
..."Tidak perlu banyak orang tau tentang kehebatan kita sebenarnya, biarkan mereka menghina kita serendah-rendahnya seperti kita adalah sebuah sampah."...
..._Hai Mantan!_...
"Seren beneran nggak mau datang dipertemuan kerjasama Zelmirise group dengan beberapa restoran dan juga kafe di Jogja?" Vera bertanya kepada sang anak sambil mempersiapkan mengemas barang-barangnya di dalam tas jinjing branded yang biasa ia kenakan.
Seren menggelengkan kepalanya, gadis yang masih berada di atas tempat tidur karena semalam ia ingin tidur bersama sang mama itu dengan tidak berminat.
"Kenapa Nak?"
"Neve Publisher juga nanti siang akan ada pertemuan Ma, Seren nggak mau banyak mikir, jadi Mama aja ya yang datang ke pertemuan Zelmirise group." Tentu saja itu bukan hal yang sebenarnya, karena alasan Seren sebenarnya adalah karena ia tidak ingin jika orang-orang mengetahui jika ia adalah pemilik sah dari Zelmirise group.
Vera hanya menganggukkan kepalanya, kemudian wanita itu mencium kepala sang putri dan berpamitan untuk mengahadiri pertemuan.
"Jangan lupa makan Sayang, Mama tadi udah masakin kamu nasi goreng."
Seren hanya Berdehem dibalik selimut yang sekarang menutupi seluruh tubuhnya. Vera menggelengkan kepalanya melihat tingkah Seren.
Setelah beberapa saat Seren tidak lagi mendengar suara sang mama, sepertinya Vera sudah berangkat. Akhirnya gadis itu memilih untuk beranjak dari tempat tidur, ia turun ke lantai bawah rumahnya.
"Kak Seren." Hampir saja gadis itu terjatuh jika ia tidak memegang pinggiran tangga rumahnya.
Seren menatap datar orang yang tadi memanggilnya, namun kejadian selanjutnya membuat orang yang tadi memanggil Seren tidak menyangka.
"GEVANNN!!! Rasain, sarapan sendal tuh sana, ngeselin sih." Saking kesalnya Seren melempar sendal rumahan berwarna putih yang ia kenakan.
Gevano mengusap kepalanya yang terkena lemparan sendal dari Seren. Lelaki itu kemudian memilih untuk berjalan ke dapur, ia tidak memperdulikan panggilan dari Seren. Niat hati ingin mengajak kakaknya itu makan, tetapi yang ia dapat adalah lemparan sendal.
Seren berjalan ke dapur, gadis itu menyusul Adik bungsunya yang sudah duduk anteng di meja makan. Gevan hanya diam, Seren menarik piring kosong di meja itu pelan, lalu mengambil nasi goreng yang sudah Vera siapkan untuk mereka.
"Dek." Seren memanggil Gevan hati-hati, bisa takutnya lelaki berumur 20 tahun itu masih marah padanya.
Gevan hanya berdehem sambil mengunyah makanannya. Bahkan Gevan tidak menoleh sedikitpun kearah Seren.
"Maa___"
"Niatnya mau bangunin ykakak buat ngajak makan, tapi yang di dapat justru lemparan sendal," Sindir lelaki itu dengan nada yang ia buat santai namun langsung membuat Seren meringis merasa bersalah.
"Maafin Kakak ya, Kakak kan reflek. Kamu juga sih, ngapain jalannya tadi ngendap-ngendap kayak cicak gitu?"
Gevan menyudahi makannya, lalu menatap Seren datar. Seren hanya tertawa dengan paksa sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya tanda damai.
__ADS_1
"Tapi serius deh, Kakak minta maaf. Nanti kita jalan deh, sibling time gitu, Kakak yang traktir kamu. Gimana? Kamu sibuk nggak hari ini?" Emang dasarnya jiwa Seren tukang bujuk, pinter banget kalau mulutnya ngomong bikin luluh orang lain apalagi wajahnya ia buat semelas-melasnya agar Gevan memaafkan.
Gevan membuang muka ke samping, hal itu membuat Seren menggoyangkan lengan adiknya itu agar terbujuk mulut liciknya.
Mau tidak mau Gevan tetap harus mau, mana bisa ia menolak, ujung-ujungnya juga nanti kalau nolak ia bakalan di diemin sama Seren dalam waktu sebulan. Mana betah Gevan, di cuekin Seren seharian aja dia udah ngerngek-rengek ke Mamanya buat minta bantuan ngebujuk Seren biar nggak nyuekin lagi.
"Ayo dong, kalau kamu nggak mau Kak___"
"Kakak ngambek sebulan sama kamu," ujar Gevan sebelum Seren mengucapkan kata sakral itu. Gevan sudah hafal dengan tabiat kakaknya itu.
Seren tersenyum, "Nah itu tau, yaudah ayo Dek."
Gevan akhirnya memilih untuk menganggukkan kepalanya saja. Pasrah, daripada harus di diemin sebulan gara-gara kakaknya ngambek.
***
Seren mengikuti alunan musik yang diputar dalam mobil adik bungsunya, Gevan. Gadis itu sesekali menggerak-gerakkan kaki dan tangannya.
"Mau kemana kita sekarang Kak?" Tanya Gevan sambil menoleh kesamping dimana sang kakak berada.
Hari ini Seren menggunakan celana jeans pas di tubuhnya, jaket denim, totebag berwarna kaky dan juga topi hitam. Cantik, meskipun terkesan tidak girly. Sedangkan Gevan, hampir sama, lelaki itu menggunakan celana jeans berwarna hitam jaket yang sama juga topi yang hampir sama ditambah sepatu bermerk yang dikenakannya, berbeda dengan Seren yang hanya menggunakan sendal jepit swallow.
Gevan mengiyakan apa yang menjadi kemauan kakaknya. Sepasang kakak beradik itu terlihat sangat menikmati quality time-nya. Akhirnya setelah perjalanan beberapa menit dari rumah, Seren dan Gevan sampai di parkiran umum Zelmirise Cafe, keduanya sengaja agar tidak ada yang curiga siapa mereka sebenarnya.
Dengan santainya Gevan dan Seren memasuki Zelmirise Cafe, Seren menggandeng lengan adik bungsunya tanpa malu. Ya lagian kenapa juga malu, dia nggak nyolong ini, batin gadis itu.
Prok prok prok
"Kita ketemu lagi ya." Sudah bisa dipastikan siapa yang suka singing setiap ketemu sama Seren. Jenissa, gadis itu memang tidak ada henti-hentinya mengganggu ketenangan hidup Seren.
Hampir semua pusat perhatian orang di Zelmirise Cafe mengarah kepada Seren dan Jenissa serta Gevan. Seren rasanya sangat malu menjadi pusat perhatian seperti ini, namun ia berusaha untuk tenang. Apalagi tanpa sengaja ia melihat sang mama yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Gawat ada Mama," Batin gadis itu, matanya kemudian melirik Gevan yang ada di sampingnya
"Lo kenapa? Mau kabur lagi? Takut ya?" Jenissa mengibaskan rambutnya, beberapa orang mulai serius memperhatikan Seren dan Jenissa juga Gevan yang memang ada diantara merek.
Masih diam, tidak ada niatan untuk Seren membalas ucapan dari Jenissa sedikitpun.
"Ternyata bener ya, lo emang nggak tau diri. Kemarin baru aja ngegodain Farez, sekarang udah jalan sama cowok lain. Nggak tau malu."
Gevan mendengar ucapan dari Jenissa sangat geram, bagaimana mungkin kakak yang selama ini ia jaga justru di perlakukan seperti itu oleh gadis di hadapannya ini.
__ADS_1
Seren mengisyaratkan kepada adiknya agar tidak ikut campur dengan urusannya, bahkan ia tanpa sengaja melihat sang mama yang sudah ingin menghampiri mereka tapi lagi dan lagi Seren hanya menggeleng pelan agar sang mama tidak mendekat, ia merasa bisa mengatasinya.
"Ser_"
"Gue nggak pernah mengganggu hidup lo, tapi kenapa lo nggak ada bosen-bosennya ikut campur ke dalam hidup gue?" Nada bicara Seren ia buat sesantai mungkin.
Jenissa tersenyum sinis, "Lo bilang lo nggak mengganggu hidup gue?"
Seren mengerutkan keningnya bingung, apa yang salah, memang benar ia tidak pernah mengganggu hidup Jenissa, tapi kenapa gadis itu masih terus mengganggunya.
"Dengan lo kembali lagi ke kota ini, itu sama aja lo mengganggu hidup gue. Gara-gara lo Farez selalu cuek sama gue, bahkan sebelum ada lo pun Farez selalu cuek sama gue, gue udah mati-matian berusaha buat dia nyaman sama gue tapi dia selalu inget lo lagi lo lagi. Sekarang, setelah lo kembali, rasanya semua perjuangan gue sia-sia, Farez semakin nggak peduli sama gue. Apa lo nggak mikir gimana jadi gue, dengan seenaknya lo ngerebut kebahagiaan gue."
"Kenapa lo beranggapan bahwa itu salah gue? Apa itu semua di bawah kuasa gue? Seharusnya lo bisa mikir, karena gue nggak ada sangkut pautnya sama hubungan lo sama Farez. Udah berapa kali gue bilang, kalau gue dan dia udah selesai. Apa lo masih belum puas? Apa lo tuli?" Geram, tentu saja Seren merasa kesabarannya sudah habis. Jenissa benar-benar keterlaluan, apalagi sekarang mereka benar-benar sudah menjadi pusat perhatian banyak orang. Jika saja bukan di tempat umum mungkin Seren tidak akan se emosi sekarang, ia akan lebih banyak diam.
"Ya, itu emang salah lo. Kalau aja lo nggak balik ke Jogja, kalau aja lo menghilang selamanya."
Seren menghembuskan nafasnya pelan, "gue bakalan jauhi Farez gue bakalan menghindar dari dia, gue akan seolah-olah nggak kenal sama dia meskipun ketemu tanpa sengaja. Apa lo puas?" Seren sudah tidak tau lagi harus mengatakan apa, gadis di depannya itu benar-benar keras kepala. Gevan mengelus pundak kakaknya, lelaki itu kemudian menggenggam tangan Seren yang gemetar. Ia tau bahkan sangat tau Seren, gadis itu tidak bisa marah terlalu serius, jika itu terjadi maka sebentar lagi Seren akan menangis sendiri, dan jika Seren menahan maka nafas gadis itu tidak beraturan, badannya dingin, wajahnya merah dan tangan serta kaki Seren pasti gemetar.
"Ada apa ini? Apa kalian tidak malu ribut ditempat umum seperti ini?" Vera menghampiri Jenissa dan juga Seren, Vera tau jika putrinya itu sudah tidak sanggup karena emosi dan tidak bisa melupakannya.
"Bu Vera?"
"Ya, ini saya. Ada apa Mbak Jenissa membuat keributan di Kafe milik saya ini?" Tegas, tersirat kemarahan di mata Vera.
Jenissa menjadi sedikit gugup, apalagi yang ia hadapi sekarang adalah pemilik dari Zelmirise group, tentu saja akan berakibat fatal pada bisnisnya yang baru ia mulai.
"Maaf kan saya Bu Vera, saya hanya ingin memberi pelajaran kepada gadis pelakor ini agar ia tidak bertingkah seenaknya."
Nafas Vera sedikit memburu, emosinya benar-benar memuncak, jika tidak mengingat citranya yang dianggap sebagai pemimpin dari Zelmirise group dan juga tatapan memohon dari putrinya, sudah ia hancurkan Jenissa saat itu juga.
"Bisakah anda tidak memperpanjangnya lagi, karena pelanggan saya sepertinya tidak nyaman." Ucapan yang keluar dari mulut Vera benar-benar datar, aura didalam Kafe itu tiba-tiba terkesan dingin.
Jenissa menatap Seren tidak suka, lalu gadis itu menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum seramah mungkin terhadap Vera.
Gadis itu akhirnya memilih untuk berpamitan kepada Vera karena cukup malu, ia tidak bisa menjatuhkan Seren sejatuh-jatuhnya di hadapan orang banyak.
"Oh ya Mbak, berhati-hatilah ketika bersikap, apalagi ketika di depan umum seperti sekarang. Anda belum menjadi siapa-siapa, namun anda sudah memperburuk citra anda. Ingatlah jika orang di depan layar tidak akan menjadi apapun tanpa orang di belakang layar," ujar Vera membuat langkah Jenissa terhenti.
Jenissa mengepalkan tangannya, "sial," Batin gadis itu, lalu tanpa pamit ia langsung berjalan cepat keluar Zelmirise Cafe.
Bersambung. . .
__ADS_1