HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 12. Not true


__ADS_3

..."Terkadang diam lebih baik dari pada harus bersusah payah berbicara namun tidak didengarkan."...


..._Hai Mantan!_...


Suasana di swalayan cukup ramai, terlihat dari antrian yang cukup panjang. Mungkin karena awal bulan, jadi banyak orang yang berbelanja untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Seren, gadis itu menemani sang mama belanja di swalayan salah satu mall di Jogja.


"Ma, Seren ke toko bunga sebentar ya. Nggak apa-apa kan Mama Seren tinggal?"


Sang Mama menganggukkan kepalanya, "nggak apa-apa kak, Mama bisa kok sendirian."


Seren tersenyum, lalu ia berlalu menuju toko bunga. Gadis itu memang pecinta bunga, terutama bunga Lily, kebetulan ia ingin mengganti bunga untuk ruangan di kantornya. Namun di perjalanan menuju toko bunga, tiba-tiba saja seseorang menarik paksa baju Seren.


Seren yang terkejut hampir terjungkal kebelakang. Gadis itu melebarkan matanya melihat orang yang tadi menarik bajunya.


"Jenissa?"


Jenissa tersenyum sinis, "apa! Iya, ini gue! Lo makin nggak tau diri ya lama-lama."


Mengerutkan dahinya tidak mengerti, Seren mengembuskan nafasnya pelan, ia sendiri bingung apa yang ada di pikiran Jenissa, tiba-tiba datang tanpa permisi langsung marah-marah.


"Ada apa? Kenapa lo dateng-dateng marah-marah gini?" Nada lembut yang gadis itu keluarkan, padahal Jenissa sudah seperti terbakar namun Seren masih meladeni dengan santai tanpa amarah sedikitpun.


"Halah, nggak usah pura-pura bego deh! Lo kenapa sih ngedeketin Farez lagi, lo itu cuma mantan, nggak tau diri banget!" Ujar Jenissa menggebu-gebu.


Banyak pengunjung Mall yang penasaran dengan apa yang terjadi, tapi ada beberapa orang yang seperti tidak peduli.


Seren tersenyum, tidak merasa bersalah atau marah sedikitpun, karena yang Jenissa katakan bukanlah sebuah kebenaran. "Gue nggak habis pikir sama diri lo, asal lo tau, nggak ada untungnya buat gue ngedeketin Farez lagi. Gue dan dia udah selesai...Meski sebenarnya nggak pernah ada kata putus diantara gue dan dia." Lanjutnya dalam hati.


"Bohong! Buktinya kemarin lo masih nemuin dia kan? Mana pakek gandengan tangan segala. Lo pikir gue bodoh, gue nggak bisa lo tipu dengan muka sok polos lo itu!" Geram Jenissa, wajah gadis itu merah padam, amarahnya sudah memenuhi hatinya.


Seren terkekeh pelan, "terserah." Tanpa aba-aba Seren meninggalkan Jenissa sendiri disana.


Jenissa semakin marah, "pelakor, nggak tau diri!" Caci makinya terhadap Seren.


"Kalau gue Pelakor, apa kabar dengan lo? Ngaca dulu sebelum menghina orang lain," ujar Seren kemudian, lalu melanjutkan jalannya ke toko bunga.


Jenissa yang berada di sana sudah sangat malu dengan ucapan Seren. Gadis itu akhirnya memilih pergi dari sana. Sedangkan Seren masih tenang-tenang saja, menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Penampilannya dengan celana jeans serta hoddie itu tidak mengurangi kecantikannya sedikitpun.


"Mau bunga apa Nona, mari silahkan." Pelayan toko bunga itu menyambut Seren dengan ramah. Seren membalas dengan senyumannya.


"Apa stok bunga Lily disini masih ada yang segar Mbak?"

__ADS_1


Pelayan toko tersebut menganggukkan kepalanya, "Kebetulan sekali Nona, kami memiliki stok yang baru diantar tadi pagi. Mari Nona saya antar."


Akhirnya Seren dan pelayan toko itu berjalan beriringan menuju rak bunga Lily berada.


Seren tersenyum, gadis itu mengambil salah satu bucket bunga Lily dan menciumnya. Bunga kesukaannya, meskipun banyak orang yang mengatakan jika bunga Lily adalah bunga yang beracun, bunga yang melambangkan kematian, namun nyatanya ia tidak peduli. Baginya bunga Lily adalah bunga yang melambangkan kesucian, racun yang dimilikinya sebagai alat perlindungan diri. Banyak orang yang memandang bunga Lily adalah bunga yang tidak indah karena fungsinya, namun tidak untuk Seren.


"Tolong saya membutuhkan 2 bucket bunga Lily, dan juga mawar jingga itu." Tunjuk Seren oada bunga mawar canting dengan kelopak lebar tanpa duri.


"Baik Nona, tunggu sebentar."


Pelayan tadi membungkus pesanan Seren, sedangkan Seren berkeliling toko bunga itu. Mata gadis itu berbinar melihat banyaknya bunga yang terpajang ditoko itu.


"Serena?" Seren menoleh kesamping kanannya. Gadis itu tersenyum ketika melihat Andita, ibu dari Azhar dan Farez yang menyapanya.


"Bunda, apa kabar?" Tanya gadis itu menghampiri Andita lalu mencium tangan wanita paruh baya itu.


Andita tersenyum manis, lalu mengusap pelan rambut Seren, "Bunda baik sayang. Kamu sama siapa kesini?"


"Sama Mama Bun, tapi Mama sedang belanja bulanan di Swalayan."


Andita menganggukkan kepalanya mengerti, "Bunda kesini mau beli bunga Mawar Jingga."


Seren melebarkan matanya, "Bunda suka bunga mawar jingga?" Tanya gadis itu antusias.


"Mama Seren juga menyukai bunga mawar jingga sama seperti Bunda."


"Permisi Nona, ini pesanannya." Seren dan Andita menoleh kesamping ketika pelayan tadi memanggil nama Seren. Gadis itu mengambil bunga yang sudah di kemas cantik itu.


"Kamu suka bunga Lily?" Melihat Seren yang membeli bunga Lily dari toko bunga itu. Seren hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Aneh-aneh saja kamu. Padahal banyak bunga lain yang lebih indah daripada bunga Lily."


Tertawa pelan, "tapi Lily cantik kok Bun, Seren suka."


Andita tersenyum mencubit pelan pipi Seren, gadis yang jauh dari kasih sayang seorang ayah, gadis mandiri yang tidak ingin merepotkan.


"Ibu udah?" Seorang lelaki menghampiri Andita, lelaki dengan setelan kaos hitam di balut jaket denim yang dikenakannya, tidak lupa celana Jeans hitam dan sepatu mahal yang melekat ditubuhnya.


Seren dan Andita memandang kearah lelaki tadi. "Azhar sini Nak," Panggil sang ibu, Azhar menghentikan langkahnya karena sedikit terkejut melihat Seren yang ada bersama sang ibu.


"Ada Seren juga?"

__ADS_1


"Mas Azhar, iya nih, kebetulan ketemu Bunda di sini," jawab gadis itu sambil tersenyum sedikit canggung. Hari-hari yang Seren lewati selama kembali lagi ke Jogja benar-benar semakin tidak tenang, banyak orang-orang baru maupun lama yang menghampirinya masuk ke dalam kehidupannya. Mau menghibdarpun Seren sudah tidak bisa, jadi satu&satunya cara dihadapi.


"Seren apa kabar?"


"Alhamdulillah baik Mas."


"Tunggu, kok kayaknya ibu nggak ngerti, kalian sudah saking mengenal?" Tanya Andita terhadap putra sulungnya itu juga Seren.


Azhar tertawa, sedangkan Seren menganggukkan kepalanya. "Iya Bu, kebetulan beberapa kali nggak sengaja ketemu dengan Seren."


"Baguslah jika seperti itu, jadi Ibu nggak perlu repot-repot. Kalian justru sudah saling mengenal dan sepertinya cukup dekat." Andita tersenyum, wanita paruh baya itu senang karena Azhar dan juga Seren ternyata sudah mengenal satu sama lain.


"Maksud Ibu/Bunda?" Tanya keduanya bersamaan.


Andita tersenyum misterius, "kalian nggak perlu tau, sekarang Ibu mau beli bunga mawar jingga dulu. Kalian ngobrol-ngobrol dulu aja, sebentar ya."


Setelah kepergian Andita dari hadapan Seren dan Azhar, kedua anak manusia berbeda jenis kelamin itu hanya diam. Terutama Seren, gadis itu merasa sangat canggung sekarang.


"Kemarin sama mantan, sekarang sama kakaknya mantan. Nasib gue gini amat," Batin Seren, gadis itu memang suka misuh-misuh tidak jelas.


"Seren."


Seren yang tadi memilih menunduk akhirnya mendongakkan kepalanya karena Azhar cukup tinggi, takut tidak sopan jika ia terus menunduk.


"Kamu pasti nggak nyaman kan sama ucapan Ibu tadi, maaf ya."


Seren menggelengkan kepalanya, "nggak apa-apa Mas, Seren seneng kok Bunda Andita baik banget."


Azhar bernafas lega, ia pikir Seren akan keberatan atau tidak nyaman. Ternyata gadis itu bereaksi lain.


"Kamu kok bisa ada disini?" Tanya Azhar lagi.


Seren menepuk keningnya pelan, "Astagfirullah, mama. Se--sebentar Mas, Seren pamit dulu ya, pasti Mama Seren nyariin Seren, bilangin Bunda maafin Seren nggak sempat pamit gara-gara harus buru-buru." Gadis itu tanpa aba-aba mangambil tangan kanan Azhar lalu bersalaman dengan cara mencium tangan Azhar.


Azhar yang masih belum sadar apa yang Seren lakukan hanya diam, lelaki itu memandangi punggung Seren yang mulai menghilang tertelan keramaian Mall.


"Azhar, dimana Seren?" Andita sudah selesai membeli bunga, wanita itu mencari keberadaan Seren.


Azhar tersadar, "Ibu, Oh itu, Seren nyamperin Mamanya, takut di cariin katanya."


"Serena cantik ya?" Tiba-tiba saja Andita mengatakan hal itu, Azhar mengerutkan dahinya bingung. Tapi kemudian ia mengiyakan sambil tersenyum karena mengingat perlakuan Seren mencium tangannya.

__ADS_1


"Gadis unik."


Bersambung. . .


__ADS_2