HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 16. Chat Farez


__ADS_3

..."Mungkin benar, jika jangan menilai sesuatu dari yang kita lihat atau dengar, tapi nyatanya tetap saja, mata dan telinga tidak akan mudah diabaikan, karena memang fungsinya memiliki pengaruh besar."...


..._Hai Mantan!_...


Ting


Suara notifikasi dari ponsel milik Seren terdengar. Gadis yang sedang menghabiskan waktunya untuk rebahan di malam hari itu mengambil ponselnya dari atas nakas.


"Siapa sih ini yang chat gue?" Gumamnya lalu membuka room chat whatsapp miliknya saat sebuah nomor tidak dikenal mengirim.pesan padanya.


[Haii.]


Seren mengerutkan keningnya, "aduh, dia pikir gue ABG apa pakek sapaan hai segala. Modus banget." Seren kemudian kembali meletakkan ponselnya diatas meja setelah membaca pesan masuk tadi.


Ting


Bunyi notifikasi lagi, Seren berdecak kesal. "Kurang ajar, bocil mana sih yang berani main-ma---"


Belum selesai ia berbicara, mata gadis itu terkejut membaca chat kedua yang masuk. Ternyata chat tersebut dari Farez, lelaki itu entah darimana mendapatkan no whatsapp milik Seren.


"Mantan kurang ajar, dapat no gue dari mana sih? Awas aja, pokoknya yang udah berani ngasi no whatsapp gue ke mantan pantatnya bisulan. Mampus!" Sumpahnya, karena ia sangat kesal dengan Farez.


[Seren.]


Seren enggan untuk membalas, ia mengabaikan saja. Tapi gadis itu sudah menyimpan no Farez dengan sebutan mantan kurang ajar.


[Nggak apa-apa kamu read doang]


[Aku cuma mau jelasin, kalau apa yang kamu lihat di lampu merah 0 KM itu nggak seperti itu yang sebenarnya, kamu salah paham.]


Seren kembali membaca pesan dari Farez meskipun tidak membalasnya, ia tidak peduli, lagi pula centang birunya ia matikan.


"Ini maksudnya si mantan kurang ajar apaan sih? Dia pikir gue salah paham gitu? Ih, kok jijik, gue kan udah bukan siapa-siapanya dia, ngapain pakek jelasin segala coba. Dulu aja pas gue belum jadi mantannya selalu aja chat dia duluan, kayak gue yang paling membutuhkan, kayak gue jadi pengemis aja. Sekarang, huh gue nggak akan mudah luluh, dia udah bikin gue sakit batin," gumam Seren dengan menggebu-gebu.


Dengan emosi Seren akhirnya memutuskan untuk membalas pesan dari Farez.


[Heh, Ge-Er banget idup lo!?]


[Lo pikir lo itu siapa!?]


[Kurang ajar banget, sok ganteng lo!]

__ADS_1


Sedangkan di tempat yang berbeda, Farez duduk di ruang keluarga sambil menonton TV bersama kedua orang tuanya. Sang kakak sendiri masih berada di kantor.


"Javas, kamu kenapa?" Sang ayah bingung sendiri melihat tingkah aneh sang putra bungsu yang senyum tidak jelas.


Farez menggelengkan kepalanya, ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja.


"Semakin hari kenapa semakin menggemaskan? Seren, astagfirullah, sepertinya emang aku masih menyayangi kamu, meskipun sekarang sifat kamu ketus denganku," ujar Farez dalam hati ketika membaca pesan balasan dari Seren yang terkesan sedikit kasar.


"Javas?"


"Iya Bu?"


"Kalau Bang Azhar sama Seren cocok nggak menurut kamu?"


Farez memasang wajah datarnya mendengar hal tersebut, lalu ia mencoba menjawab sesantai mungkin. "Javas nggak tau Bu, semua tergantung merekanya sendiri."


Andita menganggukkan kepalanya, "kamu benar juga, percuma dong kalau Ibu bilang cocok tapi merekanya nggak cocok," gumam Andita yang masih bisa di dengar Farez.


"Emang kenapa Ibu nanya kayak gitu?"


"Ibu pengen jodohin Bang Azhar sama Seren. Ibu pengen Seren jadi mantu Ibu."


"Sayang, kamu boleh menginginkan Serena jadi mantu kamu, tapi jangan memaksanya. Biarkan juga dia memilih pilihannya sendiri," nasehat  Ayah dari Farez, Andra.


"Ayah bener Bu, jangan buat Seren nggak nyaman. Kan Ibu sendiri yang bilang, kalau Seren di besarkan ketika dewasa tanpa kasih sayang ayahnya, jadi jangan sampai Seren terpaksa, dan pada akhirnya mendapatkan lelaki yang tidak tepat sehingga ia harus terluka."


Andita tampak berpikir, ia membenarkan apa yang diucapkan putra bungsunya itu.


Seketika suasana di ruang keluarga rumah Farez hening.


"Kalian pada ngapain?"


"Abang, astagfirullah." Semua orang disana memegang dada mereka karena terkejut kehadiran Azhar yang tiba-tiba.


Azhar hanya tertawa, "lagian, Azhar ngucapin salam nggak ada yang jawab." Lelaki itu langsung duduk di sofa ruang keluarga, memposisikan diri dengan nyaman.


"Udah deh, Ayah ngantuk banget udah malam, ayo Bu tidur aja kita. Kita tinggalin bocah nggak jelas berdua disini." Akhirnya Andra dan Andita memilih untuk meninggalkan kedua putranya di ruang keluarga


"Lah, kita anak Ayah juga, berarti kalau kita nggak jelas Ayah lebih parah, biangnya nggak jelas," protes Azhar yang diangguki oleh Farez.


Sang ayah hanya terkekeh mendengar protesan kedua putranya itu.

__ADS_1


"Bang, lo suka sama Seren?" Tanya Farez tiba-tiba ditengah diamnya.


Azhar menoleh kearah adiknya itu, lalu ia tersenyum. "Lo pikir?"


"Entah, gue nggak bisa baca isi hati lo.." Farez menatap langit-langit rumahnya, mendengus kesal karena sang kakak justru balik bertanya.


"Gue juga bingung, cuma gue seneng aja ketika ngelihat dia. Seren itu tipe cewek yang kalau dilihat seberapa lamapun nggak akan ngebosenin. Lo pasti paham maksud gue, kalau tipe cewek kayak Seren tentu aja banyak yang suka."


"Termasuk lo?"


"Gue belum bisa memastikan, tapi mungkin aja."


Akhirnya Farez kembali diam, pikirannya melayang  jauh memikirkan banyaknya kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Ya kali, masa dia saingan sama kakaknya sendiri.


"Bang?"


"Iya, ada apa little brother."


"Jangan manggil gue kayak gitu, gue udah 24 tahun,"  rajuk Farez.


"Sok gede lo, masih suka ngambekan gitu," ejek Azhar sambil mengacak rambut adiknya.


"Abang! Udah deh gue males, mau ke kamar aja." Farez beranjak dari sana meninggalkan Azhar yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang terlihat berwibawa diluar namun manja ketika bersama orang terdekat.


"Gue nggak tau apa gue suka sama Seren atau nggak, tapi mungkin gue tertarik sama dia. Dia beda, dan gue tau kalau lo juga tertarik sama dia, tapi maafin Abang Jav, kayaknya seandainya emang kita harus bersaing sekalipun, Abang nggak akan bisa ngalah dari lo meskipun kita saudara," gumam Azhar sambil melihat punggung Adiknya yang sudah menghilang di balik pintu kamarnya.


Farez duduk di dekat jendela kamarnya yang ia buka. Lelaki itu mengambil sebatang nikotin dari bungkusnya dan menyalakannya. Asap nikotin yang keluar tampak nikmat terlihat, lelaki itu memang pecandu nikotin, apalagi jika ia sedang banyak pikiran.


Farez membuka room chat whatsapp miliknya, lalu mulai kembali mengetikkan sesuatu.


[Kamu udah tidur?]


Ya, mungkin chat yang Farez kirimkan hanya sekedar pertanyaan maenstream yang sering digunakan ketika berbalas pesan. Namun baginya, ia sudah cukup senang. Farez bahkan memberi nama kontak seren dengan nama yang dulu ia selalu gunakan ketika hubungan mereka masih baik-baik saja zaman kuliah.


Ting


Notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatian Farez, lelaki itu meletakan rokok yang ada ditangannya diatas asbak. Lalu ia tersenyum melihat balasan Seren, ia pikir gadis itu sudah tidur, mengingat bagaimana seorang Seren yang sangat mudah terlelap tanpa peduli tempat.


[Kepo lo kek Dora.]


Farez menggelengkan kepalanya, Seren sepertinya memang sangat membencinya, tapi jujur Farez sendiri bahkan belum tau apa kesalahan yang membuat Seren meninggalkan ia dulu. Bukankah seharusnya Farez yang marah, kenapa Seren yang justru marah, disini Farez yang korban, tapi yang membuat Farez tidak mengerti, kenapa Seren begitu membencinya bahkan terlihat jijik.

__ADS_1


"Gue kayaknya harus cari tau buat memperjelas semuanya." Lalu Farez kembali mengisap asap dari nikotinnya. Lelaki itu teringat sesuatu, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi seseorang.


Bersambung. . .


__ADS_2