


Sambil menyetir, Farez termenung, lelaki itu memikirkan semua ucapan Seren. Ternyata dulu ia memang sangat egois, tapi ia sama sekali tidak sadar diri. Lelaki itu terlalu asik dengan dunianya sampai tidak sadar, jika orang yang tulus mencintainya harus terluka. Dan bodohnya, Farez seolah menjadi orang yang paling tersakiti ketika ada masalah diantara mereka, padahal Seren lebih tersakiti.


Farez melihat mobil Seren yang mendahuluinya dengan kecepatan cukup kencang. "Maafin aku." Cicitnya memandang mobil Seren yang mulai menghilang ketika berada di tikungan jalan.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2