Haluku Adalah Takdirku

Haluku Adalah Takdirku
MAKAN-MAKAN


__ADS_3

Jesika masih terdiam di tempatnya rahasia yang ia sembunyikan bersama suaminya telah terbongkar. " Mit maaf" ucok mendudukkan kepalanya kebawah rasa bersalah muncul dihatinya. " Tidak apa kok cok, santai mita juga tidak masalah dengan hal itu" mita tersenyum meninggalkan mereka dan berjalan ke arah meja makan mengambil 5 buah risoles dan bakso bakar 1 tusuk dan kembali duduk. Dan apa yang di lakukan mita di lihat oleh semua orang.


" Kenapa?" Mita duduk kembali dan melihat ke semua orang termasuk bundanya yang berdiri di sudut ruangan. "Bunda kemari"ucap mita lagi.


"Eh..kalian suka makanan nya?" Jesika berjalan mendekati mereka sambil tersenyum namun mereka tahu bahwa jesika sedang sedih. " Enak banget tan...bukus boleh yah? Boleh nih kasih bocah peliharaan di rumah" ucap miko ingin mencairkan suasana.


" Miko pelihara tuyul?" Sahut mita dengan kata "bocah".


"Astaga naga ular naga panjang bukan dikepalanya" sahut agus ingin mendramatisir suasana." Jadi selama ini! Apa yang kau pakai? Karena pelihara tuyul!"sahut agus lagi dan mendapat pukulan telak di kakinya karena miko sedang duduk di lantai.


" Kalau tuyul bisa makan-makanan manusia?!" Mita sungguh terkejut. " Enak saja!" Miko membela diri.


" Wah masa miko bilang enak pelihara tuyul!" Ucap ola memanasi suasana. Semua orang menggelengkan kepalanya." Ish..ish...Tak patut" ucap serentak semua orang.


"merasa terzolimi" sahut miko memilih menambah lagi makan dari pada meladeni orang-orang gila.


" Miko tu---" miko menatap tajam mita namun seketika nyalinya ciut melihat tatapan raden dan yordan yang menatapnya lebih tajam!. "Ya mit, jangan pelihara singa dan harimau dong!"ucap miko canggung.


" Ha? Harimau? Singa?" Mita heran dan melihat ke semua tempat di dalam rumahnya. " Bunda kita punya singa dan harimau tidak terlihat?" Tanya mita tidak menemukan jawaban dari ucapan miko.


Raden dan yordan sama-sama tersedak makan." Ehm?" Mita menatap keduanya binggung. " Nasib" ucap ucok menepuk bahu raden. " Yang sabar tuan" zian mengikuti apa yang dilakukan oleh ucok.


"Zian singkirkan tangan mu atau tanganmu yang aku singkirkan dari badanmu" ancam yordan menatap zian di sampingnya. " Kejam"batin semua orang.

__ADS_1


" Iya nanti tante bukuskan untuk semua orang" ucap jesika tersenyum. " Wah kalau begitu saya tidak menolaknya, pemberian orang harus kita terima dengan sepenuh hati" ucap ola tersenyum.


" Alasan itu mah tan, heran aku ol anak orang berada tapi kelakuan kaya tidak di kasih makan" ucap dini datar. Walau dirinya mulai beradaptasi dengan pertemanan ini untuk berubah sepenuhnya butuh waktu.


" Din! Kau memang lain dari yang lain!" Kesal ola menatap temannya ini. "Menurut ku sih kau yang lebih parah ol!" Ucap raden sedari tadi menyimak.


" Lah kok aku!" Ucap ola tidak terima. " Iya kau, kok tahan sama sifat dini yang datar seperti kurang ekspresi" ucap raden lagi. Semua orang menatap raden tidak percaya.


" Den rasanya diri ini ingin memukulmu" sahut agus tidak sabaran. " Kau butuh bantuan?" Ucap yordan ingin ikut memukul raden. Bangaimana bisa dia berucap seperti itu! Nyatanya dalam dunia bisnis yordan tahu raden salah satu seperti nya kulkas 10 pintu.


" Kok bapak ikut-ikutan" ucap raden tidak terima. " Kau pun ikut-ikutan" sahut yordan tidak terima. Suasana tampak mulai tidak nyaman.


" Kok saya yang salah! Bapak kan mau ikut-ikut mukul saya!"ucap raden tidak terima. " Ehh dasar anak kecil!" Sahut yordan dingin. Raden tidak gentar dirinya tahu siapa yordan, pengusaha muda sukses memiliki perusahaan pribadi dan keluarga.


" Hey tuan muda! Jangan menatapku seperti itu" raden berkata dingin tidak memperdulikan orang-orang menatapnya. Yordan tertawa dan tersenyum " wah-wah haruskah aku bangga bertatapan langsung dengan pengusaha misterius ini?" Ucap yordan dengan nada mengejek dan bercanda.


" Sepertinya kita bisa menjalin kerja sama kedepannya tuan


Yordan imanuel angkasara" raden kembali memposisikan dirinya dengan menegakkan badannya.


" Mungkin" ucap yordan acuh tak acuh. " Kalian homo ya!" Ucap mita dengan spontan mengucapkan apa yang ia pikirkan.


" Asw" pekik raden karena tusuk dari bakso bakar mengenai di dalam mulutnya. " Raden?" Panggil mita dengan mata berkaca-kaca. Raden salah tingkah dibuatnya. " Maaf bukannya mau marah tapi gara-gara ini." Raden menyodorkan satu tusuk bakso bakar yang ia makan. " Lihat kan aku tidak marah, tapi karena ujung tusuk ini" ucap raden lagi.

__ADS_1


" Ayo- ayo di habiskan, tante ke dapur dulu untuk membungkuskan makan untuk kalian bawah" pamit jesika. " Terimakasih tante" ucap semuanya kompak.


Keadaan kembali hangat penuh canda dan tawa. Semua nampak menikmati waktu yang ada. Setelah satu jam berlalu kini semuanya bersiap untuk pulang karena hari makin sore dan mereka belum pulang ke rumah mereka semenjak pulang dari sekolah.


" Nah ini masing-masing ambil" jesika menyerahkan berbagai macam kantong untuk mereka semua. " Terimakasih tan aku, dini dan ola pulang dulu" pamit alia menyalim tangan jesika di ikuti dini dan ola dan merekapun keluar dari dalam rumah.


"Terimakasih tante makannya hari ini dan bungkusan nya" ucap miko cengengesan. " Iya nak sama-sama" ucap jesika.


" Emang tan orang nya doyan minta bungkus makan di cafe aja minta bungkus" sindir agus. Merasa aib nya terbongkar miko hanya tersenyum saja. " Padahal tiap bulan jajan mengalir kaya air" sambung raden ketika dulu dirinya menemani miko mengambil uang di mesin Atm.


" Miko jangam bicara lagi ya! Mita pusing dengar kalian bicara"ucap mita menutup telinganya. Miko menatap tidak percaya dengan ucapan mita. " Udah sana pulang" usir raden masih setia duduk di sofa. " Raden ini kan rumah mita! Kok raden usir miko" ucap mita tidak setuju. " Kedepannya ini jadi rumah aku juga kok" ucap raden menatap serius mita kemudian menatap jesika dengan penuh makna.


" Ah sudah-sudah ini sudah sore nanti kalian di cariin sama orang tua kalian" ucap jesika menghentikan percakapan yang tidak berujung. " Baik tante miko pamit dulu" miko menyalim tangan jesika. " Agus juga tan mau bareng sama miko" sambung agus menyalim tangan jesika. " Hati-hati" pesan jesika.


" Ucok belum pulang?" Tanya jesika pada ucok yang berdiri saja menatap mita. " Soal tadi" ucok menunduk kan kepalanya. " Maaf sekali maaf mita" sambung ucok merasa sangat bersalah. Mita mendekati ucok dan menepuk bahunya " kamu ucok?" Tanya mita sambil binggung. " Ih kok malah ngelawak"ucap ucok tidak habis pikir. Mita tersenyum hangat pada ucok " lupain soal tadi, karena suatu saat semua itu akan gerbong. Mita bersyukur ketemu bunda dan ayah, walau mita rindu orang tua kandung mita." Ucap mita.


" Makasih mita, semoga suatu saat nanti kamu bakal ketemu mereka" ucok merasa senang bahwa mita mau memaafkannya. " Makasih" ucap mita. Ucok menyalim tangan jesika untuk pamit pulang " tante terimakasih untuk hari ini, dan maafkan saya sudah membuat semuanya kacau" tutur ucok.


" Tidak apa nak, apa yang di katakan mita betul. Suatu saat nanti om dan tante harus mengatakan yang sebenarnya" ucap jesika menatap mita senduh. Setelah itu ucok pamit dan pulang. Tersisa raden, yordan dan zian.


" Pak yordan belum pulang? Raden juga" ucap mita heran. " Kamu ngusir saya?"sewot yordan. Mita menatap sinis yordan entah kenapa orang ini sangat menyebalkan baginya. " Ini kan rumah mita" ucap mita penuh penekan. " Ya terus kalau rumah kamu memangnya kenapa?". Mita ingin mencakar muka yordan. " Tau!" Mita memalingkan mukanya kesal. Yordan terkekeh akhirnya dirinya bisa menang.


" Baik tante saya pamit dulu masih ada berkas yang harus saya kerjakan" ucap yordan pamit bersama zian. Kini tinggallah raden dan mita.

__ADS_1


" Aden belum pulang?" Tanya mita dengan halus. Raden menggelengkan kepalanya. " Kenapa?" Tanya mita heran. " Masih mau sama kamu" raden menyenderkan kepalanya di bahu mita sambil asik memakan dessert miliknya. Mita tidak menjawab ucapan Raden dan larut dalam pikirannya. Serasa dunia milik berdua raden dan mita menikmati waktu bersama.


Hari makin sore raden pamit pulang pada jesika. " Aku pulang dulu ya, nanti kapan-kapan main lagi" ucap raden mengelus kepala mita. " Iya, hati-hati ya" pesan mita, raden membalasnya dengan mengangkat jempolnya. Dan meninggalkan rumah mita.


__ADS_2