
..."Orang baik itu tidak perlu menghabiskan banyak tenaga untuk menunjukkan kebaikannya, karena semua orang sudah tau jika ia baik tanpa perlu bersusah payah ditunjukkan sekalipun."...
..._Hai Mantan!_...
"Lo apain Seren!?" Nada intimidasi memenuhi lorong dengan bau khas obat-obatan. Suara rendah dan nada dingin keluar begitu saja dari mulut Farez. Seketika aura dalam lorong mendadak tegang, tidak ada yang berani bicara. Bahkan si pelaku merasa nyalinya menciut.
"Jawab gue sialan!!! Lo apain dia!?" Tidak, bukan teriakan hanya nada yang sedikit keras.
"A-a-aku, a-aku nggak sengaja Farez."
Farez mendekat kearah Jenissa, lelaki itu langsung mencengkram leher Jenissa kuat. Kilatan amarah dari mata lelaki itu membuat Jenissa ketakutan.
"Farez lepasin Jenissa, lo bisa bunuh dia bodoh!" Galen yang biasanya hanya diam berusaha menenangkan lelaki yang merupakan sahabatnya.
Farez tidak menggubrisnya, lelaki itu masih dengan posisi yang sama.
"Farez, sadar, Jenissa pacar lo. Dia bisa mati." Vinaya berusaha membantu Galen melepaskan Jenissa dari cengkraman Farez, namun masih tidak berhasil.
"Woi, kalian jangan diem aja, bantuin, Jenissa bisa mati kalau terus dibiarkan." Vinaya berusaha meminta pertolongan dari orang-orang disana, namun mereka hanya melihat sekilas dan tidak peduli. Giantra, Helmi, Gevan, bahkan Farzan sangat khawatir dengan Seren yang masih berada di dalam pemeriksaan dokter.
Tiba-tiba saja Helmi mendekat, "kalau sampai terjadi apa-apa sama Seren, lo harus membayar semuanya. Farez lepasin dia!" Helmi dengan paksa melepaskan cengkraman Farez di leher Jenissa. Jenissa terbatuk-batuk dan menangis karena mendapat perlakuan seperti itu dari Farez, orang yang ia cintai.
"Itulah kenapa sampai sekarang gue masih mencintai Seren, karena lo dan dia beda. Lo terlalu terobsesi sedang Seren tulus," ujar Farez meninggalkan Jenissa yang kini berada di pelukan Vinaya.
"Gue salah apa Nay? Gue salah gitu kalau mau mempertahan apa yang harusnya jadi milik gue?" Lirih Jenissa pelan, namun masih bisa di dengar oleh Gevan, Farzan dan juga Giantra.
"Lo nggak salah mempertahankan apa yang emang seharusnya jadi milik lo.. Tapi sayangnya yang salah disini, apa yang lo pertahanankan emang bukan milik lo, tapi milik orang lain." Farzan yang selalu tertawa dengan sifat humorisnya itu bahkan ikut tidak menyukai cara Jenissa.
"The Real Of Lampir, jahat lo, awas aja kalau kakak gue mati. Lo juga gue matiin!" Sinis Gevan, sedangkan Giantra diam, ia hanya tidak percaya jika ada yang tega mencelakai orang yang ia sayang.
"Kalian keluarganya Seren?" Seorang dokter tampan baru saja keluar dari ruangan tempat Seren dirawat.
"Saya adiknya dok." Gevan maju terlebih dahulu.
__ADS_1
Dokter itu menganggukkan kepalanya, lalu menatap kearah yang lain. "Kami temannya Seren dok," ujar Farez, sakit sebenarnya mengatakan Seren adalah temannya. Namun apa pantas ia masih menyebut dirinya pacar setelah semua hal yang terjadi.
"Bagaimana keadaannya dok?"
Dokter itu tersenyum, "tenanglah, Nona Seren baik-baik saja. Ia hanya shock karena terjatuh ke dalam sungai. Beruntung sekali kalian segera menyelamatkan dan membawa Nona Seren kemari, Nona Seren sekarang sedang istirahat akibat pengaruh obat biusnya."
Semuanya bernafas lega, kecuali Jenissa yang mengepalkan tangannya kuat. Ia semakin menaruh dendam dengan Seren. Harusnya Seren mati saja, agar tidak ada yang menjadi penghalang hubungannya dan Farez. "Kenapa lo selalu lebih beruntung daripada gue?" Batin Jenissa.
"Apa kami sudah bisa menjenguknya dok?" Helmi bertanya karena tidak sabar ingin langsung bertemu sahabatnya itu.
Dokter tadi mengiyakan, akhirnya semuanya masuk kedalam ruangan Seren. Namun sebelum itu, langkah Giantra berhenti. "Sebaiknya lo jangan masuk, gue takut Seren semakin shock karena ngelihat lo."
"Giantra bener, mending loe di luar aja."
"Tap__"
"Vinaya, Galen, tolong lo temenin Jenissa diluar." Galen hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Farez.
"KENAPA SEMUANYA NGGAK ADIL! GUE BENCI SEREN! Gue benci dia Nay, benci." Vinaya hanya bisa menenangkan Jenissa, sebenarnya ia sendiri tidak berada di pihak siapapun, gadis itu bersikap netral. Ia tidak pernah membenarkan tindakan Jenissa, ia selalu menasehati gadis itu, tapi memang dasarnya Jenissa batu jadi susah di nasehati.
Sedangkan di dalam ruangan rawat Seren. Gadis itu perlahan membuka matanya, bau obat menyeruak disana, pandangan gadis itu perlahan mulai kembali. "Gue kenapa disini? Bukannya, bukannya tadi gue..."
Tanpa di sangka-sangka, Gevan langsung memeluk kakaknya itu. Lelaki yang merupakan adik kandung Seren itu sangat khawatir dengan kakaknya.
"Kakak, Gevan seneng kak Seren nggak jadi mati. Gevan sayang kakak meskipun kakak suka ngerepotin."
Seren berekspresi datar ketika mendengar ucapan adiknya. Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dan ucapan Gevan. Padahal tadi lelaki itu sudah menangis saat kakaknya yang tidak sadarkan diri, sekarang malah ngomongnya nggak di filter.
"Awas! Gantian, gue mau peluk sahabat gue." Helmi gantian memeluk Seren. Helmi sangat bersyukur sahabatnya itu baik-baik saja, jika sampai terjadi hal yang buruk dan menyebabkan Seren meninggal, mungkin Helmi akan membalas perbuatan Jenissa sampai Jenissa merasakan hal yang sama.
Gevan kesal sendiri karena Helmi selalu saja mengganggu keasikannya. "Pengganggu." Gumam Lelaki itu.
"Lo nggak nangis kan Hel?" Tanya Seren dengan nada masih lemah. Helmi langsung memukul pelan lengan Seren.
__ADS_1
"Enak aja, gue nggak pernah nangis," ujarnya meskipun terlihat jelas jika mata gadis itu terlihat sembab.
"Oh baguslah."
Setelahnya, semua terdiam tidak ada lagi yang berbicara, sampai akhirnya...
"Lo nggak apa-apa?/Kamu nggak apa-apa?" Secara bersamaan dua orang lelaki mendekat pada brankar Seren dan bertanya kepada gadis itu.
Seren terdiam, matanya mengerjai beberapa kali. Kemudian ia tersenyum sedikit kepada kedua lelaki itu. "Lo berdua kenapa?"
Giantra dan Farez saling tatap, bukan tatapan bersahabat, justru tatapan datar tak berekspresi yang mereka layangkan.
"Ngapain lo ikutin gue?" Giantra memang bukan lelaki yang pendendam, hidupnya bahkan selalu dipenuhi dengan kekonyolan juga tawanya. Bahkan hampir tidak pernah ia sedih sedikitpun atau menangis, tapi berbeda jika sudah menyangkut Seren.
Farez tidak mengatakan apapun, ia kembali menatap Seren lembut. "Aku khawatir sama kamu."
Seren membuang pandangannya kearah lain, ia tidak ingin menatap mantan pacarnya itu. "Gue nggak butuh lo khawatirin," gumam Seren dengan nada pelan.
Farez terdiam, jujur ada rasa sakit disana ketika Seren mengatakan jika ia tidak butuh Farez mengkhawatirkannya. Tapi Fate akhirnya tersenyum. "Maaf soal Jenissa yang mendorong kamu."
Seren terkekeh, "gue nggak apa-apa, cuma karena dorongan dia gue nggak akan dengan mudahnya mati." Kata-kata Seren memang terdengar sangat menusuk, gadis itu sebenarnya sangat marah mengetahui Jenissa yang dengan berani mencelakakannya, tapi ia tidak pernah ingin membalas Jenissa dengan hal yang sama.
"Seren, maaf untuk semuanya. Aku sayang kamu."
Giantra yang mendengar ucapan berani dari mulut Farez itu mengepalkan tangannya, ia berusaha mati-matian menahan emosi, berani-beraninya Farez mengatakan itu dihadapan Giantra. Gevan yang tau situasi berusaha menenangkan Giantra, sedangkan Farzan dan Helmi hanya diam menatap semuanya.
"Bilangin sama pacar lo, gue nggak akan balas perbuatannya. Tuhan nggak tidur kok, nanti dia bakalan dapat balasan dari Tuhan." Seren mengucapkan itu dengan nada rendah dan dingin.
"Dia bukan pacar aku."
Seren tidak percaya, gadis itu hanya terkekeh sinis. "Gian, gue kangen sama lo." Tiba-tiba saja raut wajah Seren berubah, kedua tangan Seren merentang minta di peluk Giantra. Tentu saja Giantra dengan senang hati memeluk Seren.
"Modus," ucap Gevan kesal, enak sekali jadi Giantra bebas memeluk Seren semaunya.
__ADS_1
Farez merasakan sakit yang luar biasa di hatinya. Melihat orang yang ia sayang mengacuhkannya dan lebih memilih untuk bersikap manja dengan lelaki lain adalah hal yang tidak pernah ingin ia rasakan. Beginikah rasanya diabaikan, Farez sekarang sadar betapa terlukanya Seren dulu.
Bersambung. . .