HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai

HAI MANTAN! Kisah Kita Belum Selesai
Bab 11. Good Girl


__ADS_3

..."Baik dan jahat merupakan sebuah pilihan, keduanya sama-sama akan mendapat balasan, baik akan mendapatkan apresiasi baik meskipun bersabar, sedangkan jahat mungkin akan secara instan memperoleh apa yang di inginkan tapi konsekuensinya di benci. Semua tergantung kita, menjadi baik bukanlah hal yang merugikan, justru menjadi jahat sangat merugikan diri sendiri dan orang lain."...


..._Hai Mantan!"...


Seren memainkan pen yang ia pegang dengan cara memutar-mutarkannya di atas meja menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya.


Ting


Suara notifikasi ponselnya berbunyi, gadis itu menghentikan aktivitas gabutnya itu. Lalu kemudian membuka pesan yang ternyata dari WhatsApp miliknya.


[Lo ada di mana?]


Seren berdecak kesal, ia kira pesan dari orang penting. Tapi nyatanya dari Giantra, membosankan, itu pikirnya.


Seren kemudian membalas pesan dari Giantra. Kemudian gadis itu meletakkan kembali ponselnya.


Tidak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka menampilkan Chika, sekretaris Seren di Zelmirise group, perusahaan yang menaungi Cafe dan bisnis makanan mentah juga matang.


"Maaf Nona, laporan yang Nona minta sudah selesai." Chika menyerahkan map yang berisi laporan.


Seren mengambil map itu, ia membukanya dan membaca perlahan. "Duduklah, tunggu saya mengoreksi laporan ini," ujar Seren.


Gadis itu membuka lembar demi lembar laporan yang diberikan sekretarisnya itu. Sampai matanya tertuju pada salah satu nama yang tertera di sana.


"Chika."


"Iya Nona Seren." Chika mengerutkan keningnya, apa ada laporannya yang salah.


"Kenapa ada nama Jenissa Olsafira Diva di sini?" Seren memicingkan matanya, ia heran dan juga penasaran dalam waktu yang bersamaan.


"Begini Nona, kebetulan kerjasama yang akan kita lakukan pada tanggal 2 Juni nanti bersama Mbak Jenissa, karena beliau owner dari toko kue Diva Cake and Dessert."


Seren kembali membaca laporan itu, kebetulan perusahaan Seren yaitu Zelmirise group akan merayakan ulang tahun, jadi Seren mengajak beberapa perusahaan kecil makanan dan juga kue lainnya untuk ikut serta merayakan dan jika lolos maka akan diberi kesempatan untuk kerjasama dengan Zelmirise group. Siapa yang tidak tertarik, Zelmirise group merupakan perusahaan yang cukup populer dan berkembang dengan cepat. Jadi banyak owner bisnis resto atau makanan yang baru berlomba-lomba bersaing satu sama lain.


"Chika, saya mau kamu yang mengurus semuanya. Tanggal 2 Juni nanti kamu yang menjadi wakil saya, karena pada tanggal segitu saya memiliki janji bersama klien saya di Neve Publisher, oh atau kamu bisa menghubungi Mama saya."


"Baik Nona, jika begitu saya izin keluar terlebih dahulu." Chika mengambil laporan tadi yang sudah diperiksa oleh Seren, kemudian sekretaris Seren itu pamit keluar ruangan.


Seren terdiam, Alasan, sebenarnya bukan karena Seren memiliki agenda lain, gadis itu bahkan sebenarnya tidak ada kegiatan apapun, hanya saja Seren sama sekali tidak ingin bertemu dengan orang masa lalunya, orang yang menjadi penghancur hubungannya dengan mantan kekasihnya dulu. Bukannya ia tidak profesional, tapi tidak ada salahnya bukan sesekali bersifat egois untuk membuat hidup lebih bahagia.

__ADS_1


Seren berdiri dari duduknya, kemudian gadis itu mengenakan blazer yang tadi ia lepas untuk menutupi kemeja putih panjang yang ia kenakan. Seren mencepol rambutnya dan memakai tas keci yang ia bawa. Gadis itu keluar dari ruangannya di Zelmirise group, kemudian menuju lift.


Ting


Suara pintu lift terbuka, Seren memasuki lift. Kebetulan lift yang Seren gunakan adalah lift khusus petinggi perusahaan, jadi tidak akan berdesak-desakan.


Beberapa saat kemudian, Seren keluar dari lift, gadis itu menuju basement di Zelmirise group tempat ia memarkirkan mobilnya.


"Seren." Seseorang memanggil namanya, gadis itu mau tidak mau menghentikan langkah kakinya.


Seorang laki-laki dengan kemeja rapi dan juga dasi yang di kenakannya, bersama satu lelaki lagi juga seorang perempuan yang tampak seumuran menghampiri Seren.


"Lo di sini? Ada urusan apa?" Lelaki tadi memicingkan matanya curiga.


Seren tersenyum, gadis itu bertingkah biasa saja. "Oh Farzan, Finaya, Galen. Gue ada urusan sama pemilik sekaligus pemimpin dari Zelmirise group."


"Ya iyalah, nggak mungkin lo di sini sebagai pemimpinnya, apalagi pemilik dari Zelmirise group, lo pasti kesini karena pengen ngajuin kerjasama juga kan sama perusahaan ini?" Vinaya, gadis itu selalu bersifat sinis semenjak Jenissa sahabatnya bersama Farez, meskipun tidak ada kejelasan di hubungan keduanya.


Seren hanya tersenyum, "yaudah, gue duluan ya. Soalnya gue ada urusan yang harus di selesaikan." Seren berpamitan kepada ketiga orang di hadapannya, mata gadis itu tanpa sengaja menatap Galen yang memandangnya dengan pandangan kasihan. Namun ia mencoba biasa saja, dulu jika Farez terlalu sibuk, gadis itu tidak terlalu kesepian di kampusnya, ada Galen dan juga Farzan yang satu organisasi dengannya. Sekarang berbeda, justru Vinaya dan juga Jenissa yang sering bersama keduanya, apalagi Vinaya sekarang merupakan kekasih Galen.


"Sok sibuk lo, kayak orang penting aja." Seren menghentikan langkahnya, masih membelakangi ketiga orang tadi, kemudian gadis itu tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


"Gue harap lo tetap bahagia terus." Batin Farzan, melihat mobil Xenia putih milik Seren keluar dari Basement Zelmirise group.


***


Seren memasuki kafe tempat ia akan bertemu dengan Giantra. Lonceng kafe itu berbunyi, beberapa orang mengalihkan perhatiannya kearah Seren, namun ia tetap menampilkan wajah datarnya. Wanita dewasa dengan rambut sebahunya serta penampilan sederhana itu terlihat anggun. Lambaian tangan Giantra membuatnya tersenyum, lalu menghampiri lelaki itu.


"Akhirnya lo datang juga, burikan pantat gue nunggu orang sok sibuk kayak lo gini."


Seren terkekeh mendengar ucapan Giantra, "lebay banget, dasar pengangguran."


Giantra memutar bola matanya malas, "gue bukan pengangguran, cuma emang lagi nggak banyak kerjaan di kantor gue."


"Alesan aja loe," ejek Seren sambil tertawa.


Giantra menatap Seren datar, lalu kemudian lelaki itu mengambil rambut Seren untuk di kesampingkan.


Seren terdiam, sampai suara deheman membuat keduanya tersadar. Seren terlihat canggung, gadis itu pura-pura menatap kearah lain, sedangkan Giantra terlihat kesal karena adegannya dengan Seren terganggu.

__ADS_1


"Maaf saya mengganggu, saya ingin izin duduk disini karena sudah tidak ada tempat kosong lagi," ujar orang itu dengan nada sopan, namun datar.


Giantra menatap Seren, gadis itu sebenarnya sedikit keberatan jika orang itu duduk bersama ia dan Giantra, tapi Seren bukanlah orang yang tega, jadi mengiyakan saja.


"Terima kasih," ujar lelaki tadi, ketika mendapat persetujuan dari Giantra dan juga Seren.


Hening, tidak ada satupun yang ingin berbicara, rasanya sangat canggung dan Seren tidak nyaman dengan hal itu.


"Suasana macam apa ini, gue harus satu tempat sama mantan dan orang yang ngejar-ngejar gue." Dalam hati Seren membatin, sesekali Gadi itu melirik kedua lelaki itu.


"Ehemb, kalian mau pesen apa? Biar gue aja yang pesenin."


Giantra dan Farez menatap kearah Seren, gadis itu benar-benar gugup sekarang, rasanya ia ingin pergi ke planet lain saking gugupnya, malu juga.


"To---long jangan tatap gue kayak gitu."


Giantra dan Farez menormalkan ekspresinya, Giantra menatap Seren lembut, ia tau jika gadisnya itu ketakutan, apa, gadisnya? Bahkan sampai sekarang Seren belum memberinya kepastian.


"Gue udah pesan Seren, lo aja sana pesen."


Seren menganggukkan kepalanya, lalu mata gadis itu beralih menatap Farez yang berada di samping kirinya. "Kalau lo mau pesen apa?"


Farez menatap Seren, tersirat kerinduan dimata lelaki itu menatap gadis yang dulu pernah ia sia-siakan itu, gadis manja, ngambekan, dan terkadang membuat Farez bersikap dingin juga cuek padanya namun gadis itu tetap tersenyum ketika bertemu Farez, bahagia ketika bertemu Farez atau mendapatkan kabar dari Farez. Gadis yang sekarang jauh terlihat lebih lepas tawanya, meskipun tanpanya.


"Aku temenin kamu aja buat pesen." Tanpa aba-aba, Farez menarik pelan tangan Seren, menggenggamnya dan membawa gadis itu ke tempat pemesanan menu.


Giantra yang melihat itu geram sendiri, namun ia tau diri karena sekarang berada di tempat umum. Jika saja tidak, mungkin Farez sudah terkena bogem mentah lelaki itu.


Seren hanya diam, ia terlalu shock dengan kejadian barusan, tangannya masih berada di genggaman orang yang ia anggap mantan itu.


"Kamu mau pesan Milkshake Vanilla kan? Pasti camilannya French fries yang original."


Seren tersadar, gadis itu menarik tangannya dari genggaman Farez, lalu ia menghembuskan napasnya pelan, kemudian mengangguk.


Farez akhirnya memesankan untuk Seren, sedangkan Seren hanya melihatnya.


"Kalau gini ceritanya gue bakalan susah move on dari dia. Kenapa sih setiap gue udah mulai biasa aja selalu ada hal yang bikin gue luluh lagi sama dia. Dasar Serena, iman lo emang lemah banget, minta diruqyah," Batin Seren mencaci maki dirinya yang terlalu lemah jika berhadapan dengan perasaannya terhadap Farez.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2