
..."Hati memang tidak bisa memilih, sebaik apapun orang yang kau temui, jika kau tidak mencintainya maka dia bukan yang terbaik untuk mu."...
..._Hai Mantan!_...
Aura datar dan dingin terpancar dari gadis yang baru saja memasuki Kafe. Dari pintu masuk saja sudah terlihat jika tatapannya begitu mencekam.
"Aww, sakit banget. Lo ada masalah apa nyubit gue!?"
"Nggak tau diri emang ni orang, kesel gue," ujar gadis tadi seraya duduk di kursi hadapan orang yang ia cubit lengannya.
"Salah gue apalagi kali ini Seren sayang?" Nada bicara lelaki tadi melembut, ia mengambil kedua tangan gadis cantik dihadapannya dan mengelusnya pelan.
Seren, gadis itu menatap lelaki itu sinis, "Otak lo emang bener-bener goblok ya Gian, ngapain lo tadi nggak jemput gue setan!?"
Giantra berdiri dari duduknya dan menggebrak meja, Seren melihat itu merasa sangat malu. Mau diletakkan dimana wajahnya ini, semua orang sekarang menatap kearah meja Giantra dan juga Seren.
"Aduh, emang si kurang ajar satu ini. Eh duduk nggak Lo!?" Ujar Seren galak dengan mata yang ia pelototkan, namun sayang, karena mata gadis itu hanya segaris, jadilah terlihat lucu.
Giantra duduk sambil tertawa, lelaki itu langsung mencubit gemas pipi Seren. "Lo marah?"
Seren berdecak, "nenurut lo gue nyanyi!?"
"Kok nggak ada serem-seremnya?"
"Lo ya!? Huaa kesel banget sama Gian."
Giantra menggelengkan kepala melihat tingkah gadis didepannya yang sulit di tebak, gadis moodyan yang berhasil menarik perhatiannya, gadis ceria namun sebenarnya terluka. "Hmm, nggak apa-apa deh lo kesel sama gue, yang penting lo sayang gue."
"Iya, gue sayang sama lo, saking sayangnya pengen gue musnahin dari bumi. Gara-gara lo, gue tadi pagi harus ngabisin waktu buat caci maki mantan."
"Mantan?"
Seren menganggukkan kepalanya pertanda iya, Giantra terdiam. Tanpa sadar tangan kiri lelaki itu yang berada dibawah meja mengepal. Mendadak wajah Giantra terlihat datar. "Lo, nggak apa-apa?"
Seren tertawa, memangnya dia kenapa, Giantra heran melihat gadis itu, lalu ia meletakkan punggung tangannya diatas kening Seren. "Nggak panas," Gumamnya masih bisa Seren denger.
Seren menepis pelan tangan Giantra, "emangnya gue kenapa?"
__ADS_1
"Tadi, katanya lo ketemu mantan, siapa tau lo nggak baik-baik aja."
Berdehem pelan, Seren mencomot pisang goreng dipiting milik Giantra lalu memakannya. "Gue nggak akan sedih, gue malah seneng ketemu dia."
Tiba-tiba saja, tubuh Giantra mendadak panas, ia tidak rela jika Seren senang bertemu lelaki lain, terutama Farez yabg memang masih Seren cintai.
"Gue seneng karena gue berhasil caci maki dia, gue berhasil marah dan ngeluapin emosi gue dari 4 tahun silam yang emang pengen gue luapin ke dia."
Senyuman Giantra kembali terbit, lelaki itu bernafas lega mendengar penuturan Seren. Setidaknya, alasan Seren senang bukan karena memang ingin bertemu Farez atau berbicara dengan lelaki itu.
"Gue ikutan seneng kalau lo seneng."
"Iya, gue sebenernya seneng bukan gara-gara gue berhasil ngeluapin emosi gue ke Farez, tapi gue seneng karena gue bisa ngeliat dia, bisa ketemu dia. Jujur gue terluka waktu liat dia kayak nyesel, ada rasa keinginan untuk meluk dia, tapi gue nahan semuanya karena gue sadar posisi gue sekarang, juga karena gue masih merasa belum bisa nerima semua perlakuannya dulu ke gue. Maaf Gian, gue bohong...lagi," ungkap Seren dalam hati sambil menatap sahabat yang sudah ia anggap menjadi saudara itu.
"Permisi mbak Seren, ini pesanannya." Seorang pelayan datang dengan nampan yang berisi es kopi.
Seren mengerutkan keningnya, begitu juga dengan Giantra. Keduanya saling tatap menatap, "maaf, tapi teman saya belum pesan apapun Mas."
Pelayan lelaki itu tersenyum, "tapi tadi kata Kakak yang duduk dis---"
Seren menyerngitkan dahinya, "mana?"
"Tapi beneran Mbak, Mas, tadi ada Mas Mas yang memesan es kopiĀ ini untuk Mbak Serena, benar bukan mbak ini mbak Serena?"
Seren hanya menganggukkan kepalanya, pikiran gadis itu bingung, siapa kira-kira yang memberikannya kopi seperti ini.
"Ya sudah, jika seperti itu saya pamit Mas, Mbak."
Setelah kepergian dari pelayan kafe tadi, Giantra mengamati kopi yang dipesankan untuk Seren.
"Ngapain lo?" Tanya Seren bingung melihat Giantra yang sibuk memicingkan matanya, membuka sedotan dan mengaduk kopi itu.
"Gue mau memastikan sesuatu."
"Hah?"
"Gue takut kalau ada pestisidanya, jadi sebelum lo minum ini kopi biar gue yang cicipi, biar kalau mati nanti gue aja, jangan lo." Giantra akhirnya menyicipi es kopi milik Seren tersebut.
__ADS_1
Seren menatap datar Giantra, tanpa aba-aba Seren langsung merebut es kopi itu dari Giantra. "Ngapain lo cicipin sih!? Ini punya gue, lagian siapa juga yang bakalan masukin pestisida di kopi gue, nggak ada. Lo aja tuh yang oengen minum kopi gue," tuduh Seren, ia menyeruput es kopinya, lalu terdiam.
"Kenapa lo? Eh lo keracunan ya!? Seren aduh, gimana nih, tol---"
Seren memukul lengan Giantra sebelum lelaki itu kembali membuatnya malu. "Goblok, gue bukan keracunan! Tapi ini kopinya kok bisa pas gini ya, tau banget selera gue." Seren kembali meminum es kopi miliknya.
"Tapi, terlepas dari itu semua, gue jadi penasaran siapa yang mesenin kopi ini buat lo."
Seren menatap Giantra serius, "kenapa?"
"Iya, soalnya kalau sampek kopi ini belum di bayar ujung-ujungnya gue lagi yang rugi."
Detik selanjutnya, tangan Seren berhasil mendarat mulus diatas kepala Giantra saking kesalnya.
***
"Huh, kenapa sih gue harus ketemu mantan lagi." Menghembuskan nafasnya pelan seren membaringkan tubuhnya. Pikirannya menerawang jauh, kenapa ia harus terus-menerus berurusan dengan Farez. Padahal gadis itu ingin melupakan semua perasaannya, apalagi melihat Farez yang sekarang sudah bersama Jenissa. Bahkan sampai Seren berulangkali jadi sasaran amukan Jenissa akibat selalu bertemu Farez meskipun bukan kemauan gadis itu, semua diluar kendalinya.
"Seren." Sang Mama memasuki kamar anak gadis satu-satunya itu. Seren menegakkan badannya.
"Mama, ada apa?"
Mama gadis itu tersenyum, ia mengusap pelan rambut putrinya itu. "Ini buat Seren."
Seren menerima amplop putih pemberian sang Mama, lalu gadis itu membukanya. Perlahan, ia mengeluarkan lipatan kertas dan membaca tulisan yang ada didalamnya.
Mata gadis itu berubah sendu, setetes airmata menetes diatas kertas yang ia baca. "Ma?"
Vera tersenyum memandang putrinya yang telah tumbuh menjadi gadis dewasa itu, putrinya yang sekarang berubah menjadi gadis bijaksana.
"Semua Mama serahkan pada Seren. Mama tau Seren anak baik, Mama tau Seren tidak pernah membencinya kan? Seren selama ini hanya kecewa karena apa yang ia lakukan menyakiti Seren." Airmata Vera juga ikut menetes, wanita tegar dengan tiga anak-anak hebat itu tidak bisa menahan rasa sedihnya, lukanya selama bertahun-tahun.
"Mama, Seren mau peluk Mama aja. Seren sayang Mama, Mama jangan terluka lagi, karena kalau Mama terluka Seren akan lebih terluka. Maaf Ma." Gadis itu memeluk sang Mama, ia mengusap airmatanya dan kembali menahan sesaknya.
"Kenapa semua orang di masalalu Seren harus datang sekarang ketika Seren lebih bahagia tanpa kehadiran mereka," gumam Seren sambil memejamkan matanya.
Bersambung. . .
__ADS_1