HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 14. Meet Again


__ADS_3

..."Jika segala cara sudah dilakukan namun tidak berhasil, maka jalan terakhirnya adalah dihadapi."...


..._Hai Mantan!_...


Seren menatap air hujan yang turun dari balik jendela kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul 2 subuh, namun gadis itu masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya melayang pada kejadian tadi siang, ia memang bukan gadis yang pemberani pada dasarnya. Ia hanyalah gadis cengeng yang manja, jadi ketika ada seseorang yang berbicara sedikit kasar Seren akan dengan mudah ingin menangis. Lihat saja, ketika ia sangat marah pun setelah mencaci maki seseorang Seren pasti menahan diri, sampai matanya berkaca-kaca.


Ceklek


Suara pintu kamarnya terbuka menampilkan adik pertamanya Cakra, lelaki itu memang dua hari terakhir kemarin sedang ada urusan pekerjaan diluar kota, jadi tidak tampak di rumah.


"Kakak kok belum tidur?" Cakra mendudukkan dirinya disalah satu sisi kasur Seren. Ia terlihat khawatir dengan kakak satu-satunya itu.


Seren tersenyum, selimut tebal yang ia kenakan diturunkannya. "Belum ngantuk."


"Kak, jangan terlalu mikirin hal yang nggak penting. Kak Seren itu berharga buat Mama, Cakra, Gevan, Nenek, jangan lupa juga sama Helmi. Kakak emang mau dengerin mulut bebeknya si Helmi nyerocos terus sepanjang hari kalau sampai kakak sakit?"


Seren tersenyum hingga mata gadis itu menyipit, garis matanya terlihat jelas membentuk bulan sabit. "Awas loh, nanti kakak laporin ke Helmi ya kalau kamu ngatain dia."


Cakra membulatkan matanya lebar, "Astagfirullah jangan kak, nggak sanggup, nanti urusannya sampai akhirat nggak kelar-kelar."


Seren tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan adik pertamanya itu. Namun kemudian Seren terdiam, ia tampak berpikir. "Embb, tapi, kamu kok bisa kayak tau banget Helmi sih?"


"Oh itu, kemarin kan Cakra waktu di luar kota Helmi salah satu partner kerja Cakra, jadi liburan sekalian sama dia, jalan bareng."


"Tunggu deh, kamu jalan sama Helmi?"


"Iya Kak," ceplos Cakra, lalu kemudian lelaki itu langsung menutup mulutnya.


"Wah, harus di introgasi ini," ujar Seren dengan tatapan curiga.


"Ah udah deh, Cakra ngantuk, mau tidur aja. Kak Seren jangan sampai nggak tidur, besok Kakak kan harus kerja. Selamat malam Kakakku tersayang." Cakra memeluk Seren singkat, lalu kabur dari kamar gadis itu.


Seren ingin sekali rasanya memukul adik pertamanya itu. Bisa-bisanya ia kabur ketika sang kakak ingin mengintrogasinya. Dasar adik kurang ajar.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, Seren tampak terburu-buru. Gadis itu ternyata kesiangan, bahkan rambutnya ia Cepol asal, lalu ia berlari menuju garasi mobilnya untuk langsung pergi ke kantornya, Neve Publisher.


"Kurang ajar, pakek macet segala lagi," ujarnya kesal ketika sampai didepan perempatan lampu merah.


Hampir setengah jam, sampai akhirnya ia berhasil melewati kemacetan yang disebabkan oleh perbaikan jalan.


Seren mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, gadis itu hari ini memang ada pertemuan dengan EO yang akan menangani acaranya. Masih ingat bukan, jika Farez dan timnya yang menjadi EO-nya.


35 menit berlalu, Seren akhirnya sampai di parkiran kantornya. Gadis itu dengan buru-buru masuk ke dalam kantornya. Ia berlari di lobi kantor tanpa peduli pandangan karyawannya yang menatap aneh.


"Ini pada kenapa karyawan gue? Apa ada yang salah sih sama penampilan gue?" Batin Seren, ia memasuki lift bergabung dengan para karyawan. Tidak lama setelahnya, Seren sampai di ruangan meeting, ia mengucapkan permisi ketika membuka pintu ruangan itu. Hal itu sontak saja membuat orang-orang disana menatap Seren dengan pandangan berbeda-beda. Giantra menghampiri Seren, lalu menarik tangan gadis itu pelan keluar ruangan, Seren ingin memberontak karena ia merasa sudah sangat telat, jadi harus segera bergabung denganĀ  rapat.


"Ih lepasin gue!" Tepis Seren sedikit kasar.


Giantra menggelengkan kepalanya pelan, menatap penampilan Seren dari atas sampai bawah.


"Kurang ajar banget lo, ngapain narik-narik tangan gue gitu!? Modus."


"Apaan sih! Gue udah cantik gini lo katain, kurang ajar emang."


"Cantik? Nih liat sendal swallow yang lo pakek, nggak masuk akal mau meeting paketnya swallow," kesal Giantra sambil menendang pelan sendal yang Seren gunakan. Bayangkan saja, dari atas sudah cukup rapi meskipun rambut Seren diikat asal-asalan. Tapi ketika melihat ke bawah, kaki gadis itu hanya di balut oleh sendal jepit hitam bermerk swallow.


Seren menepuk keningnya, laku ia berlari kearah ruangannya. Beberapa karyawan yang melihat heran dengan boss cantiknya itu.


"Astagfirullah, gue bikin malu banget sih. Mana ada mantan kan tadi, mampus, kurang ajar banget, citra gue langsung turun nih." Dengan kecepatan tangannya Seren mengenakan flat shoes yang ada di bawah meja ruangannya.


Menarik nafas perlahan, Seren menatap pantulan dirinya di cermin. Mengambil sisir dan merapikan rambutnya yang kemudian ia urai, lalu menggunakan lipstik berwarna peach di bibirnya agar tidak terlhat pucat. "Nah, gini kan cantik. Biar nyesel tuh mantan, emosi gue. Mana malu banget sih, bisa-bisanya gue ceroboh."


Seren dengan anggun mengucapkan salam dan berdehem sejenak.


"Maafkan saya karena sangat terlambat. Tadi saya terjebak macet di jalanan, mohon dimengerti," ujar gadis itu seramah mungkin namun dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Setelahnya, Seren menggantikan Giantra memimpin rapat, gadis itu terlihat fokus, ia adalah tipe orang yang sangat memegang profesionalitas terlepas dari masalah pribadi yang ia rasakan.


"Nona Seren, apa nanti sasaran acara ini juga termasuk anak-anak yang baru saja merintis usaha mereka di bidang penerbitan?"


Seren tersenyum, "tidak."


Semua yang ada di ruangan itu mengerutkan keningnya, termasuk Giantra. Mereka bingung dengan jalan pikiran Seren, Farez sudah akan berbicara, namun...


"Tidak hanya di bidang penerbitan, tapi semua yang baru merintis usaha mereka. Itu adalah tujuan sebenarnya dari diadakannya event ini," ujar Seren kemudian, halnitu tentu saja membuat orang di ruangan itu bernafas lega, bahkan sangat lega dan puas.


Mereka bertepuk tangan atas apa yang Seren sampaikan. "Terima kasih Nona Seren telah mempercayakan Event besar ini kepada kami," ujar Dika, lelaki itu adalah salah satu Owner dari tiga owner bisnis yang dinaungi Farez. Begitu juga dengan yang lainnya juga mengucapkan terima kasih dan sukses untuk event yang akan mereka jalankan.


Setelahnya, satu persatu orang yang berada di sana meninggalkan ruangan. Termasuk Giantra, laki-laki itu harus meninggalkan Seren karena ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan saat itu juga. Jadilah sekarang tinggal Seren di sana, Seren bernafas lega. Sampai seseorang memanggil namanya.


Seren membeku, gadis itu seolah tidak dapat mengucapkan kata-kata melalui bibirnya. Hanya matanya yang berkedip, "please mantan, jangan mendekat," ujarnya dalam hati.


"Kurang ajar banget, kenapa tubuh gue mendadak kaku gini sih? Sialan," batinnya lagi.


"Jangan ngomong kasar Seren." Seoalah tau isi hati gadis itu, Fares menggodanya.


"Aku cuma mau minta no whatsapp kamu. Nggak keberatan kan?"


Seren menatap datar ponsel yang Farez sodorkan di hadapannya. "Matamu nggak keberatan, lo pikir kalau lo minta no whatsapp gue bikin gue cepet move on apa!? Gue malah makin susah move on kurang ajar." Entahlah, sudah umpatan keberapa yang gadis itu ucapkan dalam hatinya. Sepertinya roh setan bar-bar sudah mulai menguasai tubuhnya.


"Seren? Halo?"


"Bisa diem nggak lo, gue nggak ngerti sama jalan pikiran loe. Kenapa lo selalu terhubung dengan kehidupan gue? Padahal dulu gue pernah bilang nggak akan berhubungan lagi dengan mantan dalam segala hal, tapi kenapa beda, gue seakan jilat ludah gue sendiri."


Deg


Ucapan Seren benar-benar menusuknya, raut kecewa jelas terlihat diwajah lelaki itu. Sampai akhirnya ia kembali tersenyum, "Jawabannya, karena aku sebenarnya belum jadi mantan kamu," bisik Farez tepat di telinga Seren, lalu beranjak meninggalkan gadis itu.


Namun sebelum itu, Farez berbalik, memandang Seren sejenak. "Mungkin aku nggak dapat no whatsapp kamu dari kamu sendiri. Tapi aku pastiin kalau nanti aku akan mendapatkannya dari orang lain," Ujar Farez, lalu melanjutkan langkahnya keluar ruangan rapat Neve Publisher.

__ADS_1


Seren yang kesal menendang kaki meja, "Kurang ajar banget jadi mantan. Huh, hampir aja gue baper lagi, makin hari makin berkharisma." Gumamnya sambil tersenyum.


Bersambung. . .


__ADS_2